Tingkatkan Kesadaran Masyarakat Sinduharjo untuk Hidup Sehat

Ngaglik – Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) adalah forum masyarakat Desa Sinduharjo untuk membahas masalah yang ada di tengah-tengah masyarakat terutama masalah kesehatan masyarakat.

Kegiatan
yang terselenggara pada Selasa (29/01/2019) ini diinisiasi oleh Puskesmas
Ngaglik I dan dihadiri oleh dukuh dan kader Desa Sinduharjo. Pertemuan MMD Desa
Sinduharjo ini dilaksanakan di RM Banyu Wening Sardonoharjo Ngaglik.

Hasil
evaluasi dari tim Puskesmas Ngaglik I ada 10 besar masalah yang ada di wilayah
Sinduharjo yang saat ini, antara lain penggunaan alat kontrasepsi 54%, diare 15%,
hipertensi 15%, menguji kualitas air 52%, pengelolaan sampah 53%, pengelolaan
limbah cair 53%, merokok 59%, toga 45%, aktifitas fisik 57%, dan gangguan jiwa
3%.

“Dengan
masih adanya 10 permasalahanini, diharapkan kader dan perangkat desa dapat
mengambil langkah untuk penanganannya,” kata dr. M. Indriyanto. C dari Puskesmas
Ngaglik I.

Sementara
itu, Kepada Desa Sinduharjo, Sudarja, mengatakan bahwa hingga saat ini telah
diadakan penyuluhan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di 17 padukuhan Desa
Sinduharjo

Karenanya,
ia berharap dengan evaluasi masalah kesehatan di wilayah Desa Sinduharjo ini, bisa
meningkatkan kesadaran masyarakat akan kesehatan. (SPN)




Petani Salak Bangunkerto Kembangkan Pupuk Organik

Turi
– Pemerintah Desa Bangunkerto bekerja sama dengan Penyuluh Pertanian Lapangan
(PPL) mengadakan pelatihan pembuatan pupuk organik di Ruang Rapat Kantor Desa
Bangunkerto, Selasa (29/1/2019) mulai pukul WIB.

Adapun
yang ikut dalam pelatihan pembuatan pupuk organik adalah perwakilan dari
kelompok tani dan kelompok wanita tani yang ada di Desa Bangunkerto.

Pelatihan
dibuka oleh Kepala Desa Bangunkerto, Anas Maruf. Dalam sambutannya, Anas berharap
pelatihan tersebut bisa bermanfaat bagi masyarakat khususnya petani salak. “Penduduk
di Bangunkerto mayoritas sebagai petani salak pondoh sehingga dengan adanya
pelatihan ini semua masyarakat bisa beralih ke pertanian organik,” ujar Anas.

Anas
menuturkan dengan pertanian organik khususnya salak pondoh dapat meningkatkan
nilai jual salak bahkan bisa ikut ekspor ke luar negeri sehingga dapat
meningkatkan perekonomian masyarakat Bangunkerto.

Anas
juga berharap agar semua peserta bisa mengikuti pelatihan tersebut hingga
selesai dan nantinya bisa menularkan ilmu kepada masyarakat lainnya.

Narasumber
pembuatan pupuk organik adalah Ananta, sosok yang sudah lama berkecimpung di
bidang pertanian organik sekaligus sebagai produsen pupuk organik. Pelatihan diawali
dengan pemaparan teori cara pembuatan maupun komposisi dan bahan yang tepat
untuk membuat pupuk organik. Dilanjutkan dengan praktik pembuatan pupuk oleh peserta
pelatihan.

Maryani,
salah satu dari peserta pelatihan yang merupakan Ketua Kelompok Wanita Tani Dusun
Wonosari Bangunkerto menunjukkan antusiasmenya mengikuti pelatihan tersebut.

“Karena
pelatihan pembuatan pupuk organik ini sangat bermanfaat bagi masyarakat petani
dan semua ilmu yang didapat nantinya bisa disampaikan kepada semua anggota
kelompok kami,” katanya. (Harman)




Geplak Salak Solusi Hadapi Harga Salak Pondoh yang Terus Merosot

Turi
– Kelompok Wanita Tani (KWT) Dusun Wonosari, Bangunkerto, Turi melakukan
inovasi untuk menyikapi harga salak yang akhir-akhir ini terus merosot.

“Jika
musim panen raya harganya di petani berkisar Rp – Rp . Hal ini yang
selalu dikeluhkan oleh masyarakat petani salak di Kecamatan Turi, fenomena ini
sudah berlangsung kurang lebih tiga empat tahun belakangan ini,” ungkap Suharman
selaku Pembina KWT di Dusun Wonosari yang ditemui di kediamannya, Selasa (29/1/2019).

Inovasi
yang dijalankan menurut Harman adalah melalui pembuatan geplak salak. Pembuatan
geplak salak ini dilakukan setiap 3 hari sekali oleh KWT Dusun Wonosari.

Proses
pembuatan bertempat di rumah Ketua Kelompok KWT yaitu Maryani.

Maryani
mengatakan, buah salak pondoh setelah diubah menjadi geplak salak bisa memiliki
nilai jual yang cukup tinggi sehingga sangat membantu petani salak dalam
menyikapi anjloknya harga salak pondoh.

“Petani
salak pondoh tidak terlalu khawatir karena bahan baku yang melimpah dan semua ada
sehingga tidak perlu membeli,” ujar Maryani.

Adapun
bahan yang digunakan untuk membuat geplak salak adalah buah salak, kelapa muda,
dan gula pasir. Semua bahan direbus menjadi satu dan diaduk terus-menerus
hingga kering.

Pembuatan
geplak ini dilakukan masih secara manual sehingga memerlukan waktu dan tenaga
yang cukup lama.

Jika
proses pembuatan dilakukan dengan benar, Maryani menyampaikan bahwa geplak
salak bisa bertahan hingga tiga bulan.

“Untuk pemasaran produk ini sangat mudah, selain menerima pesanan secara online juga disetorkan ke desa wisata yang ada di kecamatan Turi dan harganya pun bervariasi tergantung jumlah pesanan dan jarak kirimnya. Sedangkan untuk harga di tempat dibandrol Rp 60 ribu per kilonya,” tutur Maryani. Selain bisa didapatkan di kediamannya, tercatat Desa Wisata Pulesari dan Desa Wisata Ploso Kuning, keduanya di Kecamatan Turi, yang juga sudah memasarkan produk ini.

Maryani
berharap dengan rutinnya produksi geplak salak di KWT Dusun Wonosari ini, bisa
menambah perekonomian masyarakat. “Diharapkan pemerintah bisa memberikan
bantuan baik berupa modal maupun peralatan yang modern sehingga hasil produksi
geplak salak akan lebih bagus dan juga banyak sehingga petani salak pondoh
ekonominya benar-benar dapat meningkat,” imbuhnya. (Harman)