14 Tahun Berdiri, RSKIA Sadewa Berkomitmen Ingin Lebih Dekat dengan Masyarakat

Depok – Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA) Sadewa genap berusia 14 tahun. Perayaan hari jadi diadakan pada hari Minggu (10/2/2019) di komplek Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DIY, Babarsari, Depok, Sleman, atau tepat berada di depan RSKIA Sadewa.

Beberapa acara digelar dalam menyemarakkan peringatan hari jadi tersebut. Salah satunya RSKIA Sadewa menggelar senam bersama yang mengikutsertakan warga sekitar. Sejak pagi hari ratusan warga sekitar RSKIA Sadewa sudah berkumpul di komplek perkemahan DIY tersebut. Tampak warga dari berbagai usia antusias mengikuti senam bersama. Setelah senam bersama usai, kemudian dilanjutkan dengan pembagian doorprize.

Bukan itu saja, acara kemudian dilanjutkan dengan lomba menghias tumpeng. Lomba ini hanya diikuti oleh karyawan RSKIA Sadewa saja. Tumpeng yang dihias pun bermacam-macam, mulai dari nasi hingga berbagai jenis jajanan. Uniknya, seluruh peserta lomba diwajibkan memakai pakaian adat saat lomba berlangsung.

Komisaris RSKIA Sadewa, Dwikisworo Setyowireni, atau yang biasa dipanggil Reni ini berharap dengan peringatan hari jadi RSKIA Sadewa dapat lebih mendekatkan dengan masyarakat. Dikatakan bahwa memang RSKIA Sadewa telah berkomitmen untuk selalu dekat dengan masyarakat, terutama warga kurang mampu. Meski begitu, Heni mengatakan RSKIA Sadewa selalu meningkatkan kualitas pelayanan di RSKIA Sadewa.

“Salah satunya tahun lalu kita membuat pelayanan Bayi Tabung, yang mana ini pertama di DIY,” jelas Reni.

Di samping itu, dia mengatakan ke depan RSKIA Sadewa juga akan mengembangkan pelayanan bagi anak yang terganggu tumbuh kembangnya.  (Hafid)




Pasar Sambilegi Terima Penghargaan BPOM RI Kategori Pasar Aman dari Bahan Berbahaya

Depok – Minggu (10/2/2019) bertempat di Area Parkir Car Free Day-Halaman Pakir Sarinah Jakarta, diselenggarakan kegiatan peringatan ulang tahun Badan POM ke-18 yang mengambil tema Bakti Untuk Negeri. Pada kegiatan ini BPOM mengadakan berbagai kegiatan seperti senam massal, pemeriksaan kesehatan, donor darah, lomba masak, pemberian penghargaan dan lain sebagainya.

Pada kesempatan kali ini, Kabupaten Sleman menjadi satu-satunya penerima penghargaan kategori pemerintah daerah sub kategori Pasar Aman dari Bahan Berbahaya. Pasar Sambilegi Maguwoharjo Sleman adalah pasar yang mendapatkan penilaian dan memperoleh penghargaan dari BPOM RI.

Bupati Sleman, Sri Purnomo menerima langsung penghargaan tersebut. Penghargaan diserahkan oleh Kepala BPOM RI Dr. Ir. Penny K. Lukito, MCP.

Sri Purnomo menyatakan bahwa penghargaan ini merupakan awal dari perjuangan Sleman untuk menjadikan pasar di Kabupaten Sleman yang benar-benar aman dari bahan-bahan berbahaya. Sri Purnomo mengibaratkan apa yang telah dilaksanakan ini adalah bentuk tindakan preventif, yang artinya lebih baik mencegah daripada mengobati.

“Jadi menghindarkan konsumen dan juga melindungi konsumen untuk tidak mengkonsumsi bahan-bahan berbahaya. Selain itu dengan komitmen bersama dari lintas sektor peredaran bahan-bahan berbahaya di pasar tradisional kita dapat diminimalisir,” ucap Sri Purnomo.

Kepala Dinas Perindustian dan Perdagangan Kabupaten Sleman Tri Endah Yitnani yang dalam kesempatan tersebut mendampingi Bupati Sleman menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Sleman dalam memulai pengawasan penyalahgunaan bahan berbahaya dalam pangan dirintis oleh Dinas Pasar sejak tahun 2011 bekerja sama dengan BPOM DIY. Selanjutnya Bupati Sleman menerbitkan SK tentang tim pengawas terpadu penyalahgunaan bahan berbahaya dalam pangan sejak tahun 2013 dengan melibatkan lintas Perangkat Daerah (Dinas Kesehatan, Dinas Perindagkop, Dinas Pasar, Satpol PP, Setda Kab dan lain-lain).

“Hal ini menandakan bahwa komitmen kepala daerah terhadap permasalahan bahan berbahaya untuk pangan sangat tinggi,” ujar Endah.

Ditambahkannya, program pasar aman dari bahan berbahaya bekerjasama dengan BPOM telah dimulai pada tahun 2013 dengan intervensi masing-masing 1 pasar di setiap Kabupaten/ Kota. Untuk DIY yang memiliki 5 Kabupaten/Kota, intervensi awal dilakukan terhadap 5 pasar salah satunya adalah di Pasar Sambilegi yang terletak di Kabupaten Sleman.

Pasar Sambilegi sendiri merupakan pasar yang terletak di Desa Maguwoharjo Kecamatan Depok Kabupaten Sleman, dengan luas area m2 terletak dipinggir jalan penghubung Yogyakarta dan wilayah Jawa tengah seperti Klaten/ Solo. Berdasarkan jenis barang yang dijual, Pasar Sambilegi termasuk pasar kelas B, yaitu menjual aneka kebutuhan masyarakat mulai dari sayur, buah, daging ikan ayam, makanan atau jajanan matang, bumbu serta barang non konsumsi seperti peralatan dapur, pakaian dan kebutuhan rumah tangga lainya. Jumlah pedagang sebanyak 348 orang yang menempati 44 Kios dan 304 los pasar.

“Pasar ini telah memiliki Paguyuban pedagang pasar. Beberapa anggotanya bertugas membantu BPOM di Yogyakarta untuk melakukan sampling, pengujian  serta pembinaan kepada pedagang yang produk pangannya tidak memenuhi syarat. Petugas pasar juga sudah mendapatkan pelatihan kegiatan yang sama,” terang Endah.

Pasar Sambilegi juga telah dilengkapi dengan bangunan pasar permanen yang terpelihara. Tidak terlihat genangan air dan terdapat lorong yang cukup untuk pengunjung. Pasar memiliki ventilasi dan pencahayaan yang baik. Setiap los sudah dilengkapi dengan fasilitas yang layak dan tertata dengan baik.

Suplai air berasal dari air sumur kondisi bersih dan layak dipakai. Tempat sampah di bagian luar khusus digunakan untuk tempat pembuangan akhir oleh pedagang pasar. Setiap hari dilakukan pengambilan sampah akhir sehingga tidak bau dan berserakan.

“Peralatan yang digunakan untuk menjual makanan terbuat dari bahan yang kuat, tidak berkarat dan dijaga kebersihannya, tidak ada tempat penjualan unggas hidup. Perilaku pedagang telah menerapkan hidup bersih dan sehat. Tidak ada yang merokok atau meludah di sembarang tempat, serta menjaga kebersihan tubuh secara umum. Kerjasama dengan pihak puskesmas selain untuk deteksi penyakit juga sebagai sarana sosialisasi dalam memelihara kebersihan dan kesehatan tubuh,” tambah Endah. (ivh)




Peletakan Batu Pertama Awali Pembangunan Gedung MWC NU

Godean – Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun lakukan peletakkan batu pertama pembangunan Gedung Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Godean Dusun Ngabangan, Sidoluhur, Minggu (10/2/19).

Peletakkan batu tersebut mengawali pembangunan Gedung MWC NU yang akan berdiri di atas tanah wakaf seluas 240 m2. Pembangunan Gedung ini juga merupakan salah satu upaya pengurus MWC NU untuk lebih mempermudah dan meningkatkan semangat izzul islam wal muslimin ahlussunah wal jamaah di seluruh wilayah Kecamatan Godean bagi seluruh warga Nahdliyin.

“Di samping  rencana pembuatan gedung Kantor MWC NU secara terpadu dalam grand settingnya yang akan dibuat tiga lantai, MWC NU dengan seluruh badan otonomnya dan dibantu donatur yang tidak mengikat akan memanfaatkan salah satu lantai untuk Rumah Anak Yatim yang pada saatnya akan dibutuhkan,” papar ketua MWC yang sekaligus menjadi Ketua Pembangunan, Sugiyo Ahmad.

Lebih lanjut, Sugiyo juga menjelaskan bahwa pembangunan gedung MWC NU Godean ini juga merupakan salah satu sasaran dalam program tahun 2019 MWC NU Godean yaitu memiliki kantor yanh ideal untuk menunjang perjalanan organisasi agar lebih optimal.

Sementara itu, dalam kesempatan tersebut Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun menyampaikan apresiasinya terhadap pembangunan Gedung MWC NU Kecamatan Godean. Dirinya juga berharap pembangunan Gedung tersebut mendapatkan kemudahan dan selesai sesuai dengan yang direncanakan. (Humas Sleman)




Sleman Siap Tambah Satu Lagi Sarana Pelayanan Kesehatan

Sleman – Bupati Sleman, Sri Purnomo, melakukan peletakan batu pertama Rumah Sakit (RS) PKU Muhammadiyah Sleman, Sabtu (9/2/2019), bertempat di Dusun Sawahan, Desa Pandowoharjo, Kecamatan Sleman. Ini adalah salah satu upaya Pemerintah Kabupaten Sleman untuk memberikan pelayanan kesehatan yang baik bagi masyarakat di Kabupaten Sleman.

“Selain masalah pendidikan, Pemerintah kabupaten Sleman juga memprioritaskan masalah Kesehatan”, ucap Sri Purnomo pada acara yang juga dihadiri oleh Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun, tersebut.

Menurutnya di samping dikenal sebagai kota pelajar, Sleman juga dikenal sebagai kota kesehatan. Pasalnya di Kabupaten Sleman saat ini ada sebanyak 28 Rumah Sakit Umum baik milik pemerintah ataupun swasta. Maka dengan adanya RS PKU Muhammadiyah Sleman ini, Sri Purnomo berharap dapat semakin meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Sleman.

“Semoga pembangunannya cepat selesai dan segera dapat melayani masyarakat Sleman”, ujarnya.

Sementara Abdul Kadir selaku Ketua Pembangunan RS PKU Muhammadiyah Sleman optimis pihaknya dapat menyelesaikan pembangunan rumah sakit tersebut dalam waktu satu tahun. Ia berharap seluruh warga Muhammadiyah mendukung program tersebut sehingga dapat selesai tepat waktu dan dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan bersama.

Ia juga mengatakan RS PKU Muhammadiyah Sleman tersebut nantinya akan bertipe D. Berdiri di atas tanah seluas meter dengan luas bangunan meter dengan total biaya Rp 17 miliar, Bangunan berkapasitas 9 klinik di antaranya klinik layanan kesehatan ibu dan anak, syaraf, bedah, dan penyakit dalam.

“Seluruh rumah sakit Muhammadiyah se-Indonesia siap memberi masukan terkait teknik-teknik pembangunan termasuk juga sarana prasarana”, kata Abdul.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penggalangan dana pembangunan RS PKU Muhammadiyah Sleman. Penggalangan dana yang dikumpulkan dari peserta yang hadir tersebut berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp . Dengan rincian infaq Rp ,500 dan kesanggupan Rp . Selain itu juga dibagikan celengan kepada setiap Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) se-Kabuapten Sleman. Celengan tersebut sebagai simbol penggalangan infaq dari seluruh warga Muhammadiyah se-kabupaten Sleman. Celengan diberikan secara simbolis oleh Bupati Sleman serta dilanjutkan dengan peletakan batu pertama oleh Bupati dan Wakil Bupati serta Ketua Panitia Pembangunan.

Acara tersebut juga menghadirkan pembicara KH. Muslim Rahmadi, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kendal yang mengajak undangan yang hadir untuk memberikan infaknya untuk pembangunan RS dan sebagai jalan menuju surga. 




Desa Sukoharjo Berkomitmen Wujudkan Desa Sehat Jiwa

Ngaglik – Desa
Sukoharjo telah dicanangkan menjadi Desa Siaga Sehat Jiwa.
Penandatanganan komitmen kader desa sehat jiwa dilakukan oleh Kepala
Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan
Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman dr. Patimah Hariyati,
Camat Ngaglik Subagya, Kepala Desa Sukoharjo Hadi Subronto, Kasi
Pelayanan Desa Sukoharjo Sujadi serta kader kesehatan Desa Sukoharjo
di Aula Balai Desa Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, Jumat (8/2/2019).

Camat Ngaglik
Subagya mengungkapkan Desa Sukoharjo diharapkan dapat bebas dari
penyakit jiwa, serta masyarakat senantiasa dapat mengelola adanya
penyakit jiwa. Sehat jiwa dan raga manusia merupakan suatu
keseimbangan yang perlu diperhatikan. Dalam hati yang sehat
diperlukan suatu rasa syukur terhadap kesehatan.

Lebih lanjut Subagya
berharap kader yang ada di Desa Sukoharjo dapat menjadi pionir
penggerak di masyarakat. Kader-kader Desa Sukoharjo ini sebelumnya
telah mendapatkan bimbingan teknis mengenai kesehatan jiwa selama
tiga hari.

Sementara itu, dr. Patimah Hariyati mengimbau kepada masyarakat apabila melihat warga masyarakat yang mengalami gangguan jiwa dapat diperhatikan kemudian dapat disampaikan di pihak terkait seperti misalnya Puskesmas II Ngaglik sehingga dapat didata dan diatasi. Begitupun juga apabila di masyarakat diketahui ada yang mengalami seperti gejala tahap awal seperti depresi.

Pendidikan kesehatan jiwa untuk masyarakat dapat meminimalkan resiko masalah gangguan jiwa yang ada di masyarakat. Risiko yang dialami gangguan penyakit jiwa ini bisa membahayakan baik bagi penderita maupun bagi lingkungan sekitarnya sehingga diperlukan terapi dan rehabilitasi bagi pasien gangguan jiwa. Dengan dicanangkannya desa siaga sehat jiwa di Desa Sukoharjo, masyarakat akan menjadi semakin tangguh dalam menghadapi kesehatan jiwa. (KIM Sukoharjo/Nur)