Lansia Dusun Petung Dikunjungi Tamu Mancanegara

Cangkringan – Warga masyarakat Dusun Petung, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman menerima tamu terhormat dari berbagai negara seperti Jepang, Hongkong, Korea dan Hawai, Selasa (23/7/2019). Para tamu tersebut datang dalam rangka field visit yaitu mengunjungi dan melihat kegiatan lanjut usia (lansia) yang ada di Dusun Petung.

Warga masyarakat terutama lansia menyambut dengan senang
hati kedatangan tamu-tamu tersebut. Selain melihat kegiatan posyandu lansia,
para tamu juga melihat hasil potensi lokal yang dihasilkan oleh masyarakat
dusun Petung seperti kopi merapi, susu murni, keripik dan lain sebagainya. Selain
itu, para tamu juga melihat proses pemerahan susu sapi di kandang kelompok
dusun Petung.

Puskesmas Cangkringan sebagai pembina posyandu lansia di
Dusun Petung menyatakan rasa senangnya atas kunjungan ini. “Saya sangat bangga
dan sangat berterima kasih atas kehadiran tamu-tamu terhormat dari berbagai negara
ini” ujar Setiadi, Kepala Subbag Tata Usaha Puskesmas Cangkringan saat
menyambut para tamu dari mancanegara ini.

Pada kesempatan itu, para tamu juga mengikuti kegiatan senam
lansia salah satunya senam otak dan senam anti stroke di balai pertemuan Dusun
Petung. Selain itu mereka juga mengungkapkan bahwa mereka kagum terhadap lansia
di wilayah Cangkringan yang masih sehat dan produktif meskipun usianya sudah
lanjut.

Data dari Badan Pusat Statistik Tahun 2017, populasi penduduk
usia 60 tahun ke atas di Desa Kepuharjo mencapai 14 persen dari total penduduk.
Penduduk lanjut usia ini dilayani lewat posyandu lansia yang berada di wilayah
kerja Puskesmas Cangkringan.

Rombongan tamu mancanegara ini didampingi oleh Prof Tri Budi W Rahardjo dan rombongan dari Universitas Respati. Sementara di pihak tuan rumah, selain Puskesmas Cangkringan turut menyambut adalah Kepala Dusun Petung, tim penggerak PKK Desa Kepuharjo, Pemerintah Desa Kepuharjo, kader, dan masyarakat Dusun Petung.(KIM Cangkringan/Sumarno/Eva)




Kecamatan Cangkringan Perangi Stunting

Kecamatan Cangkringan menunjukkan respon yang baik terkait
isu stunting. Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID) Kecamatan Cangkringan melaksanakan
kegiatan Konvergensi Pencegahan Stunting dengan melibatkan kader kesehatan, kader
PAUD dan Kepala Seksi Pelayanan Pemerintah Desa se-Kecamatan Cangkringan.

“Kegiatan konvergensi stunting ini sangat penting sebagai
wujud kesiapsiagaan Kecamatan Cangkringan dalam merespon isu terkait stunting. Semoga
di Cangkringan terjadi peran aktif seluruh lapisan masyarakat dalam pencegahan stunting,
dan angka stunting dapat lebih ditekan pada generasi yang akan datang,” harap
Marmansyah, Ketua TPID Kecamatan Cangkringan saat Konvergensi Pencegahan
Stunting di Kantor Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Senin (22/7/2019).

Angka stunting (gagal tumbuh/kerdil) di Indonesia berada
dalam kisaran 38% dari jumlah penduduk seluruh Indonesia, sedang untuk Kabupaten
Sleman berada pada 19,8 % dan Cangkringan ada di kisaran 7%. Ambang batas
minimal adalah 20%.

“Walaupun Sleman berada di bawah ambang batas bukan berarti
kita tidak bersiap dalam menanggulangi angka stunting,” tambah Marmansyah.

Peran desa dengan APBDes sangat diperlukan dalam penanganan dan pencegahan stunting. Agung Dwi Maryoto, Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Cangkringan menyampaikan bahwa setiap desa di Cangkringan telah bersepakat dalam APBDes sudah mengalokasikan 10% dari Dana Desa untuk penanganan masalah kesehatan. Cangkringan juga merupakan salah satu kecamatan yang telah memproklamirkan Stop BABS (Buang Air Besar Sembarangan).

Sementara itu Sugeng, Kepala Puskesmas Cangkringan menyampaikan bahwa stunting harus dicegah dari sejak remaja putri beranjak dewasa sampai dengan menjadi ibu rumah tangga. Kegiatan yang dilakukan Puskesmas untuk memerangi stunting adalah dengan pemberian dan minum kapsul penambah darah secara bersama dan rutin setiap hari Sabtu di sekolah SMP dan SMA, sosialisasi dengan calon ibu terkait dengan penyiapan gizi keluarga, serta kegiatan Posyandu dan pelayanan Puskesmas Keliling rutin di 78 Posyandu yang ada di wilayah Cangkringan.(KIM Cangkringan/Marmansyah)




Sekolah Lanjut Usia Wisuda 36 Siswa

Ngaglik – Para lanjut usia (lansia) hari itu berbangga diri,
senang, dan terlihat sangat sumringah. Sejak pagi para sepuh ini sudah siap
berpakaian dengan toga wisuda sarjana lansia, lengkap dengan topi wisuda dan
tali kuning gading.

Para sepuh ini adalah mereka yang belajar di Sekolah Lanjut
Usia (SLU) yang digagas Indonesia Ramah Lansia, sebuah organisasi non
pemerintah yang berkontribusi untuk mewujudkan lingkungan ramah lansia dengan
pendekatan program berkesinambungan dan perawatan jangka panjang. Hari itu
mereka akan menjalani wisuda di Dusun Karet, Desa Pleret, Kecamatan Pleret,
Kabupaten Bantul, Selasa (23/7/2019).

Direktur Indonesia Ramah Lansia, Endah mengatakan bahwa para
sepuh ini sudah direncanakan dan dirancang lama untuk wisuda dengan sukses. “Hal
ini penting, bahwa lansia dihargai dan dibuat senang dan nyaman. Semoga dengan
wisuda dan memakai toga lengkap menambah semangat dan mantap menempuh kehidupan
di hari tua,” terang Endah.

Dalam kesempatan ini Indonesia Ramah Lansia mewisuda 36 peserta
SLU dan 6 caregiver. Selain rombongan tamu dari negara Asia Pasifik, turut
hadir pemerhati lansia dari Hawaii, Singapura, 
Malaysia, Thailand, India, Hongkong, Cina, Vietnam, Filipina, Korea, dan
Jepang. Yang mewisuda adalah Prof. Kathryn Braun selaku President of Active Ageing
Consurtium Asia Pasific (ACAP), USA didampingi oleh Prof. Tri Budi W. Raharjo sebagai
Penasehat IRL, Prof. Takeo Ogawa dari Jepang, Ms. Thelma Kay dari Singapura
serta Ashish Goek, MD Mph dari India dan lainnya.

Presiden ACAP, Prof. Kathryn Braun sangat mengapresiasi wisuda ini. “Selamat kepada wisudawati yang ditunggu-tunggu, dan nantinya kegiatan seperti ini akan ditiru negara lain,” ungkapnya. Sementara Prof Tri Budi W Raharjo menyatakan berbangga hati dengan wisuda ini. “Ternyata angan-angan yang dulu mustahil hari ini praktis menjadi kenyataan, bahwa lansia juga bisa sekolah dan diwisuda, ini semangat para lansia bangkit untuk masa depannya,” ujar guru besar Universitas Respati Jakarta ini.

Salah seorang wisudawati, Sudayati yang berusia 62 tahun mengaku bangga masih bisa sekolah lansia dam diwisuda. (KIM Ngaglik/Suripto)