Pendamping Desa Budaya Punya Peran Strategis dalam Upaya Pemajuan Kebudayaan

Sebanyak
17 Pendamping Desa Budaya melakukan tatap muka dan silahturahmi kepada Kepala
Dinas Kebudayaan H.Y. Aji Wulantara, Senin (25/ 02/ 2019). Kegiatan ini
dimaksudkan untuk mempererat hubungan kerja antara Pendamping Desa Budaya
dengan Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman.

Pendamping Desa Budaya mempunyai ketugasan pendampingan terhadap desa-desa budaya di Kabupaten Sleman. Berdasarkan Keputusan Gubernur nomor 262/ KEP/ 2016 tanggal 2 Desember 2016, di Kabupaten Sleman terdapat 12 Desa Budaya. Adapun tugas Pendamping Desa Budaya, antara lain peta budaya, profil budaya, pendampingan pengurusan Nomor Induk Kebudayaan (NIK) dan publikasi website.

Dalam
arahannya H.Y. Aji Wulantara, (Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman
mengharapkan kepada Pendamping Desa Budaya untuk mendengarkan aspirasi
masyarakat dalam pemajuan kebudayaan sebagaimana yang diamanatkan dalam
Undang-Undang nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Dengan
dibantu oleh Pendamping Desa Budaya, diharapkan pembangunan kebudayaan mencapai
hasil yang optimal karena para pendamping mempunyai kedudukan yang strategis
yaitu dekat dengan masyarakat.

Dalam
pemerintahan maupun dalam kehidupan masyarakat harus berpedoman kepada
kebudayaan yang hidup di masyarakat. Untuk itu dalam implementasi kebudayaan
diperlukan konsep kecamatan sebagai pusat kebudayaan untuk tingkat kecamatan, desa
berbudaya untuk tingkat desa, dan masyarakat berbudaya untuk tingkat padukuhan.
(Dinas Kebudayaan)




Kaji Wawasan Kebangsaan Guna Kendalikan Potensi Konflik

Cangkringan – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar Seminar Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan dengan tema Sinau Pancasila dan Wawasan Kebangsaan, Rabu (27/2/2019) pukul WIB di Pendopo Kecamatan Cangkringan.

Sebagai
narasumber dalam acara tersebut antara lain Kepala Kesbangpol DIY dan Dosen
Pusat Studi Pancasila dari UIN Yogyakarta. Adapun undanga dalam acara tersebut
antara lain Kapolsek Cangkringan, Danramil Cangkringan, Pemerintah Desa, kepala
sekolah, perwakilan siswa, karang taruna, tokoh budaya, anggota linmas, anggota
relawan, serta tokoh masyarakat di Cangkringan.

Dalam
sambutannya Mustadi selaku Camat Cangkringan, menyampaikan bahwa acara seperti
ini sangat bagus sekali diadakan, terkhusus berkaitan dengan wawasan kebangsaan
serta ideologi Pancasila.

“Apalagi
di zaman saat ini, generasi milenial harus tahu dan paham akan NKRI yang
seutuhnya,” ujar Mustadi.

Sementara itu Sudiro, Bidang Ideologi mewakili Kepala Badan Kesbangpol DIY menyampaikan materi dengan judul Peta Perubahan Sosial dan Potensi Konflik di Kabupaten Sleman.

NKRI
dituturkan Sudiro adalah sebuah negara kepulauan yang berciri nusantara dengan
wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan undang-undang.

“Secara
umum di Sleman saat ini untuk potensi konflik masih bisa dikendalikan. Sleman mendapat
sebutan Indonesia mini karena berbagai suku, ras, dan agama ada di dalamnya
sehingga konflik rentang terjadi,” kata Sudiro.

Selanjutnya
narasumber kedua, Mashur dari Pusat Studi Pancasila UIN Yogyakarta menyampaikan
bahwa pendidikan Pancasila harus terus dilakukan. Manshur menyebut masyarakat
perlu memasyarakat Pancasila karena Yogyakarta menjadi salah satu pemberi
spirit kebangsaan berdirinya NKRI.

“Banyak
tokoh nasional yang lahir dari Yogyakarta sehingga potensi masyarakat sangat
luar biasa. Untuk itu wawasan kebangsaan harus digali dan dikaji secara matang,
salah satunya dengan seminar dan diskusi semacam ini,” ujarnya. (Sumarno)




Saling Belajar, Saling Adopsi Nilai Positif

Ngaglik
– Selasa (26/2/2019), Formadon (Forum Anak Donoharjo) mendapat kunjungan dari Fanta
(Forum Anak Kabupaten Batang, Jawa Tengah) dengan jumlah 20 peserta. Rombongan
diterima di Aula Balai Desa oleh Pemerintah Desa Donoharjo, dilanjutkan sarasehan
di Aula Foodcourt Embung Jetis Suruh.

Dalam
sambutannya, Muchlasin, Kepala Dinas P3PAKB (Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana) Kabupaten
Batang menyampaikan maksud kunjungannya untuk belajar tentang forum anak dan
bagaimana mewujudkan Kabupaten Layak Anak dengan anggaran yang sangat minim serta
belum ada desa yang menganggarkan secara khusus.

Hadi
Rintoko, Kepala Desa Donoharjo pun menjelaskan bahwa tahun 2018 Desa Donoharjo
mendapatkan dana desa sebesar Rp 800 juta dan akan naik menjadi Rp
pada tahun 2019. Sebagian dari dana desa tersebut, yaitu Rp 23,7
juta pada tahun 2018 dan Rp 24,7 juta di tahun 2019 dialokasikan untuk
mewujudkan Desa Ramah Anak. Kepala Desa berharap, anak- anak dapat tumbuh dan
berkembang dengan baik, dan berharap mereka bisa menjadi anak saleh dan kelak
menjadi pemimpin bangsa.

Sementara itu, Sumarni, Kepala Seksi Pemenuhan Hak Anak Dinas P3AP2KB Kabupaten Sleman ditemui di sela acara sarasehan menjelaskan bahwa dengan kegiatan studi banding ini diharapkan anak-anak bisa saling belajar dan saling mengadopsi kebaikan yang ada di antara mereka. Pun, diharapkan ada komunikasi yang terjalin untuk mengembangkan jaringan dan wawasan anak.

Lebih
Lanjut Sumarni menjelaskan bahwa forum anak adalah wadah bagi anak untuk mengeluarkan
pendapat dan berpartisipasi aktif dalam pembangunan.

“Diharapkan
forum anak juga dilibatkan dalam penyusunan perencanaan seperti dalam murenbang
baik tingkat desa, kecamatan maupun kabupaten,” katanya.

Adapun
tugas dan fungsi forum anak dikatakan Sumarni ada dua, yaitu sebagai pelopor
dan pelapor. “Pelopor dalam kegiatan positif, kebaikan, tidak merokok, tidak
menikah dini dan anti kekerasan. Pelapor untuk melaporkan hal hal yang tidak
sesuai dengan pemenuhan hak anak ke P3AP2KB,” jabarnya.

Kegiatan
sarasehan berjalan dengan akrab, ada pertanyaan dari Fanta tentang bagaimana
Formadon bisa berjalan.

Syarif,
Ketua Formadon menjawab bahwa usai dibentuk pada bulan November 2018, Formadon langsung
menyelenggarakan malam keakraban di bulan Desember.

Kegiatan Formadon disampaikan Syarif setiap bulan dibagi dua, yaitu temu dan polah. Temu atau pertemuan di minggu pertama dan polah berupa aktivitas di minggu ketiga. Aktivitas yang dilakukan seperti menyelenggarakan dolanan anak dari dusun ke dusun, menata perpustakaan, atau membantu kesibukan pemerintah desa.

Selain
melakukan studi banding ke Kemadang Gunung Kidul, Formadon sudah
menyelenggarakan lomba futsal dan menjadi pelaksana dalam lomba melukis, lomba
mewarnai, juga lomba akustik. “Bukan dengan fasilitas yang berlebih karena
anak-anak Formadon berkegiatan dibagi snack
seharga dua ribu rupiah pun sudah merasa senang,” kelakar Syarif menjawab
pertanyaan dari Fanta. (End)




Jaga Komitmen Masyarakat Dirikan Desa Wisata

Turi – Pemerintah Desa Bangunkerto bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Provinsi DIY mengadakan Sarasehan Kampanye Sadar Wisata, Selasa (26/2/19) pukul WIB di Aula Kantor Desa Bangunkerto.

Sarasehan
diikuti oleh semua pengurus dan pengiat desa wisata di Desa Bangunkerto.

Di Desa Bangunkerto sendiri kini mulai bermunculan desa wisata, di antaranya Desa Wisata Kelor. Rejodadi, Plosokuning, Pulewulong, Gadung, Kawedan, dan Ngentak sehingga perlu adanya kampanye sadar wisata ini.

Adapun
sebagai narasumber dari Dinas Pariwisata Provinsi DIY, Wardoyo.

Wardoyo
menitikberatkan pada kesadaran dalam membangun desa wisata. Menurutnya, banyak
hal yang harus diperhatikan dalam mendirikan dan mengelola desa wisata, yang
paling utama adalah komitmen masyarakat jika sudah berdiri menjadi desa wisata.

“Harus
menjaga Sapta Pesona, menggali dan membuat sesuatu yang beda dengan desa wisata
yang lainnya, jangan sampai cuma semangat di depan dan akhirnya melempem,” ujar Wardoyo.

Selain
itu, Wardoyo mengatakan SDM yang handal harus disiapkan dan selalu menguatkan
kelembagaannya. Di samping itu, pihak Dinas Pariwisata Provinsi DIY juga
meminta Pemerintah Desa Bangunkerto untuk selalu mendukung berdirinya desa
wisata dengan menyiapkan anggaran yang cukup sehingga nantinya desa wisata bisa
cepat berkembang.

Wardoyo
juga mengatakan bahwa semangat membangun desa wisata adalah untuk meningkatkan perekonomian
masyarakat sehingga dapat mengurangi kemiskinan yang ada di desa wisata
tersebut. (Harman)