Pekan Imunisasi Dunia 2019, Tingkatkan Cakupan dan Mutu Imunisasi Lengkap

Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI gencar lakukan imunisasi rutin lengkap mengingat masih ada anak Indonesia yang imunisasinya belum lengkap. Hal tersebut dikarenakan masih adanya orang tua yang kurang memahami manfaat dan pentingnya imunisasi serta adanya rumor isu negatif tentang vaksin.

Menurut WHO sekitar 1,5 juta anak
mengalami kematian tiap tahunnya karena penyakit yang  dapat dicegah dengan imunisasi. Pada 2018, terdapat
kurang lebih 20 juta anak tidak mendapatkan imunisasi lengkap dan bahkan ada anak
yang tidak mendapatkan imunisasi sama sekali.

Indonesia termasuk salah satu negara
dengan jumlah anak yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap cukup banyak. Situasi
ini telah berdampak pada munculnya Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit yang
dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) seperti difteri, campak, dan polio.

Tantangan yang ditemukan salahsatunya
masih kurangnya pemahaman tentang manfaat imunisasi dan kerugian ekonomi akibat
kecacatan atau kematian yang timbul apabila anak yang berada di lingkungan
sekitar tidak mendapatkan imunisasi lengkap.

Kemenkes terus berupaya menyelesaikan
tantangan-tantangan tersebut. Beberapa langkah untuk meningkatkan cakupan
imunisasi adalah dengan meluruskan informasi yang tidak benar tentang
imunisasi, memobilisasi semua sumber daya yang ada untuk mensosialisasikan
manfaat imunisasi, memastikan pelayanan imunisasi mudah dijangkau oleh seluruh
masyarakat, dan meningkatkan pelayanan imunisasi yang bermutu dengan cakupan
tinggi dan merata.

Peran lintas program dan lintas
sektor sangat dibutuhkan untuk meberikan pemahaman kepada semua pihak bahwa
imunisasi sangat penting untuk meningkatkan kesehatan, dan menghambat KLB.

Selanjutnya untuk memastikan
perlindungan terhadap generasi bangsa, hingga tahun 2018 Pemerintah telah
memberikan imunisasi lengkap sebanyak juta (92,04%), anak <
15 Tahun Terlindungi dari Polio, 35.3 juta anak di Pulau Jawa dan 23,4 juta
anak di luar Pulau Jawa terlindungi dari Rubella dan Campak.

Berkaitan dengan hal itu, Kemenkes
akan melaksanakan peringatan Pekan Imunisasi Dunia (PID) yang jatuh setiap
minggu ke-4 bulan April. Tema tahun ini “Imunisasi Lengkap Indonesia Sehat”.
Tujuan PID kali ini untuk menunjukkan nilai penting dan manfaat imunisasi untuk
kesehatan anak-anak dan masyarakat dunia, mengatasi kesenjangan cakupan
imunisasi melalui peningkatan investasi program, dan menyampaikan bahwa
imunisasi rutin lengkap merupakan dasar untuk kesehatan yang kuat.

Pekan Imunisasi Dunia ini diprakarsai
pada World Health Assembly pada Mei
2012. Sampai saat ini PID telah dilaksanakan oleh lebih dari 180 negara melalui
pelaksanaan berbagai kegiatan.

PID tahun ini semua sektor (LSM,
perguruan tinggi dan organisasi  profesi,
tokoh agama dan tokoh masyarakat, jurnalis/media, masyarakat, dan dunia usaha) harus
menggerakkan semua sumber daya yang ada dan kreativitas masyarakat, sehingga
dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang arti penting dan manfaat
imunisasi rutin lengkap.

Advokasi kepada tokoh agama dan tokoh
masyarakat di antaranya dapat dilakukan dengan seminar yang membahas tentang
pentingnya imunisasi dalam mencegah KLB, kecatatan, dan kematian akibat PD3I.

Untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya imunisasi rutin lengkap di tatanan penentu kebijakan serta masyarakat, maka kegiatan advokasi dapat dilakukan dengan mobilisasi massa. Hal itu dapat dilakukan melalui pemanfaatan acara senam sehat di fasilitas umum, lapangan, halaman kantor.

Peringatan PID ini dilakukan di
seluruh daerah pada akhir pekan bulan April 2019. Kemenkes mengajak organisasi
masyarakat dan dunia usaha untuk turut serta meningkatkan kesadaran masyarakat
tentang pentingnya imunisasi.




Suwarni, Reinkarnasi Semangat Belajar Kartini

Kartini menjadi salah satu pahlawan perempuan dalam
pendidikan, yang setiap tahun pada tanggal 21 April selalu dikenang. Sementara Suwarni, gadis yang jatuh
cinta dengan ilmu menjadi perempuan
pertama dari kampungnya yang
mampu
mengenyam pendidikan hingga bangku kuliah. Suwarni
seolah mereinkarnasi
semangat belajar Raden Ajeng (RA) Kartini.

Ani begitu nama panggilan Suwarni. Gadis 23 tahun ini mewujudkan mimpinya untuk kuliah tanpa bantuan biaya dari orang tua. Ani bermimpi untuk dapat berkuliah sejak masih duduk di  bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Keinginannya dianggap sebagai angin lalu oleh keluarganya karena cita-cita Ani untuk dapat mengenyam pendidikan hingga ke tingkat perguruan tinggi adalah hal yang mustahil di desanya. Semangat inilah yang dinilai sama dengan yang dimiliki R.A Kartini semasa hidupnya.

Desa Karangwae, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati, Jawa
Tengah, tempat Ani dilahirkan adalah desa yang tak peduli dengan pendidikan.
Padahal warga desa
tersebut adalah orang-orang yang mayoritas tergolong ekonomi menengah ke atas.
Mereka cenderung menyayangkan hartanya jika hanya digunakan sebagai biaya
pendidikan anaknya. Jika dihitung dari kalangan perekonomian menengah ke atas, hanya ada sekitar 5 orang yang
berpendidikan hingga bangku perkuliahan.

Berbeda dengan keluarga Ani yang termasuk golongan
keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Dengan melihat kegigihan anaknya dalam
belajar, orang tua Ani sadar
bahwa pendidikan itu penting bagi kehidupan dan penghidupan. Jadi diperbolehkanlah
anaknya untuk merantau ke Yogyakarta demi meraih pendidikan di bangku
perkuliahan yang dicita-citakannya.

“Kalau dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, ya cuma aku
disusul dengan adekku,” ujar Ani, Senin (22/04/19).

Witianingsih, adik kandung Ani
mengakui kegigihan kakaknya dalam belajar. Bahkan setelah melakukan rutinitas
membantu orang tua melakukan tugas rumah, Ani justru mampu lebih fokus belajar
di sela-sela rasa lelahnya.

“Mbak
Ani itu semangat banget, dari dia SMP
sampai SMA jarang main selalu di rumah bantu ibu dan bapak untuk nyuci baju,
nyapu, bersihin kandang, toplah
pokoknya,” ungkap Witia yang kagum terhadap kakaknya.

Witia juga menceritakan bahwa cita-cita kakaknya untuk
berkuliah bukanlah tanpa pergunjingan dari orang-orang yang tak suka. Tetangganya sering kali
membuat ungkapan yang terselip maksud menjatuhkan.

“Sering orang bilang ‘ngapain
sekolah tinggi-tinggi, nanti juga ngulek sambel
’ tapi
omongan itu nggak terlalu ditanggepin mbak Ani, paling mbak Ani cuma bilang ‘semoga bisa
sukses dan dapat pekerjaan yang layak’. Karena menurut mbak Ani yang penting itu pembuktiannya,”
jelas Witia.

Ketika SMA,
Ani pernah mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) di Pati dan mendapat
peringkat 9 besar berkat motivasi yang ia tanamkan dalam diri. Motivasi yang ia
miliki sederhana, Ani ingin menjadi orang yang dihargai dengan ilmu yang
dimilikinya dari pendidikan yang ditempuh. Ani tidak ingin menjadi orang bodoh
yang diremehkan dengan segala kekurangan pengetahuan.

Setelah OSN tersebut,
semakin bertambah keingintahuan Ani dengan ilmu pengetahuan. Usai lulus SMA, dengan segala upaya
belajar yang dilakukan Ani, akhirnya Ani diterima di Universitas Negeri
Yogyakarta (UNY), salah satu universitas negeri terbaik di Kabupaten Sleman melalui jalur Seleksi Nasional
Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Di masa kuliahnya, dengan rasa peduli dan prihatin terhadap
kondisi perekonomian
keluarganya, Ani menggunakan
kesempatan itu untuk kuliah sembari bekerja di warung ayam geprek.

Ketika ditanya alasan lain dibalik kuliah dan menghidupi
diri dengan bekerja, tanpa campur tangan uang orang tua, Ani menjawab tak ingin
menjadi beban bagi orang tua. Cita-cita
Ani
setelah ia sukses
adalah dapat memenuhi semua kebutuhan orang tuanya, bertamasya bersama, dan
melakukan hal-hal menyenangkan bersama orang tua tanpa harus pusing memikirkan
kondisi keuangan. (Rep Rara)