Membincang Tepian Zaman Ketoprak Tobong

Ngaglik – Ketoprak Tobong populer di dunia hiburan rakyat antara dekade 70 dan 80-an. Pada zaman keemasannya, para pemain bak artis yang selalu ditunggu penampilannya, masyarakat rela antri membeli karcis dan berebut sudut pandang panggung terbaik sebelum pementasan dimulai.
“Kini kelompok Ketoprak Tobong yang masih aktif di seluruh penjuru pulau Jawa bisa dihitung dengan jari. Patron mereka adalah hidup berpindah-pindah, menggelar pentas di suatu tempat dalam rentang waktu tertentu. Bisa 5 bulan, 3 bulan, atau beberapa minggu,” ungkap Sugiman Dwi Nurseto, Ketua Kelompok Ketoprak Sleman, Sabtu (23/02/2019) dini hari di sela pentas Paguyuban Ketoprak Mataram Sekar Dono Budoyo.
Dalam setiap perpindahan, bukan hanya pemain yang ikut serta, tetapi juga semua properti pendukung pentas seperti gamelan, kostum, dan bahkan panggung tempat pertunjukan.
“Ada beberapa versi mengenai kata Tobong, ada yang berpendapat Tobong adalah singkatan dari “toto bongkar” merujuk pada panggung yang digunakan, mirip konsep pasar malam yang marak dalam beberapa tahun terakhir. Para pemain dan pendukung benar- benar melakukan aktivitas keseharian di tenda (tobong). Irama kehidupan yang menjadi sekolah bagi pelaku seni seperti kami” imbuh Sugiman.
Selain durasi waktu yang dianggap relatif lama dalam satu kali pementasan, masifnya perkembangan dunia digital disinyalir menjadi faktor utama menurunnya minat penonton. Jenis hiburan yang makin bervariasi, mudah dijangkau melalui radio, televisi maupun media sosial lain tak pelak membuat orang tak perlu lagi keluar rumah untuk menonton sebuah pertunjukan.
Seiring berjalannya waktu, menyesuaikan dengan perkembangan yang ada, “Ketoprak Tobong” bergeser menjadi “Konsep Pendapan” dalam pementasan lakon ketoprak.
“Pendapan diadaptasi dari kata pendapa sebagai tempat yang biasa dipakai pementasan. Sudut pandang penonton tidak hanya dari depan, tapi juga dari sisi kanan kiri panggung. Memang belum menyamai masa kejayaan Ketoprak Tobong dalam hal jumlah penonton dan pendapatan finansial, namun upaya mempertahankan tradisi berkesenian ketoprak perlu kita upayakan terus menerus” tutup Sugiman. (DHI)



