Pemerintah Fokus Pendidikan Kejuruan, Revitalisasi SMK Tunjukkan Dampak Positif

Depok – Presiden
Republik Indonesia Joko Widodo menegaskan, fokus dunia pendidikan saat ini
adalah untuk memberikan keterampilan kerja bagi generasi muda. Hal ini dalam
rangka menyambut bonus demografi dan persaingan antarnegara yang semakin ketat.
Pendidikan dan pelatihan vokasi/kejuruan akan semakin diperkuat seiring
bergesernya strategi pembangunan dari pembangunan infrastruktur fisik, menjadi
pembangunan manusia.
“Kita ingin pendidikan yang fokus pada keterampilan bekerja. Ini sangat penting,” pesan Presiden Joko Widodo dalam sambutannya pada pembukaan Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) 2019 di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Pegawai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Bojongsari, Depok, Jawa Barat, Selasa (16/2/2019).
Kunci bagi Indonesia
untuk mempersiapkan diri dalam memenangkan persaingan terletak pada kualitas
sumber daya manusianya. Selain infrastruktur yang telah dibangun dalam empat
tahun terakhir, peningkatan kualitas manusia menjadi prasyarat agar Indonesia
tidak terjebak dalam perangkap pendapatan menengah (middle income trap). “Apabila kita bisa meng-upgrade secepat-cepatnya sehingga
levelnya melebihi negara-negara di kanan-kiri kita, itulah namanya kemenangan
kita dalam bersaing,” kata Presiden.
Memasuki tahun
ketiga pelaksanaan revitalisasi sekolah menengah kejuruan (SMK), sesuai dengan
amanat Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK,
beberapa capaian positif mulai terlihat. Seiring dengan meningkatnya angka
partisipasi kerja lulusan SMK pada tahun 2018, angka tingkat pengangguran
terbuka (TPT) dari lulusan SMK setiap tahunnya semakin menurun.
“Memang ini datanya
dari sakernas (survei angkatan kerja nasional), yaitu (di bulan Februari) 2016
sebesar 9,84 persen dan pada tahun 2017 sebesar 9,27 persen. Sedangkan pada
tahun 2018 sebesar 8,92 persen. Jadi sebenarnya trennya menurun,”
disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy.
Jumlah lulusan SMK yang
bekerja mengalami tren kenaikan. Pada bulan Februari tahun 2016 tercatat
sebanyak 12,37 juta, kemudian meningkat menjadi 13,53 juta pada 2017, dan
sebanyak 14,54 juta orang pada tahun 2018. Mendikbud menyatakan optimismenya
terhadap program Revitalisasi SMK yang secara efektif dimulai pada tahun
2017.
Penyesuaian
Kurikulum dan Kerja Sama Industri
Untuk mengembangkan
pendidikan kejuruan yang selaras dengan kompetensi kebutuhan pengguna lulusan (link and match), maka Kemendikbud telah
melakukan penyesuaian dan pengembangan kurikulum pendidikan kejuruan. Jika
sebelumnya menggunakan pendekatan dari supply-driven,
maka saat ini kurikulum telah disesuaikan menjadi demand-driven agar dunia usaha dan dunia industri (DUDI) semakin
aktif terlibat dalam proses pendidikan kejuruan di SMK.
“Jika selama
ini SMK berjalan dengan berdasarkan persepsi dari sisi pendidikan saja, seakan
nantinya akan dibutuhkan di dunia kerja. Sekarang SMK berjalan sesuai dengan
permintaan dunia usaha dan industri. Yaitu dengan cara menyusun kurikulum
dengan bekerja sama dengan DUDI. Bahkan DUDI diberi porsi untuk menentukan
kurikulum sebesar 70 persen,” jelas Mendikbud.
Komitmen jangka
panjang yang saling menguntungkan antara SMK dengan dunia usaha dan dunia
industri juga terus diperkuat. “Sejak dilakukannya revitalisasi SMK itu,
sudah ada 2700-an industri yang menjalin kerja sama dengan SMK. Dan itu kerja
sama yang riil,” tutur Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah
(Dirjen Dikdasmen), Hamid Muhammad.
Dalam rangka
meningkatkan kompetensi dan kebekerjaan lulusan SMK, Kemendikbud mendorong
peningkatan kapasitas SMK menjadi Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Pertama
(LSP-P1). Dirjen Dikdasmen menyampaikan bahwa berdasarkan data Direktorat
Pembinaan SMK, saat ini terdapat 64 skema sertifikasi level 2 dan 3 yang
digunakan oleh LSP-P1 SMK.
Sampai dengan awal
tahun 2019, Kemendikbud bersama BNSP telah menyiapkan skema sertifikasi
kualifikasi level II dan III untuk digunakan di LSP-P1 SMK dan diharapkan dapat
meningkatkan akses sertifikasi kepada para siswa SMK. Dan sejak tahun 2016,
tercatat siswa SMK telah memperoleh sertifikasi dari Badan Nasional
Sertifikasi Profesi (BNSP). Sampai dengan awal tahun 2019, Kemendikbud bersama
BNSP telah menyesuaikan 146 kompetensi keahlian pendidikan kejuruan di SMK. Dan
sebanyak 1650 SMK telah melaksanakan sinkronisasi kurikulum.
Pemenuhan
Guru Produktif
Presiden berharap
semakin banyak guru sekolah menengah kejuruan (SMK) yang terampil dalam
membimbing siswanya agar memiliki keterampilan dan kompetensi kerja yang baik.
“Guru yang terampil harus lebih banyak dari guru normatif,” pesannya.
Saat ini Kemendikbud
terus memperkuat guru-guru SMK melalui berbagai program pelatihan, kursus
singkat, dan magang industri baik di dalam maupun luar negeri, serta program
sertifikasi keahlian ganda. Hal ini untuk mendorong revitalisasi vokasi secara
keseluruhan dan dapat menghasilkan lulusan yang bisa bersaing di dunia kerja.
“Target guru berkeahlian ganda pada 2019 ini mencapai 40 ribu guru,”
ujar Mendikbud.
Hingga akhir 2018,
program Peningkatan Jumlah dan Kompetensi Bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan
SMK yang telah terlaksana yaitu Peningkatan Kompetensi Guru Kejuruan.
Capaiannya adalah 1) Penyiapan Sistem Pendataan Calon Peserta Uji Kompetensi
Keahlian (UKK); 2) Identifikasi/Pemetaan calon Guru Sasaran Uji Kompetensi
Keahlian di 219 SMK revitalisasi; 3) Diklat Guru Produktif, pada 104 guru
produktif Bidang Teknologi dan Rekayasa, Energi dan Pertambangan, Teknologi
Informasi dan Komunikasi, Bisnis dan Manajemen, serta Seni dan Industri
Kreatif.
Penumbuhan
Minat Kewirausahaan
Pengembangan
pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan kompetensi siswa di era
industri 4.0 menjadi salah satu fokus Kemendikbud. Materi Pengembangan muatan
Revolusi Industri 4.0 menjadi muatan wajib bagi SMK penerima bantuan
revitalisasi. Sembilan jenis muatan industri 4.0 tersebut di antaranya Augmented Reality/Virtual Reality (AR/VR),
3D Printing, Tourism Promotion, Game Development, Smart School, Internet of
Things, E-Commerce, dan Kewirausahaan.
Selain bekerja di
industri atau melanjutkan studi di jenjang pendidikan tinggi, lulusan SMK juga
didorong menjadi wirausaha kreatif. “Salah satu alternatif yang bagus ya
mendorong anak-anak untuk menjadi wirausaha. Terutama anak-anak yang memiliki
imajinasi yang kuat, punya mimpi besar, sebaiknya disiapkan untuk menjadi
wirausaha,” kata Mendikbud.
Program SMK Pencetak
Wirausaha mendorong pembelajaran tentang etika, nilai (value), kemampuan (ability) dan
perilaku (attitude) dalam menghadapi
tantangan hidup untuk memperoleh peluang dengan berbagai risiko yang dihadapi.
Pengembangan Pembelajaran Kewirausahaan di SMK telah diimplementasikan dalam
berbagai bentuk pembelajaran berbasis produksi dan bisnis melalui beberapa
pendekatan, di antaranya teaching factory,
techno park, business center di sekolah.
Direktorat Pembinaan
SMK dan The Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO)
Secretariat sudah menghasilkan siswa wirausaha melalui program Sekolah
Pencetak Wirausaha (SPW) Batch 1 sampai dengan Batch III. Program ini telah
diikuti 175 SMK di 34 Provinsi. Sebanyak 206 sertifikat telah dibagikan kepada
para siswa yang mampu menghasilkan omzet Rp5 juta sampai dengan >Rp25 juta
dalam 3 bulan.
Fitry Anita Rahman,
siswi SMK Negeri 1 Cikalongkulon Cianjur, menjadi salah satu penerima
sertifikat SPW dengan omzet Rp23 juta dalam 3 bulan. Siswi program Agribisnis
Ternak Unggas ini mengaku tidak kesulitan membagi waktu antara berwirausaha
dengan belajar. Sekolah memberikannya keleluasaan untuk bereksperimen melalui
kelas khusus wirausaha. “Di sekolah aku, khusus sekolah pencetak wirausaha
itu dikasih waktu bebas dua puluh jam seminggu. Kita bebas pakai untuk kegiatan
wirausaha. Jadi gak kesulitan (membagi waktu),” ungkapnya.
Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Cikalongkulon
Cianjur, Sumariyah, mengungkapkan bahwa sekolah berkomitmen mendorong minat dan
bakat siswa dalam berwirausaha. Baginya, pembelajaran kewirausahaan siswa SMK
sangat penting untuk meningkatkan kepercayaan diri, serta menumbuhkan karakter
positif siswa, seperti kreativitas, kemandirian, dan bekerja keras.



