Kemenkes Targetkan Universal Health Coverage

Tangerang – Kementerian
Kesehatan (Kemenkes) RI gelar Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakerkesnas) 2019
di Tangerang, pada 11-13 Februari. Hasil dari Rakerkesnas tahun ini adalah munculnya
target Kemenkes yakni meningkatkan cakupan kesehatan semesta (UHC).
Untuk
menuju cakupan kesehatan semesta, maka dibutuhkan tenaga, kolaborasi Pusat dan
Daerah dalam Penguatan Pelayanan Kesehatan Menuju Cakupan Kesehatan Semesta.
Menteri
Kesehatan RI Nila Moeloek mengatakan cakupan kesehatan semesta bukan hanya
pencapaian jumlah orang yang dicakup oleh JKN, melainkan suatu rangkaian upaya
yang holistik, strategis, dan integral dari semua upaya pembangunan kesehatan
pada seluruh tahapan siklus kehidupan manusia.
“UHC bertumpu pada upaya promotif, preventif termasuk pengendalian penyakit serta pelayanan kesehatan kuratif dan rehabilitatif dengan mengarusutamakan pelayanan kesehatan primer yang berkualitas,” katanya Selasa (12/2/2019) di Tangerang.
Dalam
Sidang Executive Board 144 tahun 2019, telah disepakati WHO 13th General
Program of Work untuk mencapai target kesehatan pada tahun 2023 oleh semua
negara anggota WHO, termasuk Indonesia.
Target-target tersebut mencakup satu milyar orang mendapatkan manfaat
Universal Health Coverage (UHC), satu milyar orang lebih terlindungi dari
kedaruratan kesehatan, dan satu milyar orang menikmati hidup yang lebih baik dan sehat.
Pemerintah
bersama masyarakat berkomitmen untuk
mencapai Cakupan Kesehatan Semesta (Universal Health Coverage) agar semua orang
memiliki akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang komprehensif dan
bermutu tanpa hambatan finansial.
Saat
ini ada salah pengertian, seakan-akan
cakupan kesehatan semesta sama dengan cakupan kepesertaan semesta dan
bila seluruh penduduk Indonesia telah menjadi peserta JKN maka cakupan
kesehatan semesta dianggap telah tercapai.
Sebenarnya,
cakupan kesehatan semesta telah tercapai kalau masyarakat telah menjadi peserta
JKN dan seluruh penduduk sudah memiliki akses terhadap layanan kesehatan yang
komprehensif dan bermutu, baik upaya promotif, preventif, deteksi dini,
pengobatan, rehabilitative dan
paliatif tanpa terkendala masalah biaya.
Jadi jauh lebih kompleks dari sekedar kepesertaan JKN.
“Cakupan
kesehatan semesta juga sangat berkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
(SDGs), yang mentargetkan bahwa pada tahun 2030 tidak satupun orang yang tidak
menikmati hasil pembangunan berkelanjutan (no one is left behind),” kata
Menkes.
Rakerkesnas 2019
Pada
12 – 13 Februari 2019 sebanyak orang yang terdiri dari peserta Kemenkes,
Unit Pelayanan Teknis (UPT) Vertikal Kemenkes, peserta Daerah (Dinas Kesehatan
dan Rumah Sakit Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota seluruh Indonesia), Lintas
Sektor/Lintas Program, Swasta, serta organisasi masyarakat yang berkaitan
dengan kesehatan, berkumpul untuk melakukan rapat kerja kesehatan nasional
(Rakerkesnas).
Pada
Rakerkesnas kali ini ada 8 Side event dalam 8 kelompok untuk membahas issue
kesehatan dengan melibatkan peran aktif peserta pertemuan dengan tema antara
lain Angka Kematian Ibu/AKI — Angka Kematian Neonatal/AKN, Penyakit Tidak
Menular (PTM), Stunting, Imunisasi, Tuberkulosis (TB), digital health/e-health,
kesiapan menghadapi bencana (pra dan post), pengelolaan Sumber Daya Manusia
(SDM) dan obat, Jaminan Kesehatan Nasional/JKN (Fasilitas Kesehatan Tingkat
Pertama/FKTP dan Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut/FKRTL) dan
community engagement.
Kegiatan Rakerkesna
2019 diawali dengan Pra Rakernas yang diisi dengan materi Evaluasi Kinerja
Pembangunan Kesehatan dan Laporan Perkembangan Hasil Rakernasnas 2018; Evaluasi
PISPK, Evaluasi Pelaksanaan Program Dekonsentrasi dan DAK dalam Program dalam
Anggaran Kesehatan; Dialog dan Komitmen Menkes dan Eselon 1 dengan dengan para
peserta mengangkat tema PTM AKI dan AKN, serta sarasehan Revitalisasi Saka
Bakti Husada.


