Ngaglik – Dengan semangat yang luar biasa, para peserta hadir dalam acara Pelatihan Jurnalistik dan Pengelolaan Web di Desa Sukoharjo, Kamis (20/12/2018).
Peserta tak lain adalah elemen masyarakat yang memang berkecimpung dalam bidang tugas masing-masing yang nantinya menjadi sumber informasi untuk disebarkan kepada masyarakat luas antara lain dari BPD, LPMD, PKK, lembaga pendidikan PAUD/KB, lembaga kemasyarakatan, tokoh agama, dan undangan lainnya.
Dalam sambutan Sekretaris Desa Sukoharjo Yulianti, menyampaikan bahwa acara ini memang dirancang untuk meningkatkan pengetahuan para peserta supaya mengetahui cara menulis yang baik dan benar, membuat berita dan mengonfirmasikannya melalui website.
“Hal ini penting karena era sekarang era digital dan melalui Android semua bisa mengakses, untuk itu Pemerintah Desa Sukoharjo memberikan fasilitasi pelatihan ini, dengan harapan ke depan Desa mempunyai berbagai media selain media digital juga Warta Sukoharjo,” tutur Yuli.
KIM Desa Sukoharjo yang telah dibentuk pun diminta Yuli untuk aktif dalam mengisi website termasuk merancang Warta Sukoharjo.
“Para peserta selain menjadi sumber informasi juga bisa membuat informasi untuk diberitakan lewat KIM dan juga web yang ada di Desa Sukoharjo dengan demikian wajah dan kegiatan yang layak diinformasikan kepada masyarakat bisa dipenuhi,” paparnya,
Dalam kesempatan ini menghadirkan Wartawan Senior, Suparno, yang sudah 46 tahun mengabdikan diri di beberapa media baik Harian Masa Kini yang sudah tidak terbit maupun Harian Kedaulatan Rakyat. Narasumber ini membahas terkait cara penulisan berita yang baik dan benar. Sementara untuk materi mengelola website mengundang narasumber Agastya Dedy Kusuma dari Dinas Kominfo Kabupaten Sleman.
Suparno menyampaikan bahwa penulisan berita itu harus memenuhi rumus yang baku yaitu 5W+1H.
“Penulisan yang lengkap rumus itu terpenuhi, kalau tidak lengkap maka penulis berita berusaha untuk bisa memenuhi kalau tidak dipenuhi maka akibatnya beritanya tidak berimbang dan cenderung menjadi pertanyaan dan permasalahan, padahal pembaca itu membaca harus lengkap supaya tidak menjadi beban dan salah paham atau pengertian, apa yang diberitakan,” ujarnya.
Sementara itu Agastya memaparkan bahwa web jangkauannya lebih luas, lebih bebas, dan tidak terbatas. “Ini beda dengan media cetak dibatasi oleh ruang dan waktu dan bisa dibuka berulang ulang, kalau media cetak selesai bisa dipakai untuk bungkus nasi dikumpulkan ditimbang jadi daur ulang tetapi kalau web tetap aman tidak berubah kalau tidak didelete atau dihapus,” kata Agas.
Agastya berpesan agar pengelola web harus teliti dalam membuat berita utamanya karena ini berita pembangunan.
“Untuk itu disaring betul apa yang ditulis karena ada fokus yaitu menginformasikan pembangunan di desa ini, untuk kriminal, pelecehan, dan kasus-kasus yang lain sudah ada yang memberitakan. Untuk itu pembuat berita harus bisa memilih dan memilah agar beritanya bisa dipahami dan dimengerti oleh pembacanya,” lanjut Agas. (Srp)