Puasa Bukan Sekadar Menahan Haus dan Lapar

Gamping – Rois Syuriah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Gamping, KH. Ahmad Mabarrun menyampaikan bahwa puasa memiliki tiga tingkatan yaitu puasa bagi orang awam, orang khusus dan bagi orang yang lebih khusus.

Puasa pada tingkatan awam adalah menahan perut dan kemaluan dari memenuhi tuntutan syahwat. Puasa khusus yaitu menahan pendengaran, lidah, tangan, kaki dan anggota-anggota tubuh lainnya dari berbuat kemaksiatan. Terakhir, puasa bagi orang yang lebih khusus artinya puasa yang melibatkan hati demi menjaga keinginan-keinginan yang rendah dan pikiran-pikiran yang berorientasi keduniaan, serta mencegah dari tujuan selain Allah SWT secara keseluruhan.

“Salah satu dari tujuan melaksanakan puasa ialah menahan
diri dari memperturutkan keinginan nafsu. Dan, itu tidak hanya sekedar menahan
diri dari makan dan minum saja. Namun, juga dari memandang segala apa yang
diharamkan, mempergunjingkan orang lain, mengadu-domba dan berdusta. Semua itu
jelas dapat membatalkan nilai dan pahala puasa,” ungkap KH. Ahmad Mabarrun saat
tarawih keliling di Masjid Nurul Hadi, Padukuhan Biru, Desa Trihanggo,
Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Senin (20/5/2019).

Jajaran Pengurus MWCNU Kecamatan Gamping menggelar kegiatan tarawih keliling ini untuk membina ukhuwah islamiyah warga Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah Kecamatan Gamping sekaligus memperkenalkan personil kepengurusan MWCNU Kecamatan Gamping masa khidmat 2018 – 2023. Selain Rois Syuriah, turut hadir Ketua Tanfidziyah Saliman, Wakil Ketua Tanfidziyah Muhamad Iswanjono, Sekretaris Tanfidziyah Silahudin Djamil, Wakil Sekretaris Tanfidziyah Sukadi serta Ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga NU Adnan Iman Nurtjahjo.

Ketua Tanfidziyah menyampaikan program-program yang telah disusun oleh kepengurusan yang baru sesuai dengan hasil Musyawarah Kerja MWCNU Kecamatan Gamping pada tanggal 13 Januari lalu. Banyak program yang disusun oleh pengurus untuk mendukung kegiatan NU yang dirancang untuk mewujudkan syiar agama, membimbing dan mengedukasi warga dan wahana pemantapan jamaah. “Salah satunya adalah Koin NU. Dengan adanya Koin NU ini bisa menyediakan sarana dan prasarana bagi kepentingan bersama khususnya umat Nahdliyin,” tutur Saliman.(KIM Kec. Gamping /Adnan Nurtjahjo)




WKSBM Abhinya Menebar Manfaat Sosial

Ngaglik – Seragam merah maron yang dipakai para generasi
muda karang taruna Girirupo seakan menggambarkan generasi muda saat ini bangkit
untuk menggerakkan roda pembangunan di pedesaan utamanya dalam pembangunan
bidang bantuan sosial.  Pemuda-pemuda
yang kreatif inilah yang telah menggerakkan teman-teman sebayanya untuk aktif
dalam kegiatan sosial di dusunnya.

Salah satu kegiatan sosial
itu adalah Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM) yang
merupakan sistem kerjasama antar keperangkatan pelayanan sosial di akar rumput
yang terdiri atas usaha kelompok, lembaga maupun jaringan pendukungnya. Di
Dusun Girirupo kelompok ini dinamai WKSBM Abhinya yang beralamat di Dusun
Girirupo, Padukuhan Besi, Desa Sukoharjo dan diketuai Ancas Prasetyo
Nugroho. 

Ketua WKSBM Abhinya, Ancas Prasetyo Nugroho dalam laporannya menyampaikan bahwa dana yang dikumpulkan dari masyarakat selama setahun berjumlah dan telah dimanfaatkan untuk pembangunan fisik dan non fisik sebesar . Sampai saat ini WKSBM Abhinya masih punya kas . “Dana yang masih ada juga akan digunakan untuk membantu yang membutuhkan di lingkungan Besi ini,” papar Ancas saat acara ulang tahun pertama WKSBM di Masjid Minnathul Muslimin, Gang Girirupo Sakti, Mbesi, Desa Sukoharjo, Minggu (19/5/2019).

Peringatan hari ulang tahun pertama WKSBM mengambil tema bersama
sama menebar manfaat dan mempererat persaudaraan. Turut hadir Camat Ngaglik, Subagya
dan Kepala Desa Sukoharjo, Hadi Subronto dan masyarakat sekitarnya.  Acara ini sekaligus buka puasa bersama
masyarakat.

Dalam kesempatan ini Camat Ngaglik menyampaikan apresiasinya, “ini menjadi salah satu contoh generasi muda kreatif untuk kepentingan masyarakat, sekaligus juga untuk membantu masyarakat dalam pengentasan kemiskinan di daerah kita ini,” ungkap Subagya. Untuk itu Subagya menyampaikan selamat kepada pengurus dan masyarakat di dusun ini. 

Dalam kesempatan tersebut menyerahkan bingkisan untuk 7
orang yang berhak menerima bantuan. Dari akhir acara diisi kajian terkait
masalah penanggulangan riba dan cara mendapatkan solusi agar tidak terkena riba
oleh Dody Rosmara dari Program Wakaf Tunai MUI DIY. (KIM Ngaglik /Suripto)




Tumpangsari Cabai dan Melon, Irit dan Menguntungkan

Cangkringan –
Miskad, petani asal Padukuhan Kebur Kidul, Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan
mencoba teknik budidaya tumpangsari cabai dan melon. Langkah ini terinspirasi
dari ketidakpastian harga saat panen cabai yang kadang bisa melejit harganya
sangat mahal, kadang juga tersungkur sampai dianggap tidak laku dijual.

Miskad
mengkombinasikan tanaman cabai sekitar 2000 batang yang di sela-selanya ditanami
tanaman melon sebanyak 1000 batang. Cabai yang diupayakan ialah cabai keriting
dan tanaman melon jenis rock melon
yang dagingnya berwarna oranye.

Dari hasil
pengamatannya, tanaman cabai tumbuh dengan baik dan tidak ada hambatan. Di sisi
lain tanaman melon pun juga tumbuh dengan baik, bahkan setiap batang tanaman
melon bisa dirata- rata menghasilkan 1 buah dengan kisaran berat 2,5 kg.

Bila
dikalkulasi, dengan teknik ini biaya untuk tanaman cabai dan melon itu lebih
irit di dalam olah tanah dan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).
“Pengiritan ini timbul dikarenakan kedua jenis tanaman tersebut dalam satu
lahan bedengan dan OPT juga hampir sama sehingga dalam sekali pencegahan maupun
pengendalian OPT bisa dilakukan dalam sekali penyemprotan,” ungkap Miskad, Minggu
(19/5/2019).

Miskad
mengungkapkan dipilihnya tanaman melon bukan tanpa alasan, ini dikarenakan
harga jual buah melon daging orange lebih stabil kisaran dari
tingkat petani, dan umur tanaman melon hanya kisaran 60-70 Hari Setelah Tanam (HST).
Penanaman bibit melon dilakukan setelah tanaman cabai umur 21 HST, jadi
pemanenan cabai akan bersamaan dengan waktu panen buah melon. Setelah  buah melon dipanen, tanaman melon akan segera
dicabut sehingga sinar matahari akan lebih maksimal menyinari buah cabainya.

Kendala yang
sering muncul adalah pada musim kemarau tanaman cabai dan melon akan lebih
cenderung mudah terserang virus gemini. “Oleh karena itu sekarang harus teliti
juga dalam memilih bibit atau benih. Cari informasi bibit dan benih cabai dan
melon yang juga tahan virus gemini,” pungkas Miskad.(KIM Cangkringan/Marmansyah)