Asah Kreativitas dengan Fotografi

Ngaglik
– Pemerintah Desa Donoharjo menggelar acara dengan tajuk Pelatihan Fotografi
Pemdes untuk Karang Taruna Donoharjo, Minggu (24/2/2019) di Foodcourt Embung Jetis
Suruh.

Sekretaris Desa Donoharjo, Anang Patri Widyantoro saat membuka acara mengatakan bahwa kegiatan ini adalah agenda rutin  tahunan sebagai wujud kepedulian Pemdes bagi karang taruna Donoharjo.

“Untuk
mendapatkan tambahan bekal pengetahuan dan ketrampilan dengan harapan anak muda
Donoharjo punya kegiatan yang positif dan untuk kali ini dipilih seni fotografi,”
ujar Anang.

Sebagai
narasumber Budi Yuwono atau Budi Cc-line seorang desainer grafis lulusan Pasca
Sarjana Institut Seni Indonesia yang telah malang melintang di dunia fotografi
hingga mendapatkan penghargaan sebagai Best of Photographer 2011.

“Dunia
fotografi adalah dunia yang mengasikkan karena mampu memadukan teknologi
digital, seni dan kreativitas dan bila ditekuni secara serius bisa dijadikan
sebagai sumber penghasilan,” ujar pria yang mengaku menghidupi keluarga
dengan 5 orang anak dari seni fotografi.

Dalam
kesempatan tersebut Budi Cc-line memberikan materi berupa pengenalan perangkat
kamera DSLR (Digital Single Lens
Reflector
) beserta fitur-fiturnya, teknik pengambilan gambar, sekaligus
editing foto.

Pria
yang mempunyai motto Creates New Realitiez di setiap karyanya ini mengungkapkan,
di dunia fotografi selain pengambilan obyek gambar baik melalui kamera DSLR
atau kamera handphone maka editing foto sangatlah penting karena akan
menjadikan gambar yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa.

“Dengan cara memadukan komposisi, proporsi, balance, point of interest menjadikan gambar lebih hidup atau bernyawa dan lebih bermakna, dengan demikian penikmat karya foto bisa terbawa dalam suasana yang dibangun, contohnya orang perkotaan yang terbiasa hidup serba cepat penuh persaingan, gedung tinggi, suasana panas, dan kemacetan  bila melihat karya foto dengan suasana pedesaan, hijaunya tanaman, petani sedang menggarap sawah tentu akan merasakan kesejukan dan kedamaian,” jabarnya.

Budi
Cc-line mengatakan dirinya siap mendedikasikan ilmunya untuk belajar bersama
mengolah foto menggunakan digital imaging, dengan harapan dapat mencetak
fotografer-fotografer baru yang hasil karyanya bisa dinikmati khalayak. Untuk
itu pada kesempatan tersebut, ia memotivasi pemuda Donoharjo untuk membuat
karya foto dan mengunggah ke media sosial sebanyak-banyaknya.

“Karena
kita tidak tahu yang mana bakal menjadi rejeki kita,” ungkapnya mengakhiri
pembicaraan. (Up W)




Jangkau Pelanggan Potensial Lewat Copywriting dan Video

Gamping – Sabtu (23/2/2019) pukul , Google Indonesia kembali membuka kelas Gerakan Pelatihan Usaha Rakyat (Gapura) Digital yang berlangsung di Hotel Fave Malioboro, Kotabaru, Yogyakarta.

Kali ini mengangkat tema kelas konten dan copywriting serta membangun merek lewat video yang disampaikan oleh fasilitator Gapura Digital, Ariful Amar dari Adsiconia. Hadir sebagai peserta pelatihan, Sekretaris KIM Gamping, Adnan Iman Nurtjahjo di antara puluhan pelaku bisnis dari berbagai jenis usaha dan daerah asalnya.

Menurut Project Officer Gapura Digital, Dhimas Ragil Mumpuni peserta pelatihan bagi pelaku usaha kecil menengah (UKM) seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta ini tanpa dipungut biaya alias gratis. Pelatihan sejumlah 8 modul ini bertujuan untuk mendukung dan memajukan bisnis UKM melalui dunia digital.

“Ada berbagai kelas yang diselenggarakan Gapura Digital yang bisa diikuti diantaranya kelas Reguler dan kelas Ekstensi dengan materi Handal Digital maupun Profesional Digital,” tutur Dhimas RM.

Dalam paparannya, Ariful menyampaikan Konten marketing merupakan strategi pemasaran yang dapat merencanakan, membuat serta mendistribusikan konten serta bisa menarik audiens secara tepat sasaran sehingga dapat membuat mereka menjadi konsumen.

“Dengan adanya konten marketing, pelaku usaha dapat memperoleh pelanggan potensial yang sesuai, membangun hubungan dengan pelanggan lama Anda serta dapat membuat orang lain yang belum mengetahui merek Anda menjadi tahu akan merek serta produk Anda,” ungkap Fasilitator yang humoris.

Ariful menambahkan, tujuan utama copywriting adalah menjual produk atau jasa yang ditawarkan atau dipromosikan kepada audiens. Kelebihan copywriting yaitu menarik audiens untuk membaca atau mengklik iklan, menonjolkan produk atau jasa yang dipromosikan dibandingkan dengan kompetitor lain, serta membantu memberikan hasil transaksi penjualan dengan cara yang lebih cepat dan waktu yang lebih singkat.

Selanjutnya Ariful mengupas tentang manfaat membangun merek melalui video. Menurutnya produk yang kompleks membutuhkan edukasi ke pelanggan, apabila produk membutuhkan visual atau informasi yang detail, maka video sangat cocok untuk hal tersebut diabanding banner apalagi teks untuk menyampaikan pesan.

“Di samping itu dengan video dapat membuat cerita yang baik dan dapat meningkatkan interaksi dengan pelanggan, memudahkan pelanggan mengingat merek, membangun ikatan emosi yang positif serta berpotensi untuk dibagikan lebih luas, yang paling penting adalah video online menjangkau pelanggan lebih banyak,” tambah Ariful. (Adnan Nurtjahjo)




Membincang Tepian Zaman Ketoprak Tobong

Ngaglik – Ketoprak Tobong populer di dunia hiburan rakyat antara dekade 70 dan 80-an. Pada zaman keemasannya, para pemain bak artis yang selalu ditunggu penampilannya, masyarakat rela antri membeli karcis dan berebut sudut pandang panggung terbaik sebelum pementasan dimulai.

“Kini kelompok Ketoprak Tobong yang masih aktif di seluruh penjuru pulau Jawa bisa dihitung dengan jari. Patron mereka adalah hidup berpindah-pindah, menggelar pentas di suatu tempat dalam rentang waktu tertentu. Bisa 5 bulan, 3 bulan, atau beberapa minggu,” ungkap Sugiman Dwi Nurseto, Ketua Kelompok Ketoprak Sleman, Sabtu (23/02/2019) dini hari di sela pentas Paguyuban Ketoprak Mataram Sekar Dono Budoyo.

Dalam setiap perpindahan, bukan hanya pemain yang ikut serta, tetapi juga semua properti pendukung pentas seperti gamelan, kostum, dan bahkan panggung tempat pertunjukan.

“Ada beberapa versi mengenai kata Tobong, ada yang berpendapat Tobong adalah singkatan dari “toto bongkar” merujuk pada panggung yang digunakan, mirip konsep pasar malam yang marak dalam beberapa tahun terakhir. Para pemain dan pendukung benar- benar melakukan aktivitas keseharian di tenda (tobong). Irama kehidupan yang menjadi sekolah bagi pelaku seni seperti kami” imbuh Sugiman.

Selain durasi waktu yang dianggap relatif lama dalam satu kali pementasan, masifnya perkembangan dunia digital disinyalir menjadi faktor utama menurunnya minat penonton. Jenis hiburan yang makin bervariasi, mudah dijangkau melalui radio, televisi maupun media sosial lain tak pelak membuat orang tak perlu lagi keluar rumah untuk menonton sebuah pertunjukan.

Seiring berjalannya waktu, menyesuaikan dengan perkembangan yang ada, “Ketoprak Tobong” bergeser menjadi “Konsep Pendapan” dalam pementasan lakon ketoprak.

“Pendapan diadaptasi dari kata pendapa sebagai tempat yang biasa dipakai pementasan. Sudut pandang penonton tidak hanya dari depan, tapi juga dari sisi kanan kiri panggung. Memang belum menyamai masa kejayaan Ketoprak Tobong dalam hal jumlah penonton dan pendapatan finansial, namun upaya mempertahankan tradisi berkesenian ketoprak perlu kita upayakan terus menerus” tutup Sugiman. (DHI)




Spirit Ketoprak Sebagai Tontonan dan Tuntunan

Ngaglik – Kebudayaan sebagai hasil cipta rasa karsa manusia memegang peranan penting bagi terbentuknya karakter adiluhung sebuah bangsa.

Jauh dari kemewahan, Jumat (22/2/2019) Paguyuban Ketoprak Mataram Dono Budoyo menggelar pementasan dengan lakon Kamandoko Adu Jago, Lutung Kasarung di Dusun Donolayan, Donoharjo, Ngaglik.

“Pementasan ini diadakan dalam rangka Gelar Budaya Desa Donoharjo dengan dukungan dari Pemerintah Desa, Karang Taruna, Warga Masyarakat dan Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman,” buka Sudarmin, Ketua Paguyuban.

Sebanyak 60 orang pemain dan penabuh gamelan dari seluruh penjuru Ngaglik terlibat dalam pertunjukan berdurasi 5,5 jam tersebut.

“Tidak ada yang dibayar, hanya sebatas konsumsi dan transport dengan nilai yang tidak seberapa. Semangat untuk berekspresi, menyuguhkan hiburan sekaligus menyisipkan pesan moral kepada khalayak menjadi dasar pijakan utama bagi kami semua,” imbuh Sudarmin.

Marjiyo selaku sutradara pementasan menilai cerita yang sudah banyak diketahui khalayak ini cukup lengkap memotret seluk beluk kehidupan manusia. Dibalik roman percintaan Kamandaka dan Cipta Rasa, terselip potret tentang keteguhan hati, pertarungan ego dan heroisme yang dibalut indah dalam sebuah seni peran berseting kerajaan Pajajaran.

“Meski latihan sudah dilakukan berkali-kali, namun suasana pementasan tidak selalu dapat diprediksi. Kepekaan pemain dalam improvisasi sangat diperlukan agar esensi dan alur cerita tetap dapat ditangkap oleh penonton,” tutup Marjiyo. (DHI)




Berbagi Kebaikan melalui Potong Rambut Gratis

Ngaglik – Sudah bukan zamannya lagi usaha bisnis sekadar mengejar keuntungan kapital sebesar- besarnya. Guna berbagi kebaikan kepada sesama, Jumat (22/02/2019) di mulai jam , Pondok Barber Arfa menggelar potong rambut gratis bagi 50 orang dari lingkungan SSB Gelora Muda, Gadingan, Sinduharjo, Ngaglik.

“Sebagai rasa terimakasih kami atas kepercayaan pelanggan pada Arfa Barbershop, kami berbagi keuntungan melalui kegiatan seperti ini setiap 3 bulan sekali,” ungkap Fathy, manajer HRD Arfa.

Sebelum kegiatan di SSB Gelora Muda, Pondok Barber Arfa telah bekerjasama dengan 2 Panti Wredha dan 1 sekolah dasar dalam rangka pelaksanaan kegiatan serupa.

“Hari ini adalah pelayanan potong gratis ke-4 dalam 9 bulan terakhir. Pondok Barber Arfa melibatkan 6 orang barberman untuk melayani anak- anak, pelatih dan wali murid SSB. Namun sesuai tagline kami ‘Truly Manly’, kami hanya memberikan pelayanan untuk pria,” lanjut Fathy.

Dika, Barberman dari Pondok Barber Arfa mengatakan bahwa praktik memotong rambut on the spot secara masal mempunyai tantangan tersendiri dibandingkan memotong di studio barber.

“Tekanan jelas lebih terasa, selain dituntut memberikan hasil terbaik kami juga harus mengerjakan dengan waktu terbatas dalam suasana lingkungan yang lebih ramai,” ujar Dika.

Lusi Qanita, salah satu wali murid SSB Gelora Muda merasa senang dan terbantu dengan adanya kegiatan seperti ini.

“Tidak dapat dimungkiri, setiap bidang usaha mempunyai kebutuhan dan motif finansial, namun alangkah indahnya jika tidak melupakan sisi sosial kemanusian. Harapan saya, akan lebih banyak pelaku usaha yang mempunyai semangat berbagi keuntungan dengan masyarakat dalam berbagai bentuk kegiatan amal,” kata Lusi.(DHI)