Kecermatan dan Ketelatenan Pengaruhi Hasil Produksi Blangkon Sosok Pemuda Keditan

Gamping – Di zaman milenial saat ini sedikit sekali pemuda yang mau menekuni sebagai pengrajin blangkon. Anak-anak muda tidak tertarik karena membuat blangkon membutuhkan kesabaran dan harus duduk dalam waktu yang cukup lama. Namun, di bilangan Keditan, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman terdapat sosok seorang pemuda yang berprofesi sebagai pengrajin blangkon.
Blangkon identik dengan busana tradisional masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Yogyakarta. Dalam perkembangannya, blangkon tidak hanya berfungsi sebagai penutup kepala saja, namun juga simbol status bagi masyarakat pemakainya. Hal ini seperti yang diungkapkan Ari Pambudi pemilik usaha kerajinan blangkon ‘Adinata Blangkon’ saat penulis jumpai di rumahnya, Kamis (24/1/2019).
“Usaha kerajinan blangkon ini sudah saya tekuni sejak bulan Maret tahun 2012 silam. Asal mula ketrampilan yang saya miliki ini berasal dari bapak mertua (Wagiman-red) yang tinggal di kampung Bugisan, Yogyakarta,” ucap Ari.
Pemuda kelahiran Sleman tahun 1979 ini menuturkan, blangkon adalah tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa. Menurut wujudnya, ada empat jenis blangkon yaitu jenis blangkon Ngayogyakarta, blangkon Surakarta, blangkon Kedu, dan blangkon Banyumasan. Sedangkan untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonjolan pada bagian belakang blangkon. Tonjolan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka di bagian belakang kepala, sehingga bagian tersebut tersembul di bagian belakang blangkon.
“Sekarang lilitan rambut panjang yang menjadi mondholan sudah dimodifikasi karena orang sekarang kebanyakan berambut pendek dengan membuat mondholan yang dijahit langsung pada bagian belakang blangkon. Adapun blangkon Surakarta mondholannya trepes atau gepeng sedangkan mondholan ciri khas gaya Yogyakarta berbentuk bulat,” tambah pria yang juga menjabat sebagai Ketua RT. 01 Padukuhan Salakan.
Selain trampil membikin blangkon, bapak satu anak ini juga mahir membuat asesoris kelengkapan berbusana jawa seperti selop, sabuk, lonthong, samir, kamus, anggar, serta kamus timang. Di samping memiliki usaha, Ari juga sebagai pembawa acara pernikahan dalam bahasa jawa (Pambiwara-red) serta menerima pesanan pembuatan surjan dan jasa wiru jarik.
“Sudah banyak bakul-bakul yang kulakan dalam jumlah besar disini antara lain dari Jakarta, Bandung, Semarang, Temanggung, Magelang, Kediri, Nganjuk, dan Yogyakarta,” ujarnya.
“Proses produksi blangkon tidaklah serumit yang dibayangkan. Namun kecermatan dan ketelatenan, sangat mempengaruhi kualitas hasil jadi blangkon. Sebagai industri Usaha Kecil dan Menengah (UKM), Ari Pambudi berharap peran serta dari pemerintah berkaitan dengan pengembangan usaha blangkon khususnya untuk pemasaran produksi,” pungkasnya. (Adnan Nurtjahjo)



