Wisata Halal, Seperti Apa?


[metaslider id=”13200″]

Halo Sobat Wisata, baru-baru ini, Indonesia kembali menorehkan prestasi di level internasional dengan diraihnya peringkat pertama sebagai destinasi wisata halal dunia versi GMTI (Global Muslim Travel Index) 2019, yang diumumkan oleh CrescentRating – Mastercard. Prestasi ini merupakan kabar gembira yang tidak hanya dirasakan oleh Kementerian Pariwisata saja selaku Kementerian yang menangani pengembangan wisata halal di Indonesia, namun juga bagi seluruh bangsa Indonesia. Setelah lima tahun fokus pada pengembangan pariwisata halal, Indonesia akhirnya mampu menunjukkan potensinya sebagai destinasi wisata halal terbaik dunia. CEO CresentRating, institusi penilai GMTI 2019, Fazal Bahardeen menyampaikan jika tahun 2019 akhirnya Indonesia menduduki peringkat pertama wisata halal dunia versi GMTI 2019, bersanding dengan Malaysia dengan skor total 78.

Seperti apa detail penjelasan mengenai 10 besar peringkat
negara dengan destinasi wisata halal dunia terbaik yang dirilis oleh GMTI 2019,
konsep pengembangan pariwisata halal, target yang ingin dicapai di tahun 2019,
hingga peringkat top 5 destinasi wisata halal Indonesia versi IMTI 2019, yuk simak infografis
berikut ya. Salam Pesona Indonesia!




Daun Kelor dan Terong Jadi Bahan Utama pada Festival Kuliner Sleman

Sleman – Untuk ketiga kalinya, Dinas Pariwisata kembali mengadakan festival kuliner di tahun 2019 dengan tema Jajal Jajanan Sleman 2019. Di tahun ini acara tersebut akan mengangkat Daun Kelor dan Terong sebaga bahan utamanya. 

Dua
tahun sebelumnya acara ini diadakan di Taman
Kuliner Condong Catur namun tahun ini akan kembali
diadakan di Sleman City Hall (SCH),
tepatnya di out door lantai satu
Garden SCH pada tanggal 26 hingga 28 April 2019.

Daun Kelor dan
Terong diangkat sebagai bahan utama di festival tersebut lantaran merupakan
bahan yang hampir dilupakan di era milenial. Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman
merasa tanaman lokal ini patut diperkenalkan kembali agar tidak menjadi bahan asing di mata
masyarakat luas.

Daun Kelor dan
Terong akan dijadikan bahan utama dalam cooking
competition
dengan para chef hotel sebagai pesertanya. Joko Paromo Ketua Perhimpunan Hotel
dan Restoran Indonesia (PHRI) sekaligus General
Manager
(GM) Hotel Sahid Jaya Yogyakarta mengatakan penting bagi para chef
untuk memperkenalkan kembali bahan makanan tersebut bagi para milenial.

Pada acara cooking competition ini akan ada Wijonarto, Ketua
Indonesian Food and Beverage Executive (IFBEC), Niken Sinta Wati dari Asosiasi
Pengusaha Jasa Boga Indonesia (APJI) dan Chef Anton Yanwar Ketua Indonesian
Chef Association (ICA) Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Daerah Istimewa Yogyakarta
(DIY),
sekaligus Executive Chef Hotel Sahid Jaya Hotel dan Convention Yogyakarta yang
menjadi juri.

“Karena acara ini
diadakan di mall yang mayoritas
pengunjungnya adalah anak milenial maka ini dirasa cukup tepat,” ujar Sudarningsih,
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Selasa (16/04/19).

Selain itu,  untuk memeriahkan acara tersebut kurang lebih 25 stan makanan yang ada
di Sleman siap dihadirkan. Di samping itu ada lomba Tari
Burung Punglor yang terbuka untuk umum dan Dimas Diajeng Cilik Sleman

“Kami mengajak masyarakat untuk mengikuti lomba Tari Burung Punglor dan ini tidak dikenakan biaya pendaftaran lomba. Tutorial video tari sudah dibuat dan dipublikasikan oleh Mila Rosinta di channel YouTubenya,” jelas Sudarningsih.

Bersamaan dengan
acara festival tersebut, juga ada grand
final
Dimas Diajeng Cilik Sleman dan penampilan lainnya yang akan turut serta memeriahkan. (Rep Rara)




5 Tahun Kembangkan Pariwisata Halal, Indonesia Akhirnya Raih Peringkat Pertama Wisata Halal Dunia 2019

Jakarta – Indonesia kembali menorehkan prestasi di level internasional dengan diraihnya peringkat pertama sebagai destinasi wisata halal dunia versi GMTI (Global Muslim Travel Index) 2019, yang diumumkan oleh CrescentRating – Mastercard.

Prestasi ini merupakan kabar gembira
yang tidak hanya dirasakan oleh Kementerian Pariwisata saja selaku Kementerian
yang menangani pengembangan wisata halal di Indonesia, namun juga bagi seluruh
bangsa Indonesia. Setelah lima tahun fokus pada pengembangan pariwisata halal,
Indonesia akhirnya mampu menunjukkan potensinya sebagai destinasi wisata halal
terbaik dunia.

Prestasi baru ini telah disampaikan secara
langsung oleh CEO CrescentRating dan juga , Fazal Bahardeen,
bertempat di Hotel Pullman Jakarta, Selasa (09/04) dan dihadiri langsung oleh
Menteri Pariwisata (Menpar) Republik Indonesia, Arief Yahya, dan didampingi
oleh Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan, Ni Wayan Giri
Adnyani, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I, Rizki Handayani, Staf Ahli
Bidang Ekonomi dan Kawasan Pariwisata sekaligus selaku Ketua Tim Percepatan
Pengembangan Pariwisata Halal, Anang Sutono, dan Pengarah Tim Percepatan
Pengembangan Pariwisata Halal, Riyanto Sofyan.

Fazal menyampaikan jika tahun 2019 akhirnya Indonesia menduduki peringkat pertama wisata halal dunia versi GMTI 2019, bersanding dengan Malaysia. “Setelah bergabung dalam GMTI, tahun ini, Indonesia patut berbangga karena akhirnya mampu menduduki peringkat pertama wisata halal dunia, bersanding dengan Malaysia, dengan total skor 78”, ungkap Fazal, Senin (15/4/2019).

Selain Indonesia dan Malaysia, urutan
ranking wisata halal dunia versi GMTI diraih oleh Turki di posisi ketiga (skor
75), Arab Saudi di posisi keempat (skor 72), serta Uni Emirat Arab di posisi
kelima (skor 71). Negara lain yang masuk dalam top 10 wisata halal dunia
lainnya antara lain Qatar (skor 68), Maroko (skor 67), Bahrain (skor 66), Oman
(skor 66), dan Brunei Darussalam (skor 65).

Senada dengan Fazal, Menpar yang hadir
dalam acara tersebut tidak mampu menyembunyikan kebahagiaannya dan secara
khusus mengucapkan terima kasih pada seluruh jajaran Tim Percepatan
Pengembangan Pariwisata Halal yang telah bekerja keras sehingga prestasi baru
ini berhasil diraih untuk Indonesia.

“Saya ucapkan selamat bagi seluruh Tim
Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal yang akhirnya berhasil mewujudkan mimpi
Indonesia sebagai destinasi wisata halal terbaik di dunia, tahun ini. Saya
harapkan prestasi ini akan memacu destinasi wisata lain di Indonesia untuk
segera mengembangkan wisata halal di masing-masing daerahnya, karena kita
mampu, Indonesia mampu dan layak untuk dikenal dunia” imbuh Menpar.

Pengembangan pariwisata halal
Indonesia merupakan salah satu program prioritas Kementerian Pariwisata yang
sudah dikerjakan sejak lima tahun yang lalu. Data GMTI 2019 menunjukkan bahwa hingga tahun 2030,
jumlah wisatawan muslim (wislim) diproyeksikan akan menembus angka 230 juta di
seluruh dunia. Selain itu, pertumbuhan pasar pariwisata halal Indonesia di
tahun 2018 mencapai 18%, dengan jumlah wisatawan muslim (wislim) mancanegara
yang berkunjung ke destinasi wisata halal prioritas Indonesia mencapai 2,8 juta
dengan devisa mencapai lebih dari Rp 40 triliun. Mengacu pada target capaian 20
juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang harus diraih di tahun 2019,
Kementerian Pariwisata menargetkan 25% atau setara 5 juta dari 20 juta wisman
adalah wisatawan muslim.  

Peluang
inilah yang ditangkap oleh Kementerian Pariwisata, dan ditindaklanjuti dengan
pengembangan 10 Destinasi Halal Prioritas Nasional di tahun 2018 yang mengacu
standar GMTI, antara lain: Aceh, Riau dan Kepulauan Riau, Sumatera Barat, DKI
Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur (Malang Raya), Lombok,
dan Sulawesi Selatan (Makassar dan sekitarnya). Tahun ini, penguatan destinasi
pariwisata halal dilakukan dengan menambah keikutsertaan 6 Kabupaten dan Kota
yang terdapat di dalam wilayah 10 Destinasi Halal Prioritas Nasional, yaitu
Kota Tanjung Pinang, Kota Pekanbaru, Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten
Bandung Barat, dan Kabupaten Cianjur.

Untuk
meriah prestasi baru ini, Indonesia melalui Kementerian Parwisata juga telah
rutin melakukan bimbingan teknis (bimtek) serta workshop di 10 destinasi
pariwisata halal unggulan. Guna mendorong percepatan pengembangan destinasi
pariwisata halal nasional berstandar global, Kementerian Pariwisata
menyelenggarakan Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) pada tahun 2018 dan 2019.
Penilaian IMTI dilakukan langsung oleh CrescentRating-Mastercard yang
bekerjasama dengan Indonesia dengan menggunakan empat indikator utama yang telah ditetapkan oleh GMTI
yakni: accessibility (aksesibilitas),
communication (komunikasi), environment (lingkungan) dan service (layanan). Hasil penilaian dari
empat aspek utama tersebut secara otomatis akan menentukan top 5 destinasi
wisata halal prioritas Indonesia.

CrescentRating-Mastercard
juga telah mengumumkan bahwa top 5 destinasi wisata halal prioritas Indonesia
2019 secara berturut-turut diraih oleh Lombok (Nusa Tenggara Barat) dengan skor
70, Aceh dengan skor 66, Riau dan Kepulauan Riau dengan skor 63, DKI Jakarta
dengan skor 59, serta Sumatera Barat dengan skor 59. Penganugerahan bagi lima
destinasi wisata halal prioritas serta 11 destinasi wisata halal lainnya telah
dilaksanakan oleh Menpar minggu lalu bertempat di Bidakara Hotel, Selasa
(09/04) dan dihadiri langsung oleh perwakilan dari masing-masing
Provinsi/Kota/Kabupaten destinasi wisata halal tersebut. Selain acara
penganugerahan, Kemenpar juga melakukan penandatanganan kesepahaman (Memorandum
of Understanding) antara Kemenpar yang diwakili oleh Deputi Bidang Pengembangan
Industri dan Kelembagaan, Ni Wayan Giri Adnyani bersama perwakilan CEO Provinsi/Kota/Kabupaten
dari 16 destinasi wisata halal prioritas, sebagai bukti komitmen Kepala Daerah
dalam mengembangan pariwisata halal di masing-masing daerahnya.




AMMDes Berperan Pacu Produktivitas dan Kesejahteraan Masyarakat Desa

Tangerang – Kementerian
Perindustrian secara konsisten dan berkelanjutan terus mendorong pemanfaatan
dan pengembangan Alat Mekanis Multiguna Pedesaan (AMMDes) untuk produktivitas masyarakat
desa. Kehadiran AMMDes sejalan dengan fokus pemerintah
dalam upaya meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Kami mendorong upaya membangun
Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah dan desa yang diwujudkan
melalui pendekatan untuk mengatasi ketimpangan dan mengembangkan potensi yang
ada di pedesaan,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Tangerang,
Banten, Senin (15/4/2019).

AMMDes
secara resmi telah diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo dan Menperin
pada event Gaikindo Indonesia Internasional Auto Show (GIIAS) 2018. “AMMDes merupakan salah satu produk
modernisasi yang masuk dalam program kerja Jokowi-JK. Karena itu, diharapkan
alat multifungsi ini dapat meningkatkan produktivitas sehingga dapat juga
membawa kesejahteraan masyarakat,” papar Airlangga.

Menurut Menperin, alat untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat di pedesaan tersebut telah melalui berbagai
tahapan pengembangan dan uji coba. Saat ini,
AMMDes diproduksi oleh PT Kreasi Mandiri Wintor Indonesia (KMWI) mempunyai model dasar yang dilengkapi
dengan flat deck dan fitur power take off (PTO).

“Mesin diesel yang digunakan pada model ini telah mengalami penyesuaian untuk mendapatkan performa yang lebih baik di medan off road dan berbukit,” ujarnya. Model ini juga mengaplikasikan sistem penggerak tunggal yang dirancang dengan kecepatan maksimal 30 km per jam dan kapasitas silinder sebesar 650 cc atau setara dengan 14 HP.

Selain
itu, model ini dilengkapi dengan differential
lock
sebagai fitur pengunci roda belakang sehingga dapat bergerak secara
bersamaan untuk menambah traksi saat melintasi jalan yang buruk. “Saat ini, AMMDes telah diproduksi massal
dengan pengembangan aplikasi untuk pertanian, perkebunan, perikanan, kesehatan,
dan tanggap darurat bencana,” imbuhnya.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika
(ILMATE) Kemenperin Harjanto mencontohkan, AMMDes telah dikembangkan dengan
dilengkapi alat pengolah air jernih. Fungsi AMMDes ini sudah dimanfaatkan di
tiga wilayah yang terkena dampak gempa di Provinsi Sulawesi Tengah, beberapa
waktu lalu, yakni di Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Donggala melalui
bantuan lima unit dari Kemenperin.

Bagi masyarakat desa atau dalam kondisi darurat bencana, kebutuhan
air bersih sangat penting untuk mendukung berbagai aktivitas. “Kebutuhan air bersih memang sangat penting, karena selain untuk minum, juga
misalnya digunakan untuk memasak dan lainnya,” ungkap Harjanto.

“Bahkan, saat ini telah dikembangkan AMMDes yang dilengkapi dengan unit ice flake atau pembuat es serpihan yang
cocok untuk nelayan,” tuturnya. Menariknya
lagi, kini AMMDes mampu dikembangkan sebagai feeder ambulans di wilayah-wilayah yang bermedan berat dan juga
minim infrastruktur jalan. Fungsi ini diyakini akan mengurangi jumlah kematian
ibu melahirkan di Indonesia.

Oleh karena itu, Kemenperin terus mendorong pengembangan AMMDes sebagai
salah satu karya anak bangsa yang perlu diapresiasi karena wujud kemandirian
industri nasional.

“Komponen
lokal AMMDes sudah lebih dari 70 persen. Untuk muatan penuhnya bisa mencapai
700 kg dan variasi kemiringan 20 hingga 30 derajat. AMMDes dilahirkan karena
melihat infrastruktur atau jalan desa, sehingga dapat dimanfaatkan di jalan
yang sangat ekstrim,” paparnya.

Terkait
produksi, saat ini KMWI memiliki kapasitas produksi sebanyak unit per
tahun. Rencananya perusahaan akan meningkatkan kapasitas terpasangnya menjadi
12 ribu unit per tahun di 2020.

AMMDes Summit

Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan
Kemenperin Putu Juli Andika menambahkan, dalam upaya perluasan pemanfaatan AMMDes yang bertujuan meningkatkan produktivitas dan
perekonomian pedesaan, Kemenperin dan PT Kreasi Mandiri Wintor Indonesia (KMWI) menggelar “The 2nd
AMMDes Summit and Ex
hibition yang dilaksanakan pada tanggal 15 –
16 April 2019 di Nusantara Hall – ICE BSD City.

Kegiatan tersebut mengusung
tema  “AMMDes Untuk Produktivitas dan
Kesejahteraan Masyarakat Desa”. “Jadi, acara ini merupakan kelanjutan dari
kegiatan tahun 2018 yang bertujuan untuk mendorong peningkatan pemanfaatan
AMMDes untuk memenuhi berbagai kebutuhan kegiatan ekonomi masyarakat pedesaan,” jelasnya.

Perhelatan tersebut, terdiri atas seminar dengan
tema “Peningkatan Peran AMMDes Dalam Mendorong Percepatan Pembangunan Ekonomi
Pedesaan” dan Focus Group Discussion
(FGD)
dengan topik yaitu “Pengembangan Bisnis Model AMMDes dan Perluasan
Kerjasama Pengembangannya” serta “Pengembangan R&D&D AMMDes dan
Komponen Pendukung Dalam Rangka Meningkatkan Tingkat Kandungan Dalam Negeri”.

Lebih lanjut, event
ini bertujuan membahas pemanfaatan aplikasi AMMDes untuk meningkatkan
produktivitas dan memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat pedesaan serta
membahas penguatan Research, Design and
Development
(R&D&D) AMMDes dan komponen pendukungnya.

Tujuannya untuk
meningkatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), serta exhibition yang akan menampilkan
beberapa unit AMMDes dengan aplikasi perontok padi, penjernih air, Ice Flake Maker, pengolah kopi, pemoles
beras, generator listrik, pascapanen pisang, dan ambulance feeder.

Selain
itu, juga dilakukan penandatangan Letter of Intent antara PT. Kreasi Mandiri Wintor Distributor sebagai perusahaan
distribusi AMMDes-KMW dengan PT. Repindo Jagad Raya tentang rencana ekspor AMMDes ke Timor Leste dan Papua Nugini serta serah terima AMMDes Ambulance
Feeder
sebanyak dua unit dari PT. KMWI
kepada United States Agency for International Development (USAID).

“Kegiatan ini
merupakan langkah awal membangun komitmen untuk mendukung pemanfaatan dan kerja sama pengembangan
AMMDes-KMW melalui pilot project,
serta membangun kerja sama dalam hal R&D&D komponen pendukung untuk
peningkatan TKDN,”
papar Putu.
Ke depannya, diharapkan AMMDes dapat memberikan kontribusi lebih besar
dalam upaya meningkatkan laju
perekonomian masyarakat di pedesaan.




SMK Menyongsong Industri 4.0


[metaslider id=”13155″]

Memasuki tahun ketiga pelaksanaan Instruksi
Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK), dapat dilihat beberapa campak positif. Di antaranya peningkatan
kebekerjaan lulusan SMK, serta menurunnya persentase tingkat pengangguran
terbuka (TPT) dari lulusan SMK. Jumlah lulusan SMK yang bekerja mengalami
tren kenaikan. Pada bulan Februari tahun 2016 tercatat sebanyak 12,37 juta,
kemudian meningkat menjadi 13,53 juta pada 2017, dan sebanyak 14,54 juta orang
pada tahun 2018. Sementara itu, Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS
menunjukkan tren penurunan TPT lulusan SMK, yaitu tahun 2016 sebesar 9,84
persen dan pada tahun 2017 sebesar 9,27 persen. Sedangkan pada tahun 2018
sebesar 8,92 persen. Mendikbud menyatakan optimismenya terhadap program
Revitalisasi SMK yang secara efektif dimulai pada tahun 2017. 

Revitalisasi SMK mendorong penyelarasan
kurikulum yang berbasis kebutuhan (demand driven). Serta kerja sama dengan
dunia usaha dan dunia industri (DUDI) semakin ditingkatkan. Penyiapan guru-guru
produktif juga terus dilakukan. Penguatan kelembagaan SMK sebagai lembaga
sertifikasi profesi pihak 1 (LSP-P1) juga terus didorong. Sehingga tingkat
kebekerjaan lulusan SMK meningkat, juga mampu bersaing di level internasional. Materi
Pengembangan muatan Revolusi Industri 4.0 menjadi muatan wajib bagi sekolah
penerima bantuan #RevitalisasiSMK. Sembilan jenis muatan industri 4.0 tersebut
di antaranya Augmented Reality/Virtual
Reality (AR/VR), 3D Printing, Tourism Promotion, Game Development, Smart
School, Internet of Things, E-Commerce
, dan Kewirausahaan.

Kini, siswa SMK
semakin percaya diri. Sebagai bagian dari angkatan kerja Indonesia yang terus
berinovasi dan menghadirkan karya nyata.