Melihat Tobong Sebagai Gerbang Lahirnya Generasi Seniman Ketoprak

Ngaglik – Dwi Tartiyasa mengakuisisi Ketoprak Tobong Chandra Kirana, ketoprak asli Kediri, Jawa Timur yang berjaya sebelum era tahun 2000-an.
Akuisisi
ketoprak yang ia ganti nama menjadi Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya ini didasari
oleh rasa sukanya terhadap kesenian ketoprak. Dirinya ingin membina dan
memelihara agar kesenian tersebut tidak punah.
Sekitar tahun 2006, Tobong Kelana Bhakti Budaya pindah ke Yogyakarta. Tempat pertama yang dituju adalah Jodog Bantul, lalu pindah ke Balong Bayen Kalasan, dan 4 tahun terakhir ini di Brayut Cangkringan. Kini pengelolaan Tobong diserahkan kepada putranya, Risang Yuwono.
Di sisi lain ada Dwi Susanto atau akrab disapa Klontang yang merupakan salah satu pegiat Ketoprak Tobong ini yang bergabung sejak tahun 2007 di Kalasan.
Ditemui
Jumat (8/3/2019) malam di sela-sela pementasan, Klontang bercerita tentang Tobong,
yakni serangkaian fasilitas yang digunakan dalam sebuah pementasan yang terdiri
dari panggung utama atau tonil, ruang penonton, belakang layar tempat rias pemain,
rumah tinggal, warung, dan kamar mandi lengkap dengan jemuran sederhana yang
ada dalam lingkungan tersebut.
Klontang
mengingat masanya bergabung di Kalasan. “Pemain Tobong dari Kediri yang sehari-hari
tinggal dan melakukan aktivitas di Tobong masih berjumlah sekitar 30-an. Namun
kini hanya tinggal sekitar 4 orang karena mendapatkan pekerjaan yang relatif
lebih tetap, mengikuti kelompok lainnya, atau karena meninggal,” tutur
Klontang.
Tentang
aktivitas Tobong, menurut Klontang, dibandingkan sekarang, saat di Kalasan jauh
lebih maju.
“Di
sana bisa pentas 2 kali seminggu setiap malam Kamis dan malam Minggu, dengan
kapasitas penonton 300 orang selalu penuh. Di sini pentas seminggu sekali saja
penonton sedikit, tidak sampai 100 orang. Malam ini kapasitas penonton 150 ini
bisa penuh karena pemain dari luar Tobong. Faktornya banyak, di antaranya
karena tempatnya jauh, masyarakat sekitar kurang suka Ketoprak Tobong, dan
faktor lainnya,” jelasnya lagi.
Di
sisi lain, Klontang menuturkan kesenian ini jika ditekuni sebenarnya bisa
menjadi sebuah pekerjaan. “Semula saya hanya suka, lalu ikut belajar. Jika
ditekuni, bisa menjadi mata pencaharian karena panggilan manggung dari
luar,” jelasnya.
Apalagi,
Klontang melihat dana keistimewaan yang disediakan pemerintah memberikan peluang
untuk mengembangkan kesenian ini. “Peran para senior dan adanya festival
tahunan yang diselenggarakan pemerintah akan membuat ketoprak semakin
berkembang,” lanjutnya.
Ditambahkan
Risang Yuwono, Pengelola Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya, di sinilah peran
Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya sebagai rumah teater tradisi yang siap
menerima setiap pribadi untuk berkenalan, berproses, belajar, dan mendalami
ketoprak dari nol hingga akhirnya bisa menjadi pemain ketoprak yang
profesional.
“Dwi
Susanto merupakan contoh konkret bagaimana mengenal, belajar, dan kini menjadi profesional
dari keberadaan Ketoprak Tobong. Dwi adalah kisah nyata sejak 2007-2011 hingga
kini telah fasih menjadi aktor ketoprak,” jelas Risang lagi. (End)



