Mendorong Desa Terapkan Keterbukaan Informasi Publik

Tempel – Saat ini masyarakat sampai di tingkat desa telah sadar
haknya untuk memperoleh informasi publik. Demi terwujudnya pemerintah desa dan masyarakat
yang sadar informasi, maka saat ini pemerintah desa dituntut untuk menerapkan
keterbukaan informasi publik, yang ditandai dengan terbentuknya struktur Pejabat
Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID).

Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sleman beserta Komisi Informasi Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (KID DIY) melakukan sosialisasi pembentukan PPID tingkat desa, terkait dengan bagaimana mengelola informasi-informasi yang berkualitas sesuai dengan UU No 14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik.

“Kegiatan ini kami anggap penting dan perlu diketahui oleh
masyarakat luas, sehingga kami harapkan nanti setelah menyerap apa yang
disampaikan bisa dilaksanakan di masing-masing desa dan juga untuk mendukung
agar keterbukaan informasi ini dapat dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang,”
ujar Artoni Suwasti, Sekretaris Camat Tempel saat membuka sosialisasi di Kantor
Kecamatan Tempel, Senin (24/06/2019).

Kabupaten Sleman merupakan satu-satunya wilayah di DIY yang
telah menerapkan keterbukaan informasi publik berbasis e-PPID. Akan tetapi hal
itu belum diadopsi oleh desa-desa yang pemerintahannya mandiri karena statusnya
otonomi. Itulah mengapa pemerintah kabupaten gencar melakukan sosialisasi ke
seluruh wilayah Sleman agar desa dapat menerapkan hal tersebut secara serentak.

Penggalakan keterbukaan informasi publik ini karena desa
juga menjadi badan publik yang legal dan bertanggung jawab memberikan pelayanan
informasi kepada masyarakat. Dengan demikian, desa harus mempersiapkan beberapa
hal untuk mendukung posisinya sebagai badan publik.

“Pertama desa haruslah membentuk SK PPID. Kedua
mempersiapkan website desa yang berdomain .. Ketiga mempersiapkan desk
layanan informasi, dan yang terakhir ialah mempersiapkan anggaran meliputi
anggaran untuk sarana dan prasarana, pelatihan dan bimtek, sosialisasi, dan
pengelolaan website,“ jelas Suharnanik Listiana, Komisioner KID DIY.

Salah satu tugas PPID desa ialah melakukan pengumpulan informasi di setiap satuan unit informasinya. Alurnya ialah, sekretaris desa meminta usulan kepada tiga orang kepala seksi dan tiga kepala urusan terkait dengan pengklasifikasian informasi terbuka dan dan dirahasiakan, setelah itu informasi tersebut diberikan kepada tim pertimbangan tingkat kabupaten, kemudian tim inilah yang akan mengolah untuk disebarkan dengan beberapa pertimbangan baik dari dasar hukum hingga alasannya.

Lalu pengelolaan website desa juga penting sebagai jendela informasi dunia dengan mencantumkan beragam informasi terbuka, yang memberikan layanan informasi langsung berbasis online. Sedangkan untuk anggaran itu sendiri, Suharnanik mengatakan perlu untuk dilakukan keterbukaan pengelolaan anggaran sebagai salah satu bentuk keterbukaan informasi publik. Anggaran ini termasuk insentif bagi para pelaku yang terlibat di dalam PPID desa, yang mana dalam pengelolaannya disesuaikan dengan kemampuan APBD.(Rep Bilqis)




Shotgun Berpeluru Karet Gelang

Gamping – Terinspirasi dari gim daring Free Fire yang sangat
populer di Indonesia, seorang pemuda dari Cirebon yang biasa dipanggil Zacky
memutuskan untuk berjualan mainan anak berupa senjata replika yang ada dalam
gim tersebut. Bedanya, senjata mainan bikinan Zacky aman dimainkan karena berbahan
dasar limbah kayu kere yang diubahnya menjadi senapan berpeluru karet gelang.

“Daripada anak-anak memainkan gim daring di ponsel yang
sedang digandrungi anak-anak sekolah dasar ini, lebih baik mereka bermain
dengan teman sebayanya memainkan senapan berpeluru karet gelang ini sekaligus
uji ketangkasan,” tutur Zacky saat dijumpai di depan sekolah dasar di bilangan
Tegalrejo, Kota Yogyakarta, Senin (24/6/2019)

Anak-anak siswa sekolah dasar menjadi konsumen terbesar bagi
Zacky. Dalam sehari ia bisa menjual senapan kayu berpeluru karet gelang ini
kurang lebih sebanyak 25 unit dengan berbagai jenisnya. Harga yang ditetapkan
sebelum dimodifikasi mulai Rp3 ribu per unit hingga Rp25 ribu per unit
tergantung jenisnya.

Selain itu, Zacky juga melayani anak-anak yang menginginkan
modifikasi senapan yang sudah dimilikinya, seperti menambah teropong, lengan penyeimbang,
magasin, moncong senapan, dan peredam agar lebih menarik jika dipandang. Senapan
kayu mainan ini pun oleh Zacky dinamakan seperti dalam gim aslinya, di antaranya
Groza, M14, Shotgun M1014, Scar, AK, Famas, M4A1, MP40, dan P90.

Untuk membuat anak-anak tertarik Zacky berinovasi mengadakan
lomba menembak menggunakan senapan berpeluru karet dengan sasaran botol bekas
air mineral. Sebagai juara 1 sampai dengan 3 akan mendapatkan senapan yang dijualnya.
(KIM Gamping/Adnan Nurtjahjo)




Kwarcab Depok Kunjungi Cangkringan

Cangkringan – Kwartir Cabang (Kwarcab) Kota Depok, Jawa
Barat mengunjungi Kwartir Ranting (Kwarran) Cangkringan, Kabupaten Sleman. Rombongan
diterima di Gubug Pramuka, Kompleks Kecamatan Cangkringan, Sleman, Sabtu
(22/6).

Dalam sambutannya Nina Suzana, Ketua Kwarcab Depok
berterimasih banyak kepada Kwarran Cangkringan atas sambutannya. “Kwarcab Depok
sudah 2 kali datang ke Cangkringan ini, yang pertama dulu setelah bencana
erupsi, dengan membantu baik itu tenaga dan juga logistik untuk masyarakat yang
menjadi korban,” ujar Nina.

Nina berharap silaturahmi antar gerakan pramuka ini tidak
hilang, terutama untuk pengembangan kepramukaan. Selain silaturahmi, kunjungan Kwarcab
Depok ini untuk mengetahui bagaimana keadaan pramuka di Cangkringan baik itu
program-progam kegiatan maupun kepengurusanya. (KIM

Di Cangkringan rombongan dari Depok disambut oleh Muspika
Kecamatan Cangkringan selaku ketua majelis pembimbing ranting (kamabiran).
Acara dimulai dengan sarasehan saling berkenalan, baik dari Kwaran Cangkringan
dan Kwarcab Depok dilanjutkan dengan melihat kondisi gubug dan administrasinya.

Hermanto, Kepala Seksi Kesejahteraan Masyarakat menyambut
rombongan Depok di Kecamatan Cangkringan. “Untuk kondisi pramuka di wilayah
sini, memang potensinya cukup bagus. Baik dari golongan siaga, penggalang,
penegak hingga ke pandega. Yang mana ada 4 dewan andalan Penegak, 25 gugus
depan,” jelas Hermanto.

Cangkringan adalah salah satu kecamatan di Sleman yang
berada di sisi timur utara. Berada di lereng Gunungapi Merapi, semangat pramuka
disini diakui Hermanto sangat bagus, pembina-pembinannya banyak, dan sangat
berguna dalam situasi kegawatdaruratan bencana.(KIM Cangkringan/Sumarno)




Hidup Sehat Modal Jalani Usia Lanjut

Ngaglik – Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun mengajak para kanjut usia (lansia) untuk membudayakan hidup sehat, sebab kualitas hidup di masa tua dapat ditingkatkan dengan olahraga teratur, makan makanan yang sehat, dan cek kesehatan secara rutin.

Sri Muslimatun ini 
juga mengatakan bahwa angka harapan hidup di Kabupaten Sleman tertinggi
di Indonesia. “Saat ini harapan hidup rata-rata untuk perempuan di
Kabupaten Sleman mencapai 76 tahun. Sedangkan, harapan hidup rata-rata untuk
laki-laki 74 tahun. Hal tersebut merupakan bukti bahwa masyarakat Sleman peduli
dengan kesehatannya,” lanjut Wakil Bupati Sleman ini saat mengikuti
peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) dan Festival Senior Living 2019 di
Candi Siwa Kompleks Candi Prambanan, Sleman, Minggu (23/6/2019)..

Acara HLUN diramaikan dengan senam massal, penampilan tari Angguk
Kipas oleh lansia binaan Kecamatan Pakem, senam lansia, lomba senam taichi dan
lomba kesenian. Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Komisi Daerah Lanjut Usia
(Komdis Lansia) mengangkat tema “Lanjut Usia Mandiri, Sejahtera, dan
Bermartabat” untuk peringatan HLUN tahun 2019 ini.

Sri Muslimatun berpesan kepada lansia agar dapat terus
budaya hidup sehat terus di laksanakan, bahkan lebih ditingkatkan lagi. “Warga
Sleman itu ikhlas sabar, nrimo, legowo, tapi tetap sebagai pekerja keras,”
ujarnya.

Dalam acara ini juga dilakukan pemeriksaan kesehatan secara
gratis dan konsultasi kesehatan yang difasilitasi oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten Sleman. Selain itu juga ada berbagai pameran produk lokal berupa
kerajinan tangan dan kuliner.(KIM Sardonoharjo_ESK)




Tantangan Melestarikan Ketoprak

Ngaglik – Kesulitan dalam melestarikan ketoprak adalah bagaimana mengenalkannya kepada generasi muda sebagai penerus namun tetap harus mempertahankan keaslian ketoprak itu sendiri. Komunitas Ketoprak Sleman (KKS) memiliki target minimal diselenggarakan 30 pertunjukan ketoprak dalam satu tahun sebagai upaya mengenalkan anak muda pada seni tradisi, dan mencari cara bagaimana memanfaatkan teknologi agar generasi muda lebih mengenal ketoprak.

Ini diutarakan oleh Ketua KKS, Sugiman Dwi Nurseto sebagai pelestari ketoprak di Kabupaten Sleman. “Ketoprak hendaknya dikemas secara konvensional dengan acuan ketoprak RRI Yogyakarta.  Konvensional itu ketoprak asli dengan musik gamelan, menggunakan kentongan serta kostum yang sesuai,” jelas Sugiman Dwi Nurseto di sela menyaksikan pentas ketoprak dalam rangka  syawalan Ketoprak Sekar Dono Budoyo Donoharjo di Padukuhan Penen, Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Jumat (21/6/2019).

Pada tanggal 12-20 Juli 2019, akan digelar festival ketoprak
bertempat di lapangan Baratan, Kecamatan Pakem. Kegiatan tersebut merupakan
agenda rutin tahunan KKS. Pada festival yang diselenggarakan oleh Dinas
Pariwisata bekerja sama dengan KKS Kabupaten Sleman  tersebut setiap  malam akan menampilkan dua kelompok peserta
yang mewakili kecamatan, dengan durasi penampilan  60 sampai dengan 75 menit setiap kelompok.
Adapun batasan usia peserta paling tinggi 35 tahun.

Pada festival tersebut akan dipilih juara dalam beberapa kategori
yaitu penampilan grup terbaik pertama sampai dengan harapan 3, sutradara
terbaik, penata iringan terbaik, pemeran putra terbaik, pemeran putri terbaik,
pemeran pembantu putra, pemeran pembantu putri, penata artistik dan penata
kostum.(KIM Ngaglik/Endarwati)