Upaya 3 Sanggar Tari Kembangkan Seni Budaya di Umbulharjo

Cangkringan – Acara Pengukuhan, Pembinaan, dan Pengembangan Rintisan Desa dan
Kantong Budaya Desa Umbulharjo Cangkringan pada Kamis (4/4/2019) di Balai Desa Umbulharjo Cangkringan dimeriahkan oleh tarian dari 3 sanggar tari milik Desa Umbulharjo.
Ketiga sanggar tersebut yaitu Sanggar Mutiara Abadi, Widya Budaya, dan Bondan.

Misman, Ketua Panitia menyampaikan setiap akhir bulan Rajab, Desa Umbulharjo juga ikut berpartisipasi dalam upacara Labuhan Merapi, yang mana kali ini akan
dilaksanakan pada Sabtu (6/4/2019). Dalam Labuhan Merapi, akan ditampilkan gelar seni
budaya dari sanggar tari yang ada di Umbulharjo. Acara ini didukung oleh Dinas
Kebudayaan Kabupaten Sleman, panitia, dengan anggaran yang berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Desa (APBDes).

Suyatmi, Kepala Desa Umbulharjo, mewakili
Pemerintah Desa (Pemdes) Umbulharjo mengucapan terimakasih atas dukungan dari
Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman. “Harapan atas pembinaan
dinas terkait semua sanggar-sanggar yang ada bisa semakin berkembang dan anak-
anak juga bisa berpartisipasi dalam pengembangan kegiatan seni budaya di desa,” kata Suyatmi.

Sumaryana, dari Dinas Kebudayaan Kabupaten
Sleman sekaligus pamong budaya, mengapresiasi kegiatan gelar seni ini. Menurut rencana, pihaknya akan mengukuhkan 3 sanggar tari di Desa Umbulharjo dengan nama
“RINUMPOKO”. Sumaryana berharap semoga dengan dikukuhkannya nama
tersebut maka kegiatan adat dan tradisi bisa semakin berkembang. (Marman)




Dharma Wanita Sleman Bantu Tangkal Hoax

Dharma Wanita Kabupaten Sleman berkomitmen membantu upaya Pemerintah Kabupaten Sleman dalam menangkal tersebarnya berita hoax. Ini terwujud melalui terselenggaranya Workshop Bijak Berinternet Ria yang berlangsung Jumat (5/4/2019) di Aula 2C, Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUPKP) Sleman.

Workshop yang dihadiri oleh anggota Dharma Wanita Kabupaten Sleman dan Dharma Wanita Kabupaten Lampung Selatan ini mengundang narasumber dari Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penelitian Komunikasi dan Informatika (BPSDMP Kominfo) Yogyakarta, Zulkurnain.  

Zulkurnain mengatakan masyarakat
kini mudah sekali terpapar serbuan berita hoax yang beredar di internet. Oleh
karena itu, langkah-langkah bijak patut dilakukan oleh masyarakat, seperti mencermati
sumber berita apakah berasal dari situs yang terdaftar resmi bukan situs-situs
bebas.

“Situs resmi biasanya diakhiri
dengan , , , .edu,” kata Zulkurnain.

Selain mencermati situs, langkah
penting lainnya adalah melakukan konfirmasi pada narasumber yang tertulis baik
itu perseorangan maupun lembaga, pun dapat meminta penjelasan kepada ahlinya.

Zulkurnain juga menyampaikan apabila
masyarakat menemukan konten negatif termasuk di dalamnya berita hoax,
masyarakat dapat mengajukan aduan ke .

“Bisa email ke aduankonten@
atau via WhatsApp 08119224545,” kata Zulkurnain.

Ditambahkan Zulkurnain, pengguna bisa melakukan screen capture disertai url link, kemudian mengirimkan data ke aduankonten@. Kiriman aduan ini akan segera diproses setelah melalui verifikasi. Kerahasiaan pun pelapor dijamin dan aduan konten dapat dilihat di laman web .




Tanamkan Pendidikan Kemandirian pada Anak dengan Autis

2 April diperingati sebagai Hari Peduli Autisme Sedunia. Hampir seluruh negara di penjuru dunia menyimbolkan penerimaan terhadap anak dengan autis atau nama lainnya Gangguan Spektrum Autisme (GSA) dengan caranya masing-masing. Begitu juga dengan Sekolah Lanjut Autis (SLA) Fredofios, Dabag, Condongcatur, Depok, yang memberikan pelayanan pendidikan kemandirian untuk anak dengan autis.

Agung
Tri Yuliyanto, guru SLA Fredofios, ditemui Kamis (4/4/2019) mengatakan, karakter bawaan autis yang tercipta istimewa dengan
julukan ‘tukang perekam dan tukang imitasi yang kuat’ menuntut perlu ada pengimbang. Karenanya, pendidikan kemandirian penting bagi kepribadian anak autis.

“Autis
sebenarnya tidak membutuhkan terapi dan sebagainya tetapi pendidikan yang tepat dan menanamkan nilai-nilai
kemandirian di dalamnya. Berbagai karakter autis dari yang pasif, aktif, hingga hiperaktif membuat cara mendidik untuk mencapai
tahap mandiri juga berbeda-beda sesuai dengan karakternya,” ujar Agung.

Selain
itu, diungkapkan
Agung permasalahan mendidik anak autis bisa timbul dari emosi tidak stabil,
perilaku yang bisa membuat anak tersebut susah untuk menangkap apa yang
disampaikan oleh guru, sifat moody, perilaku
ekstrem yang bisa mengganggu pergaulan dan interaksi,
serta perilaku mengkhawatirkan lainnya.

Di
samping kesulitan tersebut, ada kemudahan mendidik anak autis,
yakni seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa anak autis cepat menangkap pesan yang diberikan oleh lawan
interaksinya. Kemudahan ini menurut
Agung merupakan hal menguntungkan bagi para guru
pendamping.

“Jadi
dari kekurangan dan kelebihan tersebut membuat pendidik harus menyesuaikan
antara anak yang pasif, aktif, dan hiperaktif dengan pendekatan minat, bakat,
serta kasih sayang,” tambahnya.

Agung
sendiri
menyampaikan di Fredofios anak-anak termasuk dalam kategori anak yang aktif. Terkadang, anak-anak
akan keluar kelas saat pelajaran sedang berlangsung dan memberikan gangguan pada lingkungan
sekitar. Oleh karena itu,
tiga pendekatan (minat,
bakat, kasih saying-red) tersebut harus
diimbangi juga dengan rasa pengabdian.

“Harapan
ketika menjadi guru anak dengan autis yaitu nantinya anak-anak
tersebut bisa mengerjakan apapun secara sendiri terutama keterampilan hidup, baik itu memasak, menyapu, melipat baju, dan mandi. Kemudian bisa menghasilkan suatu karya, apakah itu
musik, batik, komputer, desain, keterampilan kayu dan sebagainya,“
harap Agung. (Rep Rara)




Dusun Gesikan Dukung Meluasnya Industri Jamu Tradisional

Sejak 4 April 2004, Dusun Gesikan, Merdikorejo, Tempel, Sleman, telah
memiliki kelompok
jamu yang menaungi para pembuat jamu di dusun tersebut. Namun tak hanya sekadar menjadi wadah bagi para pembuat jamu, Kelompok
Jamu Dusun Gesikan berencana membuat desa wisata edukasi jamu untuk wisatawan.

Nama Dusun Gesikan yang sudah mulai dikenal sebagai
sentra jamu tradisional, semakin menunjukkan eksistensinya dalam melestarikan dan mengembangkan jamu
tradisional di kalangan masyarakat. Ketua Kelompok Jamu Dusun Gesikan, Sarjana
mengatakan misinya membuat desa wisata untuk edukasi
jamu tradisional bekerjasama dengan masyarakat setempat adalah untuk mendukung penggunaan rumah-rumah masyarakat
sebagai homestay bagi wisatawan yang
datang.

“Jadi ke depannya lagi diusahakan bisa dijadikan tempat wisata sekaligus edukasi
soal jamu untuk wisatawan yang datang ke sini,” jelas Sarjana, Kamis (4/4/19).

Kelompok Jamu Dusun Gesikan sendiri tercatat telah
memproduksi berbagai jenis jamu baik itu jamu cair maupun kristal. Jamu cair yang diproduksi, antara lain kunir asam, beras kencur, paitan, temulawak, cabe puyang, dan puyuh-puyuh. Sementara jamu bentuk kristal di antaranya jahe, secang, sari wortel, dan temulawak. Di samping itu, kelompok
ini juga memproduksi pendamping
tambahan minuman herbal, yakni jahe langceng, wedang uwuh, wedang secang, wedang sereh, dan wedang kayu
putih.

Diakui Sarjana, dalam memproduksi berbagai jenis
jamu tersebut, kelompoknya kerap kali menemui kendala. “Kendala ada pada harga bahan yang terkadang melambung
tinggi karena untuk pembuatan jamu bahan-bahan yang digunakan harus merupakan
bahan berkualitas baik,” katanya.

Akan tetapi, kendala tersebut tidak menyurutkan
langkah Sarjana dan teman-teman untuk terus mengembangkan industri jamu di
daerahnya ini.

Sejauh ini, Sarjana mengatakan, pihaknya dibantu Pemerintah
Kabupaten Sleman melalui Dinas Kesehatan Sleman. Dinas Kesehatan Sleman
seringkali melakukan pemeriksaan sampel
jamu untuk
mengetahui apakah jamu produksinya mengandung bakteri Escherichia Coli (E. coli) yang dapat membahayakan tubuh atau tidak. Selain Dinas Kesehatan Sleman, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sleman dan Dinas Perindustrian DIY pun telah mengajak kelompok jamunya untuk bimbingan teknis, contohnya bimbingan teknis terkait
Good Manufacturing Practice atau cara produksi yang baik dan benar bekerja sama
dengan BBPOM DIY.

Dengan bantuan pemerintah daerah dan tak kalah
penting upaya mandiri dari kelompoknya, Sarjana berharap industri jamu Dusun
Gesikan dapat terus eksis dan meluas. Pun, cita-citanya untuk mengembangkan
desa wisata untuk edukasi jamu tradisional bisa segera terwujud. (Rep Rara)




Peringati Hari Jadi ke-103, Pemkab Sleman Targetkan 100 Kantong Darah

Dalam rangka menyambut peringatan Hari Kartini dan Hari Jadi Sleman ke-103, Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Sleman selenggarakan giat donor darah di Kantor PMI Kabupaten Sleman, Kamis (4/4/19).

Kegiatan yang bekerja sama dengan PMI Kabupaten Sleman ini mentargetkan 100 orang pendonor yang menyasar organisasi wanita di Wilayah Kabupaten Sleman yaitu Persatuan Istri Tentara (Persit), Bhayangkari, Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Sleman, Dharma Wanita, dan PKK.

“Donor darah kali ini diikuti oleh organisasi wanita yang terdiri dari lima organisasi yaitu GOW, Dharma Wanita, PKK, Persit dan Bhayangkari. Ini merupakan rangkaian kegiatan peringatan Hari Kartini ke 140 dan sekaligus peringatan Hari Jadi Sleman yang ke 103,” tutur Sekretaris DP3AP2KB, Tina Hastani ditemui dalam kegiatan tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, Tina menyampaikan bahwa dengan diselenggarakan kegiatan sosial donor darah ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa solidartitas dan kekeluargaan antar organisasi wanita dan juga menumbuhkan rasa kemanusiaan.

“Mudah-mudahan kegiatan ini bisa memberikan manfaat bagi mereka juga dapat memberikan manfaat kesehatan,” katanya.

Sementara itu, dalam kesempatan tersebut turut hadir Ketua PMI Kabupaten Sleman, Sunartono yang sekaligus menyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan kegiatan sosial tersebut. Sunartono menuturkan bahwa donor darah memiliki banyak manfaat bagi kesehatan.

Lebih lanjut, Sunartono menjelaskan kepada sejumlah anggota organisasi wanita yang hadir dalam kesempatan tersebut mengenai prosedur dalam donor darah yaitu, dimulai dengan melakukan cek kondisi badan apakah sesuai dengan ketentuan atau tidak.

Selain itu, Sunartono juga memaparkan bahwa darah yang diambil dalam donor darah tersebut tidak langsung didistribusikan, namun melalui pengolahan untuk menghindari beberapa hal yang diantaranya identifikasi terhadap 4 penyakit yaitu, HIV, Sipilis, Hepatitis, dan Malaria. (Humas Sleman/Rizal)