Gandeng Dunia Pendidikan dan Industri, Kominfo Siapkan Talenta Digital Indonesia

Jakarta – Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan berbagai langkah untuk mengantisipasi revolusi industri yang saat ini memasuki tahap keempat. Upaya itu melibatkan dunia pendidikan dan industri untuk menyiapkan talenta digital yang memiliki daya saing.

Laporan World Economic Forum 2018 memaparkan
Indonesia masih memiliki banyak tantangan dalam menapak Revolusi Industri 4.0.
Dari aspek kesiapan teknologi, Indonesia pada peringkat 80 dari 137 negara.
Sementara dari aspek efisiensi pasar kerja, posisi Indonesia berada di
peringkat 96 dari 137 negara. Sementara, secara global laporan dari McKinsey Global
Institute
(2017) memprediksi pada tahun 2030 sebanyak 800 juta pekerjaan di
seluruh dunia akan hilang akibat otomatisasi.

Menghadapi hal itu, pemerintah telah berupaya
mengembangkan ekosistem ekonomi digital telah diinsiasi dengan kerangka
strategis dalam Making Indonesia 4.0, memangkas regulasi dan mendorong
pengembangan inovasi  digital.

Kementerian Komunikasi
dan Informatika berupaya untuk meningkatkan daya saing teknologi dengan beragam
terobosan kebijakan. Mulai dari penyederhanaan regulasi hingga kebijakan
afirmatif untuk pemerataan akses telekomunikasi dan internet. Melalui Proyek
Palapa Ring, pemerintah berupaya memeratakan akses layanan telekomunikasi dan
internet seluruh Indonesia.

Selain infrastruktur, Pemerintah juga telah menjadi
fasilitator dalam mendorong kewirausahaan digital dan menumbuhkan talenta
ekonomi digital.  Di level nasional,
Pemerintah Indonesia tengah merombak 
kurikulum pendidikan dengan lebih menekankan pada Science, Technology, Engineering, the Arts, dan Mathematics (STEAM)  serta meningkatkan kualitas sekolah kejuruan.

Antisipasi
Kesenjangan

Dalam
revolusi industri keempat, keberadaan akses infrastruktur teknologi informasi
dan komunikasi serta kebutuhan sumberdaya manusia saling bertautan. Pasalnya
akan muncul kebutuhan atas kecakapan baru oleh industri dewasa ini. Pekerjaan
masa depan memerlukan keterampilan baru yang jauh berbeda. Apabila proses
transisi angkatan kerja tidak dikelola dengan baik, maka kesenjangan antara
ketersediaan tenaga kerja dan keahlian yang dibutuhkan kian lebar.

“Revolusi Industri 4.0 dikhawatirkan akan kembali memangkas jumlah tenaga kerja secara besar-besaran sebagaimana terjadi pada revolusi-revolusi sebelumnya. Robot, mesin, dan aplikasi digital sudah mulai mengambil alih pekerjaan-pekerjaan manusia yang membutuhkan keterampilan dasar, mekanis, rutin, atau yang memerlukan presisi tinggi,” tutur Menteri Kominfo Rudiantara, Kamis (2/5/2019).

Guna memastikan penyiapan sumberdaya manusia yang
selaras dengan dinamika Revolusi Industri 4.0, pemerintah selalu melibatkan
pelaku dunia pendidikan, usaha, dan industri.

“Perlu diantisipasi agar tidak kembali menelan
korban pengurangan jumlah tenaga kerja yang diserap dalam bisnis dan industri,”
tandas Menteri Rudiantara.

Indonesia
memiliki keistimewaan tersendiri sebab akan lebih banyak pekerjaan yang
tercipta—daripada yang hilang—menuju tahun 2030 mendatang.  Hasil riset McKinsey memperkirakan bahwa
permintaan tenaga kerja yang memiliki keterampilan khusus akan naik 113 juta
pada tahun 2030.

“Oleh
karena itu, Pemerintah, dunia pendidikan dan dunia usaha serta industri harus
bahu-membahu menumbuhkan dan mendampingi anak-anak muda untuk memiliki passion
teknopreneur dan keterampilan digital agar bisa mengisi peluang kerja dalam
Revolusi Indusri 4.0,” tandas Menteri Kominfo Rudiantara.

Menyiapkan
Talenta Digital

Posisi
Indonesia sebagai pemain utama dalam transformasi digital dan penciptaan
teknologi masih perlu terus diupayakan. Generasi muda di Indonesia perlu terus
didorong agar mampu unjuk gigi dalam persaingan di era digital. Apalagi
Indonesia diproyeksikan akan mengalami bonus demografi di periode tahun
2028-2030, ketika usia produktif (15-64 tahun) akan membentuk persentase 67,2%
dari total seluruh populasi (Bappenas dan BPS, 2018).

Laporan
dari Asian Development Bank pada
tahun 2015, menyatakan bahwa 52% dari populasi pekerja di Indonesia memiliki
keterampilan di bawah standar (underqualified) untuk posisinya.

“Kementerian
Kominfo menggagas beasiswa pelatihan bidang teknologi informasi dan komunikasi
bertajuk Digital Talent Scholarship 2019. Program ini
memberikan beasiswa kepada anak muda dalam bidang paling mutakhir
seperti Artifical Intelligence, Big Data, Cloud Computing, Cyber Security,
Internet of Things,
dan Machine Learning guna menyambut Revolusi
Industri 4.0,” ungkap Rudiantara.

Dalam Program Digital Talent Scholarship 2019,
Kementerian Kominfo juga melibatkan dunia usaha dan industri untuk
menyelaraskan kebutuhan sumberdaya manusia di bidang teknologi informasi dan
komunikasi.

“Kementerian Kominfo
membuat pilot poroject yang diharapkan menjadi salah satu solusi atas adanya bagian yang hilang dari sistem pendidikan
formal dewasa ini, yaitubelum ada keselarasan materi ajar dengan kebutuhan
industri, utamanya di bidang teknis,” tutur Menteri Kominfo.

Dalam Digital Talent Scholarship 2019, dunia
industri dapat memberikan masukan mengenai kebutuhan SDM saat ini dan beberapa
tahun kedepan, skill dan kemampuan apa saja yang dibutuhkan sehingga diharapkan
pemenuhan SDM tersebut dapat juga dihasilkan dari program pelatihan.

25 Ribu Beasiswa

Digital Talent Scholarship 2019hadir dengan skala yang
lebih besar. Dua puluh lima ribu kursi beasiswa disediakan, dengan menggandeng
deretan perusahaan teknologi global, startup lokal, politeknik serta
universitas baik negeri maupun swasta.

“Prinsip
inklusivitas pun tetap dipertahankan. DTS membuka kesempatan setara dan
transparan bagi lulusan S1/D3, lulusan SMK, guru SMK, pelaku industri, ASN/PNS,
serta TNI/POLRI,” jelas Kepala Badan Litbang SDM Kementerian Kominfo, Basuki
Yusuf Iskandar.

Program
Digital Talent Scholarship 2019 kali ini dibagi menjadi
empat akademi yang akan dilangsung secara tatap muka, daring, dan kombinasi
keduanya. Kategori pertama, Fresh Graduate Academy bagi lulusan S1/D3
dengan model pembelajaran tatap muka selama 144 jam pelajaran.

Kedua,
Coding Teacher Academy bagi tenaga pengajar SMK dengan model
pembelajaran kombinasi tatap muka dan daring selama 70 jam pelajaran. Ketiga, Vocational
School Graduate Academy
bagi lulusan SMK yang juga akan diselaraskan dengan
model sertifikasi SKKNI selama 72 jam pelajaran.

Keempat,
Online Academy bagi pelamar di luar tiga kategori sasaran di atas
(pelaku industri, ASN/PNS, TNI/POLRI, dan umum) selama 70 jam pelajaran. Selain
materi teknis, program DTS 2019 juga menyediakan beasiswa pelatihan
kewirausahaan digital dan pendampingan pasca-pelatihan untuk mendapatkan posisi
magang atau pekerjaan bagi peserta yang terpilih.

“Pendaftaran
dibuka tanggal 20 April 2019 dan ditutup pada tanggal 19 Mei 2019 pukul
WIB.  Untuk informasi lebih lanjut dan
pendaftaran silakan akses ,” jelas Basuki Yusuf
Iskandar.

Melalui
Program Digital Talent Scholarship 2019,
Kementerian Kominfo memahami bahwa pekerjaan saat ini sangat kuat dibentuk oleh
perubahan teknologi. Dan sekaranglah saatnya untuk mengutamakan pengembangan
keterampilan dan sumber daya manusia demi ekonomi Indonesia yang gemilang di
masa depan.