Kiprah Awal UPZ Masjid Besar Baiturrahman Klidon

Ngaglik
– Takmir Masjid Besar Baiturrahman Klidon menyerahkan dana pengumpulan zakat, infak,
sedekah (ZIS) sebesar Rp 5 juta sebagai tahap awal sebagai Unit Pengumpul Zakat
(UPZ) Baznas Kabupaten Sleman, Jumat (25/1/2019) di Kantor Baznas Kabupaten
Sleman. 

Hal
ini penting karena semua orang mempunyai kewajiban zakat sesuai tuntunan agama Islam
dalam rukun Islam. Dengan adanya penyetoran dana ZIS ini, kewajiban telah terpenuhi.
Demikian arahan Kriswanto selaku Ketua Baznas Kabupaten Sleman.

Sementara
itu Suripto yang ditugasi oleh takmir untuk menyetorkan dana ZIS mengaku merasa
lega dan tenang. “Semoga bisa memberikan motivasi masjid yang lain untuk juga
menjadi UPZ Baznas Sleman,” harapnya.

Untuk
selanjutnya, akan diadakan sosialisasi sebagai tindak lanjut kesepakatan antara
UPZ Baiturrahman dan Baznas Sleman. Rencana sosialisasi akan dilaksanakan pada Minggu
(27/1/2019) di Serambi Masjid Besar Baiturrahman Klidon. Sosialisasi akan
dihadiri 100 peserta dari 25 Masjid Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila yang
ada di DIY. (Srp)




Kecermatan dan Ketelatenan Pengaruhi Hasil Produksi Blangkon Sosok Pemuda Keditan

Gamping – Di zaman milenial saat ini sedikit sekali pemuda yang mau menekuni sebagai pengrajin blangkon. Anak-anak muda tidak tertarik karena membuat blangkon membutuhkan kesabaran dan harus duduk dalam waktu yang cukup lama. Namun, di bilangan Keditan, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman terdapat sosok seorang pemuda yang berprofesi sebagai pengrajin blangkon.

Blangkon identik dengan busana tradisional masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Yogyakarta. Dalam perkembangannya, blangkon tidak hanya berfungsi sebagai penutup kepala saja, namun juga simbol status bagi masyarakat pemakainya. Hal ini seperti yang diungkapkan Ari Pambudi pemilik usaha kerajinan blangkon ‘Adinata Blangkon’ saat penulis jumpai di rumahnya, Kamis (24/1/2019).

“Usaha kerajinan blangkon ini sudah saya tekuni sejak bulan Maret tahun 2012 silam. Asal mula ketrampilan yang saya miliki ini berasal dari bapak mertua (Wagiman-red) yang tinggal di kampung Bugisan, Yogyakarta,” ucap Ari.

Pemuda kelahiran Sleman tahun 1979 ini menuturkan, blangkon adalah tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa. Menurut wujudnya, ada empat jenis blangkon yaitu jenis blangkon Ngayogyakarta, blangkon Surakarta, blangkon Kedu, dan blangkon Banyumasan. Sedangkan untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonjolan pada bagian belakang blangkon. Tonjolan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka di bagian belakang kepala, sehingga bagian tersebut tersembul di bagian belakang blangkon.

“Sekarang lilitan rambut panjang yang menjadi mondholan sudah dimodifikasi karena orang sekarang kebanyakan berambut pendek dengan membuat mondholan yang dijahit langsung pada bagian belakang blangkon. Adapun blangkon Surakarta mondholannya trepes atau gepeng sedangkan mondholan ciri khas gaya Yogyakarta berbentuk bulat,” tambah pria yang juga menjabat sebagai Ketua RT. 01 Padukuhan Salakan.

Selain trampil membikin blangkon, bapak satu anak ini juga mahir membuat asesoris kelengkapan berbusana jawa seperti selop, sabuk, lonthong, samir, kamus, anggar, serta kamus timang. Di samping memiliki usaha, Ari juga sebagai pembawa acara pernikahan dalam bahasa jawa (Pambiwara-red) serta menerima pesanan pembuatan surjan dan jasa wiru jarik.

“Sudah banyak bakul-bakul yang kulakan dalam jumlah besar disini antara lain dari Jakarta, Bandung, Semarang, Temanggung, Magelang, Kediri, Nganjuk, dan Yogyakarta,” ujarnya.

“Proses produksi blangkon tidaklah serumit yang dibayangkan. Namun kecermatan dan ketelatenan, sangat mempengaruhi kualitas hasil jadi blangkon. Sebagai industri Usaha Kecil dan Menengah (UKM), Ari Pambudi berharap peran serta dari pemerintah berkaitan dengan pengembangan usaha blangkon khususnya untuk pemasaran produksi,” pungkasnya. (Adnan Nurtjahjo)




Keluarga Sadar Gizi, Indonesia Sehat dan Produktif

Jakarta – Harta yang paling berharga adalah keluarga, mutiara tiada tara adalah keluarga. Cuplikan lagu dari sebuah film nasional tersebut menggambarkan betapa penting arti menjaga kondisi seluruh anggota keluarga.

Keyakinan akan pentingnya keluarga sebagai sebuah investasi
masa depan juga menginspirasi peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) ke-59 dengan mengangkat
sub tema “Keluarga Sadar Gizi, Indonesia Sehat dan Produktif”. Kemudian
diperkuat dengan tema “Membangun Gizi Menuju Bangsa Sehat Berprestasi” agar
masyarakat Indonesia menyadari penerapan pola gizi seimbang berpengaruh besar
terhadap kualitas hidupnya.

“Pembangunan kesehatan dengan investasi utama pembangunan
sumber daya manusia Indonesia akan memberikan manfaat jangka panjang dan
berkelanjutan,” jelas Menkes Nila F. Moeloek dalam sambutannya di puncak HGN
yang diperingati setiap tanggal 25 Januari ini.

Salah satu komponen terpenting dalam pembangunan kesehatan,
imbuh Menkes, adalah terpenuhinya kebutuhan gizi masyarakat terutama pada
periode Hari Pertama Kelahiran (HPK). Ia mengingatkan pula bahwa periode
kehamilan hingga anak berusia 2 tahun merupakan kesempatan emas dalam mencetak
generasi berkualitas bebas stunting dan masalah gizi lainnya.

Intervensi pada periode HPK tidak boleh diabaikan,
karena menjadi penentu tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan dan produktivitas
seseorang. Lantaran ancaman stunting dan masalah gizi lainnya berdampak besar
bagi negara.

“Arah pembangunan kesehatan saat ini dititikberatkan pada
upaya promotif preventif yang dinilai dapat memberikan dampak kesehatan yang
lebih luas dan lebih efisien dari sisi ekonomi,” urai Menkes.

Sebagai investasi utama pengembangan sumber daya manusia,
pembangunan kesehatan yang berkelanjutan mutlak diperlukan, dimana salah satu
komponen utamanya adaIah melalui perbaikan gizi masyarakat. Kekurangan gizi
pada masa janin dan anak usia dini akan berdampak pada perkembangan otak dan
rendahnya kemampuan kognitif yang dapat mempengaruhi prestasi belajar dan
keberhasilan pendidikan.

Selain itu, imbuh Menkes, kurang gizi yang dialami pada awal
kehidupan juga berdampak pada peningkatan risiko gangguan metabolik yang
berujung pada kejadian penyakit tidak menular pada usia dewasa, seperti
diabetes tipe Il, stroke, penyakit jantung dan lainnya. Dalam jangka panjang,
hal ini akan berdampak pada menurunnya produktivitas yang selanjutnya dapat
menghambat pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan kemiskinan dan kesenjangan di
masyarakat.

“Upaya bersama berbagai pemangku kepentingan perlu terus
dilakukan sesuai peran dan fungsinya masing-masing dengan mengutamakan
komitmen, kampanye, konvergensi program, akses pangan bergizi dan monitoring
program,” kata Menkes.

Langkah kedepannya, upaya tersebut perlu bersinergi dengan
sistem pangan global, melalui penerapan pola gizi seimbang untuk mencapai
ketahanan pangan dan gizi, kesehatan, pembangunan pertanian dan lingkungan
secara terpadu.

Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan
RI dr. Kirana Pritasari, MQIH memaparkan, peringatan HGN ke-59 tahun 2019 bukan
sekadar seremonial semata. Harapannya  dapat meningkatkan komitmen dan mempererat
kolaborasi seluruh elemen bangsa untuk bekerja bersama membangun gizi dalam
upaya mencegah stunting demi bangsa Indonesia yang sehat dan berkualitas.

Saat ini, Indonesia masih dihadapkan pada tantangan berbagai
permasalahan gizi, yaitu masih tingginya prevalensi stunting (pendek/kerdil), underweight (berat kurang), wasting (kurus), dan anemia pada ibu
hamil serta semakin meningkatnya obesitas pada dewasa (Riskesdas, 2018).
Berbagai masalah gizi tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang menghambat
peluang Indonesia untuk menjadi negara maju.

Berbagai permasalahan gizi saat ini baik gizi kurang
termasuk stunting dan gizi lebih, terjadi hampir di seluruh strata ekonomi
masyarakat baik di perdesaan maupun perkotaan. Hal ini menunjukkan bahwa yang
mendasari terjadinya masalah gizi tersebut bukan hanya kemiskinan, namun juga
kurangnya pengetahuan masyarakat akan pola hidup sehat dan pemenuhan gizi yang
optimal.

Upaya intervensi gizi sensitif dari semua sektor terkait
perlu ditingkatkan sebagaimana tertuang dalam Perpres Nomor 42 tahun 2013
tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dan Inpres 1 tahun 2017
tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat dan penguatan manajemen pelaksanaan
intervensi gizi spesifik di Kementerian Kesehatan untuk mewujudkan Indonesia
Sehat melalui percepatan penurunan stunting dan berbagai masalah gizi lainnya.