Wajah Baru Posyandu: Integrasi Layanan Sosial Dasar

Ngaglik – Posyandu hanya sebagai tempat menimbang balita adalah paradigma lama yang sudah harus ditinggalkan. Kini, pelayanan di Posyandu menjadi lebih banyak dan fungsinya pun lebih luas.

“Kini pengembangan posyandu cakupannya lebih luas. Meliputi pembinaan gizi dan kesehatan ibu dan anak, pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan, perilaku hidup bersih dan sehat, kesehatan lanjut usia, bina keluarga balita, pos PAUD, dan masih banyak lagi,” ujar Sungkawati Budi Rahayu, Kepala Seksi Penguatan Kelembagaan dan Kapasitas Masyarakat Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa dalam acara pembinaan posyandu di Op Room Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Kabupaten Sleman, Rabu (17/7/2019).

Ditambahkan Sungkawati, fungsi lain Posyandu adalah pencapaian penganekaragaman konsumsi pangan, pemberdayaan fakir miskin, komunitas adat terpencil dan penyandang masalah kesejahteraan sosial, kesehatan reproduksi remaja dan peningkatan ekonomi keluarga.

Mensinergikan berbagai layanan sosial dasar yang dibutuhkan masyarakat ke dalam Posyandu ini berdasarkan Permendagri Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pengintegrasian Layanan Sosial Dasar di Posyandu. Secara garis besar, artinya Posyandu adalah tempat perbaikan kesehatan dan gizi, pendidikan dan perkembangan anak, peningkatan ekonomi hingga ketahanan pangan dan keluarga dan kesejahteraan sosial.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Budi Sutamba Saputra dalam sambutannya menyampaikan harapannya agar posyandu menjadi perhatian yang diprioritaskan karena menyangkut penyiapan generasi penerus, di mana posyandu memberikan perhatian kepada bayi sejak belum lahir.

“Pengintegrasian layanan dasar di posyandu akan menyajikan generasi yang ada pada 15 sampai 20 tahun ke depan, jadi perlu perhatian kita semua bagi terwujudnya generasi yang lebih baik,” jelas Budi Sutamba di hadapan Kepala Seksi Pelayanan pemerintah desa se-Kabupaten Sleman. (KIM Ngaglik/Endarwati)




Aksesoris Logam Lokal Sleman Bersaing Dengan Tiongkok

Sleman – Bekerja selama 11 tahun membuat aksesoris logam di perusahaan asal Korea Selatan, Sugeng Prawoto memberanikan diri membuka usaha di bidang yang sama.

Kini, dengan ilmu dan teknologi yang dibawanya, usaha Sugeng mampu memproduksi 1000 buah aksesoris perhari dan menjadi pemasok utama produk kerajinan logam seperti medali, bros, souvenir pernikahan, emblem, dan barang-barang kebutuhan instansi.

pegawai menghaluskan logam

Dibantu 11 karyawan yang semuanya adalah tetangga sekitar, Sugeng mengerjakan segala proses pembuatan aksesori logam untuk memenuhi kebutuhan pasar. Mulai dari desain, pengecoran logam, pewarnaan, sampai pengemasan.

Bahan bakunya adalah timah Bangka, yang didapatnya justru dari Semarang. Sugeng mengaku belum mampu mendapatkan bahan baku timah langsung dari Pulau Bangka.

Berdiri sejak tahun 2007, bukan berarti usaha Sugeng tanpa pesaing. Tiongkok disebutnya sebagai pesaing terberat saat ini.

“Tiongkok itu sebenarnya cuma sistemnya (yang lebih maju), bahannya sama. Menurut saya mereka punya semacam intelijen market, yang bisa mengetahui tren pasar di dunia lalu mereka meniru produknya,” ujar Sugeng saat ditemui di studionya di Kampung Noyokerten, Padukuhan Petungrejo, Desa Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Selasa (16/7/2019).

Sugeng mengaku tidak pernah takut dengan persaingan menghadapi raksasa industri dunia itu. Caranya, Sugeng mengambil langkah agar juga tidak ketinggalan tren. Untuk desain produk, Sugeng saat ini bekerjasama dengan perguruan tinggi.

Untuk pemasaran, Sugeng rajin mengikuti pameran yang beberapa di antaranya difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten Sleman. Sugeng mengaku tidak menjual produknya secara langsung, tapi ia menjadi pemasok untuk toko-toko aksesoris.

“Sekarang yang sedang ramai pesanan itu medali lomba lari, sedangkan kalau aksesoris itu kontinyu (selalu ada pesanan),” pungkas Sugeng,