Suharno, Dedikasi Sepanjang Masa sebagai Pejuang Informasi Masyarakat

Sleman – Suharno (75 tahun) adalah satu dari sekian tokoh
yang menjadi saksi hidup perjalanan KIM (Kelompok Informasi Masyarakat) di
Kabupaten Sleman khususnya KIM Kertomandiri Kecamatan Turi. Lahir pada 5
September 1944, Suharno telah banyak merasakan asam garam dalam hidupnya, baik
itu ketika bersekolah, meniti karier, hingga hari tua. Berlatar belakang
sebagai anak dari seorang polisi, Suharno sudah terbiasa mengikuti orang tua
yang acap kali berpindah tugas dari satu tempat ke tempat yang lain. Perpindahan
itu memaksa Suharno kecil untuk beberapa kali pindah sekolah.

Hingga suatu ketika ayah Suharno di mutasi ke Sleman yang
membawa Suharno beserta keluarga kembali ke Jogja. Sang ayah yang kala itu memperoleh
mandat mutasi ke Turi dalam rangka pembentukan kepolisian di sektor Turi,
mengharuskan sekolah Suharno dialihkan ke SD Kadisobo 3. Pasca menamatkan
sekolahnya, Suharno kemudian melanjutkan pendidikannya di SMP Negeri 1 yang
pada saat itu bernama SMP Negeri Sleman, lalu melanjutkan kembali ke sekolah
Guru yang berada di Bantul.

Mengenyam pendidikan di sekolah guru menjadi titik awal perjalanan
karir Suharno. Bermula sejak ia memperoleh SK pengangkatan sebagai guru yang
ditempatkan di Kabupaten Demak, Kecamatan Wedu, Dusun Berahan Wetan. Tidak lama
mengabdi disana, di tahun 1966 Suharno kembali ke Jogja dan mengabdi di SD
Kadisobo 3. Sejak saat itu kariernya mulai menanjak ke ranting dinas.

Perjalanan karier yang bagus dengan relasi yang tercipta
luas mengantarkannya bergabung dalam KELOMPENCAPIR (Kelompok Pendengar,
Pembaca, dan Pemirsa). KELOMPENCAPIR merupakan program bentukan presiden
Soeharto yang berupa program dialog interaktif dengan mempertemukan para petani
dan nelayan Indonesia untuk beradu kepintaran serta pengetahuan seputar dunia
pertanian yang kemudian acara ini disebarluaskan melalui TVRI dan RRI.

Pada tahun itu, KELOMPENCAPIR sukses menjadi jembatan antara
pemerintah dengan masyarakat Indonesia untuk menyebarluaskan informasi satu
arah. Sejak saat itulah Suharno resmi menjadi anggota yang bertugas
mendengarkan siaran TVRI dan RRI, kemudian mendiskusikan apa saja yang telah
mereka dengarkan, lalu menyebarluaskannya kepada masyarakat sekitar. Terdiri
dari orang-orang yang berasal dari empat desa yakni Bangunkerto, Girikerto,
Donokerto, dan Wonokerto, Suharno beserta kawan-kawan mempublikasikan informasi
pemerintah kepada masyarakat di masing-masing wilayah asal termasuk di Kecamatan
Turi.

Sayangnya keberadaan KELOMPENCAPIR tidak begitu mulus. Forum
ini dibubarkan seiring berakhirnya pemerintahan Orde Baru yang ditandai dengan
dibubarkannya Kementrian Penerangan, dan tersisa tujuh orang saja yang bertahan
untuk terus menyampaikan beragam informasi dari pemerintah ke masyarakat
termasuk di dalamnya ialah Suharno.

Keaktifan Suharno dan kawan-kawan dalam menyebarluaskan
informasi seputar pemerintahan memperoleh apresiasi dari BID (Badan Informasi
Daerah), sehingga kelompok ini terus berkembang dan bernama Kelompok Informasi
Pembagunan Masyarakat Desa. Selanjutnya nama ini mengalami perubahan
dikarenakan adanya perbedaan penyebutan di masing-masing wilayah, maka melalui
Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 08/PER/
tentang Pedoman Pengembangan dan Pemberdayaan Lembaga Komunikasi Sosial nama
tersebut diganti menjadi KIM (Kelompok Informasi Masyarakat). Tugas KIM saat
ini tidak hanya menyampaikan informasi dari pemerintah, tetapi juga menjadi
wadah untuk menampung sekaligus menyalurkan segala aspirasi serta masukan dari rakyat
kepada pemerintah baik di tingkat Kecamatan, hingga Kabupaten.

Suharno atau yang akrab disapa pak Harno, di dalam kepengurusan
KIM Kertomandiri Kecamatan Turi berposisi sebagai sekretaris. Kini ia tengah
melakukan kaderisasi anggota yang nanti akan menggantikan perannya sebagai
sekretaris KIM Kertomandiri Turi. Bagi Suharno, suatu organisasi dapat
berkembang tergantung pada kreativitas dan inovasi dari individu yang bertindak
selaku sekretaris organisasi tersebut, sehingga dengan kreativitas dan inovasi
yang dimiliki itulah segala sesuatunya dapat diprogramkan dan dilaksanakan.

Terjun ke dunia yang membutuhkan jiwa kerelawanan yang tinggi sejak dahulu diakari oleh cita-cita mulia dari jiwa rela berkorban baik materi, pikiran, tenaga, maupun waktu, yang dimiliki Suharno. Motivasi terbesarnya untuk tetap berkarya dalam KIM meskipun sudah memasuki masa senja ialah keinginannya agar segala informasi apapun itu dapat segera diterima oleh masyarakat, kemudian informasi tersebut tidak hanya sebagai angin lalu tetapi langsung mendapatkan tanggapan oleh masyarakat untuk ditindaklanjuti. “Saya itu hanya mempunyai cita-cita seperti ini mbak, kalau informasi itu segera sampai ke warga masyarakat, warga masyarakat segera menindaklanjuti,” ujar Suharno di kediamannya di Desa Donokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Kamis (11/7/2019).

Sebagai tokoh yang dihormati dengan usia yang memasuki kepala tujuh, pernah terbersit dalam benak Suharno untuk pensiun dari KIM. Namun ia masih memegang kuat prinsip akan tetap berkegiatan di KIM selama dirinya masih sanggup melaju ke berbagai tempat. “Wah, saya Insya Allah asal saya masih bisa pergi kemana-mana pakai motor sendiri. Pakai mobil saya sudah gak boleh nyetir sendiri sama istri dan anak-anak saya,” tuturnya. Suharno pun fasih mengoperasikan ponsel pintar sehingga kini rajin mengirim berita ke Dinas Kominfo Sleman melalui aplikasi pesan.

Keikhlasan serta penuh tanggung jawab terus ditularkan
Suharno kepada para penggiat KIM Kertomandiri lainnya. Permasalahan relawan
yang kerap kali ditemukan adalah banyak dari mereka yang masih memikirkan
keuntungan secara materi yang akan diperoleh jika berkecimpung dengan KIM,
terlebih bagi mereka yang belum bekerja. Hal ini berbeda dengan Suharno,
jiwanya yang begitu jujur, amanah serta murni membantu program pemerintah
mengantarkannya tetap bertahan dalam forum ini.

Bagi Suharno, keberadaan KIM itu sangatlah bagus, sebab KIM memiliki tujuan serta visi misi yang jelas. Terlebih saat ini KIM telah memiliki payung hukum yakni Peraturan Bupati Sleman Nomor 51 Tahun 2017 tentang Kelompok Informasi Masyarakat. Dasar hukum ini sebagai motivasi untuk terus memajukan serta menggiatkan seluruh KIM yang ada. Sayangnya meski telah berbadan hukum, masih ada masyarakat yang tidak mengerti apa itu KIM. Suharno acap kali mendapat pertanyaan dari warga,  “KIM iku panganan opo to pak Harno? (KIM itu makanan apa sih pak Harno?)”. Lantas pertanyaan tersebut dijawab oleh Suharno dengan gurauan namun pesan utamanya tetap tersalurkan.   

“KIM iku panganan gudheg Yogjo sing asli seko manggar glugu, nikmat. Nikmati awak e dewe nek dadi KIM iso meriko-meriko, ngerti kono ki ndalane wes apik, ngerti kono wong e supel, oh kono ki wong e tanggapan ne itu ramah-ramah. Oh oh kae sumeh-sumeh, oh kae ndue anak wedhok ayu, aku nduwe anak lanang (KIM itu makanan gudheg dari Jogja yang asli dari bunga pohon kelapa, nikmat. Nikmatnya kita kalau jadi KIM bisa kesana-kemari, tahu di sana jalannya sudah bagus, tahu dia orangnya supel, oh di sana itu orangnya responnya ramah-ramah. Oh di sana itu kepribadian orangnya murah senyum, oh dia punya anak perempuan cantik, aku punya anak laki-laki),” kelakarnya.      

Beranggotakan 35 orang, pak Harno beserta kawan-kawan KIM
Kertomandiri Turi aktif berkegiatan sampai detik ini. Suharno menceritakan
bahwa mereka selalu melakukan pertemuan rutin tiap bulan di tanggal 20, selain
untuk menjalin silaturahmi juga membahas program-program dari KIM Kertomandiri
baik untuk kesejahteraan warga, anggota, juga usulan bagi pemerintah desa dan Kecamatan.
Program yang masih aktif digalakkan ialah meningkatkan kualitas hasil produk
anggota berupa olahan makanan dari salak, pertukangan, las besi, pertanian,
serta kerajinan. Semua produk tersebut perlahan-lahan mengalami kemajuan dengan
bantuan pinjaman modal dari koperasi Kertomandiri serta pemasaran yang turut
dibantu dan didorong oleh Suharno. Majunya KIM Kertomandiri Kecamatan Turi ini
tentunya berimbas pada perekonomian warga.

Melihat besarnya manfaat yang diperoleh dari KIM, bapak lima
anak ini berpesan kepada seluruh KIM tidak hanya di Kabupaten Sleman, dan DIY,
melainkan seluruh Indonesia untuk terus mengembangkan KIM, melaksanakan dengan
sebaik-baiknya sesuai aturan, serta membantu pemerintah untuk kepentingan
rakyat bukan untuk kepentingan pejabat. Melalui KIM, informasi dapat diterima
masyarakat, dapat mengantisipasi berita-berita tidak benar, dan dengan KIM
dapat meningkatkan rasa persaudaraan.

“KIM jangan dihina, KIM itu bermanfaat sekali bagi warga kalau mereka mau melaksanakan betul-betul,” pungkas Suharno di akhir percakapan.(Rep Bilqis)




Mencintai Warisan Budaya Melalui Kemah Budaya

Gamping – Kemah Budaya Pramuka se-Jawa (KBPJ)
diselenggarakan di Kompleks Candi Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa
Yogyakarta (DIY). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Kwarda DIY bekerjasama
dengan Pemda DIY ini dilaksanakan tanggal 10 – 13 Juli 2019. KBPJ 2019 diikuti
oleh 696 Peserta  yang berasal dari
Kwarda Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Tengah serta dari
Kontingen Cabang Sleman, Kulon Progo, Bantul, Kota Yogyakarta, dan Gunung Kidul.

Dalam sambutannya, Wakil Gubernur DIY, KGPAA  Pakualam X mengatakan penyelenggaraan kemah budaya
ini dimaksudkan sebagai wahana untuk menumbuhkan kecintaan dan meningkatkan
apresiasi generasi muda terhadap warisan budaya dan ikut serta melestarikan dan
menjaga kebudayaan yang adi luhung peninggalan nenek moyang.

KGPAA 
Pakualam X  juga menekankan bahwa gerakan
pramuka tetap relevan dengan perkembangan zaman. “Walapun era globalisasi penuh
dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, akan tetapi manusia tetap
merupakan faktor penentu yang paling utama. Revitalisasi gerakan Pramuka
merupakan salah satu pilar pendidikan bagi generasi muda di Indonesia,” ujarnya
saat membuka kemah budaya ini, Rabu (10/7/2019).

Kemah budaya ini diisi karnaval budaya mengitari
Kompleks Candi Prambanan dan pentas karnaval oleh masing masing kontingen. Peserta
kemah budaya kemudian dibagi ke lima subcamp di empat kabupaten dan satu kota
di DIY, yakni di Desa Wisata Pentingsari di Kabupaten Sleman, Kampung
Dipowinatan di Kota Yogyakarta, Desa Wisata Nglanggeran di Kabupaten Gunung Kidul,
Kompleks Taman Budaya di Kabupaten Kulon Progo, dan Desa Wisata Tileng di Kabupaten
Bantul. Di desa wisata ini peserta diajak untuk mengenal budaya lokal melalui upacara
adat, permainan tradisional, dan pembuatan kerajinan.

Selama kemah budaya peserta diajak menambah pengetahuan melalui sarasehan budaya dan bioskop keliling. Selain itu mereka juga akan mengunjungi Benteng Vredeburg, Keraton Jogja, Museum Sonobudoyo, Masjid Gede Kauman, dan Gedung Agung.

Kemah budaya ini dilengkapi dengan Festival Kuliner se-Jawa, dan di akhir kegiatan pada 13 Juli nanti akan dilakukan peluncuran kegiatan Jogja International Scouts Camp yang akan dilaksanakan tahun 2020 mendatang.(KIM Gamping/Wawan)