Peringatan Hari TBC Sedunia di Sleman: Saatnya Indonesia Bebas TBC, Mulai dari Saya

Hari Tuberkulosis (TBC) Sedunia diperingati setiap tanggal 24 Maret setiap tahunnya bertujuan untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa TBC sampai saat ini masih menjadi epidemi di dunia, termasuk di Indonesia.

Hari TBC Sedunia juga diperingati di Sleman dengan tema “Saatnya Indonesia Bebas TBC, Mulai dari Saya”. Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr. Cahya Purnama mengatakan bahwa tema ini untuk membangun kesadaran kepada masyarakat bahwa TBC masih menjadi masalah di Indonesia.

“Untuk ke depannya, acara peringatan Hari TBC Sedunia perlu selalu diselengggarakan untuk mengingatkan kepada kita semua bahwa pemberantasan TBC di Sleman menjadi tanggung jawab kita semua, dimulai dari saya berarti bahwa kita harus melakukan upaya preventif dan promotif baik lingkungan keluarga atau masyarakat sekitar untuk mencegah dan menemukan penderita TBC sedini mungkin,” terang dr. Cahya Purnama saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (21/3/2019).

Pelaksanaan Hari TBC Sedunia tahun 2019 di Sleman diperingati dengan mengadakan berbagai rangkaian kegiatan salah satunya seminar dengan tema Percepatan Eliminasi TB 2030 dengan Tes Cepat Molekuler yang diselenggarakan di Gedung Diklat Lantai 4 RSUP Dr. Sardjito, Sleman pada 15 Maret lalu. Seminar diikuti 250 orang yang terdiri dari dokter, perawat, analis kesehatan, apoteker, organisasi masyarakat peduli tuberkolosis, dan organisasi profesi.

Menurut dr. Cahya Purnama diadakannya seminar ini untuk menggugah masyarakat dan petugas kesehatan untuk selalu berkomitmen secara konsisten untuk eliminasi TBC tahun 2030 di Kabupaten Sleman.

Pelayanan Tes Cepat Molekuler sendiri adalah layanan yang diberikan gratis dari Kementerian Kesehatan. Layanan ini untuk meningkatkan temuan kasus TBC secara cepat sehingga penderita TBC bisa tertangani secara dini, dan memutus mata rantai penularan. Di Sleman, Layanan Tes Cepat Molekuler dapat ditemukan di Mikrobiologi UGM, RSUP Dr. Sardjito, RSUD Sleman dan akan segera ada di RSUD Prambanan.

Dalam penanganan TBC, Kementerian Kesehatan memiliki program TOSS TBC (Temukan Obati Sampai Sembuh) yang merupakan kegiatan penemuan secara aktif dan masif sekaligus mendorong pasien TBC untuk memeriksakan diri dan menjalankan pengobatan hingga tuntas. Program ini dilaksanakan melalui Dinas Kesehatan dan puskesmas yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kementerian Kesehatan melansir laporan WHO tahun 2017 yang menyebutkan diperkirakan ada kasus TBC di Indonesia, yang menjadikan Indonesia adalah negara kedua dengan kasus TBC terbanyak di dunia. Dari jumlah perkiraan itu, yang baru terlaporkan ke Kementerian Kesehatan sebanyak kasus.

Sementara itu di Sleman, tahun 2017 capaian semua kasus adalah 844 kasus dari target 336/ penduduk, dan Bakteri Tahan Asam (BTA) Positif 372 kasus. Selama tahun 2017 kegiatan penemuan kasus baru TB paru ditemukan dari 25 Puskesmas dan 14 RS yang ada di wilayah Kabupaten Sleman. Sementara angka keberhasilan pengobatan sebesar 91,64 %, tertinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tuberkulosis atau yang lebih dengan sebutan TBC adalah penyakit yang menular melalui udara yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tubercolosis yang dapat menyebar melalui melalui batuk, dahak, dan bersin yang dilepaskan ke udara.

Gejala awal penyakit tuberkulosis umumnya adalah batuk yang berkepanjangan lebih dari tiga minggu, sesak nafas, nyeri dada, kurang darah, batuk darah, rasa lelah, dan berkeringat di malam hari. Penyakit ini dapat disembuhkan secara tuntas dengan minum obat secara rutin dan teratur minimal selama 6 bulan. (Dinkes Sleman)




Pancasila sebagai Bintang Pembimbing Berbangsa dan Bernegara

Gamping – Rabu (20/3/2019) pukul WIB, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan Seminar Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan yang dihelat di Ruang Rapat lantai 2 Kantor Camat Gamping.

Seminar diikuti oleh warga kecamatan Gamping yang terdiri dari unsur tokoh agama, tokoh masyarakat, pelajar SMA/SMK, karang taruna, organisasi masyarakat, serta organisasi pemuda keagamaan yang berjumlah 80 orang termasuk Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman, Djoko Purwono didampingi Wakil Ketua, Adnan Iman Nurtjahjo.

Kegiatan bertajuk Sinau Pancasila dan Wawasan kebangsaan ini menghadirkan narasumber Dr. Badrun Alaena dari Pusat Studi Pancasila dan Bela Negara (PSPBN) Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta bersama Kepala Badan kesbangpol DIY, Agung Supriyono. Kedua narasumber mengangkat tema tentang arti penting Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia bagi bangsa dan negara Indonesia, pentingnya ideologi, kondisi objektif bangsa Indonesia, serta tantangan kebangsaan.

Dr. Badrun menyampaikan bahwa semua peraturan perundang-undangan yang dibuat di Indonesia harus berpedoman dan tidak boleh bertentangan dengan UUD Republik Indonesia tahun 1945.

“Sebagai warga negara Republik Indonesia harus patuh pada ketentuan yang terdapat dalam UUD Republik Indonesia tahun 1945. Kepatuhan warga negara akan mengarahkan pada kehidupan yang tertib dan teratur. Ketertiban dan keteraturan dalam kehidupan bernegara akan mempermudah mencapai masyarakat yang adil dan makmur,” tutur Dr. Badrun.

Selanjutnya, Agung Supriyono memaparkan perihal ideologi, yakni seperangkat gagasan, ide, cita-cita, dari sebuah masyarakat terhadap pandangan atau paham tentang kebaikan bersama yang dirumuskan dalam bentuk tujuan yang harus dicapai dan juga cara yang digunakan untuk mencapai tujuan. Ideologi sangat penting bagi suatu bangsa mengingat fungsinya sebagai penuntun arah sebuah bangsa dalam meraih kebesaran masing-masing. Ideologi harus menjadi ‘meja statis’ artinya dasar pijakan yang terdiri dari elemen-elemen yang ada pada jiwa bangsa Indonesia.

“Ideologi juga harus menjadi sebuah ‘leitstar dinamis’ yakni suatu bintang pembimbing yang menjadi arah penyelenggaraan kehidupan berbangsa bernegara,”tambah Agung. (Adnan Nurtjahjo)