Muspika Cangkringan Kunjungi Bukit Klangon

Cangkringan – Musyawarah Kecamatan Cangkringan (Muspika) Kecamatan Cangkringan berkunjung ke wisata alam Bukit Klangon yang berada di Dusun Kalitengah Lor, Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Jumat (31/5/2019). Rombongan terdiri dari pemerintah kecamatan, Polsek Cangkringan, Satpol PP, Pemerintah Desa Glagaharjo, Babinkamtibnas dan Babinsa Desa Glagaharjo.

Camat Cangkringan, Suparmono menyampaikan kepada pengelola
wisata untuk selalu menjaga kenyamanan dan keamanan untuk semua pengunjung. “Baik
itu keamanan untuk parkir,  dan juga
warung-warung yang menjajakan makanan.  Petugas
jaga untuk selalu bersikap ramah bagi semua pengunjung,” pesan Suparmono.

Bukit Klangon adalah salah satu tujuan wisata yang berada di wilayah Cangkringan yang saat libur Lebaran selalu ramai. Disini pengunjung disuguhkan dengan pemandangan yang indah dengan gagahnya Gunung Merapi, serta udara yang sangat sejuk. Di arah selatan bukit, wisatawan bisa melihat pemandangan kota Yogyakarta.(KIM Cangkringan/Sumarno)




Saka Kominfo Sleman Siap Berbakti

Sleman – Satuan Karya Pramuka Kominfo (Saka Kominfo)
merupakan salah satu jenis satuan karya pramuka yang menjadi wadah kegiatan
dengan tujuan dan sasaran untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
praktis dalam bidang komunikasi dan informatika.

Keberadaan dari Saka Kominfo Kabupaten Sleman ini dibentuk
dari posisi dasar yang terus ditingkatkan segala keperluan dan persyaratan
hingga mencapai tahap peresmian sebagai Saka baru di Kabupaten Sleman. Adanya
Saka Kominfo ini dirasa penting untuk membentuk kader kominfo yang baik, demi
mendukung segala penugasan kominfo kabupaten Sleman. “Sehingga kominfo beserta
bagian humas dan protokol bekerjasama dengan organisasi pramuka membentuk jejaring
yang memiliki visi dalam pembentukan kader pembangunan kominfo,” ujar Kepala
Bagian Humas dan Protokol Pemkab Sleman, Shavitri Nurmala Dewi pada acara
Sosialisasi Saka Kominfo di ruang Sleman Smartroom Diskominfo Kabupaten Sleman,
Rabu (29/05/2019).

Acara ini diisi oleh tiga orang pembicara diantaranya ialah
Eka Surya Prihantoro, Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Sleman sekaligus Ketua
Majelis Pembimbing Saka Kominfo, kemudian Bambang Pamungkas selaku perwakilan
Kwarcab Sleman yang memaparkan beberapa materi terkait dengan Saka Pramuka
Komunikasi dan Informatika secara umum. Dan terakhir Safitri Nurmala Dewi atau akrab
dipanggil Evi yang menjelaskan peran dan fungsi pembinaan Dinas Kominfo dalam
Saka Kominfo selaku pembimbing saka. Hadir pula dalam kesempatan itu Arif
Hariono selaku Ketua Cabang Kwartir Sleman, serta para peserta Dewan Saka
Kominfo dan calon anggota Saka Kominfo.

Menjadi wadah kegiatan dengan tujuan dan sasaran untuk meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan praktis dalam bidang komunikasi dan informatika
terhadap para anggota Saka, Shavitri Nurmala Dewi menjelaskan beberapa
pembinaan tersebut yang diwujudkan dengan menghadirkan tiga jenis krida
diantaranya krida kehumasan, krida telematika, serta krida multimedia.

Selanjutnya alur pembinaan yang diberikan kepada para calon
anggota Saka Kominfo diawali dengan melakukan registrasi calon anggota,
orientasi, pelantikan dan diklat. Kemudian anggota saka masuk ke dalam krida
yang telah dipilihnya untuk melaksanakan proyek bakti dan menjadi instruktur
muda saka. Dan akhirnya para anggota saka kominfo akan membuat proyek
wirausaha.

Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Bambang dari Kwarcab Sleman. “Akhir dari perjalanan bakti ialah menciptakan peluang usaha. Baik anggota saka yang tidak mengambil sekolah jurusan teknologi informasi, tetapi setelah bergabung di Kominfo Sleman bisa menguasai ilmu teknologi informasi,” tukasnya. Dengan demikian harapan ke depannya ialah meskipun Saka Kominfo merupakan organisasi yang baru saja lahir, tetapi diharapkan dengan menghadirkan tiga jenis krida tersebut, Saka Kominfo dapat memberikan pelayanan yang terbaik seperti saka-saka yang terlebih dahulu ada di Indonesia pada umumnya. (Rep Bilqis)




Sungkeman dan Ketupat, Tradisi Lebaran Kaya Makna

Ngaglik – Tak hanya kekayaan alam yang melimpah, Indonesia
juga dihiasi oleh kekayaan tradisi dan budaya yang unik dan tidak dimiliki
negara lain. Bukan sekedar simbol, tradisi tersebut ternyata penuh makna yang
mengajarkan tentang kebaikan. Contohnya adalah sungkeman dan ketupat,  tradisi yang senantiasa mewarnai perayaan Idul
Fitri atau Lebaran.

Sungkeman dari kata sungkem yang secara teknis dilakukam
dengan bersimpuh  posisi yang muda lebih
rendah dari yang tua kemudian mencium tangan kepada orang yg lebih tua. Dengan
gestur merendah kepada yang lebih tua, sungkeman memiliki makna baik antara
lain sebagai bentuk penghormatan, sebagai sarana melatih kerendahan hati, sopan
santun serta menghilangkan sifat egois.

Sungkeman di hari raya Idul Fitri dilakukan sebagai wujud
rasa sesal dan permintaan maaf atas segala dosa salah dan khilaf yang pernah
dilakukan baik sengaja maupun tidak disengaja. Silaturahim yang terkoyak karena
sakit hati diharapkan akan terjalin lagi lewat tradisi ini.

Selain itu dengan sungkeman, anak diajak dan diingatkan
kembali agar senantiasa hormat dan berbuat baik kepada orang yang lebih tua
terutama ayah dan ibunya.

Winarni, kepala sekolah RA Nabila yang beralamat di Padukuhan
Sompilan Desa Donoharjo Kecamatan Ngaglik Kabupaten Sleman mengatakan bahwa sebagai
lembaga pendidikan Islam, RA Nabila berupaya memperkenalkan tradisi tersebut
pada anak didik. “Dengan mengenalkan makna tradisi warisan leluhur seperti
sungkeman tersebut kepada anak-anak, akan menanamkan nilai nilai kebaikan yang
akan selalu diingat sampai mereka dewasa kelak,” ujar Winarni saat pengenalan
sungkem dan janur kepada murid RA Nabila, Rabu (29/5/2019).

Selain sungkeman, pada kesempatan tersebut anak dilatih
membuat ketupat yang terbuat dari janur atau daun kelapa yang masih muda. Di
Indonesia, Idulfitri juga identik dengan ketupat.

Winarni menjelaskan ketupat diyakini berasal dari kata ngaku lepat yang artinya mengaku salah.
Yang muda menyampaikan lepat (salah)
demikian juga yang lebih tua akan ikhlas dan rela memberi maaf kepada yang
lebih muda jika terjadi kesalahan.

Bungkus yang terbuat dari janur merupakan kepanjangan dari
“sejatine nur” (cahaya)
yang melambangkan kondisi  manusia dalam
keadaan suci setelah mendapatkan pencerahan (cahaya) selama Ramadhan.

Sedangkan bentuk segi empat mencerminkan prinsip ‘kiblat papat lima pancer’ yang
diartikan empat macam nafsu manusia yaitu amarah, yakni nafsu emisional, aluamah
atau nafsu memuaskan rasa lapar, supiah adalah nafsu untuk memiliki sesuatu
yang indah, dan mutmainah yaitu nafsu 
untuk memaksakan diri kepada pihak lain.

“Keempat nafsu inilah yang ditaklukkan selama berpuasa
Ramadhan,” kata Winarni.

Rumitnya anyaman ketupat melambangkan berbagai macan kesalahan manusia sedangkan warna putih ketupat ketika dibelah dua mencerminkan kesucian setelah mohon ampun dari segala kesalahan. Adapun beras sebagai isi ketupat sebagai simbol kemakmuran dan aneka hidangan bersantan yang menyertai ketupat dimaknai ‘pangapunten’ atau mohon maaf dari segala macam kesalahan sehingga pada saat Idul Fitri manusia akan kembali suci. (KIM Ngaglik/Upik Wahyuni)