Merti Dusun Tumbuhkan Budaya Guyub Rukun Warga Nulisan

Dusun Nulisan, Sumberagung, Moyudan mengadakan merti dusun dengan cara kirab mengelilingi dusun yang diikuti sekitar 600 orang pada Selasa (11/9/2018).

Sebanyak 3 gunungan yang terbuat dari kolak dan hasil olahan makanan, hasil bumi dan buah-buahan, serta padi, sayuran, dan ketela diikutsertakan dalam kirab.

Kirab diawali oleh barisan pelajar SD dan SMP yang membawa Pataka Garuda Pancasila, kemudian barisan dari berbagai kesenian, disusul drumband, pemuda-pemudi dan karangtaruna, serta yang paling belakang adalah warga Nulisan yang semua memakai kejawen.

Sesampainya di tempat akhir kirab dipentaskan tari hasil kreasi dari anak anak dan pembagian gunungan kepada warga yang hadir.

Ketika ditemui Kepala Dusun Nulisan Junaidi mengatakan bahwa merti dusun tersebut dimaksudkan sebagai rasa syukur warga atas nikmat dan karunia yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa yang berupa sandang pangan dan kelancaran dalam usaha serta untuk menumbuhkan budaya guyup rukun dan kegotongroyongan masyarakat.

“Kegiatan ini adalah merupakan rangkaian dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-73 dan sebagai puncak acara adalah Jumat (14/9/2019) akan digelar wayang kulit semalam suntuk oleh dalang Ki Seno Nugroho,” kata Junaidi. (Surono)




Pelajar Sleman Dominasi Kejuaraan dalam BMD SPARCH 2018

BMD SPARC 2018 singkatan dari “Budi Mulia Dua Science, Sport, Art, and Religius Competition” Tahun 2018 merupakan kegiatan tahunan berupa kompetisi di bidang sains, olahraga, seni, dan religi yang diselenggarakan oleh Student Council SMA Internasional Budi Mulia, Sleman.

Program tersebut menurut Wahyudi Irawan Yusuf, selaku Kepala Sekolah adalah upaya sekolah dalam mewadahi siswanya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki, salah satunya dalam bidang organisasi yang merupakan media pengaplikasian seluruh potensi siswa dalam pengabdian sosial dan proses interaksi siswa dengan sesama siswa.

BMD SPARC 2018 diselenggarakan sejak tanggal 8-15 September 2018 dengan mempertandingkan beberapa cabang yakni robotik dan roket air untuk kategori science, futsal untuk kategori sport, dance untuk kategori art, serta lomba adzan dan MHQ untuk kategori religious. Lomba ini ditujukan untuk pelajar SD dan SMP se-Daerah Istimewa Yogyakarta.

Wahyudi menambahkan bahwa penyelenggaraan kompetisi ini selain dimaksudkan untuk mengembangkan bakat dan kreatifitas siswa juga diharapkan dapat menjadi ajang menjalin silaturahmi dan kerjasama antar sekolah sebagai bentuk sumbangansih Budi Mulia Dua dalam memajukan pendidikan di wilayah Sleman maupun DIY.

Berbagai cabang lomba sudah berhasil diselesaikan yang juaranya didominasi oleh para pelajar dari Kabupaten Sleman di antaranya dalam lomba roket air sebagai juara I dan juara II diraih oleh SMP Muhammadiyah 3 Depok, sedangkan juara II diraih oleh SMP Muhammadiyah 1 Sleman.

Selanjutnya, kompetisi robotik yang diikuti oleh 42 tim, pemenang untuk jenis robotik analog MTs Negeri 1 Sleman sebagai juara I, juara II SD Muhammadiyah Karangwaru, dan juara III SMP Muhammadiyah Depok 3. Sedangkan untuk lomba robotik tranporter tingkat SD, juara I diraih oleh SD Muhammadiyah Karangwaru, juara II SD Budi Mulia Dua Panjen dan juara III SD Ungaran.

Sementara itu dalam lomba adzan untuk tingkat SD juara I dan III diraih oleh SD Unggulan ‘Aisyiyah kemudian juara III diraih SD IT Salsabila. Sedangkan untuk lomba adzan tingkat SMP juara I diraih oleh SMP Budi Mulia Dua, Juara II Mts Sunan Pandanaran, dan Juara III SMP Muhammadiyah Al Mujahid.

Adapun untuk MHQ Tingkat SMP juara I dan II diraih oleh MTS Pandanaran dan Juara III SMP Muhammadiyah Al Mujahid. Sedangkan untuk MHQ tingkat SD, juara I diraih oleh SD IDEA Baru, Juara II dan Juara III diraih SD Unggulan ‘Aisyiyah Bantul.

Sampai berita ini diturunkan, untuk lomba dance dan futsal masih berlangsung sehingga belum diketahui pemenangnya.

BMD SPARCH 2018 kali ini sebagaimana tahun lalu cukup mendapat sambutan dan antusias yang tinggi dari peserta. “Di tahun-tahun yang akan datang akan terus ditingkatkan kualitasnya serta semakin diperluas jangkauannya,” ucap Yogi Indra, selaku Ketua Panitia. (Sutoto Jatmiko)




Pawai Taaruf Rajut Kebersamaan Warga Trihanggo

Gamping – Selasa (11/9/2018) pukul WIB, Pengurus Ranting Muhammadiyah (PRM) Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman menyelenggarakan Pawai Taaruf.

Pawai diikuti oleh 700 orang warga Muhammadiyah Desa Trihanggo menggunakan 60 mobil, 40 sepeda motor, dan 30 sepeda onthel. Iring-iringan kendaraan berangkat dari Lapangan Trihanggo mengelilingi 12 padukuhan di wilayah Desa Trihanggo.

Pengaturan lalu lintas dan pengamanan peserta pawai di jalan dikomandoi oleh Bhabinkamtibmas Trihanggo, Aiptu Rusmanto dan Babinsa Trihanggo, Serda Sugiyono dibantu 60 orang Satuan Relawan Trihanggo (SRT), dan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) Trihanggo.

Menurut Ketua PRM Trihanggo Selatan, Sutopo Hadi, Pawai Taaruf dilaksanakan untuk mengenalkan dan menegaskan bahwa kebersamaan antar warga Muhammadiyah Desa Trihanggo dari usia anak-anak, remaja, hingga dewasa dapat terajut dengan semangat Tahun Baru Hijriah ini.

Turut serta dalam pawai, Sekretaris PRM Trihanggo Selatan Heru Subagya, Ketua Pengurus Ranting Aisyiyah (PRA) Trihanggo Utara, Sri Sudarmi serta PRA Trihanggo Selatan, Maryatul Latifah.

Muncaryadi yang menjabat sebagai Ketua PRM Trihanggo Utara menambahkan, pawai melibatkan berbagai komponen.

“Angkatan muda Baturan, PRA Trihanggo Utara, PRA Trihanggo Selatan, PRM Trihanggo Utara,  PRM Trihanggo Selatan, Paguyuban Hadroh Wardhatun Sholehah Baturan, Jemaah Masjid Hanggo Makarim, Masjid Al-Ikhlas Blambangan, Masjid Ad-Darojad Kronggahan,  Masjid Nurul Khoir Bragasan, Masjid Al-Munawaroh Baturan, Drum Band Al-Hidayah Trini, Komunitas angklung dan hadroh Masjid  Ar-Rohim, serta komunitas sepeda kuno Masjid An-Nur Surodikoro Besole,” tutur Muncaryadi. (Adnan Nurtjahjo)




Menyongsong Tahun Baru Hijriah dengan Bersedekah

Gamping – Senin (10/9/2018) pukul WIB, Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman menggelar acara bertajuk pengajian akbar tahun baru hijriah dan santunan anak yatim.

Pengajian dihelat di pelataran Masjid Al-Huda, Padukuhan Bedog, Desa Trihanggo. Acara dihadiri oleh Kepala Desa Trihanggo, Herman Budi Pramono, Wadanramil 17/Gamping, Kapten Chb Suwardi, Bhabinkamtibmas Trihanggo, Aiptu Rusmanto, Babinsa Trihanggo, Serda Sugiyono serta jama’ah NU yang berkisar 500 orang yang berasal dari 12 padukuhan di wilayah Desa Trihanggo.

Acara dibuka dengan pembacaan kalam ilahi oleh Hj.  Sangadah, diikuti sambutan Ketua Pengurus Ranting NU Trihanggo, So’imun.

Dalam sambutannya, So’imun menyampaikan keberadaan NU di wilayah Trihanggo harus dilestarikan, generasi muda agar jangan ragu bergabung dalam NU karena bukan merupakan organisasi terlarang. Melainkan sebagai organisasi yang menjaga persatuan dan kesatuan bangsa serta berguna bagi masyarakat sekitar, salah satunya pemberian santunan kepada anak yatim.

“Santunan malam ini tidak dapat terlaksana tanpa bantuan para jemaah NU di ranting Trihanggo. Jangan dilihat jumlah besaran santunannya namun nilai kepedulian terhadap sesama muslim yang kurang beruntung berjumlah 25 anak,” sambung So’imun.

Kepala Desa Trihanggo, Herman Budi Pramono juga berpesan kepada jemaah pengajian akbar agar tetap menjaga persatuan dan kesatuan antar warga di wilayah Trihanggo mengingat bulan September ini memasuki masa kampanye untuk pemilu serentak 2019.

“Kampanye sebaiknya dilakukan dengan menyampaikan visi dan misi masing-masing calon tanpa ada tindak kekerasan yang dapat memecah belah kerukunan masyarakat Trihanggo,” ujar kepala desa yang akrab dipanggil Momon.

Tausiyah malam satu Sura ini menghadirkan pemilik sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji, Kalasan, Sleman, yang sering disebut Gus Miftah. Dalam ceramahnya, Ustad berambut gondrong ini selalu menyampaikan hikmah ilmu Allah kepada jemaahnya dengan mengambil contoh peristiwa yang terjadi di lingkungan masyarakat. Malam ini menyampaikan bahwa di dunia tidak ada manusia yang pintar dengan berbagai profesi.  Mereka bisa melaksanakan tugasnya hanya karena kehendak Allah SWT semata. Selain itu banyak orang salah tafsir bahwa bulan suro identik dengan hal-hal mistis.

“Di malam satu Sura ini banyak berbondong-bondong melakukan ritual jamasan pusaka. Kalau ritual tersebut untuk ‘nguri-uri’ budaya tidak masalah, jangan sampai masyarakat berpikiran tentang klenik. Banyak hal kebaikan yang dapat dilakukan untuk menyambut tahun baru Hijriah, salah satunya acara pengajian akbar di Masjid Al-Huda ini,” tutur penceramah gaul ini menutup tausiyahnya. (Adnan Nurtjahjo)




Festival Anak Saleh Cetak Generasi Emas Margorejo

Minggu (9/9/2018), halaman Gedung Balai Desa Margorejo, Tempel dipadati oleh ratusan anak-anak yang berasal dari 22 TPA dan PAUD se Desa Margorejo untuk mengikuti acara Festival Anak Saleh.

Anwar Insan selaku ketua panitia mengatakan bahwa festival yang diselenggarakan ada 10 macam yaitu menggambar, pidato, nazid, kaligrafi, cerdas cermat Alquran, tilawah, qori’ah, wudhu, salat, dan mewarnai, yang diikuti sekitar 500 anak yang berasal dari dusun-dusun se-Desa Margorejo.

Sementara itu, Amat Jalaludin, Kepala Desa Margorejo mengatakan bahwa Festival Anak Saleh ini adalah sarana untuk membentuk dan menjadikan anak-anak yang tangguh, cerdas, jujur, berbudi luhur dan saleh.

“Dengan dikawal oleh generasi yang jujur dan tangguh, saya percaya ke depan Desa Margorejo akan semakin maju, makmur, dan tenteram,” kata Amat di hadapan peserta festival.

Lebih lanjut Amat Jalaludin berharap agar para peserta bisa mengikuti festival dengan sebaik-baiknya. “Juara bukanlah tujuan utama melainkan yang penting adalah menjadikan anak-anak ke depan bisa menjadi generasi emas di Margorejo,” lanjutnya. (Surono)