Biro Brebas Yogyakarta Selenggarakan Workshop Computational Thinking

Bebras Indonesia Biro Yogyakarta yang terdiri dari UGM, UII, UAJY dan Sanata Dharma menyelenggarakan Pelatihan dan Workshop Computational Thinking untuk guru-guru SD, SMP, SMA/SMK se-Yogyakarta pada hari Rabu (24/10) bertempat di UAJY.

Pelatihan dan workshop ini dimaksudkan untuk melatih para guru dalam menyiapkan para siswanya guna menghadapi kompetisi Brebas yang akan digelar serentak seluruh Indonesia secara online pada tanggal 15 November 2018.

Selain itu juga sekaligus sebagai sarana sosialisasi rencana pemberlakuan mata pelajaran Informatika sebagai mata pelajaran wajib untuk siswa sekolah dasar dan menengah mulai tahun 2019.

Adapun narasumber pelatihan dan workshop ini adalah Dr. Inggriani, Ketua NBO Bebras Indonesia dan Irya Wisnubhadra, S.T., M.T., Dosen FTI UAJY

Dr Inggriani menyampaikan, salah satu cara pembelajaran problem solving untuk siswa dilaksanakan dengan cara Bebras. Bebras menurutnya merupakan cara untuk melatih kemampuan problem solving dalam informatika sehingga peserta dapat mengintegrasikan kegiatan belajar mengajar.

Kompetisi Bebras dilaksanakan setiap tahun yang berisi Bebras Task atau sekumpulan soal yang disajikan dalam bentuk uraian persoalan yang dilengkapi dengan gambar yang menarik.

Tampak hadir dalam workshop Drs. Sigit Budiyanto dari Balai Pendidikan Kabupaten Sleman dan wakil rektor I UAJY The Jin Ai, S.T., M.T., . (Sutoto)




Mantaram Batik, Unggulkan Motif Khas Daerah

Rita Lestari mendapatkan pelatihan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman melalui Desa Trimulyo untuk mengembangkan kelompok Mantaram Batik yang ia dirikan pada bulan Juli 2015 lalu.  

Rita mendirikan Mantaram Batik sendiri dengan tujuan ingin mengangkat Dusun Mantaram dengan batik khas berpewarna alam. Rita memilih menggunakan pewarna alam karena menurutnya jauh lebih ramah lingkungan dan lebih aman. Pewarna alam yang dipakai Rita adalah pewarna alam instan seperti jolawe, tingi, jambal, dan tegeran.

Mantaram Batik yang dikelola oleh Rita memiliki motif khas yaitu motif melon. Alasan mengangkat motif melon diungkapkan Rita karena para anggota yang berjumlah 20 orang didominasi oleh ibu-ibu ini dulunya bukan asli pembatik melainkan petani melon. Dengan demikian Rita ingin sekaligus mengangkat hasil pertaniannya yaitu melon yang dimunculkannya dalam corak Mantaram Batik.

“Motif batik melon sering kali saya modifikasi dengan motif khas Sleman, seperti motif parijoto dan motif parang,” ucap Rita, Kamis (11/10).

Ditanya soal harga, Rita menjelaskan untuk kain cap satu kali warna dihargai senilai Rp 180 ribu dan dua kali warna dihargai senilai Rp 250 ribu. “Tergantung dari semakin banyaknya proses yang dilakukan maka akan semakin tinggi juga harganya,” imbuhnya.

Rita memproduksi batik hanya sesuai dengan pesanan saja, jika tidak ada pesanan dan hanya untuk stok di kelompok, Rita bersama anggota lainnya hanya memproduksi batik cap dan batik celup.

Untuk pemasarannya, Mantaram Batik sudah menitipkan ke beberapa toko seperti di Mirota Jalan Kaliurang, Hamzah Batik Malioboro, Galeri Primisima, dan Galeri Upakarti Kabupaten Sleman. Tidak hanya di wilayah Yogyakarta saja, Mantraman Batik sudah mencapai penjualan ke luar kota, seperti Riau, Jakarta, dan Bandung.




Nikmat Asam dan Manisnya Gudeg Salak

Kota Yogyakarta memiliki makanan khas yang akan selalu diingat oleh para wisatawan. Gudeg, makanan berbahan dasar buah nangka muda yang dimasak menggunakan santan dan daun jati hingga berwarna kecokelatan. Banyak wisatawan yang tak pernah melewatkan mencicipi gudeg jenis ini jika berkunjung ke Yogyakarta.

Namun kini, inovasi baru tengah dikembangkan oleh Pawon Pariyem. Ada satu makanan unik yang disajikan rumah makan yang berdiri sejak Juni 2018 ini yaitu Gudeg Salak. Berada di Padukuhan Kadisobo II Trimulyo Sleman, rumah makan hasil bentukan BUMDes ini menyajikan Gudeg yang terbuat dari buah salak.

Menurut Mawardi selaku Kepala Dukuh mengatakan bahwa hal ini terinspirasi dari harga salak yang cenderung turun sehingga adanya Gudeg Salak ini diharapkan dapat menjadi penyelamat bagi populasi salak lokal maupun salak pondoh, jenis salak yang digunakan dalam gudeg buatannya.

“Saya beli salak ke petani harganya Rp ,00, kalau biasanya petani jual ke pedagang Rp ,00, ini keuntungan bagi petani supaya salaknya enggak dibabat,” kata Mawardi, saat ditemui Kamis (11/10).

Pengolahan Gudeg Salak ini menurut Mawardi sama seperti gudeg pada umumnya. Untuk membuat satu porsi gudeg membutuhkan tiga sampai lima biji salak dengan cara direndam selama satu sampai dua jam di air kapur agar menghasilkan tekstur yang kenyal.

“Kalau biasanya gudeg memiliki rasa yang manis, gudeg salak memiliki rasa yang khas yaitu perpaduan antara asam dan manis,” bebernya.

Berkat si unik Gudeg Salak ini, Desa Trimulyo Sleman berhasil mengalahkan 43 desa dalam rangka pengembangan desa wisata di bidang kuliner. Hal ini yang membuat Mawardi bersemangat untuk terus mengembangkan produknya.

“Sekarang bisa bertahan 24 jam, nanti saya mau mengeksplor supaya bisa memproduksi gudeg kering sehingga nanti harapannya bisa dijadikan untuk oleh-oleh” ucap Mawardi.




Bangunkerto Maju Lomba Administrasi Desa Tingkat Kabupaten Sleman

Turi – Senin (22/10/2018), Desa Bangunkerto mewakili Kecamatan Turi maju Lomba Administrasi Desa Tingkat Kabupaten. Tim evaluasi datang pada pukul WIB dan disambut oleh Camat Turi Abdul Haris Sunarya, Kepala Desa Bangunkerto Anas Maruf, dan semua perangkat desa maupun lembaga desa.

Adapun administrasi yang dilombakan meliputi semua bidang yang ada di pemerintahan desa, termasuk lembaga desa yang ada seperti karangtaruna, LPMD, PKK, dan BPD.

Dalam sambutannya, Camat Turi berharap dengan adanya Lomba Administrasi Desa ini nantinya administrasi dan pelayanan di desa terhadap masyarakat akan lebih baik lagi. “Sehingga nantinya semua pemerintahan bisa tertib administrasi,” tambah Haris.

Tim lomba dipimpin oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Priyo Handoyo dan jajarannya sebanyak 20 orang. Dalam sambutannya, Priyo mengatakan banyak hal yang perlu diperbaiki pada administrasi Desa Bangunkerto. “Secara garis besarnya sudah bagus dan yang paling disoroti adalah bahwa di Desa Bangunkerto sudah melakukan pelayanan masyarakat secara online. Ini akan menjadi contoh untuk desa-desa yang lain di Kabupaten Sleman,” kata Priyo. (Harman)




Tour de Prambanan Kembali Digelar Bulan Ini

Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman bersama Lovina Tours dan Events Management akan menggelar kegiatan Tour de Prambanan pada Minggu (28/10) dengan mengusung tema Olahraga dan Pariwisata untuk Peradaban Baru.

Kegiatan ini bertujuan untuk menjadikan Kabupaten Sleman menjadi destinasi Sporit Tourism kelas dunia. Diharapkan kegiatan ini juga akan mampu mendongkrak kunjungan wisata di Kota Yogyakarta pada umumnya dan di Kabupaten Sleman pada khususnya.

Ada dua pitstop yang akan ditempuh peserta, dengan start di Lapangan Shiwa Candi Prambanan dan finish di Lapangan Agastya Candi Prambanan. Sampai saat ini sudah ada 650 peserta yang sudah melakukan konfirmasi dari beberapa kota. Rata-rata peserta yang ikut didominasi para Club Road Bike Indonesia, seperti Pertabike, WSKT, KFC, Paitua Aswaja Cepu, Telkom Cycling Community (TCC), PCC Semarang, Cynthia Box Community Kudus, AKPOL CJPJ, DSCC, Sala3 Gowes Club, PCC, PRBC Pekalongan, Bank BTN Cycling Community (BCC), Solo Paradiso, Animha Bike Merauke, AASOS Surabaya, SRBC Surabaya, ITSC Bike Community, LHCC Ngawi, MBC Cibubur Jakarta, Gowes Prenagent Waskita BSTR 3, ISSI Solo, DCC Bandung, dan lain-lain.

Dalam Tour de Prambanan 2018 ini akan ada juga perlombaan King and Queen of Mountain di mana peserta diadu kekuatan dan kecepatan untuk rute mendaki.

Tour de Prambanan 2018 diharapkan menjadi ajang olahraga yang akan mampu mengusung budaya Kabupaten Sleman yang terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta, yang kaya akan warisan budaya, pesona keindahan alam, dan didukung oleh infrastruktur maupun akomodasi yang berkelas sangat ideal untuk menjadi salah satu tujuan destinasi Sport Tourism. Hal ini karena peserta selama gowes dengan Road Bikenya akan menjelajahi destinasi wisata di Sleman dan Candi Prambanan sebagai ikon utamanya.  (Ode Faellasufa)