Asah Keterampilan Sebelum Dirikan Usaha Sendiri

Turi
– Pemerintah Desa Bangunkerto bekerja sama dengan BLK (Balai Latihan Kerja) Kabupaten
Sleman mengadakan pelatihan las listrik bagi pemuda di Bangunkerto, Jumat (22/2/19).

Selaku
penanggung jawab pelatihan Subandrio dari BLK menuturkan bahwa pelatihan las
ini diikuti oleh 16 orang yang terdiri dari perwakilan pemuda yang ada di Desa
Bangunkerto.

Pelatihan
dilaksanakan selama satu bulan yang bertempat di Balai Desa Bangunkerto.

Subandrio
berharap usai pelatihan ini nantinya para peserta bisa menciptakan usaha
bengkel las listrik sehingga bisa menciptakan lapangan kerja.

“Selain
itu, setelah selesai pelatihan nanti semua peserta juga akan mendapatkan
sertifikat dari BLK jadi selain bisa mendirikan usaha sendiri juga bisa untuk
melamar pekerjaan,” imbuhnya.

Salah seorang peserta pelatihan, Arifin, mengatakan bahwa para peserta sangat senang dengan adanya pelatihan ini karena sangat membantu untuk mengasah keterampilan dalam mengelas. Arifin mengaku dirinya juga bercita-cita setelah selesai pelatihan nanti akan membuka jasa bengkel las listrik sendiri. (Harman)




Memilih Pemimpin Negeri di Kota Pelajar

Ngaglik
– Status Yogyakarta sebagai kota pelajar tak urung menjadikannya sebagai
destinasi pendidikan bagi para pemuda dari seluruh Indonesia. Terkait
pelaksanaan Pemilu serentak 2019, PPS se-Kecamatan Ngaglik membuka posko
pelayanan pindah memilih di sekretariat masing-masing.

“Pemilu
serentak 2019 merupakan Pemilu yang berbasis KTP el, dalam kaitan itu pembukaan
posko dimaksudkan untuk mengakomodasi warga masyarakat ber-KTP el dari luar
wilayah Ngaglik yang ingin menggunakan hak pilihnya di sini,” terang Dimas
Permanahadi, Divisi Teknis dan Perencanaan PPK Ngaglik ketika ditemui di
kantornya, Jumat (22/02/2019).

Yusuf
Indra Wahyuni, Divisi Data PPK Ngaglik menambahkan bahwa sampai saat ini
permohonan pengajuan pindah memilih dengan form A.5 mencapai 45 pemilih keluar
dan 540 pemilih masuk dari seluruh desa yang ada di Kecamatan Ngaglik.

“Permohonan
pindah memilih yang masuk akan kita rekap, kemudian kita ajukan ke KPUD untuk
dimasukkan ke dalam DPTb (Daftar Pemilih Tambahan). Sampai saat ini, permintaan
pindah memilih terbanyak berasal dari Desa Sardonoharjo yang notabene merupakan
wilayah yang paling dekat dengan universitas dan pondok pesantren,”
terangnya.

Syarat
utama pengurusan pindah memilih adalah telah terdaftar di DPT dimanapun di
seluruh Indonesia. Kemudian pemohon dapat mendatangi sekretariat PPS sesuai
alamat tinggalnya di Ngaglik dengan membawa KTP el dan fotocopy KK untuk
mendapatkan formulir A.5 sebagai bukti pindah memilih.

“Ada
beberapa orang yang dengan sangat terpaksa tidak bisa kita layani karena belum
terdaftar di DPT. Untuk orang dengan kasus seperti ini, yang bersangkutan harus
mengurus pendataan dirinya di tempat asal sesuai alamat KTP el-nya,” imbuh
Dita Hendri, Divisi Hukum PPK Ngaglik.

Terkait
daftar pemilih, setiap orang dapat mengecek apakah dirinya sudah terdaftar
sebagai pemilih dengan mengakses , bisa juga
dengan aplikasi KPU RI yang dapat di download via playstore atau appstore.
(DHI)




Budaya Sebagai Alat Pemersatu Bangsa

Ngaglik
– Lenggak-lenggok gemulai kelompok Tari Angguk Lentur Padukuhan Bakalan
menyambut kehadiran rombongan Kusiyah Sri Purnomo beserta rombongan Tim Juri Lomba
Desa Unggulan 2019 di Area Embung Jetis Suruh, Rabu (20/2/2019). Salah satu
aspek yang dinilai dalam Evaluasi Lomba Desa Unggulan 2019 adalah tentang seni
dan budaya.

Menurut
Sumaryana, Pamong Budaya Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman sebagai salah satu
tim juri, seni dan budaya perlu dinilai untuk melihat sejauh mana nilai dan
budaya dilestarikan di masyarakat. Secara detail, ada tiga kategori
keberhasilan tentang seni dan budaya. Pertama, PNB atau Penanaman Nilai-Nilai
Budaya, kedua PWB yaitu Pelestarian Warisan Budaya, dan ketiga PSB Potensi Seni
Budaya.

Penanaman
nilai-nilai budaya mencakup nilai-nilai yang berkembang di masyarakat seperti
neloni, mitoni, tedhak siten, tetesan, yang berkaitan dengan masyarakat seperti
wiwit, nyadran, kenduri.

Pelestarian
Nilai Budaya berupa kegiatan pembuatan data dinding atas kegiatan adat dan
budaya yang ada di masyarakat. Apa saja kegiatan adat dan budaya yang ada di
desa, ada di padukuhan mana saja, berdiri sejak kapan, dan berapa jumlah
anggotanya.

“Adapun
potensi seni dan budaya adalah apa saja kelompok kelompok seni, sanggar sanggar
tari, kegiatan kegiatan latihan seperti Jatilan, ketoprak dan data data
pementasan,” demikian dijelaskan Sumaryana dalam bincang-bincang saat
melakukan Evaluasi Desa Unggulan.

Sudarmin,
Ketua Paguyuban Ketoprak Mataram Dono Budoyo Donoharjo, menjelaskan bahwa Paguyuban
Ketoprak Donoharjo sudah merencanakan untuk melakukan pentas secara rutin.
Diawali dengan pentas pada acara Festival Merapi tanggal 22 Desember 2018 di
Area Embung Jetis Suruh, kemudian tanggal 5 Januari 2019 pentas Ketoprak Dono
Budoyo di Balai Desa Donoharjo dan tanggal 22 Februari nanti akan pentas
bertempat di Padukuhan Donolayan. Paguyuban Ketoprak juga sudah terdaftar dan
mendapat NIK dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman.

Sudarmin
berharap, semoga upaya melestarikan warisan budaya bisa membawa seluruh
masyarakat Donoharjo ke arah persatuan dan kesatuan. “Budaya sebagai alat
pemersatu bangsa,” katanya menjelaskan tentang moto Paguyuban Ketoprak
Donoharjo. (End)




Semangat Berbagi bagi Tumbuh Kembang Anak Munculkan Usaha Fox and Bunny

Ngaglik – Usaha busy book dengan merek ‘Fox and Bunny’ dirintis sejak tahun 2016 ketika pemilik usahanya Novia Chandra memiliki anak berusia 2 tahun yang kecanduan gadget.

“Ketika saya berusaha meminta HP, anak saya seketika tantrum, menangis meronta seperti disiksa. Pada titik ini saya merasa ada yang salah dan saya merasa gagal mendidik anak.  Kemudian saya tahu karena anak seusia itu anak sudah mulai melakukan keinginannya sendiri tapi masih sangat sulit untuk diberikan pengertian dan menuruti nasehat. Mereka sedang giat bereksplorasi tapi saya berikan gadget, hal yang tidak tepat sehingga kebablasan. Saya lalu mencari cara dan referensi dan bertemulah dengan quiet booking (luar negeri) dan busy book (Indonesia). Produk luar negeri mahal sementara produk lokal dibawah ekpektasi saya, saya lalu mencipta produk sendiri dan saya sodorkan ke anak saya dan Alhamdulillah anak saya suka dan lepas dari gadget sama sekali. Karena semangat berbagi, maka saya pasarkan dengan merek Fox and Bunny.  Kami dan team berusaha menghadirkan kualitas terbaik dengan harga terjangkau,” jelas Novi lagi dalam Evaluasi Desa Unggulan 2019 Rabu (20/2/2019) sebagai salah satu stan potensi di Embung Jetis Suruh.

Pemasaran
produk ini masih full online melalui
website dan Instagram dengan sebaran customer paling banyak Jabodetabek. Pasar luar negeri di Malaysia,
Singapura, dan Australia dengan omset 250-300 juta per bulan.

Kelebihan produk ini atraktif dan interaktif, menurut Novi desain warga dan aktivitas sudah disesuaikan dengan kebutuhan syaraf sensorik, motorik dan visual anak, bisa dicuci dan awet.

“Semoga
produk kami bisa membantu meringankan permasalahan orangtua masa kini yang
tidak hanya mengikuti tren semata dan semoga semua bisa mengambil manfaat dari
hadirnya kami, dan misi kami bagi tumbuh kembang anak yang lebih dan lebih
sehat bisa tersampaikan dengan baik kepada semua pelanggan kami,”
harapnya. (End)




Lindungi Anak dari Tindak Kekerasan Seksual

Ngaglik
– Lingkungan dan keluarga yang selaras merupakan menara gading kemajuan bangsa
karena setiap anak sejatinya memerlukan kondisi lingkungan yang ideal agar
tumbuh kembangnya optimal.

Demi
menggugah partisipasi dan kesadaran masyarakat, kelompok GN-AKSA (Gerakan
Nasional- Anti Kekerasan Seksual Anak) Kemilau dari Dusun Banteran, Donoharjo
bergerak aktif untuk mensosialisasikan pentingnya menjaga buah hati dari tindak
kekerasan seksual.

“Secara
umum terminologi kekerasan pada anak tidak hanya berbicara tentang kekerasan
fisik dan seksual, melainkan juga mencakup kekerasan secara verbal dan psikis
melalui bullying,” tutur Dian
Purwaningsih, salah satu motor sosialisasi.

Ditemui
di sela acara lomba desa unggulan di Embung Jetis, Rabu (20/2/2019), Dian
merasa miris karena dari pengalamannya, kebanyakan pelaku kekerasan justru
berasal dari lingkungan dekat survivor.

“Dari
kasus yang saya temui di lingkungan sekitar tempat tinggal, 90% pelaku
kekerasan adalah orang- orang yang di kenal oleh survivor dengan kasus terbanyak berupa kekerasan verbal dan
psikis,” imbuh Dian.

Dalam
pandangan anggota GN-AKSA Kemilau, perlu usaha luar biasa dari semua pihak
untuk membentuk kesadaran kolektif mengenai ancaman kekerasan seksual pada anak.
Perlindungan langsung memang sangat diperlukan namun kurang bijaksana jika
dilakukan dengan cara-cara over protektif membatasi ketat gerak eksplorasi anak
terhadap lingkungan.

Metode
pendekatan dalam sosialisasi pun dibuat beragam disesuaikan dengan rentang
umur, seperti lagu dan permainan untuk anak- anak, konseling untuk usia remaja,
sharing dan pelatihan untuk dewasa.

“Bagaimanapun
kekerasan seksual pada anak adalah kejahatan luar biasa yang harus kita
upayakan pencegahannya. Salah satu fokus utama dari gerakan ini menyangkut
organ reproduksi manusia, tak ayal kami harus menyinggung tentang bagian-bagian
privat tubuh tersebut meski kadang orang merasa risi atau bahkan menganggap
tabu,” tutup Dian. (DHI)