Peran Strategis MUI dalam Kehidupan Beragama

Ngaglik – Sabtu (19/1/2019) Majelis Ulama Indonesia (MUI) mempunyai peran yang strategis guna menjaga dan memberikan rasa nyaman dalam kehidupan beragama. Agar permasalahan keagamaan bisa berjalan dengan tertib dan damai, maka anggota MUI terdiri dari berbagai elemen seperti Nahdlatul ‘Ulama (NU), Muhammadiyah, dan lembaga lain yang diakui keberadaannya.

Dalam laporannya, Ketua Penyelenggara Musyarawarah Daerah (MUSDA)
MUI Kecamatan Ngaglik, Supriyadi mengatakan Pengurus MUI Kecamatan Ngaglik masa
khidmat 2014-2019 dinyatakan domisioner (berakhir). Sehingga dilaksanakan MUSDA
guna memilih pengurus yang baru periode 2019-2023, tambah Supriyadi.

Dalam kesempatan tersebut, Camat Ngaglik, Subagya menyambut
baik atas diadakannya MUSDA  untuk membentuk
pengurus baru. Subagya berharap agar dalam pemilihan terpilih pengurus yang handal
untuk memajukan program MUI di Kecamatan Ngaglik. Subagya juga menyampaikan terima
kasih terkait ketugasan MUI Kecamatan Ngaglik yang hampir tidak ada permasalahan.

Subagya menambahkan ke depan MUI Ngaglik diharapkan untuk mengoptimalkan  fungsi masjid untuk kepentingan umat dalam upaya  pengentasan kemiskinan.  Hal ini perlu disampaikan karena adanya keterbatasan dana pemerintah.

Untuk proses pemilihan pengurus MUI Kecataman Ngaglik melalui
formatur yang terdiri dari 7 orang dari unsur ormas,  pondok pesantren, dan Pengurus MUI masa khidmat
2014-201,9 dan pihak Kecamatan Ngaglik.

Setelah melalui pemilihan secara formatur, Muslimin Hamid
terpilih sebagai Ketua Umum  dan Wakil
Ketua Agus Mansur untuk kepengurusan MUI Kecamatan Ngaglik masa khidmat
2019-2023.

Dalam Sambutan perdana Muslimin Hamid mengucapkan terima kasih atas dukungannya dan meminta semua pengurus lebih aktif dalam memberikan masukan. Agar program MUI Kecamatan Ngaglik dapat berjalan dengan baik sesuai program yang telah ditetapkan.




BKM Bakti Manunggal Donokerto Mitra Pemerintah Desa

Turi – Sabtu (19/1/2019), Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Bakti Manunggal Donokerto Turi menyelenggarakan Rapat Warga Tahunan (RWT) bertempat di Balai Desa Donokerto.

Dalam
kegiatan tersebut juga hadir Camat Turi, Kades Donokerto, Ketua BPD, Ketua
LPMD, Direktur BUMDes Donokerto, serta perwakilan dari Faskel.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Donokerto, R. Jati Waluyo, mengapresiasi kegiatan RWT ini. Pun, meminta kerja sama dengan lembaga lain lebih ditingkatkan sebab BKM merupakan mitra kerja pemerintah desa. Lebih-lebih dalam bidang penanggulangan kemiskinan, pengelolaan sampah, dan peningkatan pemberdayaan masyarakat.

“Sekarang
ini Desa Donokerto sudah mempunyai BUMDes, mari kita bersama menanggulangi
sampah secara bersama. Untuk kegiatan BKM pemerintah desa juga memberikan
anggaran, semoga tahun ini dapat kita tingkatkan lebih-lebih untuk meningkatkan
SDMnya,” kata Jati.

Selanjutnya
Camat Turi, Abdul Haris Sunaryo mengatakan bahwa masalah di BKM adalah tentang
tunggakan pinjaman.

“Untuk
BKM Bakti Manunggal kami salut kepada pengurus yang dalam menangangi tunggakan
sehingga programnya dapat terlaksana dan tetap eksis. Juga diminta agar rasa
gotong royong tetap dilaksanakan dan ditingkatkan lebih-lebih dalam pelaksanaan
rehab rumah tidak layak huni dan pelaksanaan KOTAKU,” ujar Haris.

Sementara
itu, dalam laporan Koordinator BKM, Sagi Hadiwibowo menjelaskan tentang laporan
hasil review, kegiatan BKM dalam Unit Pengelola Keuangan, Unit Pengelola
Sosial, Unit Pengelola Lingkungan, dan melaporkan kegiatan program yang telah
dilaksanakan di antaranya kegiatan tentang KOTAKU dengan mengadakan pelatihan-pelatihan
serta hasil yang telah dicapai oleh BKM. Untuk UPK (Unit Pengelola Keuangan)
secara detil disampaikan oleh petugas UPK, Haryani. (Suharno)




Mahasiswa KKN Gelar Pelatihan Olahan Salak bagi Warga Jetis Suruh

Ngaglik
– Sabtu (19/1/2019) dan Minggu (20/1/2019), anggota KWT (Kelompok Wanita Tani)
ARIMBI berkumpul di kediaman Dukuh Jetis Suruh untuk mengikuti Pelatihan Olahan
Salak.

Pelatihan
ini diselenggarakan oleh mahasiswa KKN, difasilitasi oleh LP3M UMY.

Menurut
Tri Wahyono dari LP3M UMY, pelatihan ini merupakan bentuk pengabdian kepada
masyarakat berupa pemberdayaan masyarakat dengan mengembangkan potensi lokal.
Itu sebabnya dipilih aneka olahan salak karena di wilayah Jetis Suruh dan
sekitarnya banyak tanaman salak yang buahnya masih dijual dengan harga yang
sangat murah.

“Dengan
diberikan pelatihan aneka olahan salak, diharapkan dapat meningkatkan nilai
jual dan menambah pendapatan masyarakat,” ujar Tri.

Kegiatan
diawali dengan penjelasan dan motivasi dari Tina Herman, Pengurus KWT Mawar
dari Dusun Ngolodono Lumbung Rejo Tempel sebagai narasumber dan pendamping
pelatihan. Dilanjutkan proses pembuatan manisan salak. Di Minggu pagi, materi
dilanjutkan dengan finishing pembuatan manisan salak serta praktik pembuatan
sari salak dan pengemasan produk.

“Seluruh
proses harus dilakukan secara higienis dan harus menggunakan bahan alami tanpa
pengawet,” jelasnya lagi.

Pelatihan
akan dilanjutkan minggu depan, dengan materi pengemasan lanjutan. Desain
kemasan akan dibantu mahasiswa KKN. Juga tentang cara membuat geplak salak dan
dodol salak. Untuk minggu ketiga, dipandu oleh mahasiswa KKN akan dilanjutkan
dengan materi membuat kopi dari biji salak. (End)




BPBD Sleman Segera Bentuk Destana Banyuraden Guna Kurangi Risiko Kebencanaan

Gamping
– Minggu (20/1/2019) pukul WIB, Banyuraden Televisi (BRTV) streaming
mengadakan siaran langsung acara talk show bertajuk pembentukan Desa Tangguh
Bencana (Destana) di pelataran Taman Budaya dan Edukasi Embung Serut, Desa
Banyuraden, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman.

Talk
Show BRTV yang digawangi oleh Samasta, salah satu Pengurus Kelompok Informasi
Masyarakat (KIM) Kecamatan Gamping ini menghadirkan narasumber dari Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman yakni Kepala Bidang
Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Haenry Dharma Widjaja, dan Kepala Seksi
Kesiapsiagaan, Rini Isdarwati yang didampingi Kepala Desa Banyuraden,
Sudarisman.

Acara
yang terkenal dengan nama ‘Josh Talk’ ini dipandu oleh Josh Handani sebagai
Host yang dibantu segenap personil Rescue Banyuraden. Dengan durasi selama satu
jam para narasumber membahas beberapa hal dalam rangka mempersiapkan
pembentukan Desa Banyuraden sebagai Desa Tangguh Bencana di bulan Juli 2019
mendatang.

Menurut
Haenry, kondisi geografis Kecamatan Gamping, khususnya di wilayah Desa
Banyuraden yang rawan bencana angin puting beliung membutuhkan masyarakat
setempat yang tangguh dan siap menghadapi bencana karena bencana dapat terjadi
kapan saja. Masyarakat yang tangguh bencana adalah masyarakat yang mampu
mengantisipasi dan meminimalisir kekuatan yang merusak, mampu mengelola keadaan
ketika terjadi bencana, serta jika terkena dampak bencana mampu membangun
kehidupannya menjadi normal kembali atau cepat memulihkan diri secara mandiri.

Selanjutnya,
Rini Isdarwati menyampaikan bahwa pembentukan Destana mutlak diperlukan di
wilayah Kabupaten Sleman karena masyarakat merupakan penerima dampak langsung
dari bencana dan sekaligus sebagai pelaku pertama langsung yang akan merespon
bencana di wilayahnya. Destana yang sudah terbentuk sampai saat ini mencapai 45
desa dari 86 desa di Kabupaten Sleman. Di samping itu BPBD Sleman dalam upaya
melakukan kesiapsiagaan sudah membentuk sekolah siaga bencana sebanyak 55
sekolah.

“Masyarakat
perlu dibekali dalam pengetahuan mengenai pencegahan kebencanaan agar siap dan
mampu menghadapi keadaan saat bencana dan pasca bencana,” tutur Rini.

Sebagai
orang nomor satu di wilayah Banyuraden, Sudarisman menyebutkan bahwa Pemerintah
Desa Banyuraden menyambut baik akan dibentuknya Destana oleh BPBD Sleman di
tahun 2019 ini. “Kita sangat optimis karena belum dibentuk Destana saja banyak
relawan yang cinta lingkungan, sudah ada embrionya,” sebut Sudarisman.

Di
akhir perbincangan, Rini Isdarwati mengutarakan bahwa salah satu tujuan
pembentukan Destana adalah meningkatkan kerjasama antara para pemangku
kepentingan dalam Pengurangan Risiko Bencana, pihak pemerintah daerah, sektor
swasta, perguruan tinggi, LSM, organisasi masyarakat, dan kelompok-kelompok
lainnya yang peduli.

“Pengukuhan
desa tangguh bencana ini sangat strategis bagi kita khususnya masyarakat di
daerah rawan bencana untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan
masyarakat,” tambahnya. (Adnan Nurtjahjo)