Mal Pelayanan Publik Sleman, Semua Pelayanan Publik dalam Satu Tempat

Sleman – Mal Pelayanan Publik (MPP) Kabupaten Sleman yang
bertempat di gedung DPMPPT (Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan
Terpadu), Beran, Tridadi, Sleman, mulai diujicobakan sejak Senin (6/5/2019).
Uji coba ini sengaja dilakukan untuk melihat efektivitas dari pengimplementasian
Mal Pelayanan Publik pada masyarakat Sleman dan sekitarnya.

Soft launching atau uji coba tersebut dihadiri oleh masyarakat
dari berbagai kalangan yang sedang mengurus beragam keperluan administrasi. Salah
satunya ialah Rosa, yang sengaja datang untuk mengurus surat perizinan pendirian
hotel di Sleman. Ia mengaku telah dua kali datang ke gedung DPMPPT Sleman ini.
Yang pertama memasukan surat pengantar, lalu seminggu kemudian ia datang
kembali untuk mengurus surat izin pendirian hotel sekaligus melakukan wawancara
perihal prosedur pendirian hotel di Kabupaten Sleman.

Rosa mengaku jika keberadaan Mal Pelayanan Publik ini sangat
membantu disebabkan adanya penyatuan berbagai instansi perangkat daerah dalam
satu gedung yang memudahkan publik menyelesaikan segala keperluannya di satu
tempat. Selain itu juga lokasi dari Mal Pelayanan Publik itu sendiri yang mudah
dijangkau, di tepi Jalan Magelang.

Namun kekurangannya ialah, antrian yang dirasa lama oleh
para pengunjung. “Antrian disini membludak, jadi nunggunya lama. Saya di sini
sudah 45 menit,” tuturnya.

Masing-masing loket disi oleh pelayanan dari berbagai
institusi, diantaranya pelayanan pembuatan kartu identitas anak dan perekaman
e-KTP oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, pelayanan BPJS Kesehatan
dan BPJS Ketenagkerjaan, Bank BPD DIY, pembayaran pajak kendaraan bermotor oleh
Samsat Sleman, dan pembuatan IMB. Selain itu juga ada loket Surat Pernyataan
Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL) dari Dinas
Lingkungan Hidup, Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan, Kantor Pelayanan Pajak
Pratama, SIM Corner oleh Polres Sleman, dan Pelayanan Izin Usaha Jasa
Konstruksi dari Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman.

Pada salah satu corner dipajang beragam hasil olahan dari
UMKM Sleman meliputi kain batik dan tas batik. Selain itu Mal Pelayanan Publik ini
juga dilengkapi fasilitas umum seperti toilet, musholla, dan ruang bermain
anak.

Untuk menunjang kinerja para pegawai, diselipkan pula kotak saran agar pengunjung dapat memberikan masukan ataupun kritik terhadap Mal Pelayanan Publik Kabupaten Sleman. Meskipun masih dalam tahap uji coba, namun antusiasme dari masyarakat sangat tinggi. Mal Pelayanan Publik ini pun masih terus dalam tahap penyempurnan, sebelum peluncuran perdananya pada 15 Mei nanti.(Rep Bilqis)




Fokus Pembangunan Manusia Melalui Sektor Pendidikan dan Kebudayaan

Karanganyar – Setelah gencar melakukan berbagai pembangunan infrastruktur yang bermanfaat sebagai sabuk pemersatu bangsa, penguat interkonektivitas, serta pendorong proses ekonomi yang semakin efektif dan efisien, saat ini, pemerintah mengalihkan fokus pembangunan ke pembangunan sumber daya manusia (SDM). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah menyiapkan tiga fokus pembangunan manusia di sektor pendidikan dan kebudayaan. Di antaranya, pendidikan anak usia dini (PAUD), pendidikan karakter yang menjadi prioritas pada jenjang pendidikan dasar, serta penyiapan generasi yang cakap dan terampil melalui jenjang pendidikan menengah dan pendidikan masyarakat.

Presiden Joko Widodo
berpesan agar pembangunan karakter bangsa, budi pekerti, sopan santun, nilai-nilai
etika, dan agama harus menjadi perhatian dunia pendidikan ke depan. “Kita
semua merayakan dengan bergembira. Tapi ingat bahwa pembangunan karakter
bangsa, budi pekerti, sopan santun, nilai-nilai etika, agama ke depan harus
menjadi perhatian dunia pendidikan kita dalam rangka pembangunan sumber daya
manusia yang memiliki karakter dan kualitas yang baik,” disampaikan
Presiden Joko Widodo di Karanganyar, Jawa Tengah (2/5/2019).

Tema Hari Pendidikan
Nasional Tahun 2019 adalah “Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan”. Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengungkapkan bahwa tema
ini mencerminkan pesan penting Ki Hajar Dewantara terkait hubungan erat
pendidikan dan kebudayaan. “Perpaduan dunia pendidikan dan kebudayaan
sangat penting dalam menciptakan ekosistem yang syarat nilai dan pengalaman,
guna membingkai hadirnya sumber daya manusia yang berkualitas, demi terwujudnya
Indonesia yang berkemajuan,” terangnya.

Peranan Kebudayaan
dalam pembangunan nasional menjadi semakin kuat dengan disahkannya
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, serta Strategi
Kebudayaan hasil rekomendasi Kongres Kebudayaan tahun 2018. “Implementasinya
diharapkan semakin meningkatkan ketahanan budaya, dan mampu mengambil peran di
tengah peradaban dunia,” ujar Muhadjir. 

Mendikbud
berpendapat bahwa proses pendidikan hendaknya tak semata-mata terkait
pencerdasan secara intelektual saja, tetapi juga pematangan emosional, sosial,
dan spiritual yang memperkuat karakter bangsa. “Pendidikan karakter
dimaksudkan untuk membentuk insan berakhlak mulia, empan papan, sopan santun, tanggung jawab, serta budi pekerti yang
luhur,” tuturnya.

Hadirnya Generasi Z
yang terlahir di era digital, serta pesatnya teknologi saat ini hendaknya dapat
dimanfaatkan para pendidik untuk menerapkan pendidikan berbasis teknologi
digital dengan sentuhan budaya Indonesia. “Hal penting yang perlu
diperhatikan adalah pengoptimalan peran tri pusat pendidikan, yakni keluarga,
sekolah, dan masyarakat. Ketiga pusat pendidikan tersebut harus saling
mendukung dan menguatkan,” ujar Mendikbud.

“Kecintaan dan
kebanggaan pada simbol-simbol negara juga harus terus ditanamkan kepada
generasi muda agar semakin kuat rasa nasionalismenya dan berjiwa patriot,”
tambah Muhadjir.

Sementara itu,
ikhtiar membekali keterampilan dan kecakapan generasi muda perlu disertai pula
dengan penanaman jiwa kewirausahaan. Mendikbud meyakini bahwa pendidikan yang
baik dan terarah akan berdampak pada pelejitan kualitas sumber daya manusia.

“Prosesnya
tentu tak sebatas pembelajaran di ruang-ruang sekolah, tetapi juga melibatkan
secara proaktif segenap pemangku kepentingan, dari keluarga, masyarakat, hingga
dunia usaha dan dunia industri (DUDI),” terangnya.

Saat ini Indonesia
juga bersiap memasuki era Revolusi Industri 4.0 yang ditandai bekerjanya
peranti-peranti digital baru serba canggih yang memadukan basis kinerja internet of thing, artificial intelligence,
advance robotic,
hingga big data
analytics
. Hal ini tentunya peru segera direspons dengan penyiapan sumber
daya manusia yang andal, sekaligus mampu menciptakan ragam peluang baru secara
kreatif, justru di tengah ancaman disrupsi, ketika banyak jenis pekerjaan
manusia tergantikan mesin.

“Revitalisasi
pendidikan vokasi, misalnya, dilakukan guna mempersiapkan itu semua. Tentu saja
hal tersebut bagian dari kebijakan yang lebih komprehensif, yang terkait pula
dengan perbaikan mutu guru hingga kelengkapan sarana prasarana yang
dibutuhkan,” kata Muhadjir.

Gotongroyong
Memajukan Bangsa

Bapak Pendidikan
Nasional, Ki Hadjar Dewantara menyampaikan, “Setiap orang menjadi guru,
setiap rumah menjadi sekolah”. Hal ini dapat dimaknai sebagai pesan
penting agar seluruh warga bangsa proaktif dalam proses pendidikan.
“Ikhtiar memajukan pendidikan bagi hadirnya sumber daya manusia yang
berkualitas tentu tidak semata-mata bergantung kepada pemerintah pusat, tetapi
juga proaktifnya pemerintah daerah dan segenap pemangku kepentingan lainnya,
terutama DUDI,” ungkap Mendikbud. 

Sebagaimana
diketahui bersama, pendidikan merupakan salah satu urusan kongruen yang
tanggungjawabnya dibagi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Saat
ini, sekitar 63 persen anggaran fungsi pendidikan disalurkan pemerintah ke
daerah melalui Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK).
“Oleh karena itu, pemerintah daerah diharapkan semakin proaktif dalam
mendorong kemajuan dunia pendidikan dan kebudayaan,” kata Mendikbud.

Pembangunan
pendidikan dan kebudayaan dalam rangka penguatan sumber daya manusia yang
berkualitas akan berjalan secara optimal bilamana terwujudnya sinergi dan peran
aktif antara pemerintah, pemerintah daerah, dan segenap pemangku
kepentingan. 

“Marilah kita konsentrasikan segenap
potensi pendidikan nasional yang menitikberatkan pembangunan manusia yang
dilandasi karakter yang kuat, keterampilan, dan kecakapan yang tinggi, sehingga
mampu menjawab tantangan perkembangan zaman yang semakin kompetitif,” ajak
Mendikbud.




Gapura Kampung KB Ngabean Kulon Diresmikan

Ngaglik – Kurang lebih tujuh ratusan masyarakat Padukuhan gabean
Kulon sejak pagi berduyun  duyun di halaman
SMK PIRI Ngaglik, Ngabean Kulon, Desa Sinduharjo, Kecamatan Ngaglik, Minggu, (5/5/2019).
Mereka mengikuti kegiatan jalan santai dalam rangka peresmian gapura Kampung KB
Ngabean Kulon.

“Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim gapura Kampung
KB Ngabean Kulon dengan ini kami resmikan,” kata Sudarja Kades Sinduharjo
saat memotong pita di gapura Kampung KB Ngabean kulon.

Selesai memotong pita dilanjutkan jalan santai bersama warga
masyarakat menyusuri jalan Padukuhan Ngabean Kulon sambil melihat hasil lomba
kebersihan lingkungan antar RT yang diadakan sebelumnya dan diikuti 7 RT yang
ada di padukuhan ini. Keluar sebagai juara lomba kebersihan lingkungan dan tamanisasi
adalah juara pertama RT 01, juara kedua RT 04, dan juara ketiga RT 02. Mereka
mendapat uang pembinaan dari perkumpulan PKK Padukuhan Ngabean Kulon.

Selain jalan santai, peresmian gapura ini juga dimeriahkan
dengan senam sehat bersama, organ tunggal dan pembagian door prize. (KIM
Sinduharjo/SPN)




Mempersiapkan Pamsimas Yang Berkelanjutan

Ngaglik – Sanitasi yang buruk mengakibatkan tercemarnya air yang
kemudian menyebabkan banyak terjadi kasus diare, di antaranya bisa sampai
meninggal dunia. Karena itu STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) sangat
penting dalam pelaksanaan Pamsimas (Program Nasional Penyediaan Air Minum dan
Sanitasi Berbasis Masyarakat). Demikian penjelasan Annisa Puji Rahayu dari
Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman dalam pelatihan pengelolaan Pamsimas tahun
2019 di Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Kamis (2/5/2019).

Dalam pelatihan yang diselenggarakan selama dua hari tanggal
2 dan 3 Mei 2019 diikuti oleh 80 peserta dari unsur KKM (Kelompok Kerja
Masyarakat), SATLAK (Satuan Pelaksana) dan kader kesehatan dari 5 desa penerima
dana APBD yaitu Purwobinangun dan Hargobinangun Pakem, Girikerto Turi,
Bimomartani Ngemplak serta Donoharjo Ngaglik.

STBM merupakan pendekatan untuk mengubah perilaku higiene
dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan, tujuannya
untuk memperkuat budaya perilaku hidup bersih dan sehat pada masyarakat serta
mencegah penyakit berbasis lingkungan. Adapun Pamsimas dilaksanakan dengan
tujuan agar masyarakat desa dapat mengakses air minum dan sanitasi rangka
penerapan hidup bersih dan sehat.

“Agar dapat berkelanjutan, pelaksanaannya melalui program
berbasis masyarakat. Dengan demikian, diharapkan pembangunan yang dihasilkan
dari program Pamsimas bisa dijaga dan dilestarikan untuk menunjang kehidupan
masyarakat desa sekarang dan di masa yang akan datang,” jelas Annisa lagi.

Berkaitan dengan keberlanjutan Pamsimas,  Didik dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa
Kabupaten Sleman menyampaikan bahwa kegiatan yang berkaitan dengan pengadaan
air bersih dikelola sesuai dengan kebijakan masing-masing sehingga jika pada
akhirnya terjadi kerusakan, kemacetan, ada semacam asosiasi atau kelompok
pengelola yang menyelesaikan.

“Perlu dibentuk KP-SPAM ( Kelompok Pengelola Sarana
Prasarana Air Minum) yang bertugas melaksanakan AD ART, menentukan iuran
pemeliharaan, menyusun administrasi, menyelenggarakan Rapat Anggota serta
menyusun laporan,” jelas Didik lagi.

Lebih lanjut, Didik menyampaikan bahwa Pemerintah Desa juga
memiliki kewajiban tata kelola Pamsimas. Setiap desa lokasi Pamsimas diharapkan
bisa membantu dengan dukungan dana APBDesa, yang meruncing pada anggaran
pembangunan sarana prasarana air bersih, sanitasi kesehatan masyarakat,
pelatihan peningkatan SDM, studi banding ataupun dengan memfasilitasi rapat
rutin.(KIM Ngaglik/Endarwati)