Mantaram Batik, Unggulkan Motif Khas Daerah

Rita Lestari mendapatkan pelatihan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman melalui Desa Trimulyo untuk mengembangkan kelompok Mantaram Batik yang ia dirikan pada bulan Juli 2015 lalu.
Rita mendirikan Mantaram Batik sendiri dengan tujuan ingin mengangkat Dusun Mantaram dengan batik khas berpewarna alam. Rita memilih menggunakan pewarna alam karena menurutnya jauh lebih ramah lingkungan dan lebih aman. Pewarna alam yang dipakai Rita adalah pewarna alam instan seperti jolawe, tingi, jambal, dan tegeran.
Mantaram Batik yang dikelola oleh Rita memiliki motif khas yaitu motif melon. Alasan mengangkat motif melon diungkapkan Rita karena para anggota yang berjumlah 20 orang didominasi oleh ibu-ibu ini dulunya bukan asli pembatik melainkan petani melon. Dengan demikian Rita ingin sekaligus mengangkat hasil pertaniannya yaitu melon yang dimunculkannya dalam corak Mantaram Batik.
“Motif batik melon sering kali saya modifikasi dengan motif khas Sleman, seperti motif parijoto dan motif parang,” ucap Rita, Kamis (11/10).
Ditanya soal harga, Rita menjelaskan untuk kain cap satu kali warna dihargai senilai Rp 180 ribu dan dua kali warna dihargai senilai Rp 250 ribu. “Tergantung dari semakin banyaknya proses yang dilakukan maka akan semakin tinggi juga harganya,” imbuhnya.
Rita memproduksi batik hanya sesuai dengan pesanan saja, jika tidak ada pesanan dan hanya untuk stok di kelompok, Rita bersama anggota lainnya hanya memproduksi batik cap dan batik celup.
Untuk pemasarannya, Mantaram Batik sudah menitipkan ke beberapa toko seperti di Mirota Jalan Kaliurang, Hamzah Batik Malioboro, Galeri Primisima, dan Galeri Upakarti Kabupaten Sleman. Tidak hanya di wilayah Yogyakarta saja, Mantraman Batik sudah mencapai penjualan ke luar kota, seperti Riau, Jakarta, dan Bandung.
