Desa Sariharjo Tingkatkan Pembangunan Keagamaan Non Fisik

Ngaglik – Safari Tarawih Keliling Kecamatan Ngaglik menyambangi
Desa Sariharjo. Dipimpin langsung Subagya sebagai Camat Ngaglik, safari ini
dihadiri jamaah dan takmir masjid se-Desa Sariharjo sebanyak 44 masjid dan musala,
para ulama, tokoh masyarakat, perangkat desa, dan ibu-ibu PKK Desa Sariharjo di
Gedung Serba Guna Balai Desa Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman,
Kamis (9/5/2019).

Dalam
safari tersebut Kepala Desa Sariharjo, Sarbini melaporkan perkembangan
pembinaan  keagamaan di Desa Sariharjo,
dimana saat ini tercatat masjid dan musala sebanyak 44 buah. Sarbini
mengharapkan ke depannya target non fisik ditingkatkan, “Takmir masjid harus peduli
lingkungan, peduli masyarakat atau jamaah yang perlu mendapatkan bantuan dari takmir
masjid. Sehingga fisik masjid terawat dan jamaahnya juga mendapatkan pelayanan
prima dari takmir masjid,” papar Sarbini.

Harapan Kepala Desa Sariharjo ini senada dengan yang
dikatakan Ustaz H. Jadiyo dari KUA Ngaglik dalam tausiahnya. Ustaz H. Jadiyo menekankan
pada kepedulian sesama, “Sebagai contoh, memberikan shodaqoh jariah jangan terlambat, karena kalau terlambat tidak ada
manfaatnya. Pada waktu sakaratul maut biasanya banyak keinginan akan
melaksanakan amal saleh tetapi sudah terlambat, maka itu sebelum terlambat,
segera bergegas untuk berbuat dan beramal yang baik dan sebanyak banyaknya,”
kata Ustaz H. Jadiyo.

Camat Ngaglik, Subagya menyampaikan tujuan safari tarawih
ini adalah untuk menjalin silaturahmi antara pemerintah kecamatan dan jamaah
masjid, sehingga masjid bisa makmur jamaahnya. “Harapan saya agar para takmir
peduli terhadap masyarakat miskin, sehingga masyarakat mendapatkannya pelayanan
terbaik dari masjid ini,” pinta Subagya. Pada kesempatan ini Camat Ngaglik menyerahkan
bantuan dana untuk Masjid Miftahul Jannah, Dusun Ngetiran, Desa Sariharjo
sebesar ,- (KIM Ngaglik/Suripto)




Lomba Vlog Sleman Tahun 2019

Sleman Smart Regency tidak selalu berhubungan dengan penggunaan IT maupun aplikasi di dalam implementasinya. Implementasi smart regency terdiri dari 6 (enam) bidang (Smart Governace, Smart Branding, Smart Economy, Smart Living, Smart Society, dan Smart Environment).

Dalam
rangka mewujudkan suksesnya Sleman Smart Regency, kami memberikan kesempatan
yang sama kepada semua lapisan masyarakat, untuk ikut serta dalam mewujudkan
Sleman sebagai Kabupaten Cerdas. Masyarakat dapat membuat vlog yang berisi
implementasi Sleman Smart Regency di lingkungan masing-masing sesuai bidang
yang ada ataupun menunjukkan dukungannya kepada Kabupaten Sleman.

Tema
Lomba Vlog

  1. Menampilkan implementasi Sleman Smart Regency yang terdiri dari Smart Governance, Smart Branding, Smart Economy, Smart Living, Smart Society, dan Smart Environment. Referensi mengenai Sleman Smart Regency dapat dilihat pada link paling bawah
  2. Menampilkan ciri khas Sleman (hanya ada di Sleman)
  3. Lokasi berada di Kabupaten Sleman
  4. Dapat menggabungkan nilai kearifan lokal/tradisi dengan implementasi Sleman Smart Regency
  5. Memberikan pesan positif

Tata
Cara Lomba

  1. Peserta lomba terbuka
    untuk umum.
  2. Peserta wajib follow akun Instagram @mcsleman, @kominfosleman
    dan @kabarsleman dan subscribe akun Youtube SlemanTV
  3. Setting tempat dalam
    video harus berlokasi di wilayah Kabupaten Sleman.
  4. Video berisi pesan
    positif dengan tema utama
    Sleman Smart Regency, dengan tema pilihan Smart Governance, Smart Branding, Smart Economy, Smart Living, Smart
    Society
    , dan Smart Environment
    atau dapat menggabungkan nilai
    kearifan lokal/tradisi dengan implementasi Sleman Smart Regency.
  5. Vlog dibuat dalam
    durasi maksimal 1
    menit, berisi gambaran kegiatan yang berhubungan,
    diakhiri dengan ucapan “Sleman Smart
    Regency, Go!”.
  6. Format caption video : Judul Video_Lokasi_Tema Pilihan dan wajib mencantumkan hastag: #pemkabsleman #slemansmartregency
  7. Video yang diunggah
    menggunakan format lanskap
  8. Video milik sendiri, original,
    belum pernah dipublikasikan sebelumnya, dan belum pernah diikutkan dalam lomba
    video apapun.
  9. Setiap peserta hanya
    dapat menggunakan satu akun Instagram dan bisa posting lebih dari 1 (satu)
    video yang diikutsertakan lomba,
    namun tiap peserta hanya berhak atas satu pemenang.
  10. Unggah/upload/posting video pada
    akun Instagram masing-masing dengan me-mention @mcsleman, mulai tanggal 13 Mei
    2019 pukul WIB sampai
    dengan 26 Mei 2019 pukul WIB
  11. Akan
    dipilih 3 video pemenang terbaik (terbaik I, II dan III) dan 3 video pemenang harapan (harapan I, II dan III). Pemenang terbaik dan pemenang harapan
    ditentukan oleh panitia.
  12. Pengumuman
    pemenang pada tanggal 29
    Mei 2019 melalui akun Instagram
    @mcsleman.
  13. Penerimaan
    hadiah pada tanggal 31
    Mei 2019.
  14. Keputusan
    Panitia bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. Panitia berhak
    menggugurkan pemenang secara sepihak apabila ditemukan indikasi kecurangan.
  15. Bagi
    pemenang wajib mengirimkan video dengan format MP4 HD atau 4K.
  16. Semua karya video yang
    dikirimkan oleh peserta menjadi
    Hak Milik Pemerintah Kabupaten Sleman. Pemerintah Kabupaten Sleman berhak menggunakan video tersebut untuk kepentingan
    publikasi dan lain-lain. 
  17. Semua proses yang diikuti peserta dalam lomba ini tidak dikenakan
    biaya.

Referensi Mengenai Sleman Smart Regency

Gambaran Umum Sleman Smart Regency

Video Mengenai Sleman Smart Regency




Tips Dinas Kesehatan Sleman Agar Tidak Lemas Saat Berpuasa

Sleman – Ramadhan merupakan bulan suci umat islam yang
sangat dinantikan. Di bulan ini wajib bagi setiap muslim untuk berpuasa selama
sebulan. Oleh karenanya agar tubuh tetap fit beraktivitas, ada beberapa hal
yang diperhatikan.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat dr. Wisnu Muti Yani saat
ditemui di kantor Dinas Kesehatan Sleman, Kamis (09/05/2019) mengatakan bahwa
agar puasa yang dilaksanakan berjalan lancar dan tidak merasa lemas, ada
beberapa poin yang dicermati. Pertama niat, sebab dengan niat berpuasa untuk
tidak makan dan minum akan sangat berpengaruh terhadap metabolisme tubuh.

“Menurut ilmu kedokteran medis, semua metabolisme dan
jalannya kinerja organ tubuh manusia dikendalikan oleh pikiran atau otak. Otak
menjadi pusat kendali agar tubuh dapat menerima keadaan saat berpuasa”
jelasnya.

dr. Wisnu mencontohkan bahwa orang yang telah mempersiapkan diri
berpuasa tidak makan dan minum, maka tubuh tidak akan terlalu banyak
mengeluarkan asam lambung saat memasuki jam makan siang. Sebab pikiran kita
telah menyetel tubuh agar tidak mencerna makanan selama berpuasa.

Kedua, perlu untuk melakukan makan sahur meskipun secara
agama itu hukumnya sunnah. Karena orang yang makan sahur akan memiliki tenaga
lebih dibandingkan dengan yang tidak. Tentunya dengan memperhatikan 5 unsur
asupan makan yakni karbohidrat, protein, lemak, mineral, dan vitamin. Sehubungan
dengan pemenuhan unsur-unsur makanan tersebut, Dinas Kesehatan telah
menjalankan program GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) yang merupakan
gerakan untuk mendorong masyarakat agar rajin beraktivitas fisik, makan buah
dan sayur, serta periksa kesehatan secara teratur.

Ketiga menjaga asupan air minum baik pada saat sahur maupun
berbuka. Hal tersebut untuk menghindari dehidrasi selama berpuasa. Terkait
dengan hal ini, Wisnu menyarankan agar sahur dilakukan lebih awal sehingga
asupan air putih dapat masuk ke tubuh lebih banyak 1 hingga 2 gelas. Begitupun
dengan berbuka.

Lalu yang terakhir ialah menyegerakan berbuka puasa. “Hal
ini dikarenakan otak telah memberikan perintah kepada tubuh untuk tidak makan
dan minum, sehingga tubuh akan menahan lapar sampai jam 6 sore. Dan pada saat
itu, telah ada mindset di otak untuk
menyiapkan lambung kita terisi makanan dan minuman. Oleh karenanya jika tidak
menyegerakan minuman, akan terasa sakit,” ungkap dr. Wisnu.

Penjelasan lebih lanjut, bahwa saat berpuasa ada yang
disebut dengan titik terendah kadar gula yang berada pada 10-12 jam setelah
berpuasa.  Di mana pada jam-jam itulah
tubuh akan merasa lapar, lemas, kurang konsentrasi, dan sebagainya. Ketika
kadar gula dalam tubuh telah mencapai titik terendah yakni pada jam 12 siang,
maka tubuh akan menyemprotkan tabungan gula yang disebut glikogen untuk
menambah gula darah di tubuh. Glikogen yang awalnya berada dalam hati, lalu
dilepaskan kedalam darah dan naik sesuai kebutuhan kita.

“Jadi tuh Tuhan sudah memikirkan banyak. Kita tuh
punya cadangan, gak akan mati kita berpuasa, asal kita siap dan niat ya,” pungkas
dr. Wisnu.(Rep Bilqis)




Refleksi Pelaksanaan Pemilu 2019 di DIY

Gamping – Pemilu 2019 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)
secara umum sudah berlangsung sesuai Asas Pemilu Langsung, Umum, Bebas,
Rahasia, Jujur dan Adil, serta sesuai dengan standar dan prinsip pemilu
universal free and fair (pemilu yang
bebas dan adil). Tentu sebagai pemilu serentak dengan kompleksitas dan
kerumitan prosedur serta keterlibatan penyelenggara ad-hoc yang semakin banyak
membuat semakin banyaknya obyek dan subyek yang potensial menyumbang kesalahan
dalam pelaksanaan Pemilu.

Atas dasar hal tersebut, Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDI)
DIY bekerjasama dengan Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian Kota
Yogyakarta melakukan giat refleksi terhadap pelaksanaan Pemilu 2019 di DIY, Selasa
(7/5/2019) di Dinas Komunikasi dan Informatika, Kecamatan Umbulharjo, Kota
Yogyakarta. Acara ini dihadiri beberapa jurnalis media cetak dan pegiat
demokrasi. 

Ketua Presidium JaDI DIY, Mohammad Najib memiliki beberapa
catatan antara lain: sebagai kota pelajar, di DIY banyak mahasiswa yang berasal
dari provinsi lain yang ingin menggunakan hak pilihnya. KPU sudah memberi
kemudahan dalam proses pengurusan pindah hak pilih dengan membuka Posko
Pelayanan Form A5 di beberapa kampus dengan jumlah mahasiswa banyak.

“Namun kemudahan proses pindah hak pilih tersebut tidak
diikuti dengan jaminan ketersediaan surat suara di TPS yang dituju. Akibatnya
banyak pemilih pindahan yang kehilangan hak pilihnya”, sebut M. Najib. Di
sebagian TPS hal tersebut diatasi dengan Pemungutan Suara Lanjutan (PSL) untuk
memberi kesempatan pemilih dengan form A5 yang belum sempat menggunakan hak
pilih pada hari lain, ”namun ada sebagian pemilih yang tidak terfasilitasi hak
pilihnya dengan PSL tersebut,” tutur M. Najib lagi.

Terkait dengan fenomena ini JaDI DIY merekomendasikan pada
KPU agar pada pemilihan umum berikutnya kejadian serupa tidak terulang, KPU
perlu memperbaiki tata kelola pelaksanaan pemungutan suara dengan mengelola dan
mendistribusikan pemilih A5 secara tersebar pada TPS yang ada di DIY untuk
menjamin ketersediaan surat suara.

menambahkan, adanya Pemungutan Suara Ulang (PSU)
membuktikan bahwa di tingkat pelaksana ad-hoc,
khususnya KPPS masih mengalami problem terkait pemahaman prosedur teknis
pelaksanaan pemungutan dan penghitungan suara. Konsekuensi dari pelaksanaan
ketentuan batasan maksimal dua periode bagi penyelenggara pemilu yang
memungkinkan hadirnya anggota KPPS baru di banyak TPS membawa konsekuensi
adanya kebutuhan terkait standarisasi pemahaman prosedur teknis pelaksanaan
pemungutan dan penghitungan suara bagi para anggota KPPS.

Meskipun kesalahan tersebut bisa dikoreksi lewat PSU, namun
hal itu berimplikasi pada tercederainya asas efisiensi dan profesionalitas
dalam pelaksanaan pemilu. Di samping merepotkan pemilih dan penyelenggara, juga
berimplikasi pada penurunan partisipasi pemilih. Terhadap fenomena ini JaDI DIY
memberikan rekomendasi agar dalam Pemilu mendatang KPU lebih selektif dalam
merekrut Anggota KPPS, dengan melakukan perbaikan mekanisme rekrutmen yang
memungkinkan terpilihnya petugas KPPS memiliki kapabilitas yang andal serta
memiliki integritas yang tinggi. Peningkatan kapasitas KPPS harus menjadi
prioritas penting untuk menjaga integritas pemungutan dan penghitungan suara di
TPS.

Selanjutnya, masih ditemukan fenomena perbedaan persepsi dan
pemahaman terkait prosedur teknis pelaksanaan pemilu antar jenjang dalam
jajaran KPU, jajaran Bawaslu maupun antara KPU dengan Bawaslu. Sebagai sesama
penyelenggara Pemilu, KPU dan Bawaslu harus memiliki pemahaman yang sama
terkait prosedur teknis pelaksanaan Pemilu untuk menjamin berlangsungnya asas
kepastian hukum dalam pelaksanaan pemilu. Terhadap fenomena ini JaDI-DIY
merekomendasikan agar dalam pelaksanaan pemilu mendatang, termasuk Pilkada di
Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunungkidul dan Kabupaten Sleman Tahun 2020 agar
ada peningkatan intensitas koordinasi dan bimbingan teknis antar jenjang di
internal KPU dan Bawaslu, maupun antar KPU dan Bawaslu dalam jenjang yang sama.

Permasalahan lain adalah masih banyak ditemukan pemilih yang
mengalami kebingungan terkait prosedur teknis pemilu dan terkait berbagai versi
dan varian pengumuman hasil pemilu (khususnya Pilpres). Untuk mewujudkan salah
satu prinsip pemilu yakni adanya kebebasan dari kebohongan, pengaruh yang
menyesatkan atau tekanan pada pemilih, maka JaDI-DIY merekomendasikan agar KPU
lebih proaktif untuk memberikan layanan informasi tidak hanya untuk
mengklarifikasi dan menjawab kebingungan masyarakat, namun juga memberikan
informasi yang benar tentang prosedur teknis pemilu maupun tentang hasil pemilu.

Terakhir, M. Najib menyampaikan bahwa fungsi pengawasan pemilu
oleh Bawaslu dan jajarannya sampai pengawas TPS sebenarnya tidak hanya untuk
menemukan pelanggaran dan merekomendasikannya agar pemilu dikoreksi jika
ditemukan kesalahan, namun juga memiliki misi untuk mencegah terjadinya
pelanggaran. Maraknya PSU dan PSL membuktikan bahwa fungsi pencegahan
pelanggaran Bawaslu, khususnya di jajaran Pengawas TPS dan Pengawas
Desa/Kelurahan masih belum optimal, sehingga masih ditemukan banyak pelanggaran
dalam Pemungutan dan penghitungan suara, sehingga harus direkomendasi dengan
PSU atau PSL.

Terkait fenomena ini JaDI DIY merekomendasikan kepada
Bawaslu agar dalam Pemilu mendatang, termasuk Pilkada 2020 di DIY, Bawaslu
lebih antisipatif dengan menekankan pengawasan dari aspek hulu (perencanaan
pelaksanaan tahapan pemilu oleh KPU) dan mencegah terjadinya pelanggaran untuk
mewujudkan Pemilu di DIY yang berintegritas dan tanpa pelanggaran.

Kejadian yang muncul saat ini terkait fenomena ketidakpuasan
sebagian masyarakat terkait hasil sementara penghitungan suara, masih merebaknya
disinformasi dan hoax serta upaya penyebaran ketidakpercayaan kepada KPU, hal
itu akan mengganggu penerimaan masyarakat terhadap hasil pemilu. Sebagai pemilu
demokratis sesungguhnya sudah ada mekanisme bagi para pihak yang merasa
dirugikan dalam proses penghitungan dan rekapitulasi suara hasil pemilu untuk
mengajukan permohonan sengketa hasil pemilu di Mahkamah Konstitusi, melaporkan
penyelenggara yang melanggar kode etik ke DKPP dan melaporkan pelanggaran
Pemilu ke Bawaslu. Terkait fenomena tersebut, JaDI DIY merekomendasikan kepada
KPU dan Bawaslu untuk melakukan counter wacana dengan menyampaikan informasi
yang benar tentang proses dan hasil pemilu. Kepada peserta pemilu, tim kampanye,
relawan pendukung calon dan pemilih dimohon untuk menahan diri, dengan menjadikan
hasil rekapitulasi manual secara berjenjang KPU sebagai satu-satunya acuan
penentuan hasil pemilu. (KIM Kec Gamping /Adnan Nurtjahjo)




Safari Tarawih Keliling di Cangkringan

Cangkringan – Safari Tarawih Keliling perdana oleh
Pemerintah Kecamatan Cangkringan dilaksanakan Rabu (8/5/2019) di Masjid Jami
Hasna Padukuhan Kuwang Desa Argomulyo Kecamatan Cangkringan. Ikut hadir dalam rombongan
safari ini Pramono, Camat Cangkringan yang baru. Selain camat, juga ikut hadir  Muspika Cangkringan, KUA, Puskesmas, UPT Yandik,
UPK Cangkringan, Pemerintah Desa Argomulyo dan lembaga desa (PKK, LPMD, Karang
Taruna).

Ashomad sebagai Ketua Takmir Masjid Jami Hasna memberikan
sambutan, ucapan selamat datang, dan sejarah singkat mengenai pembangunan
masjid serta status kepemilikan tanah yang digunakan untuk berdirinya masjid.

Kapolsek Cangkringan AR Sutarman memberikan sambutannya
sebagai pimpinan rombongan safari tarawih dan menyatakan ucapan terimakasih
atas sambutan seluruh jamaah. Kapolsek juga berpesan agar semangat kebersamaan
dan bergotong senantiasa dipupuk demi kehidupan yang rukun dalam bermasyarakat.
Dalam kesempatan ini Kapolsek juga menambahkan informasi adanya rekruitmen calon
anggota Polri, “Mungkin ada sanak saudara yang berminat untuk mendaftar,” ujar AR
Sutarman.

Hudaya Subkhan dari KUA Cangkringan dalam tausiyahnya menyampaikan tentang sumber kebahagiaan yang terdiri dari hati yang selalu bersyukur, sabar saat menerima cobaan, dan seorang istri yang rela atau ikhlas dengan semua pemberian suami tanpa ada keluh kesah. “Jadilah hidup ibarat duit, setiap orang akan menyukainya, atau menjadi gula yang tidak begitu sering disebut tapi bisa membahagiakan orang lain. Tetap jadilah islami namun tetap cinta NKRI,” pesan Hudaya Subkhan. (KIM Cangkringan/Marmansyah)