Ngaglik
– Di era milenial sekarang ini, pola hidup sehat bukan lagi menjadi pilihan
tetapi suatu keharusan. Salah satu upaya menerapkan pola hidup sehat adalah
dengan mengkonsumsi makanan bergizi dan berimbang. Pemilihan bahan pangan
organik, kaya kandungan gizi, dan bebas pestisida sintetik serta pupuk kimia juga
memegang peranan penting untuk mendapatkan bahan pangan yang berkualitas. Hal
itulah yang mendorong Robaeli Ndruru atau lebih dikenal dengan Robi N seorang
praktisi dan penggiat pertanian organik untuk mengembangkan bisnis tanaman
sayuran organik yang dikenal dengan microgreens.
“Microgreens
adalah sayuran yang dipanen pada usia sangat muda berkisar 7 sampai 14 hari
setelah semai,” ungkap Robi yang juga menjabat Wakil Ketua MAPORINA (Masyarakat
Pertanian Organik Indonesia) korwil Yogyakarta saat ditemui Minggu (21/04/2019).
Lebih
lanjut, Robi mengungkapkan fakta bahwa benih yang disemai mengandumg semua
nutrisi, vitamin, mineral, dan enzim yang dibutuhkan untuk tumbuh dan
melindungi diri agar tetap kuat sampai proses perkecambahan selesai.
“Nutrisi
inilah yang kemudian kita ambil manfaatnya,” lanjutnya.
Robi
mengatakan bahwa microgreens tidak sama dengan kecambah.
“Microgreens
adalah tahap setelah perkecambahan terjadi di mana tanaman membutuhkan sinar
matahari untuk fotosintesis dan terus berproses hingga terbentuk dua buah daun pertama
yang disebut kotiledon sehingga microgreens digolongkan sebagai sayuran,”
tambah Robi.
Ia
menambahkan, pada dasarnya semua benih sayuran bisa dibuat microgreens tapi
yang biasa dipakai adalah bayam hijau dan merah, sawi, selada, brokoli,
kangkung, seledri, dan biji bunga matahari.
“Berdasarkan
hasil penelitian microgreens mengandung mineral, sumber vitamin, dan
betakaroten yang lebih tinggi dibanding sayuran itu sendiri saat dewasa, sumber
terbaik enzim, tinggi protein, kaya serat dan rendah kalori, jadi sangat cocok
bagi yang sedang diet. Selain itu memiliki sifat antiseptik, antiinflamasi dan antibodi,”
jelas pemilik MSTech yang berada di Jalan Kaliurang km 19 Pakem, Sleman ini.
Robi
yang sering diundang sebagai narasumber di berbagai acara workshop dan seminar
pertanian organik ini pun menerangkan cara membuat microgreens.
“Pembuatan microgreens sangat sederhana.
Siapkan wadah bisa dari kaleng bekas kemasan air mineral nampan atau toples
dilubangi bagian bawah agar air tidak menggenang, kemudian diisi dengan media
tanam berupa kompos daun diratakan dan diberi air agar lembab. Setelah itu
benih ditaburkan sampai rata, ditutup plastik, dan ditempatkan pada tempat yang
gelap ditunggu kira-kira 4 hari sampai berkecambah. Selanjutnya dipindah di
tempat yang terang. Disemprot air agar kelembaban seterusnya
sampai tumbuh kotiledon dan microgreens siap dipanen,” jabar Robi.
Microgreen
pun siap dipanen dengan cara menggunting batang tanaman pada bagian pangkal.
“Batang
dan daun siap dinikmati sebagai lalapan, dibuat salad, pecel, dibikin jus, atau
dibuat sup. Biasanya dibutuhkan 20gram saja untuk 1 kali sajian,” jelas
Robi.
Microgreens menurut Robi, disukai masyarakat karena mempunyai citarasa khas yang berbeda pada sayuran dewasa tanaman itu sendiri. Selain itu karena bentuknya yang mungil, tingginya berkisar 10-13 cm serta warna daun bisa dikombinasi, tidak jarang microgreens sering dijadikan sebagai karya seni untuk menghiasi ruangan sebelum dikonsumsi. (Up W)