Hari Lingkungan Hidup, Bupati Sleman Apresiasi Dusun Dayakan

Ngaglik – Peringatan Hari Lingkungan Hidup
Kabupaten Sleman Tahun 2019 bertempat di Dusun Dayakan, Desa Sardonoharjo, Kecamatan
Ngaglik, Kabupaten Sleman. Dipilihnya
Dusun Dayakan merupakan apresiasi dari Kabupaten Sleman sekaligus menjadi ajang
progres pembangunan wisata Watu Ledek sebagai icon wisata baru serta pengembangan
sekaligus promosi bagi produk lokal Usaha Kecil Menengah (UKM) di Desa
Sardonoharjo.

Bupati Sleman, Sri Purnomo mengapresiasi Dusun
Dayakan sebagai desa wisata yang berbasis kembali pada alam. “Potensinya luar biasa, ada kandang
kelompok, Tempat
Pengolahan Sampah – Reduce Reuse Recycle (TPS
3R) yang luar
biasa sudah bisa menyerap tenaga kerja, pelopor pemilahan sampah, dan warga yang hidup
disini bersyukur lingkungan masih asri, air mengalir cukup, dan udara bersih,” puji Sri Purnomo saat membuka Peringatan Hari
Lingkungan Hidup, Rabu (10/7/2019).

Orang nomor satu di
Kabupaten Sleman ini juga menuturkan bahwa sampah di Kabupaten Sleman semakin banyak karena penduduk juga bertambah. Setiap hari ada
meter kubik sampah yang dihasilkan. “Data di WHO, setiap tahun orang mati karena
kurang bersih lingkungan ada 7 juta, sehingga kita harus menjaga lingkungan,” pesan Sri Purnomo.

Sri Purnomo juga  berpesan agar warga berupaya membuat
lingkungan lestari, mengelola sampah dengan baik, menjaga kesehatan banyak
berolahraga dengan jalan kaki, tidak banyak menggunakan kendaraan bermotor, dan
menanam pohon.

Mengambil Tema Hijau Bumiku
Biru Langitku, Peringatan Hari Lingkungan Hidup di Sleman dihadiri oleh camat
se-Kabupaten Sleman, kepala desa se-Kecamatan Ngaglik, tokoh masyarakat dan
para komunitas penggiat lingkungan. Acara ini dilengkapi dengan penanaman pohon, melepas burung ke alam, kunjungan ke kandang kelompok 
dan TPS 3R Dusun Dayakan.(KIM
Sardonoharjo ESK)




Praktik Ecoprint di PPD Sleman

Sleman – Banyak yang unik dari Pameran Potensi Daerah (PPD) Kabupaten Sleman yang sedang berlangsung di Lapangan Denggung, Kabupaten Sleman. Salah satunya di stan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman ada praktik pembuatan ecoprint atau pemberian motif pada kain dengan menggunakan bahan alami daun yang berlangsung Rabu (10/7/2019).

Menyasar
anak-anak dan orang tua sebagai
peserta, tujuan praktik ini untuk memperkenalkan sekaligus
mengajarkan mengenai ecoprint. Hastuti Setianingrum, instruktur praktik ini mengatakan bahwa ecoprint memiliki dua teknik yakni pertama
dengan pengukusan dan kedua ialah dengan pounding
atau pukul. Kedua teknik tersebut memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda.

“Teknik yang dikukus itu
tekniknya lebih sulit, ini yang paling mudah yang bisa kita ajarkan ke
anak-anak itu ya ini teknik pounding atau pukul,” jelas wanita yang juga aktif
sebagai penggiat literasi sebagai pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM)
Wijayakusuma di Padukuhan Karanganyar, Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak ini.

Praktik langsung
pembuatan ecoprint ini dilakukan
dengan mengajarkan kepada anak-anak mengenai berbagai macam jenis dedaunan dan melatih
kreativitas mereka agar dapat memanfaatkan bahan-bahan alam yang ada di sekitar
untuk dijadikan suatu hasil karya yang apik.

Media yang diperlukan dapat
menggunakan beberapa lembar daun dengan beragam bentuk, kemudian kain lembaran,
kain placo, ataupun kaos, yang penting berbahan katun sebab katun dapat
menyerap klorofil dari daun yang digunakan. “Jadikan
tujuan kita memang memindahkan klorofil daun ke kain, jadi kita harus pakai
kain katun yang bisa menyerap,” tambah Hastuti.

Sesudah dipukul-pukul, proses selanjutnya ialah mengeringkan kain tersebut selama dua hingga
tiga hari lalu merendamnya dengan air tawas untuk mengunci warna agar klorofil
daun yang telah menempel di kain tidak mudah pudar. Tahapan ini disebut dengan fixsasi.

Praktik ekoprint dengan teknik pounding atau pukulan ini banyak menarik perhatian dari pengunjung baik anak-anak maupun orang dewasa. Tidak hanya sekedar melihat dan bertanya-tanya, banyak dari pengunjung yang mencoba praktik ecoprint ini secara langsung. Cukup dengan mengisi buku tamu, maka wisatawan dapat langsung mempraktikkan dan menuangkan kreativitas mereka di atas sebuah tas kain kecil berwarna putih, kemudian memukul-mukul lembaran dedaunan yang telah tersusun rapi di atasnya.

Putri, salah satu pengunjung mengaku jika dirinya tertarik melihat daun-daun yang tersusun di atas tas kemudian dipukul menggunakan palu kayu sehigga menghasilkan sebuah tas cantik bercorak dedaunan. Tak hanya sekali, Putri mencoba berkreasi untuk kedua kalinya di atas medium yang sama dengan jenis dedaunan yang berbeda.(Rep Bilqis)