Si Manis Bersanding dengan Minke dari Desa Pandowoharjo

Si manis dari Desa Pandowoharjo adalah julukan sayang untuk
tanaman bernama Stevia Rebaudiana. Stevia dipadu dengan Minke, tanaman mint yang sudah diolah dengan daun kelor dan daun teh ini dapat
menjadi minuman berkhasiat
untuk kesehatan.

Stevia dan Minke merupakan produk unggulan dari berbagai jenis tanaman toga Desa Pandowoharjo, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman. Desa Pandowoharjo sendiri pernah memeroleh juara satu kategori Toga (Tanaman Obat Keluarga) dan Akupresure tingkat kabupaten. Kini, Desa Pandowoharjo, kembali menjadi sorotan tingkat provinsi karena Kelompok Asuhan Mandiri Kesehatan Tradisional, kelompok yang mengembangkan Minke.

Dari berbagai tanaman toga yang ditanam seperti jahe, kunyit, lengkuas, temulawak, dan masih banyak lagi, Minke
adalah tanaman yang diolah menjadi produk unggulan dari Kelompok Asuhan Mandiri
Kesehatan Tradisional. Sementara,
Stevia merupakan tanaman tanpa olahan yang
dipilih menjadi produk unggulan yang cocok untuk mendampingi Minke.

Minke memiliki khasiat sebagai minuman penghangat tubuh. Berhubung Stevia mengandung rasa manis
pada setiap daunnya, maka Stevia
dapat disandingkan dengan Minke
sebagai pengganti gula.

Minke pun memiliki
khasiat lain, yakni meredakan
stres dan daun mintnya mampu
menurunkan berat badan. Kemudian daun
kelor dapat menyehatkan mata, memperlambat
penuaan, mengobati
kanker, dan lain sebagainya.
Sedangkan Stevia membantu mencegah
atau menyembuhkan penderita diabetes dari penyakitnya. Jadi Stevia dan Minke tersebut saling melengkapi sebagai pasangan toga unggulan Desa Pandowoharjo.

“Pesan Minke dan Stevia
bisa langsung datang ke desa
kami, Pandowoharjo. Walaupun Minke dan Stevia
itu tanaman toga unggulan tetapi kami tetap
membudidayakan tanaman lainnya dan diolah menjadi jamu atau makanan siap
konsumsi,” ujar Ismono, salah satu Kelompok Asuhan Mandiri
Kesehatan Tradisional, Senin (22/4/2019).

Senada dengan masyarakat yang membudidayakan Stevia dan Minke, Kepala Desa Pandowoharjo,
Catur Sarju Miharta mengatakan selain mengolah daun kelor
dan daun mint sampai dapat dikonsumsi, masih banyak tanaman
toga yang sudah diolah menjadi jamu dan bahan makanan. Olahan tersebut di antaranya olahan jenang salak, susu kedelai, dan jamu serbuk kunyit, kencur, jahe, serta temulawak.

Alexander Pratondo, anggota Kader Kesehatan Desa juga
mengatakan bahwa mereka juga memberikan edukasi kepada masyarakat untuk
membudidayakan tanaman toga.
Edukasi yang diberikan berupa pengetahuan tentang tanaman hingga pemanfaatan
tanaman yang mayoritas orang tidak mengkonsumsi dan membudidayakannya. (Rep Rara)




Festival Teater Bangun Karakter Cinta Budaya Generasi Muda

Dalam rangka melestarikan,
mengembangkan, dan memperkenalkan budaya serta untuk mewujudkan masyarakat Sleman
yang berbudaya, Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman kembali menggelar Festival
Teater Tingkat Kabupaten Sleman, yang diselenggarakan selama 2 hari pada Senin
(22/4/2019) dan Selasa (23/4/2019) pukul WIB–selesai, bertempat di area
Parkir Utara Lapangan Denggung Sleman.

Sebanyak
17 grup teater tradisional perwakilan dari masing-masing kecamatan se-Kabupaten
Sleman ikut memeriahkan Festival Teater tersebut, yang merupakan rangkaian dari
kegiatan “Sleman Byar Sumunar” Tahun 2019.

Kecamatan Gamping mampu
menyisihkan kontingen lain dari seluruh kecamatan se-Kabupaten Sleman dengan
nilai . Menyusul penyaji terbaik kedua adalah Kecamatan Minggir dengan
nilai , dan untuk penyaji terbaik ketiga adalah Kecamatan Moyudan yang
dengan nilai . Sedangkan sebagai penyaji terbaik keempat adalah Kecamatan
Sleman dengan nilai , penyaji terbaik kelima Kecamatan Ngaglik dengan
nilai , dan penyaji terbaik keenam adalah Kecamatan Berbah dengan nilai
.

Kepala
Dinas Kebudayaan kabupaten Sleman, Aji Wulantara menyampaikan maksud dan tujuan
diselenggarakannya festival tersebut adalah untuk menggali dan menjaring
potensi seniman yang ada di tingkat masyarakat.

“Ini juga sebagai wujud
kepedulian dan perhatian Pemerintah Kabupaten Sleman terhadap kelestarian
kehidupan seni, dan dapat menggugah kembali semangat kebersamaan dalam rangka
beraktivitas dan berkreasi dalam bingkai kompetisi di kalangan seniman,” jabar
Aji.

Aji
berharap ajang ini dapat menjadi media beraktivitas dan peningkatan kualitas
seniman guna mempertahankan eksistensi jati diri seniman sebagai salah satu
akar budaya seni.

Selain itu, untuk pembangunan
karakter terhadap masyarakat luas khususnya generasi muda, serta meningkatkan rasa handarbeni (memiliki-red)
terhadap budaya sendiri yang adiluhung.

“Dengan semakin meningkatnya
internalisasi budaya di kalangan masyarakat akan menjadi benteng sekaligus
filter yang kuat di era globalisasi,” tambah Aji. (Dinas Kebudayaan)




Doa Bersama Iringi Rangkaian Acara Boyong Songsong Kapanewon Cangkringan

Cangkringan
– Pemerintah Kecamatan Cangkringan mengadakan gelar doa bersama dalam rangkaian
acara ulang tahun pindahnya Kecamatan Cangkringan ke-6 ke gedung yang baru, Selasa
(23/4/2019) di Kantor Kecamatan Cangkringan. Doa bersama dipimpin oleh Kepala
KUA Kecamatan Cangkringan, Khamim.

Acara
ini dihadiri oleh karyawan Kecamatan Cangkringan, Muspika, pemerintah desa se-Kecamatan
Cangkringan, serta perwakilan organisasi masyarakat di Cangkringan.

Dalam
sambutannya Camat Cangkringan, Mustadi menyampaikan bahwa kantor yang baru
sebagai pengingat bahwa kita dan seluruh warga Cangkringan harus bisa selaras
dan menjaga alam serta mampu berdampingan hidup menyelaraskan diri sebagai
warga lereng Merapi.

“Tidak
perlu takut dengan Merapi namun harus paham dengan segala kondisinya.
Cangkringan sekarang sudah bangkit, mari jaga semangat dalam membangun
kebaikan, apa yang sudah baik terus dijaga dan yang belum agar terus diupayakan
menuju yang lebih baik,” ujar Mustadi.

Disampaikan
juga oleh Mustadi bahwa Rabu (24/4/2019) akan diadakan ziarah ke makam mantan
camat yang pernah menjabat di Kecamatan Cangkringan, yakni almarhum Hardono,
almarhum Dahuri, dan almarhum Bambang Nur Wiyono. (Marmansyah)