Kwarcab Depok Kunjungi Cangkringan

Cangkringan – Kwartir Cabang (Kwarcab) Kota Depok, Jawa
Barat mengunjungi Kwartir Ranting (Kwarran) Cangkringan, Kabupaten Sleman. Rombongan
diterima di Gubug Pramuka, Kompleks Kecamatan Cangkringan, Sleman, Sabtu
(22/6).

Dalam sambutannya Nina Suzana, Ketua Kwarcab Depok
berterimasih banyak kepada Kwarran Cangkringan atas sambutannya. “Kwarcab Depok
sudah 2 kali datang ke Cangkringan ini, yang pertama dulu setelah bencana
erupsi, dengan membantu baik itu tenaga dan juga logistik untuk masyarakat yang
menjadi korban,” ujar Nina.

Nina berharap silaturahmi antar gerakan pramuka ini tidak
hilang, terutama untuk pengembangan kepramukaan. Selain silaturahmi, kunjungan Kwarcab
Depok ini untuk mengetahui bagaimana keadaan pramuka di Cangkringan baik itu
program-progam kegiatan maupun kepengurusanya. (KIM

Di Cangkringan rombongan dari Depok disambut oleh Muspika
Kecamatan Cangkringan selaku ketua majelis pembimbing ranting (kamabiran).
Acara dimulai dengan sarasehan saling berkenalan, baik dari Kwaran Cangkringan
dan Kwarcab Depok dilanjutkan dengan melihat kondisi gubug dan administrasinya.

Hermanto, Kepala Seksi Kesejahteraan Masyarakat menyambut
rombongan Depok di Kecamatan Cangkringan. “Untuk kondisi pramuka di wilayah
sini, memang potensinya cukup bagus. Baik dari golongan siaga, penggalang,
penegak hingga ke pandega. Yang mana ada 4 dewan andalan Penegak, 25 gugus
depan,” jelas Hermanto.

Cangkringan adalah salah satu kecamatan di Sleman yang
berada di sisi timur utara. Berada di lereng Gunungapi Merapi, semangat pramuka
disini diakui Hermanto sangat bagus, pembina-pembinannya banyak, dan sangat
berguna dalam situasi kegawatdaruratan bencana.(KIM Cangkringan/Sumarno)




Hidup Sehat Modal Jalani Usia Lanjut

Ngaglik – Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun mengajak para kanjut usia (lansia) untuk membudayakan hidup sehat, sebab kualitas hidup di masa tua dapat ditingkatkan dengan olahraga teratur, makan makanan yang sehat, dan cek kesehatan secara rutin.

Sri Muslimatun ini 
juga mengatakan bahwa angka harapan hidup di Kabupaten Sleman tertinggi
di Indonesia. “Saat ini harapan hidup rata-rata untuk perempuan di
Kabupaten Sleman mencapai 76 tahun. Sedangkan, harapan hidup rata-rata untuk
laki-laki 74 tahun. Hal tersebut merupakan bukti bahwa masyarakat Sleman peduli
dengan kesehatannya,” lanjut Wakil Bupati Sleman ini saat mengikuti
peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) dan Festival Senior Living 2019 di
Candi Siwa Kompleks Candi Prambanan, Sleman, Minggu (23/6/2019)..

Acara HLUN diramaikan dengan senam massal, penampilan tari Angguk
Kipas oleh lansia binaan Kecamatan Pakem, senam lansia, lomba senam taichi dan
lomba kesenian. Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Komisi Daerah Lanjut Usia
(Komdis Lansia) mengangkat tema “Lanjut Usia Mandiri, Sejahtera, dan
Bermartabat” untuk peringatan HLUN tahun 2019 ini.

Sri Muslimatun berpesan kepada lansia agar dapat terus
budaya hidup sehat terus di laksanakan, bahkan lebih ditingkatkan lagi. “Warga
Sleman itu ikhlas sabar, nrimo, legowo, tapi tetap sebagai pekerja keras,”
ujarnya.

Dalam acara ini juga dilakukan pemeriksaan kesehatan secara
gratis dan konsultasi kesehatan yang difasilitasi oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten Sleman. Selain itu juga ada berbagai pameran produk lokal berupa
kerajinan tangan dan kuliner.(KIM Sardonoharjo_ESK)




Tantangan Melestarikan Ketoprak

Ngaglik – Kesulitan dalam melestarikan ketoprak adalah bagaimana mengenalkannya kepada generasi muda sebagai penerus namun tetap harus mempertahankan keaslian ketoprak itu sendiri. Komunitas Ketoprak Sleman (KKS) memiliki target minimal diselenggarakan 30 pertunjukan ketoprak dalam satu tahun sebagai upaya mengenalkan anak muda pada seni tradisi, dan mencari cara bagaimana memanfaatkan teknologi agar generasi muda lebih mengenal ketoprak.

Ini diutarakan oleh Ketua KKS, Sugiman Dwi Nurseto sebagai pelestari ketoprak di Kabupaten Sleman. “Ketoprak hendaknya dikemas secara konvensional dengan acuan ketoprak RRI Yogyakarta.  Konvensional itu ketoprak asli dengan musik gamelan, menggunakan kentongan serta kostum yang sesuai,” jelas Sugiman Dwi Nurseto di sela menyaksikan pentas ketoprak dalam rangka  syawalan Ketoprak Sekar Dono Budoyo Donoharjo di Padukuhan Penen, Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Jumat (21/6/2019).

Pada tanggal 12-20 Juli 2019, akan digelar festival ketoprak
bertempat di lapangan Baratan, Kecamatan Pakem. Kegiatan tersebut merupakan
agenda rutin tahunan KKS. Pada festival yang diselenggarakan oleh Dinas
Pariwisata bekerja sama dengan KKS Kabupaten Sleman  tersebut setiap  malam akan menampilkan dua kelompok peserta
yang mewakili kecamatan, dengan durasi penampilan  60 sampai dengan 75 menit setiap kelompok.
Adapun batasan usia peserta paling tinggi 35 tahun.

Pada festival tersebut akan dipilih juara dalam beberapa kategori
yaitu penampilan grup terbaik pertama sampai dengan harapan 3, sutradara
terbaik, penata iringan terbaik, pemeran putra terbaik, pemeran putri terbaik,
pemeran pembantu putra, pemeran pembantu putri, penata artistik dan penata
kostum.(KIM Ngaglik/Endarwati)




Menyulam Laba dari Bisnis Bordir Komputer

Ngaglik – Industri kreatif bidang fesyen merupakan salah
satu sektor yang paling dinamis. Tren fesyen datang silih berganti tiada henti
seiring berubahnya selera pasar. Masyarakat Indonesia pun kian sadar mode dan berusaha
selalu berpenampilan menarik. Selera pasar yang cepat berubah memunculkan dan
membuka peluang perusahaan konveksi untuk terus berkembang, termasuk industri pendukung
konveksi seperti usaha bordir komputer.

Seperti  dilakukan
kakak adik Indriyani Sofiah dan Heru Indriyanto 
yang berdomisili di Padukuhan Suruh, Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten
Sleman. Dengan mengusung brand Heruind Embroidery Studio, usaha yang dirintis
awal 2018 ini menerima jasa aneka bordir seperti untuk emblem, badge sekolah,
aneka logo lembaga dan komunitas, selempang, dan mukena. Selain itu mereka juga
melayani pembuatan custom topi, kemeja PDL, PDH, korsa, jaket, jumper, zipper,
hoodie, baju koko dan sebagainya.

Indriyani Sofiah atau akrab disapa Indri mengatakan bahwa
usaha bordir komputer pada hakekatnya adalah sulam yang dulu biasa dibuat
manual dengan tangan. “Seiring perkembangan zaman muncullah bordir komputer
yang lebih canggih karena dari desain maupun proses pembuatannya menggunakan
program yang ada di komputer sehingga desain lebih variatif dan kreatif, hasil
produksi lebih rapi dan waktu produksi lebih singkat,” ujar Indri saat ditemui di
rumahnya yang juga sebagai lokasi usahanya, Kamis (20/6/2019).

Menurutnya peluang usaha bordir komputer di Jogja masih
terbuka lebar karena pelaku usaha yang jumlahnya masih sedikit padahal
permintaan pasar sangat besar didukung dengan banyaknya lembaga-lembaga
pendidikan yang biasanya memasang logo bordir pada kaos, jaket, jas almamater,
dan lainnya. “Apalagi saat ini banyak komunitas yang menunjukkan
eksistensinya dengan logo yang dibordir pada kaos atau baju seragam,”
tambahnya.

Peluang yang masih terbuka lebar ditambah skill dan pengalaman
yang diperoleh dari bekerja di perusahaan konveksi besar inilah yang kemudian
mendasari Heru dan Indri berusaha sendiri. “Dengan modal dari keluarga,
kami bertekad untuk mandiri, agar tidak terus menerus menjadi karyawan tapi
sebagai bos sekalipun masih usaha rumahan,” kata Heru dan Indri yang saat
ini memiliki 2 orang karyawan.

Saat memulai usaha Heruind menggunakan mesin bordir satu
kepala tetapi karena kemampuan produksi lamban padahal banyak pesanan Heru dan
Indri memutuskan untuk membeli mesin yang kapasitasnya lebih besar. Setelah
berburu mesin ke Tasikmalaya mereka mendapatkan mesin bordir 12 kepala untuk
mengejar target.

Pemasaran Heruind dilakukan secara langsung dan via daring
baik melalui laman maupun media sosial sehingga mampu menjangkau pasar hampir
di seluruh Indonesia dari Aceh hingga Papua. “Hanya sedikit customer yang
bertemu langsung, sebagian besar dari konsumen tidak pernah bertatap muka,
semua daring, maka hanya kepercayaanlah yang bisa kami andalkan,” aku
Indri.

Heruind berusaha terus berinovasi agar tetap unggul
dibanding dengan perusaahaan jasa bordir lainnya. “Desain selalu kami
diskusikan agar sesuai dengan yang dikehendaki konsumen. Bahan juga dipilih
yang berkualitas agar produk terlihat elegan. Selain itu kami punya pekerja
yang terampil dan profesional,  proses
produksi dilakukan dengan komputer sehingga hasilnya akurat baik ukuran,
bentuk, warna, kerapian dan ketepatan waktu,” jelas Indri.

Mengenai harga Indri mengungkapkan tergantung kerumitan
desain, ukuran, jumlah warna serta bahan kain atau benang yang dipergunakan. Dengan
harga yang relatif murah dibanding perusahaan jasa serupa, Heruind mengaku mampu
mengumpulkan omset  hingga puluhan juta
rupiah per bulan.

Sebagai
pelaku usaha Indri dan Heru selalu tertantang untuk melakukan inovasi dan
mengasah kreatifitas baik dari segi desain, pemesanan, produksi, pemasaran, dan
pelayanan agar usaha yang dijalankan tetap eksis kini dan nanti. (KIM Ngaglik/Upik
Wahyuni)




KIM sebagai Agen Promosi Budaya

Seyegan – Kecamatan Seyegan adalah salah satu kecamatan di
Kabupaten Sleman yang kaya ritual budaya, seperti upacara adat Tuk Si Bedug, Kirab
Mbah Bergas, Desa Kasuran dan masih banyak lagi. Akan tetapi, ritual budaya ini
masih belum terpublikasikan kepada masyarakat dan belum menjadi tujuan wisata
yang menasional.

Ini disampaikan Djoko Muljanto, Sekretaris Camat Seyegan di sela pengukuhan (Kelompok Informasi Masyarakat) Seyegan di Kantor Kecamatan Seyegan, Jumat, (21/06/2019). KIM Seyegan ini nantinya diharapkan menjadi sarana untuk mempublikasikan informasi seputar kecamatan Seyegan, meliputi kegiatan masyarakat, pemerintahan, serta perkembangan dari yang terjadi di Kecamatan Seyegan itu sendiri. “Sehingga dengan publikasi informasi melalui KIM ini, Seyegan dapat terus berkembang,” ujar Djoko Muljanto.

Dalam bayangan Sekretaris Camat Seyegan ini, dengan metode citizen journalism, anggota KIM Seyegan akan diberikan pembinaan bagaimana cara menulis berita yang benar, bagaimana membuat judul berita yang menarik, serta bagaimana trik-trik memfoto kegiatan yang sedang berlangsung agar menghasilkan gambar yang bagus serta informatif.

Hadir menjadi narasumber dalam acara tersebut Kepala Seksi Pengelolaan
Informasi Publik Diskominfo Sleman,Yudiarto Setiawan menyampaikan untuk KIM ini
sudah ada dasar hukumnya yakni peraturan Bupati Sleman Nomor 51 tahun 2017. “Dan
sebetulnya sudah terbentuk di beberapa kecamatan yang mana dalam perjalanannya
ada yang aktif dan ada yang pasif,” ujar Yudiarto.

Yudiarto menambahkan bahwa pada tahun 2020 nanti KIM mendapat tambahan anggaran koordinasi dari Bappeda, sehingga dengan anggaran tersebut diharapkan agar forum KIM ini nantinya dapat mengelola segala aktifitas serta publikasi informasi dengan lebih baik. Selain itu KIM Seyegan beserta forum KIM lainnya di 17 kecamatan kabupaten Sleman harus dapat bersinergi dengan pemerintah daerah serta dapat bersinergi dengan KIM kabupaten yang juga telah terbentuk.

KIM merupakan lembaga komunikasi masyarakat yang dibentuk dan dikelola dari, oleh, dan untuk masyarakat sesuai dengan kebutuhannya, secara mandiri dan kreatif yang aktivitasnya melakukan pengelolaan informasi dan pemberdayaan masyarakat. (Rep Bilqis)