Pengumuman Kelulusan dalam Suasana Budaya Jawa

Cangkringan – Pengumuman kelulusan bertajuk Purna Siswa Tahun Ajaran 2018/2019 SMA Negeri 1 Cangkringan berlangsung dalam suasana penuh kebudayaan Jawa. Seluruh siswa yang hadir mengenakan pakaian adat Jawa, orangtua dan wali murid dengan pakaian batik, dilengkapi dengan iringan karawitan di SMA Negeri 1 Cangkringan, Kecamatan Cangkringan, Senin (13/5/2019).

Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Cangkringan Anis Rahmania menyampaikan bahwa seluruh siswa telah berjuang selama tiga tahun untuk menjalankan tugasnya sebagai siswa, “Hari ini adalah hari yang membahagiakan karena seluruh siswa bisa lulus ujian sekolah dan Ujian Nasional Berbasis Komputer, total sebanyak 121 siswa,” ujar Anis Rahmania.

Menurut Anis Rahmania ada yang lebih membanggakan karena ada
19 murid yang masuk ke jalur undangan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi
Negeri di Universitas Negeri Yogyakarta. “Semoga semakin menjadi pribadi yang
berkualitas dan bermanfaat ke depannya. Dan semoga empat tahun ke depan para
siswa ini kembali ke sekolah untuk mengurus 
legalisasi sebagai persyaratan wisuda tingkat perguruan tinggi,” ujar
Anis Rahmania.

Sambutan Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Cangkringan ini diakhiri dengan mengembalikan seluruh siswa yang lulus kepada orangtua dan wali murid untuk melanjutkan pendidikannya. Dalam acara ini juga ditampilkan pertunjukan seni tari berjudul Peksi Eka Kapti, pembacaan puisi karya Chairil Anwar, dan penampilan musik akustik. (KIM Cangkringan/Marmansyah)




Boulevard UII, Destinasi Ngabuburit di Sleman

Sleman – Berburu takjil merupakan hal yang lumrah dilakukan
masyarakat Indonesia pada bulan Ramadan. Tak heran jika banyak dijumpai penjual
takjil di setiap sudut pasar ramadan. Di Yogyakarta sangat populer beberapa
pasar ramadan yang tidak pernah sepi pengunjung tiap tahunnya seperti Pasar Ramadan
Kauman, Pasar Ramadan Pakualaman, dan Kampung Ramadan Jogokaryan (KRJ).

Sleman pun tak mau kalah. Kabupaten di utara Kota Yogyakarta ini juga memiliki banyak lokasi keramaian untuk menunggu waktu berbuka puasa, istilah populernya adalah ngabuburit.  Salah satunya ialah pasar ramadan di kawasan boulevard kampus pusat Universitas Islam Indonesia (UII), Jalan Kaliurang Km 14,5, Kabupaten Sleman. Sama seperti pasar ramadan lainnya, pasar ini selalu ada tiap tahun dan selalu diburu oleh para pengunjung baik  itu masyarakat luar maupun para mahasiswa untuk berbelanja takjil sekaligus ngabuburit.

Seperti yang diungkapkan oleh Rahmatina, seorang pengunjung yang
mengaku sudah lima kali berburu takjil di pasar ramadhan UII. “Sudah lima kali ini
kesini. Sama saja, ramai terus. Apalagi menjelang magrib itu semakin ramai,” ujar
Rahmatina, Sabtu (11/5/2019). Menurut Rahmatina, keramaian ini kadang sampai
membuat macet. Terutama menjelang azan Magrib, terjadi kemacetan di kawasan
muara jalan masuk ke kampus UII ini. Tak heran karena selama pasar ini
berlangsung, penjual, pengunjung, parkir sepeda motor dan mobil tumpah ruah memenuhi
kawasan ini.

Boulevard kampus UII termasuk spot yang banyak digandrungi untuk
menunggu waktu berbuka puasa. Banyak pengunjung yang menghabiskan waktu di
tempat tersebut, dari sekadar menikmati senja atau langit sore, duduk
mengobrol, sampai bersepeda. Area ini juga sering dijadikan sebagai spot
fotografi karena penerangan yang berada di sepanjang sisi kiri dan kanan jalan
boulevard menambah cantik suasana sore hari menjelang waktu berbuka puasa.

Tidak jauh beda dengan pasar ramadan lainnya, di pasar ini
menjajakan beraneka ragam takjil di pinggir jalan atau warung permanen. Mulai
dari es segar, sup buah, kolak, gorengan, camilan ringan, kue, bubur,
lauk-pauk, sayur hingga penjual makanan berat pun tersedia. Semua makanan
tersebut dibandrol dengan harga murah, mulai dari seribu rupiah sampai dengan limabelas
ribu rupiah. Pasar yang dibuka pukul WIB ini, akan ramai pengunjung
menjelang waktu berbuka puasa hingga tutup pada pukul WIB.(Rep Bilqis)




PHBS sebagai Pendukung Pamsimas

Ngaglik – Ketersediaan air bersih adalah syarat mutlak untuk memperoleh kualitas kesehatan yang baik. Ini tergambar dalam indikator PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) dimana menggunakan air bersih menjadi salah satu indikator. Spesifiknya adalah air bersih yang tidak berasa, tidak berwarna dan tidak berbau.

Adapun sembilan indikator lainnya adalah melahirkan dengan bantuan tenaga medis, memberi ASI eksklusif, menimbang balita minimal sekali sebulan, cuci tangan pakai sabun pada air yang mengalir, menggunakan buang air di jamban, pemberantasan sarang nyamuk, makan sayur dan buah setiap hari, melakukan aktivitas fisik dengan berolahraga minimal 30 menit setiap hari, dan tidak merokok.

Sosialisasi PHBS ini dilakukan oleh Puskesmas Ngaglik 2 di Embung Jetis Suruh, Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Sabtu (11/5/2019). Eka, salah satu fasilitator Pamsimas (Program Nasional Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) mengatakan bahwa kegiatan sosialisasi PHBS ini diselenggarakan dengan tujuan agar warga desa Donoharjo lebih memahami tentang bagaimana perilaku hidup bersih dan sehat, “Harapannya mereka bisa menerapkan dalam aktivitas kehidupan mereka sehari-hari. Dengan demikian, program pengelolaan air bersih dan sanitasi berbasis masyarakat dapat lebih sukses terlaksana,” ujar Eka.

Kegiatan sosialisasi yang merupakan salah satu program pendukung Pamsimas ini dihadiri 50 orang ibu PKK dan pengelola BUMDes Donoharjo.

Pamsimas merupakan program yang  bertujuan agar masyarakat desa dapat mengakses
air minum dan sanitasi dalam rangka penerapan hidup bersih dan sehat. Agar
dapat berkelanjutan, pelaksanaannya melalui program berbasis masyarakat. Dengan
cara demikian, pembangunan yang dihasilkan dari program Pamsimas bisa dijaga
dan dilestarikan. Apabila terjadi kerusakan, kemacetan, atau gangguan pada
fasilitas air bersih, ada semacam asosiasi atau kelompok pengelola yang
menyelesaikan secara mandiri. (KIM Donoharjo/Endarwati)




Desa Sariharjo Tingkatkan Pembangunan Keagamaan Non Fisik

Ngaglik – Safari Tarawih Keliling Kecamatan Ngaglik menyambangi
Desa Sariharjo. Dipimpin langsung Subagya sebagai Camat Ngaglik, safari ini
dihadiri jamaah dan takmir masjid se-Desa Sariharjo sebanyak 44 masjid dan musala,
para ulama, tokoh masyarakat, perangkat desa, dan ibu-ibu PKK Desa Sariharjo di
Gedung Serba Guna Balai Desa Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman,
Kamis (9/5/2019).

Dalam
safari tersebut Kepala Desa Sariharjo, Sarbini melaporkan perkembangan
pembinaan  keagamaan di Desa Sariharjo,
dimana saat ini tercatat masjid dan musala sebanyak 44 buah. Sarbini
mengharapkan ke depannya target non fisik ditingkatkan, “Takmir masjid harus peduli
lingkungan, peduli masyarakat atau jamaah yang perlu mendapatkan bantuan dari takmir
masjid. Sehingga fisik masjid terawat dan jamaahnya juga mendapatkan pelayanan
prima dari takmir masjid,” papar Sarbini.

Harapan Kepala Desa Sariharjo ini senada dengan yang
dikatakan Ustaz H. Jadiyo dari KUA Ngaglik dalam tausiahnya. Ustaz H. Jadiyo menekankan
pada kepedulian sesama, “Sebagai contoh, memberikan shodaqoh jariah jangan terlambat, karena kalau terlambat tidak ada
manfaatnya. Pada waktu sakaratul maut biasanya banyak keinginan akan
melaksanakan amal saleh tetapi sudah terlambat, maka itu sebelum terlambat,
segera bergegas untuk berbuat dan beramal yang baik dan sebanyak banyaknya,”
kata Ustaz H. Jadiyo.

Camat Ngaglik, Subagya menyampaikan tujuan safari tarawih
ini adalah untuk menjalin silaturahmi antara pemerintah kecamatan dan jamaah
masjid, sehingga masjid bisa makmur jamaahnya. “Harapan saya agar para takmir
peduli terhadap masyarakat miskin, sehingga masyarakat mendapatkannya pelayanan
terbaik dari masjid ini,” pinta Subagya. Pada kesempatan ini Camat Ngaglik menyerahkan
bantuan dana untuk Masjid Miftahul Jannah, Dusun Ngetiran, Desa Sariharjo
sebesar ,- (KIM Ngaglik/Suripto)