Pasar Lebaran Dibuka, Stan Sembako Murah Diserbu Pembeli

Sleman – Pasar Lebaran tahun 2019 yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Sleman telah resmi dibuka hari ini oleh Bupati Sleman Sri Purnomo, Selasa (14/05/2019) di Jalan Candi Sari (selatan lapangan pemda Sleman).

Salah satu stan yang paling banyak diserbu warga pada hari
pertama ini adalah stan sembako murah. Sesuai dengan tujuan diadakannya pasar
lebaran ini, selain meningkatkan semangat cinta dalam diri masyarakat untuk
mengonsumsi produk lokal, juga sebagai momen penjualan sembako murah.

Tak heran jika keberadaan stan sembako murah juga menarik
hati para pengunjung. Seperti yang diungkapkan oleh ibu Susanti, salah seorang
warga setempat yang sedang  berbelanja
sembako murah. “Hari pertama cukup ramai, banyak peminatnya. Terus ada sembako
murah juga kan. Jadinya bisa membantu yang kurang mampu. Karena lebih murah,” ujar
Susanti.

Selama ini di bulan Ramadan apalagi menjelang Lebaran, harga
sembako serta panganan lainnya kerap mengalami kenaikan harga. Karena itu
keberadaan dari sembako murah dalam Pasar Lebaran ini dirasa sangat membantu
masyarakat sebab mereka dapat membeli dengan harga lebih ekonomis dibanding
harga pasaran. “Sembako ini murah. Ini minyak kan harga dua puluh ribu dua
liter disini. Kalau di luar lebih mahal lagi,” imbuh Susanti.

Lebih dari 50 stan telah terpasang dan terisi barang-barang
olahan serta hasil produksi dari UMKM dari 17 kecamatan se-Kabupaten Sleman.
Produk yang dipamerkan berupa hasil kerajinan tangan, olahan makanan berat
mapun makanan ringan seperti camilan dan kue kering, sembako, kain batik, fashion
(baju, mukena, jilbab, sepatu), sayur-mayur atau hasil pertanian, hingga tanaman
hias.

Pada hari pertamanya, kegiatan ini langsung ramai pengunjung
dari kalangan mahasiswa, warga, hingga para pegawai instansi pemerintahan
setempat. Tidak hanya untuk melihat produk yang dipamerkan, ataupun sekedar
duduk santai sembari menikmati penampilan dari grup musik Awallun Newcapella. Tidak
sedikit dari mereka yang terlihat memborong barang-barang yang dijajakan. (Rep
Bilqis)




Batik Ecoprint: Kontemporer, Unik, dan Ramah Lingkungan

Ngaglik – Meningkatnya
kesadaran masyarakat menjaga kelestarian alam menjadikan tren gaya hidup ramah
lingkungan semakin digemari dan merambah luas ke berbagai sektor usaha. Tidak
terkecuali dengan tren adi busana khususnya batik. Akhir-akhir ini berkembang
batik ecoprint, yakni batik kontemporer yang menambah khasanah batik etnik di
samping batik tulis dan batik cap.

Sesuai
namanya ecoprint dari kata eco asal kata ekosistem (alam) dan print yang
artinya mencetak, batik ini dibuat dengan cara mencetak dengan bahan-bahan yang
terdapat di alam sekitar sebagai kain, pewarna, maupun pembuat pola motif.
Bahan yang digunakan berupa dedaunan, bunga, batang bahkan ranting. Tidak
seperti batik tulis atau cap yang pada tahap tertentu menggunakan bahan kimia,
ecoprint menggunakan unsur-unsur alami tanpa bahan sintetis atau kimia. Karena itulah
batik ini sangat ramah lingkungan dan tidak menimbulkan pencemaran air, tanah
atau udara.

Tren gaya
hidup ramah lingkungan inilah yang mendasari 
Alvira Oktaviani menekuni dan mengembangkan batik Ecoprint dengan
branding Semilir Ecoprint Artisan. Elvira mengolah bahan alami menjadi
kerajinan seperti tas, kain, syal, baju, kemeja, tempat tissue, dompet, dan sejenisnya.

Elvira yang
memulai usaha sejak 2017 menjelaskan bahwa yang pertama dilakukan dalam membuat
batik ecoprint adalah memilih kain serat alami bisa dari tumbuhan atau kulit
hewan.

“Serat
alami dipilih karena mampu menyerap warna dengan baik. Serat alami kelompok
selulosa misalnya katun, linen, goni, kulit kayu, sedangkan, kelompok protein
misalnya sutera, wol maupun kulit binatang,” papar Elvira saat ditemui di
rumahnya di Perumahan Griya Asri Pratama, Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten
Sleman, Senin (13/05/2019).

Elvira yang
menghiasi lingkungan rumahnya dengan berbagai macam tumbuhan pewarna ecoprint
ini melanjutkan penjelasannya mengenai dedaunan yang bisa dipakai sebagai pola
motif atau pewarna adalah daun jati, klengkeng merah, daun lanang, jarak
kepyar, teruju, miyono, daun jambu biji, kesumba, jinitri.

Langkah
pembuatan ecoprint diawali dengan pengolahan kain atau mordanting yaitu
perendaman kain menggunakan air tawas selama tiga hari. Sisa air tawas tidak
dibuang begitu saja tetapi bisa dimanfaatkan untuk membersihkan kamar mandi. “Proses
mordanting ini untuk mempertahankan warna bahan atau kain dan membuka pori-pori
agar motif tercetak dengan sempurna,” terang Elvira.

Selanjutnya  proses pencetakan dengan cara merentangkan
kain setengah basah kemudian daun yang telah dipilih, ditata sedemikian rupa
kemudian dipukul pukul dengan palu atau batu. Kekuatan dalam memukul harus
dikendalikan agar daun tidak hancur dan warna meresap dengan baik pada kain.

Kemudian kain
digulung pada kayu dengan mempertahankan posisi daun agar tidak bergeser.
Setelah itu diikat kencang. Tahapan selanjutnya adalah pengukusan selama 2 jam.
Pengukusan ini bertujuan agar warna dasar daun keluar.

Setelah
proses pengukusan selaesai, kain dibiarkan selama 3 hari, kemudian kain dibuka,
dibersihkan dari sisa-sisa daun yang menempel di kain, maka motif sudah
tercetak di kain. “Selalu terjadi kejutan pada tahap ini karena warna,
motif tidak selalu sama dengan apa yang dibayangkan sebelumnya,” kata
Elvira.

Proses terakhir
adalah fiksasi dilakukan dengan merendam kain dengan air tawas dengan tujuan
mengikat motif dan warna agar tidak luntur. Setelah itu kain dicuci menggunkan
lerak dan dijemur di terik matahari.

“Di
sinilah letak seni dan keunikan ecoprint, karena baik warna maupun motif tidak
bisa diulang sekalipun bahan dan proses pembuatan sama,” ungkap Elvira
yang juga membuka kelas untuk pelatihan pembuatan batik ecoprint ini.

Elvira rutin
mengikuti pameran Inacraft di Jakarta, membuktikan bahwa hasil karyanya telah
banyak diterima masyarakat baik dalam maupun luar negeri. Dia mengaku bangga
karena dengan bahan yang mudah dan tersedia di lingkungan sekitar bisa
menciptakan hasil karya dengan kisaran harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah,
terlebih dia ikut andil melestarikan alam karena di setiap proses tidak
menggunkan bahan kimia yang berpotensi merusak alam dan menimbulkan pencemaran.
(KIM Ngaglik/Upik Wahyuni)