Wayangan Semalam Suntuk Awali Pencanangan Desa Budaya dan Wisata Pasar Setom

Ngaglik – Pasar Setom sudah lama tidak berfungsi sebagai pasar bahkan selama bertahun-tahun tidak digunakan sebagai pasar pada umumnya. 

Melihat kondisi ini, Pemerintah Desa Sukoharjo dan warga Dusun Mendiro dan Jagalan mencoba untuk menggerakkan kembali sejarah lama, yang mana dusun tersebut dulunya punya potensi kegiatan kebudayaan dan kesenian, baik seni kethoprak, tari, dan kesenian lainnya.

Para tokoh adat, agama, dan masyarakat mencoba memulai membentuk desa budaya dan pariwisata yang dimulai dengan Wayang Kulit Semalam Suntuk oleh Ki Dalang Seno Nugroho dengan Lakon Sri Mulih, Jumat (26/10/2018).

Pencanangan Desa Budaya dan Pariwisata di Dusun Mendiro Jagalan Desa Sukoharjo dilakukan oleh Camat Ngaglik, Subagya.

Dalam sambutannya, Subagya sangat menyambut baik kegiatan ini karena bisa menambah destinasi wisata baru untuk Kecamatan Ngaglik

Camat Ngaglik didampingi Kepala Desa Sukoharjo, Hadi Subronto, dan Forkom Pimpinan Ngaglik dalam kesempatan ini juga menyerahkan gunungan sebagai simbol dimulainya Wayang Kulit Semalam Suntuk oleh Ki Dalang Seno Nugroho.

Sementara itu, RB Dwi Wahyudi, anggota DPRD DIY yang berkesempatan menyampaikan sepatah kata mengajak warga Dusun Mendiro dan Jagalan untuk melaksanakan Desa Budaya dan Wisata. “Kalau ya segera kita bersama mulai dan segera membuat perencanaan yang mantap sehingga dinas terkait bisa mendukung dan membantu terbentuknya desa budaya dan wisata ini,” katanya.

Dwi menyampaikan bahwa pihaknya sanggup mendampingi sampai dusun ini tuntas menjadi desa budaya dan wisata. (SRP)




Kirab Pusaka dan Bregada Meriahkan HUT Desa Sinduharjo

Ngaglik – Jumat (26/10/2018), lalu lintas di Jalan Kaliurang km 10.5 mulai tersendat dan mulai macet. Terlihat ada arak-arakan bregada dan prajurit yang berjalan dengan rapi sesuai iringan. Mereka adalah peserta pawai bregada yang akan mengikuti prosesi upacara di Lapangan Gadingan Sinduharjo Ngaglik Sleman.

Kegiatan ini merupakan rangkaian dari peringatan Hari Jadi Desa Sinduharjo yang ke-72. 17 padukuhan se-wilayah Desa Sinduharjo dan instansi terkait ikut terlibat dalam upacara dan kirab budaya ini.

“Kami atas nama panitia mohon maaf atas tidak nyamannya warga pengguna Jalan Kaliurang karena digunakan untuk kirab budaya yang diadakan oleh Pemerintah Desa Sinduharjo, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kesuksesan dan kelancaran acara ini,” kata Astadi selaku Ketua Panitia Hari Jadi Desa Sinduharjo yang juga menjabat Kaur Perencanaan Desa Sinduharjo ini.

Bedol pusaka berupa tombak serta songsong atau payung dilakukan di tiga kelurahan lama yaitu Kelurahan Prujakan, Dayu dan Gentan. Kemudian diarak menuju tempat upacara di Lapangan Gadingan Sinduharjo, di bawa oleh pasukan bregada diikuti oleh peserta kirap dari warga masyarakat 17 padukuhan se Sinduharjo.

Sebagai inspektur upacara ini adalah Sudarja, Kepala Desa Sinduharjo dan komandan upacara adalah Eddy Indrayana selaku Kaur Keuangan Desa Sinduharjo. Seluruh rangkaian upacara ini menggunakan bahasa Jawa.

Prosesi kirab dan upacara dihadiri Camat Ngaglik Subagyo beserta Sekcam, Kasi Trantib, Kapolsek, Danramil, serta mantan pejabat Desa Sinduharjo.

Untuk malam harinya, di halaman Kantor Desa dipentaskan kesenian dari padukuhan dan diakhiri pentas ketoprak Sinduharjo Budaya dengan lakon Damarwulan. (SPN)




Saparan Bekakak Gamping Wisata Budaya yang Melegenda

Gamping – Jumat (26/10/2018) pukul WIB, Pemerintah Desa Ambarketawang menyelenggarakan upacara adat Saparan Bekakak yang dipusatkan di pelataran Taman Wisata Alam Gunung Gamping. 

Kegiatan Saparan Bekakak ini sudah tercatat dalam daftar karya budaya yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nomor 60 tahun 2015.

Kirab sepasang pengantin Bekakak sepanjang 6kilometer dilakukan dan dimulai dari Lapangan Ambarketawang menuju Petilasan Gunung Gamping. Puluhan ribu warga memadati rute kirab upacara adat Saparan Bekakak di Kecamatan Gamping. Warga tampak antusias menonton kirab yang rutin digelar tiap tahun pada bulan Sapar kalender Jawa ini.

Prosesi Kirab diawali dari rombongan pemerintah kecamatan dan desa yang mengendarai andong, disusul puluhan bregodo berpakaian khas Jawa. Masing-masing kelompok atau bregodo menampilkan konsep yang berbeda-beda namun tetap berpedoman terhadap budaya Jawa dan Keraton Jogja pada khususnya. Tampak bregodo ada yang menaiki kuda, ada yang berjalan kaki membawa gunungan, menampilkan atraksi tarian tradisional, reog, seni gamelan, hingga kelompok yang membawa karakter ogoh-ogoh, gendruwo, dan wewe gombel.

Rangkaian upacara Saparan Bekakak ini telah diawali pada Kamis (25/10/2018) malam dengan prosesi penyerahan Tirto Dono Jati dan Sepasang Pengantin Bekakak (Midodareni-red) oleh Lurah Magersari kepada Ki Demang atau Kepala Desa Ambarketawang, Sumaryanto. Dilanjutkan dengan kenduri wilujengan dan pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

Puncak upacara Warisan Budaya Tak Benda ini berupa penyembelihan sepasang pengantin bekakak atau sepasang boneka terbuat dari tepung beras yang dilakukan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, HY. Aji Wulantara dan Plt. Camat Gamping, Samsul Bakri untuk selanjutya dibagi-bagikan kepada masyarakat. (Adnan Nurjahjo)