Daur Ulang Sampah Jadi Produk Kompos hingga Aksesoris

Tempel – Sampah menjadi penghambat kebersihan dimana-mana, itu yang membuat Tempat Pembuangan Sampah Reuse, Reduce, dan Recycle (TPS 3R) Kenanga Merdiko mengelola sampah jadi sesuatu yang berguna. TPS 3R yang didirikan di Desa Mororejo, Tempel, Sleman, berhasil membuat sampah organik dan anorganik dapat digunakan kembali.

Sampah-sampah yang terkumpul
dari
warga kemudian dipilah dan dipisahkan antara sampah organik dan anorganik
oleh 16 pekerja TPS 3R. Sampah organik akan dijadikan
pupuk kompos dan sampah organik akan dibuat menjadi kreasi aksesoris rumah,
piring, baju, dan tas pesta.

Namun demikian meski besar nilai
kebermanfaatannya, Ketua TPS 3R, Hariyati
Sumiardi mengatakan sejauh ini kompos yang sudah diproduksi dan
siap pakai baru menjangkau warga sekitar TPS 3R saja. Begitu juga
dengan sampah anorganik yang telah dibuat menjadi berbagai macam jenis
kerajinan dan kegunaannya yang belum dapat menjangkau pasar luas.

Hariyati juga mengatakan TPS 3R belum mampu
memasarkan dengan jangkauan luas karena lokasi mereka yang berada di daerah
pedesaan. Pemasaran hanya dilakukan melalui acara
pameran, sosialisasi tentang sampah terhadap warga maupun pemasaran perorangan.

“Kita juga menawarkan produk dari mulut ke
mulut,” ujar Hariyati, Senin (1/4/19).

Selain itu, aplikasi
pesan instan yakni WhatsApp juga dimanfaatkan oleh Hariyati dalam memasarkan
produk daur ulang sampah ini.

 “Untuk pemesanan bisa langsung datang ke sini maupun bisa memesan lewat
WhatsApp kami. Sampai sekarang yang
beli kompos ya warga dari daerah dekat-dekat sini aja, kemudian kreasi dari
sampah anorganik pun bervariasi ya pembelinya juga dari sekitar sini,”
tambahnya.

Produk kompos dijual
dengan harga Rp per kilogram. Sementara untuk produk aksesoris harga yang
dipatok Hariyati mulai dari Rp 15 ribu hingga ratusan ribu. (Rep Rara)




Puskesmas Mlati II, Cagar Budaya Fasilitas Kesehatan Pertama di Sleman

Sleman – Puskesmas Mlati II tercatat sebagai fasilitas kesehatan pertama yang ada di Kabupaten Sleman. Catatan sejarah ini layak untuk dibanggakan dan patut dijaga keberadaannya.

Awalnya
Puskesmas Mlati II dahulu adalah rumah sakit pembantu milik Rumah Sakit
Petronella (kini RS Bethesda-red) yang dibuka tahun 1929. Lokasi puskesmas
berada di dekat Pabrik Gula Cebongan yang dibangun tahun1879 oleh keluarga
Enger. Pada masa itu, untuk meluaskan jangkauan pelayanan, banyak rumah sakit swasta
biasanya membuka klinik atau rumah sakit pembantu di pelosok yang jauh dari
rumah sakit pusat. Klinik atau rumah sakit pembantu tersebut biasanya dibangun
di dekat titik pusat keramaian seperti pusat pemerintahan distrik atau
emplasemen pabrik gula.

Dari segi bentuk bangunan Puskesmas Mlati II terdiri dari bangunan induk dan bangunan tambahan di kiri dan kanan yang dihubungkan dengan selasar. Arah hadap bangunan menghadap ke timur. Ditambah dengan sedikit keunikan yaitu memiliki ciri bangunan indis (bangunan gaya Belanda-red) yang ditandai dengan langit-langit dan jendela tinggi, beranda depan dan belakang, denah simetris, serta bangunan tambahan di samping kanan kiri bangunan induk.

Rumah
sakit pembantu ini sempat ditutup tahun 1932, lalu kembali dibuka tahun 1935.
Sesudah kemerdekaan, pengelolaan puskesmas Mlati II diserahkan kepada
pemerintah. Jadi kini status kepemilikannya adalah milik Dinas
Kesehatan Kabupaten Sleman, menurut Tim Ahli Cagar Budaya Sleman (TACB) yang
melakukan observasi dan studi pustaka untuk mengetahui keadaan saat ini dan sejarah terbentuknya rumah sakit pembantu
tersebut menjadi Puskesmas Mlati II.

Bangunan
Puskesmas Mlati II merupakan bangunan Belanda yang berkaitan dengan fasilitas kesehatan
di Sleman yang bertujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan pekerja pabrik
gula pada masa penjajahan Belanda. Ketika masa penjajahan berakhir dan Belanda ingin meninggalkan Indonesia,
seluruh pabrik gula dihancurkan oleh Belanda kecuali Pabrik Gula Madukismo yang
terletak di luar Kabupaten Sleman.

Dihancurkannya pabrik-pabrik gula tersebut karena Belanda merasa bahwa pabrik-pabrik gula tersebut adalah miliknya dan akan mengurangi salah satu peluang
penyokong roda perekonomian Indonesia karena pada
masa itu, gula menjadi salah satu kekayaan
Indonesia yang bernilai tinggi. Walau pabrik gula di daerah telah habis dihancurkan, fasilitas kesehatan berupa bangunan Puskesmas Mlati II ini tetap utuh berdiri dan kini
merupakan cagar budaya di Sleman.

Sejalan
dengan sejarah Puskesmas Mlati II ini,
Rislaini, Kepala Seksi Museum dan Purbakala (Kasi Muskala) Dinas Kebudayaan
Kabupaten Sleman menuturkan
bangunan Puskesmas Mlati II ini bisa menunjukkan sejarah perjuangan masyarakat dulu dalam mengelola
gula hingga menjadi kualitas dengan standar yang dapat diekspor.

Masih
adanya puskesmas yang dahulu merupakan rumah sakit pembantu dari Rumah Sakit
Bethesda ini, diharapkan
Ruslaini dapat menjadi narasi
sejarah yang dapat diketahui dan dijaga oleh generasi yang akan datang.

“Kalau
dahulu itu rumah sakit, namun saat ini belum bisa disebut dengan rumah sakit
dengan besar bangunan seukuran itu. Namun bisa diakui bahwa kita boleh
berbangga diri untuk mengakui kehebatan nenek moyang kita pada zaman itu namun sangat perlu menjaga kelestariannya,” ujar Ruslaini
saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (1/4/19).

Begitupun
dengan Veronica Evita Setianingrum, Kepala Puskesmas Mlati II ada harapan besar
yang dinantinya setelah turun Surat Keputusan Puskesmas Mlati II yang telah
ditetapkan sebagai cagar budaya dengan kategori bangunan.

“Harapannya
dapat dimanfaatkan dengan baik dan ada bantuan dari pemerintah untuk
pemeliharaan gedungnya karena ini merupakan gedung lama dan itu membutuhkan
biaya yang cukup besar. Karena ini juga peninggalan bersejarah tentunya
itu menjadi tanggung jawab pemerintah juga menjaga kelestariannya. Selain itu
sebenarnya generasi saat ini bisa belajar dari arsitektur lama, bagaimana kita
bisa hemat energi dengan bangunan yang tetap terjaga keasriannya,” kata Evita.

Menurutnya, penting
melestarikan, menghargai kebudayaan,
dan memanfaatkannya seoptimal mungkin, meski bentuk bangunannya sudah kuno dan tidak sesuai dengan
perkembangan zaman. Dikatakan
Evita, bangunan Puskesmas Mlati II justru sudah disesuaikan dengan kondisi
Indonesia yang tropis sejak zaman Belanda sehingga
menurutnya bangunan ini tidak membutuhkan Air
Conditioner
(AC) karena bentuknya yang tinggi dan terbilang istimewa. (Rep Rara)




Cangkringan Ajak Generasi Muda Lestarikan Seni Macapat

Cangkringan
– Sabtu (30/3/2019) bertempat di Pendopo Kecamatan Cangkringan, Pemerintah Kecamatan
Cangkringan mengadakan Lomba Macapat tingkat DIY. Lomba ini termasuk dalam rangkaian
Boyong Songsong Kapanewon Kecamatan Cangkringan ke-6 tahun 2019.

Kegiatan
yang diprakasai oleh Kecamatan Cangkringan dan Paguyuban Mocopat Sekar Cangkring
Manunggal ini diikuti peserta sebanyak 63 dari seluruh DIY.

Dalam
sambutannya Camat Cangkringan, Mustadi menyampaikan kegiatan ini bertujuan
untuk melestarikan budaya, Mustadi merasa senang dan bangga sebab beberapa
peserta berasal dari generasi muda.

“Macapat
mempunyai filosofi luhur yang menggambarkan kehidupan manusia dari yang muda
sampai tua sehingga sangatlah pas, kegiatan ini diadakan di era sekarang ini,”
ujar Mustadi.

Mustadi
berharap, meski kegiatan ini tujuan akhirnya mendapatkan juara, tapi dapat
sekaligus mengingatkan generasi penerus bahwa budaya macapat belum punah dan
menambah minat untuk semua kalangan terhadap kesenian ini. (Sumarno)




Relawan Wedomartani Siap Bantu Stop Narkoba dan Kekerasan Terhadap Anak

Ngemplak – Maraknya kasus penyalahgunaan narkoba dan kekerasan terhadap anak menginspirasi Desa Wedomartani untuk memberikan Peningkatan Kapasitas Relawan Desa untuk turut mendukung kerja Satgas Anti Narkoba dan Perlindungan Anak di Desa Wedomartani. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Desa Wedomartani Teguh Budiyanto, Jumat (29/3/2019) di Balai Desa Wedomartani, Ngemplak.

Desa
Wedomartani sendiri telah memiliki Satgas Anti Narkoba Wedo Waspada dan Satgas
Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), yang mana sedang gencar melakukan
sosialisasi Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) di 25 padukuhan.
Dari hasil sosialisasi itu masih banyak didapati hak sipil anak yang belum
didapatkan, yakni kepemilikan akte kelahiran. Karenanya Pemerintah Desa
Wedomartani menggandeng Relawan Desa untuk meningkatkan perannya terhadap
masalah penyalahgunaan narkoba dan perlindungan hak anak.

Hadir
sebagai narasumber, Eko Prasetyo dari Jogja Home Care dan Nyadi Kasmorejo dari
Yayasan Lembaga Perlindungan Anak Yogyakarta.

Menurut
Nyadi untuk menjadi Desa Ramah Anak, Wedomartani harus dapat memenuhi lima
klaster hak anak. Pertama, hak sipil dan kebebasan, kedua lingkungan keluarga
dan pengasuhan alternatif, ketiga kesehatan dan kesejahteraan dasar, keempat
pendidikan, waktu luang dan kegiatan seni budaya, kelima perlindungan khusus.

Sementara
Eko Prasetyo lebih banyak menyampaikan tentang ciri-ciri pengguna narkoba. Hal
ini agar satgas dalam tugasnya dapat melakukan penanganan dengan tepat agar
justru tidak menjadi korban kejahatan pengguna narkoba. “Pada akhirnya semua
akan dikriminalisasikan karena penyalahgunaan narkoba dan supaya terhindar
hendaklah relawan dapat melaporkan pada pengguna narkoba pada BNN, atau lembaga
yang menangani rehabilitasi ketergantungan terhadap narkoba sebelum menjadi
kasus hukum,” tuturnya. (Bibit W)