Gapura Kampung KB Ngabean Kulon Diresmikan

Ngaglik – Kurang lebih tujuh ratusan masyarakat Padukuhan gabean
Kulon sejak pagi berduyun  duyun di halaman
SMK PIRI Ngaglik, Ngabean Kulon, Desa Sinduharjo, Kecamatan Ngaglik, Minggu, (5/5/2019).
Mereka mengikuti kegiatan jalan santai dalam rangka peresmian gapura Kampung KB
Ngabean Kulon.

“Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim gapura Kampung
KB Ngabean Kulon dengan ini kami resmikan,” kata Sudarja Kades Sinduharjo
saat memotong pita di gapura Kampung KB Ngabean kulon.

Selesai memotong pita dilanjutkan jalan santai bersama warga
masyarakat menyusuri jalan Padukuhan Ngabean Kulon sambil melihat hasil lomba
kebersihan lingkungan antar RT yang diadakan sebelumnya dan diikuti 7 RT yang
ada di padukuhan ini. Keluar sebagai juara lomba kebersihan lingkungan dan tamanisasi
adalah juara pertama RT 01, juara kedua RT 04, dan juara ketiga RT 02. Mereka
mendapat uang pembinaan dari perkumpulan PKK Padukuhan Ngabean Kulon.

Selain jalan santai, peresmian gapura ini juga dimeriahkan
dengan senam sehat bersama, organ tunggal dan pembagian door prize. (KIM
Sinduharjo/SPN)




Mempersiapkan Pamsimas Yang Berkelanjutan

Ngaglik – Sanitasi yang buruk mengakibatkan tercemarnya air yang
kemudian menyebabkan banyak terjadi kasus diare, di antaranya bisa sampai
meninggal dunia. Karena itu STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) sangat
penting dalam pelaksanaan Pamsimas (Program Nasional Penyediaan Air Minum dan
Sanitasi Berbasis Masyarakat). Demikian penjelasan Annisa Puji Rahayu dari
Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman dalam pelatihan pengelolaan Pamsimas tahun
2019 di Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Kamis (2/5/2019).

Dalam pelatihan yang diselenggarakan selama dua hari tanggal
2 dan 3 Mei 2019 diikuti oleh 80 peserta dari unsur KKM (Kelompok Kerja
Masyarakat), SATLAK (Satuan Pelaksana) dan kader kesehatan dari 5 desa penerima
dana APBD yaitu Purwobinangun dan Hargobinangun Pakem, Girikerto Turi,
Bimomartani Ngemplak serta Donoharjo Ngaglik.

STBM merupakan pendekatan untuk mengubah perilaku higiene
dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan, tujuannya
untuk memperkuat budaya perilaku hidup bersih dan sehat pada masyarakat serta
mencegah penyakit berbasis lingkungan. Adapun Pamsimas dilaksanakan dengan
tujuan agar masyarakat desa dapat mengakses air minum dan sanitasi rangka
penerapan hidup bersih dan sehat.

“Agar dapat berkelanjutan, pelaksanaannya melalui program
berbasis masyarakat. Dengan demikian, diharapkan pembangunan yang dihasilkan
dari program Pamsimas bisa dijaga dan dilestarikan untuk menunjang kehidupan
masyarakat desa sekarang dan di masa yang akan datang,” jelas Annisa lagi.

Berkaitan dengan keberlanjutan Pamsimas,  Didik dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa
Kabupaten Sleman menyampaikan bahwa kegiatan yang berkaitan dengan pengadaan
air bersih dikelola sesuai dengan kebijakan masing-masing sehingga jika pada
akhirnya terjadi kerusakan, kemacetan, ada semacam asosiasi atau kelompok
pengelola yang menyelesaikan.

“Perlu dibentuk KP-SPAM ( Kelompok Pengelola Sarana
Prasarana Air Minum) yang bertugas melaksanakan AD ART, menentukan iuran
pemeliharaan, menyusun administrasi, menyelenggarakan Rapat Anggota serta
menyusun laporan,” jelas Didik lagi.

Lebih lanjut, Didik menyampaikan bahwa Pemerintah Desa juga
memiliki kewajiban tata kelola Pamsimas. Setiap desa lokasi Pamsimas diharapkan
bisa membantu dengan dukungan dana APBDesa, yang meruncing pada anggaran
pembangunan sarana prasarana air bersih, sanitasi kesehatan masyarakat,
pelatihan peningkatan SDM, studi banding ataupun dengan memfasilitasi rapat
rutin.(KIM Ngaglik/Endarwati)




PGPR : Melindungi Akar Tanaman dengan Fermentasi Akar Bambu

Ngaglik – Tanaman yang sehat dan kuat dengan produktifitas
tinggi tidak terlepas dari fungsi akar sebagai penopang berdirinya tanaman,
pencari nutrisi dan air di dalam tanah yang kemudian disalurkan ke seluruh
bagian tubuh tanaman. Akar juga menjadi sumber kehidupan karena di sana terjadi
pertukaran udara, unsur hara, dekomposisi dan lain sebagainya. Demikian
disampaikan Suharyanto, Penyuluh Pertanian Lapangan UPTD Balai Penyuluhan
Pertanian Pangan dan Perikanan Wilayah IV Kabupaten Sleman, yang bertindak
sebagai pemateri pada Pelatihan Pembuatan Agensia Hayati di Padukuhan Suruh, Desa
Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Kamis (2/5/2019).

“Untuk itu agar kondisi perakaran tetap terjaga dan
berfungsi dengan baik, salah satunya dengan mengaplikasikan PGPR (Plant Growth
Promoting Rhizobacter) yaitu mikroorganisme yang hidup berkoloni di sekitar
akar tanaman yang mampu mengikat nitrogen (fiksasi), memacu pertumbuhan, meningkatkan
ketahanan terhadap jamur dan patogen yang berpotensi merugikan tanaman,”
paparnya.

Selanjutnya, ungkap Suharyanto, PGPR  juga mampu menyediakan berbagai mineral serta
memacu peningkatan hormon yang secara langsung mempengaruhi pertumbuhannya.

Pada kesempatan tersebut Suharyanto mengungkapkan bahwa
membuat PGPR tidaklah sulit, tidak membutuhkan biaya besar karena bahan-bahannya
banyak terdapat di sekitar kita. Hanya dibutuhkan  akar bambu lapuk yang belum pernah dipupuk
atau disemprot pestisida kimia, kemudian direndam pada air matang dingin selama
2- 4 hari. Rendaman akar bambu ini berfungsi sebagai biang atau indukan bakteri.

Proses selanjutnya adalah merebus 2 liter air cucian beras,
terasi 100 gram, kapur sirih, gula pasir 250 gram yang berguna sebagai sumber
makanan bakteri. Selanjutnya biang bersama rebusan tadi dimasukkan ke dalam
galon yang berisi air matang dingin dan diproses dengan fermentator yang bisa
dibuat sendiri.

“Fermentator dibuat dari rangkaian aerator aquarium,3
buah botol bekas dan galon air mineral,” imbuh Suharyanto.

Botol pertama berisi campuran air dan  alkohol berfungsi agar udara yang masuk
steril bebas dari mikroba yang tidak diinginkan. Botol  kedua berisi glasswool untuk menyaring udara
dari kotoran dan debu. Selanjutnya selang dimasukkan ke galon yang telah diisi
air matang dingin sebanyak 16 liter, biang akar bambu, campuran air cucian
beras dan terasi serta gula pasir yang telah diproses sebelumnya. Kemudian
botol 4 berisi air biasa sebagai klep agar bila listrik mati tidak
terkontaminasi udara luar. Aerator selanjutnya 
dihidupkan selama proses fermentasi berlangsung kira kira 7 hari.

PGPR diaplikasikan saat perendaman benih sebelum disemai
yang berfungsi untuk memisahkan benih yang sehat atau tidak. “Pada benih
padi 10 kg dibutuhkan 1 gelas PGPR yang telah dicampur 10 liter air, direndam
selama 24 jam. Untuk hortikultura cukup direndam 15 menit sebelum disemai,”
lanjut Suharyanto.

PGPR juga bisa disemprotkan pada tanaman dengan cara
mencampur 1 gelas PGPR dengan 14 liter air 
atau dikucurkan langsung pada tanaman hortikultura.

Suharyanto berharap dengan pelatihan ini petani menjadi
termotivasi melakukan budidaya pertanian yang baik dan benar agar produktifitas
semakin meningkat. Dengan demikian sedikit demi sedikit dapat mengubah pola
pikir petani yang semula menggunakan pupuk dan pestisida sintetis beralih ke
pertanian organik yang lebih sehat. (KIM Ngaglik/Upik Wahyuni)




RA Nabila Sabet 2 Kategori Kejuaraan Drumband se-Jateng DIY

Ngaglik – Raudatul Athfal (RA) Nabila dari Padukuhan Sompilan,
Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman berhasil meraih 2 penghargaan
pada Harmony Drumband Kids Competition 2019 yang diinisisiasi oleh Harmony
Percussion dan digelar di Grand Puri Water Park, Gabusan, Kabupaten Bantul, Rabu
(1/5/2019). Kedua penghargaan tersebut adalah juara 2 Perfoma Gelar Pasukan dan
dan juara 2 Paramanandi atas nama Aqilla Hafidza Maheswari sebagai pemimpin
pasukan RA Nabila.

Penghargaan diperoleh setelah RA Nabila yang beranggotakan 35 anak ini tampil memukau membawakan 2 buah lagu berjudul ‘Suka Hati’ dan ‘Assalamualaikum’.

Winarni selaku kepala sekolah RA Nabila mengaku bangga
dengan prestasi yang diraih. Ia menyatakan bahwa keikutsertaaan RA Nabila
bertujuan untuk meningkatkan daya kreatifitas dan kecintaan kepada kesenian,
meningkatkan disiplin dan tanggungjawab anak didik sekaligus sebagai tolok ukur
keberhasilan ekstra kurikuler drumband di sekolah tersebut. “Kompetisi ini
sekaligus kami jadikan sebagai ajang pembuktian akan keseriusan, kedisiplinan,
dan sportifitas anak didik serta dukungan wali murid terhadap kegiatan drumband
di sekolah” ungkap Winarni.

Kompetisi Harmony Drumband Kids Competition 2019 merupakan
acara rutin tahunan, kali ini menampilkan 36 grup TK sederajat dari berbagai
wilayah di Yogyakarta dan Jawa Tengah dengan kategori Pramandiri, Dasar,
Pemula, Lanjutan dan Utama. Sedangkan untuk kelompok SD sederajat diikuti oleh
10 grup dengan kategori Pemula, Lanjutan dan Utama.

Erwin sang pelatih drumband mengatakan RA Nabila mengambil bagian
di kategori Pramandiri karena  peralatan
dan personal yang terbatas. “Meski alat, personal dan waktu latihan yang
terbatas, dari semula kami yakin dengan melihat perfoma, kekompakan dan
semangat anak yang penuh rasa percaya diri 
mereka telah menampilkan yang terbaik, dan terbukti berhasil meraih
juara 2” tutur Erwin.

Kalau masih ada kekurangan, menurut Erwin hal itu bisa dimaklumi karena mengatur dan melatih anak-anak memang dibutuhkan ketelatenan dan kesabaran yang luar biasa. “Menegur dengan keras saat anak tidak serius ketika latihan bukan berarti benci atau marah tetapi semata mata agar anak disiplin dan konsekuen demi kemajuan mereka” kata Erwin.

Nunung Wahyuningsih, salah seorang wali murid menyambut baik
dengan kegiatan ini selain anak diajarkan berjiwa kuat dalam kompetisi, anak
juga mengetahui  dunia luar dengan segala
macam dinamika dan berbagai perbedaan yang harus diterima. “Seperti
filosofi dari drumband itu sendiri setiap alat musik yang mendukungnya mempunyai
bunyi atau suara yang berbeda-beda tetapi apabila dibunyikan sesuai irama akan
menimbulkan harmoni yang merdu didengar dan nikmat bila dirasakan”
ujarnya. (KIM Ngaglik/Upik Wahyuni)




Sertijab Camat untuk Cangkringan yang “Mandaliyemjukti”

Cangkringan – Pemerintah Kecamatan Cangkringan melaksanakan serahterima jabatan pergantian camat dari Mustadi kepada Suparmono di The Cangkringan Jogja Villa & Spa, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Selasa (30/4/ 2019).

Mustadi menyampaikan kesannya selama menjabat sebagai Camat
Cangkringan. “Satu tahun dua bulan bersama warga Cangkringan memang dirasa
tidak lama namun rasa kebersamaan sangat terasa sangat akrab dengan semua
eleman masyarakat dan seluruh pemerintah desa dan musyawarah pimpinan kecamatan,
sehingga seluruh kegiatan berjalan dengan sangat baik,” ungkap Mustadi.

Lebih jauh Mustadi menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh pemerintah desa se-Cangkringan atas semangat bahu membahu membangun Cangkringan. “Rasanya keringat belum kering dalam mengemban tugas namun pada tanggal 22 April lalu saya mendapat SK untuk mengemban tugas baru sebagai Camat Kecamatan Sleman. Semoga apa yang sudah direncanakan agar dilanjutkan serta kesiap siagaan penanganan bencana terus dipupuk, kegiatan budaya juga semakin diperhatikan,” imbuh Mustadi.  Mustadi memungkasi sambutannya dengan harapan semoga Kecamatan Cangkringan tetap “Mandaliyemjukti” (aman terkendali  ayem tentrem sejuk di hati) .

Kepala Desa Argomulyo, Darjono, mewakili masyarakat Desa
Argomulyo mengatakan perpindahan tugas Camat ini dirasakan oleh warga
Cangkringan sangat mendadak. “Setelah kesibukan yang sangat padat terkait
dengan Pemilu, upacara boyong songsong kapanewon (pindahnya gedung kecamatan
baru). Kami berharap semoga di tempat yang baru pak Mustadi selamat dan sukses
dalam menjalankan tugasnya,” kata Darjono.

Darjono mengucapkan terimakasih atas dediaksi dan kinerja Mustadi
selama menjabat sebagai camat di Cangkringan, 
dan atas nama warga memohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan
warga. Selanjutnya Darjono berharap agar komunikasi dengan Mustadi tetap
terjalin sebagai keluarga.

Suparmono sebagai camat baru memperkenalkan diri dengan
“Pram”. “Biar gampang diingat dan kesannya lebih muda,” kelakar Suparmono.
“Sebelum serah terima jabatan ini saya selama seminggu ini muter-muter
Cangkringan agar lebih kenal dengan wilayah. Kita akan bekerjasama dan bimbinglah
saya untuk bisa menjalankan tugas baru di Cangkringan,” kata Suparmono. (KIM
Cangkringan/Marman)