Ciptakan Generasi Unggul yang Menjaga Kesehatan Gigi

Ngaglik
– Demi menciptakan generasi penerus yang berbudaya hidup bersih dan sehat,
lembaga pendidikan anak Islam TPA (Taman Penitipan Anak), KB (Kelompok Bermain),
dan RA (Raudatul Athfal) Nabila bersama dengan Puskesmas Ngaglik II adakan
acara parenting menjaga kebersihan gigi dan mulut. Acara tersebut dihadiri
oleh wali murid, para guru, dan pengelola lembaga bertempat di masjid Al
Hidayah Sompilan, Donoharjo, Ngaglik, Sabtu (2/3/2019).

Bila
gigi sehat, fungsi sebagai pengunyah menjadi baik, makanan tercerna dengan
sempurna, dan anak mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh kembangnya.
Demikian yang dikatakan Winarni selaku Kepala Sekolah TPA, KB, dan RA Nabila.

Lebih
lanjut Winarni mengatakan, kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap semester.

“Sebagai
ajang silaturahim antara wali murid, guru, dan pengelola lembaga serta sebagai
sarana menambah pengetahuan dan wawasan wali murid dalam mendidik anak sehingga
nantinya akan sinkron antara pendidikan yang diperoleh di sekolah dengan
pendidikan di rumah,” kata Winarni.

Tantri
Yuniarsi dari Puskesmas Ngaglik 2 dihadirkan sebagai narasumber dalam acara yang
juga sebagai ajang sosialisasi kesehatan gigi dan mulut ini. Disampaikan
Tantri, tujuan dari sosialisasi pada anak usia dini agar anak memahami cara
menjaga dan merawat kebersihan gigi susu sehingga saat gigi tetap sudah tumbuh
anak mempunyai kebiasaan baik menjaga dan merawatnya.

“Pencegahan
menjadi salah satu kunci menjaga kesehatan gigi anak. Prinsip menjaga kesehatan
gigi dan mulut anak diawali dengan menggosok gigi 2 kali sehari yaitu pada pagi
hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur, melakukan pemeriksaan gigi
secara rutin 6 bulan sekali, serta menjauhkan faktor risiko yang dapat
mengakibatkan kerusakan gigi,” ungkap Tantri.

Tantri
mengatakan gigi susu merupakan bagian penting tumbuh kembang anak. Selain
fungsi pengunyahan dan bicara, gigi susu mempunyai peranan penting bagi susunan
gigi permanen kelak. Apabila gigi tidak dijaga dengan baik maka dampak yang
ditimbulkan oleh kerusakan gigi pada anak yaitu berubahnya bentuk mulut dan
tatanan gigi pada saat dewasa nanti.

Pada
acara tersebut pemateri mengajarkan cara gosok gigi yang benar sekaligus
memilih sikat dan pasta gigi yang tepat untuk anak. “Pilihlah sikat gigi
yang sesuai ukurannya, tangkai sikat lurus tidak bengkok atau bergelombang,
bulu sikat lembut dan lurus. Pilih juga pasta gigi yang mengandung flouride
untuk mengembalikan mineral yang hilang akibat asam yang berasal dari plak
bakteri,” jabar Tantri.

Pemateri
juga mengajarkan cara gosok gigi dengan gerakan memutar di setiap permukaan
gigi minimal 8 kali putaran, kemudian gerakan maju mundur, dan gerakan atas
bawah di seluruh permukaan gigi. Pun, untuk bagian dalam, gosok gigi dilakukan
dengan gerakan mencongkel.

Pada
kesempatan tersebut Tantri mengutarakan bahwa Puskesmas Ngaglik 2 siap
memberikan pendampingan untuk kegiatan rutin sikat gigi bersama di TK dan SD
kawasan Donoharjo dan sekitarnya. Karenanya, perlu dibentuk kader yang berasal
dari wali murid yang bertugas membantu menyiapkan peralatan dalam rangka
mendukung kegiatan tersebut.

Di
akhir acara dilakukan tanda tangan Komitmen Wali murid terhadap Generasi Unggul
Gigi Sehat yang disingkat SIGUL GIAT sebagai wujud keseriusan wali murid dalam
menjaga kesehatan dan kebersihan gigi putra putri generasi penerus bangsa. (Up
W)




Sleman Emergency Service (SES) Semakin Tanggap Layani Masyarakat

Sleman- Sleman Emergency Service (SES) yang di tahun ini telah memasuki tahun ketiga, semakin tanggap tingkatkan pelayanan untuk masyarakat Sleman.

Dina Riyadi Agung
Nugroho, Koordinator Sleman Emergency Services (SES) yang ditemui Jumat (29/2/2019) menjelaskan,
Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman pada 24 Desember 2016 mulai menginisiasi akses
cepat menolong masyarakat yang sakit dengan kriteria emergency menggunakan mobil ambulans di rumah sakit wilayah Sleman dengan nama
Sleman Emergency Services (SES) ini.

Awalnya, program SES masih
berupa layanan call center yang
bekerja sama dengan beberapa rumah sakit dan seluruh puskesmas di Sleman. Apabila ada kejadian emergency di daerah Sleman SES akan meneleponkan layanan kesehatan terdekat dari
lokasi pasien.

Dina mengutarakan, di tahun 2018, respon masyarakat
yang cukup baik. Hal ini kemudian mendorong Dinkes
Sleman merekrut beberapa karyawan dan menambah satu buah mobil ambulans untuk memaksimalkan pelayanan. Puncaknya, pada
21 Januari 2018 SES mulai melakukan penjemputan sendiri dengan jarak menuju
lokasi penjemputan kurang dari 20 km.

“Apabila lokasi pasien melebihi jarak tersebut maka petugas SES akan
menghubungi rumah sakit atau puskesmas terdekat dengan lokasi pasien dan
memberikan laporan kondisi pasien, alamat penjemputan SES, nomor telepon yang
dapat dihubungi untuk konfirmasi lebih lanjut sehingga pasien
yang nantinya akan dijemput dengan ambulans mendapat waktu respon yang lebih cepat dari layanan tersebut,” jabar Dina.

Syarat untuk
mendapat pelayanan SES disampaikan Dina yaitu
sakit yang bersifat emergency seperti
kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, penyakit jantung atau penyakit kronis
yang membutuhkan ambulans.

“Tidak termasuk kriteria emergency jika pasien meminta untuk kontrol kesehatan. Pasien yang tidak gawat darurat tetapi tidak dapat naik mobil pribadi atau lainnya, nantinya SES akan menyarankan untuk memakai layanan ambulans swasta,” ujar Dina.

Erwin
Septianggoro, anggota SES nemambahkan, hingga saat ini SES sudah menangani 20
hingga 25 kasus.

“Masyarakat Sleman itu bisa sepenuhnya terbantu dengan adanya SES karena SES itu adalah Sleman Emergency Services yang jadi prioritas, walaupun bisa dicover sama Unit Gawat Darurat (UGD) mudah-mudahan kalau ada SES itu lebih terbantu, tingkat cedera maupun kematian akibat kecelakaan berkurang, dan home emergency mengenai tingkat kematian di rumah mudah-mudahan juga berkurang dan semoga juga ke depannya penelepon tidak dikenai biaya saat menelepon SES,” harap Erwin.

SES dilengkapi dengan call center yang beroperasi 24 jam. Bagi masyarakat yang membutuhkan layanan ini dapat menghubungi call center (0274) 8609000. (Rep Rara)




Kelola Sampah Secara Mandiri dengan TPS 3R

Ngaglik –Di era menuju masyarakat modern, masalah yang cukup
rumit kalau tidak ditangani secara serius dan profesional adalah masalah sampah.
Apabila tidak dikelola dengan baik sampah akan menimbulkan berbagai masalah seperti
lingkungan menjadi kumuh, kotor, dan berbau tidak sedap sehingga keindahan dan
kenyamanan akan terganggu.

Untuk mengatasi permasalahan sampah di Padukuhan Purworejo
RW 14, Desa Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik dan sekitarnya dibangun Gedung Baru Tempat
Pembuangan Sampah (TPS) Bank Sampah Margi Utami.

Junaidi dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman
menyampaikan untuk tahap pertama ini baru gedung TPS yang dibangun dengan dana
Rp300 juta, untuk itu warga Padukuhan Purworejo dipersilakan segera membuat
proposal untuk kelengkapan lainnya misalnya mesin pencacah sampah menjadi
kompos dan juga angkutan untuk mengumpulkan sampah dari masyarakat.

“Apabila ada produk kompos dari wilayah ini bisa dibeli oleh
kantor DLH Kabupaten Sleman, seberapapun produk kompos akan dibeli untuk keperluan
petani yang membutuhkan,” terang Junaidi saat peresmian TPS Margi Utami, Minggu
(3/3/2019).

Sampah sekarang ini menjadi masalah besar. Lokasi atau
tempat penampungan akhir di Piyungan, Kabupaten Bantul saat ini daya tampungnya
sudah penuh, sedangkan untuk membuat tempat penampungan akhir yang baru ditolak
warga sekitar.

Karena itulah DLH mengambil kebijakan membangun TPS yang
menjalankan fungsi 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle). TPS 3R ini apabila
memungkinkan akan dibangun di tiap dusun yang bisa menampung sampah dari 500
KK. Dengan itu maka permasalahan sampah bisa diurai dan diatasi dengan baik.

Direktur Utama TPS Bank Sampah Margi Utami  Sri Lestari memaparkan visi dan misi TPS ini antara lain adalah terwujudnya lingkungan yang bersih dan hijau, kualitas hidup masyarakat yang baik, berbudaya hidup bersih, mandiri dan sejahtera.

Sedangkan misinya  antara lain memberdayakan masyarakat dalam kemandirian
pengelolaan sampah, menumbuhkan budaya hidup bersih dan sehat, menambah nilai
guna dan ekonomi dari sampah. (KIM Ngaglik /SRP).