Komunitas Pecinta Burung Hantu Bantu Petani Basmi Hama Tikus

Ngaglik – Berawal dari keprihatinan melihat petani gagal panen akibat tanamannya diserbu hama tikus, tersebut, Josefat Agung Sulistyo dan kawan kawan yang tergabung dalam Raptor Club Indonesia (RCI) merasa terpanggil untuk membantu. Caranya, mereka membantu petani memburu tikus dengan menempatkan predator alami burung hantu jenis Serak Jawa atau Tyto Alba Javanica ke lahan petani yang sering gagal panen akibat ulah hewan pengerat ini.
“Burung hantu merupakan musuh bebuyutan tikus dan kerap
digunakan sebagai hewan pembasmi hama tikus di lahan pertanian. Sebagai
predator alami, burung hantu jenis Serak Jawa merupakan pemburu yang paling populer
dan sangat handal dibanding pemangsa yg lain seperti ular atau musang,” ujar Jose,
panggilan akrabnya, saat ditemui di salah satu stan Pekan Daerah Kelompok Tani
Nelayan Andalan (PEDA KTNA) DIY tahun
2019 di Lapangan Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Juamat (12/7/2019).
Kebiasaan tikus sawah mencari makan pada malam hari, klop
dengan burung hantu yang juga beraktifitas pada malam hari. Dengan penglihatan
yang sangat tajam burung hantu dapat melihat mangsa dari kejauhan, juga
memiliki pendengan yang sangat tajam mampu mendeteksi keberadaan tikus dalam
jarak yangg relatif jauh. Kepak sayap yang hampir tidak terdengar serta insting
sebagai pemangsa menjadikan burung hantu predator yang bisa diandalkan.
Menurut Jose caranya ini lebih baik dan ramah lingkungan. Selama
ini para petani biasanya mengandalkan racun atau melakukan perburuan
beramai-ramai untuk mengendalikan tikus, tetapi semakin lama populasi tikus
justru semakin sulit dikendalikan yang mengakibatkan petani berkali-kali
mengalami gagal panen. Bahkan kerusakan tanaman yang diakibatkan oleh tikus bisa
mencapai seratus persen.
“Dalam sehari burung hantu sanggup makan tikus dewasa 1-2
ekor akan tetapi bila masih ada tikus hidup yang tersisa, burung hantu tak
segan membantai tikus-tikus tersebut sampai habis,” ungkap Jose.
Di Raptor Club Indonesia
yang beranggotakan para pemelihara dan pemerhati burung pemangsa ini, mereka
memfasilitasi masyarakat umum yang ingin mengajukan pendampingan atau pelatihan
terkait dengan pelestarian burung pemangsa serta aplikasi di lapangan sebagai
bentuk dukungan kepada petani dalam pengendalian hama tikus.
“Kami senang dan bangga apabila yang kami lakukan ini
bermanfaat bagi petani, maka pendampingan kami berikan secara gratis. Hanya
dukungan warga saja yang kami butuhkan. Dari pengalaman yang sudah kami lakukan,
burung hantu ini sangat efektif mengendalikan hama tikus. Memang hasilnya tidak
instan biarpun pelan tapi pasti dan sangat ramah lingkungan,” pungkas Jose.
Saat ini Raptor Club Indonesia memiliki kawasan Study dan Konservasi Alam
Tyto Alba di Dusun Cancangan, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten
Sleman. Di sana, induk burung hantu bertelur 2-3 kali pertahun berjumlah 6-12
butir setiap kali bertelur dengan masa pengeraman 27-30 hari. Anak burung hantu
mulai belajar terbang pada umur 2,5 bulan dan belajar berburu pada umur 3
bulan.(KIM Ngaglik/ Upik Wahyuni)


