Ngabuburit di Sleman: Keramaian Lembah UGM yang Legendaris

Sleman – Memasuki hari ke-15 Ramadhan 1440 H, pasar kaget
yang berlokasi di area kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) tetap disesaki
pengunjung. Dibuka sejak pukul WIB, jejeran lapak penjual takjil mengular
sepanjang simpang empat lampu merah Sagan ke arah utara hingga ke kawasan
lembah UGM. Para pembeli biasanya mulai memadati kawasan ini sejak pukul
WIB hingga pukul WIB.

Berlokasi di tepi jalan yang memisahkan antara UGM dengan
UNY, menyebabkan pasar kaget lembah UGM ini sangatlah mudah dijangkau. Ratusan
masyarakat yang menyesaki area tersebut berasal dari beragam latar belakang dan
rentang usia dari tua muda, hingga anak-anak tumpah ruah meramaikan suasana.

Keberadaan pasar kaget Lembah UGM ini tidak asing lagi dan
sudah melegenda di telinga masyarakat Jogja. Keramaian ini tidak diketahui
dengan pasti dimulai sejak kapan, yang pasti sudah berlangsung lama, setidaknya
sejak awal dekade 1990-an sudah ada. Dulu keramaian ini terbagi dengan
keramaian di kawasan boulevard UGM, akan tetapi setelah boulevard ditutup untuk
umum maka terpusat di sekitar lembah UGM.

Hal ini diamini oleh Anto, salah satu juru parkir. “Ya dari
dulu tempat ini selalu ramai tiap tahun, apalagi kalau sudah jam 5 sore sampai
buka puasa itu pasti ramai. Nah tutupnya nanti jam 7 malam, itu udah mulai
sepi. Itu lapak-lapak yang di dekat kantor polisi sana mulai bubaran kalau
sudah jam segitu,” ujar Anto, Minggu (19/05/2019).

Banyak dari pengunjung yang selain berburu takjil juga
sengaja datang untuk ngabuburit, menghabiskan waktu menunggu buka puasa bersama
teman ataupun keluarga. Posisinya juga berdekatan dengan masjid kampus UGM,
sehingga pengunjung dapat melaksanakan ibadah salat Magrib selepas berbuka
puasa.

Jika di luar bulan Ramadan, kawasan ini kerap menjadi lokasi
untuk sunmor (sunday morning) yang
berlangsung setiap Minggu pagi hingga pukul 12 siang. Sunmor adalah sama-sama pasar
kaget yang juga populer di kalangan warga Jogja. Meski sama-sama sesak
pengunjung, namun antara sunmor dengan pasar kaget ini terdapat perbedaan yang
mencolok. Perbedaan itu adalah dari segi barang yang diperjualbelikan serta
waktu pelaksanaannya. Sunmor menjajakan beraneka rupa produk, tidak hanya makanan
dan minuman, tetapi juga fesyen dan berbagai pernak-pernik menarik lainnya. Sedangkan
di pasar kaget bulan ramadan, jenis produk yang diperdagangkan hanya hidangan
berbuka puasa yang beraneka ragam dari makanan ringan dan hingga yang berat.

Terkait dengan retribusi, para pengunjung hanya perlu
merogoh kocek dua ribu rupiah saja untuk biaya parkir sepeda motor. Selebihnya
pengunjung tidak dikenakan tiket masuk ataupun yang lainnya. Pengunjung yang
hobi ngabuburit dan melancong di sore hari selama Ramadan sembari mencicipi si
manis takjil, akan terkesan dengan keramaian lembah UGM sebagai salah satu destinasi
ngabuburit di Sleman.(Rep Bilqis)




Karang Taruna Parikesit Gelar Ramadan Fest #1

Ngemplak – Untuk
menyemarakkan bulan suci Ramadan, karang taruna Parikesit dari Desa Wedomartani
mengadakan rangkaian acara yang bertajuk ‘Ramadan Fest #1’.  Ini merupakan kegiatan pertama yang
diselenggarakan oleh karang taruna Parikesit dalam masa kepengurusan yang baru.

Ramadan Fest #1 digelar mulai 7 Mei hingga 27 Mei dan telah dibuka oleh Camat Ngemplak, Siti Wahyu Purwaningsih, didampingi oleh Kepala Desa Wedomartani, Teguh Budianto. Dalam sambutannya Siti mengatakan karang taruna sangat dibutuhkan oleh masyarakat, karena karang taruna adalah dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Siti juga sangat mendukung acara-acara seperti ini karena melibatkan langsung masyarakat sekitar, apalagi guna mengisi kegiatan positif di bulan Ramadan.

Selain Pasar Ramadan yang digelar di lapangan Desa Wedomartani, salah satu rangkaian Ramadan Fest #1 adalah lomba menggambar antar Taman Pendidikan Alquran (TPA) se-Wedomartani yang digelar Sabtu (18/05/2019) di pendopo kantor Desa Wedomartani. Lomba menggambar ini diikuti oleh 30 anak dari TPA se-Wedomartani dan memperebutkan hadiah berupa sertifikat, uang pembinaan, dan bingkisan. Duduk sebagai dewan juri dalam lomba menggambar ini Sekretaris Desa Wedomartani R. Rohmad Gunawan Hardono, Bibit Widayoko sebagai praktisi seni dan Muthiah Rasyidah dari karang taruna Parikesit.

Muthiah Rasyidah yang juga ketua karang taruna Parikesit ini menyampaikan alasannya menggelar Ramadan Fest #1 di Desa Wedomartani. “Selain untuk menambah semangat anak-anak TPA di Desa Wedomartani, karang taruna Parikesit juga memberanikan diri dan belajar mengemas sebuah kegiatan yang kebetulan jatuh di bulan yang baik ini,” imbuh Muthiah Rasyidah. Selain lomba menggambar ini, nanti pada tanggal 27 Mei juga akan diadakan lomba mewarnai anak untuk anak-anak TPA se-Wedomartani, sekaligus menutup rangkaian acara Ramadan Fest #1 ini.(KIM Ngemplak/Bibit Widayoko).