Menyulam Laba dari Bisnis Bordir Komputer

Ngaglik – Industri kreatif bidang fesyen merupakan salah
satu sektor yang paling dinamis. Tren fesyen datang silih berganti tiada henti
seiring berubahnya selera pasar. Masyarakat Indonesia pun kian sadar mode dan berusaha
selalu berpenampilan menarik. Selera pasar yang cepat berubah memunculkan dan
membuka peluang perusahaan konveksi untuk terus berkembang, termasuk industri pendukung
konveksi seperti usaha bordir komputer.
Seperti dilakukan
kakak adik Indriyani Sofiah dan Heru Indriyanto
yang berdomisili di Padukuhan Suruh, Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten
Sleman. Dengan mengusung brand Heruind Embroidery Studio, usaha yang dirintis
awal 2018 ini menerima jasa aneka bordir seperti untuk emblem, badge sekolah,
aneka logo lembaga dan komunitas, selempang, dan mukena. Selain itu mereka juga
melayani pembuatan custom topi, kemeja PDL, PDH, korsa, jaket, jumper, zipper,
hoodie, baju koko dan sebagainya.
Indriyani Sofiah atau akrab disapa Indri mengatakan bahwa
usaha bordir komputer pada hakekatnya adalah sulam yang dulu biasa dibuat
manual dengan tangan. “Seiring perkembangan zaman muncullah bordir komputer
yang lebih canggih karena dari desain maupun proses pembuatannya menggunakan
program yang ada di komputer sehingga desain lebih variatif dan kreatif, hasil
produksi lebih rapi dan waktu produksi lebih singkat,” ujar Indri saat ditemui di
rumahnya yang juga sebagai lokasi usahanya, Kamis (20/6/2019).
Menurutnya peluang usaha bordir komputer di Jogja masih
terbuka lebar karena pelaku usaha yang jumlahnya masih sedikit padahal
permintaan pasar sangat besar didukung dengan banyaknya lembaga-lembaga
pendidikan yang biasanya memasang logo bordir pada kaos, jaket, jas almamater,
dan lainnya. “Apalagi saat ini banyak komunitas yang menunjukkan
eksistensinya dengan logo yang dibordir pada kaos atau baju seragam,”
tambahnya.
Peluang yang masih terbuka lebar ditambah skill dan pengalaman
yang diperoleh dari bekerja di perusahaan konveksi besar inilah yang kemudian
mendasari Heru dan Indri berusaha sendiri. “Dengan modal dari keluarga,
kami bertekad untuk mandiri, agar tidak terus menerus menjadi karyawan tapi
sebagai bos sekalipun masih usaha rumahan,” kata Heru dan Indri yang saat
ini memiliki 2 orang karyawan.
Saat memulai usaha Heruind menggunakan mesin bordir satu
kepala tetapi karena kemampuan produksi lamban padahal banyak pesanan Heru dan
Indri memutuskan untuk membeli mesin yang kapasitasnya lebih besar. Setelah
berburu mesin ke Tasikmalaya mereka mendapatkan mesin bordir 12 kepala untuk
mengejar target.
Pemasaran Heruind dilakukan secara langsung dan via daring
baik melalui laman maupun media sosial sehingga mampu menjangkau pasar hampir
di seluruh Indonesia dari Aceh hingga Papua. “Hanya sedikit customer yang
bertemu langsung, sebagian besar dari konsumen tidak pernah bertatap muka,
semua daring, maka hanya kepercayaanlah yang bisa kami andalkan,” aku
Indri.
Heruind berusaha terus berinovasi agar tetap unggul
dibanding dengan perusaahaan jasa bordir lainnya. “Desain selalu kami
diskusikan agar sesuai dengan yang dikehendaki konsumen. Bahan juga dipilih
yang berkualitas agar produk terlihat elegan. Selain itu kami punya pekerja
yang terampil dan profesional, proses
produksi dilakukan dengan komputer sehingga hasilnya akurat baik ukuran,
bentuk, warna, kerapian dan ketepatan waktu,” jelas Indri.
Mengenai harga Indri mengungkapkan tergantung kerumitan
desain, ukuran, jumlah warna serta bahan kain atau benang yang dipergunakan. Dengan
harga yang relatif murah dibanding perusahaan jasa serupa, Heruind mengaku mampu
mengumpulkan omset hingga puluhan juta
rupiah per bulan.
Sebagai
pelaku usaha Indri dan Heru selalu tertantang untuk melakukan inovasi dan
mengasah kreatifitas baik dari segi desain, pemesanan, produksi, pemasaran, dan
pelayanan agar usaha yang dijalankan tetap eksis kini dan nanti. (KIM Ngaglik/Upik
Wahyuni)
