Tangani Sampah Mulai dari Diri Sendiri

Cangkringan – Masih banyak masyarakat yang membuang sampah sembarangan dan merugikan orang lain. Hal ini dituturkan Aziz Muslim, Dosen Universitas Islam Negeri Yogyakarta.

Fenomena
ini miris sebab menurut Aziz penanganan sampah harusnya berawal dari diri
sendiri.

Koordinator pengelola sampah mandiri di Padukuhan Pakem Tamanmartani Kalasan Sleman ini berkesempatan mengisi sosialisasi penanganan sampah di Aula Masjid At-Taqwa, Rabu (31/7/2019).

Dalam
sosialisasi, Aziz menyampaikan Fatwa MUI nomor 47 tahun 2014 bahwa membuang
sampai itu haram. Karenanya, Aziz berharap setiap rumah tangga mempunyai 3
tempat sampah seperti plastik besar yang berguna untuk memilah sampah kemasan,
sampah plastik, dan sampah kertas.

“Setelah
terkumpul penuh sampah selanjutnya disedekahkan ke bak-bak sampah dan oleh
pemuda atau pengelola sampah untuk selanjutnya dijual dan hasilnya digunakan
untuk 50 persen untuk pemuda, 25 persen untuk pengurus, dan 25 persen untuk
padukuhan,” ujar Aziz.

Selanjutnya,
Aziz menuturkan untuk sampah organik dimasukkan ke biofori untuk memupuk
tanaman. “Sampah berasal dari kita. dan kita sendiri yang harus bisa mengatasi
sampah itu sendiri, jangan sampai merugikan orang lain,” tambahnya.

Aziz
berharap dengan kesadaran masyarakat mengelola sampah secara mandiri, masyarakat
terhindar dari penyakit dan terwujud lingkungan bersih, indah, dan nyaman. (KIM
Cangkringan/ Mujiyanta)




Menata Masa Depan di Huntap Dongkelsari, Hunian Warga Terdampak Erupsi Gunungapi Merapi

Padukuhan Srodokan-Gungan adalah sebuah kampung yang bergeser 3 kilometer jauhnya akibat erupsi Gunungapi Merapi tahun 2010. Bergeser bukan dalam arti harfiah, melainkan karena warga kampung ini pindah serentak di wilayah baru yang lebih aman bernama hunian tetap (huntap) Dongkelsari.

Mereka pindah dengan membawa serta status dalam identitas
kependudukan. Nama kampung tetap sama, Srodokan-Gungan, status alamat warga
secara administrasi juga tetap. “Kalau ada warga dulunya masuk RT 01, di tempat
baru ini juga tetap sama,” papar Totok Hartanto, Dukuh Srodokan-Gungan saat
menemui delegasi Kota Kagoshima, Jepang, di pendopo huntap Dongkelsari,
Padukuhan Srodokan-Gungan, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten
Sleman, Rabu (31/7/2019).

Menurut Totok, tak terbayang kerepotan kalau semua warga
harus mengubah status kependudukan mereka. Sedangkan saat itu kondisi warga
masih belum pulih pasca bencana erupsi.

Hunian tetap Dongkelsari adalah pemukiman relokasi dari korban bencana erupsi Gunungapi Merapi tahun 2010. Warga yang tinggal disini semuanya berasal dari Padukuhan Srodokan-Gungan, nama kampung lama mereka di tepi Kali Gendol yang tersapu rata oleh pasir dan batu saat erupsi besar 5 November 2010.

Dulu tiap KK mendapatkan bantuan Rp30 juta dalam bentuk
rumah sederhana. Bentuk asli rumah sederhana ini bisa dilihat di museum
dokumenter kebencanaan yang ada di huntap ini. Museum ini adalah bangunan rumah
huntap yang masih asli, temboknya batako yang belum diplester dan berlantai
tanah.

Di dalam museum ini ada banyak foto berukuran A4 yang menggambarkan suasana pasca erupsi Gunungapi Merapi tahun 2010. Selain itu juga ada peta kawasan Rawan Bencana, perkakas dapur yang penuh abu vulkanik, dan bangkai sepeda motor yang hangus terbakar. Menilik informasi yang terpasang di dinding, museum ini tadinya adalah rumah milik Eko Febrianto yang merelakan rumahnya dijadikan museum. Bangunannya sengaja tidak diubah sebagai pengingat kondisi awal rumah saat diberikan pemerintah dulu.

Windar, seorang ibu rumah tangga bercerita sejarahnya
menghuni huntap ini. Windar sudah mengungsi mulai 4 November sebelum erupsi.
Setelah itu ia berpindah-pindah pengungsian, bahkan sampai ke Piyungan, Kabupaten
Bantul.

Windar juga merasakan mendiami hunian sementara
(huntara), bangunan non permanen yang terbuat dari anyaman bambu, sampai mulai
April 2013 ia mulai menempati huntap yang dibangun di atas lahan huntara itu.

“Sempat kesusahan juga selama menunggu huntap itu, harus mengungsi lagi,” aku Windar. Bekas rumahnya di pemukiman lama sekarang untuk kebun yang ditanami tanaman keras dan singkong. Untuk mata pencaharian, sekarang Windar berdagang. Adapun profesi warga lainnya ada yang tetap menjadi petani, dan penambang pasir.

Kalau ada kendala di huntap, maka itu adalah ukuran
lahan. Di huntap ini mereka mendapatkan tanah seluas 100 meter persegi sebagai
lahan tempat tinggal, sedangkan di pemukiman lama umumnya warga memiliki lahan
yang luas yang cukup untuk berkebun sekaligus beternak.

“Yang jadi kendala, kalau mau beternak sapi tidak ada
lahannya. Lahan yang lama terlalu jauh dan tidak aman (karena tidak
ditunggui),” aku Windar. Meski ada perbedaan karena dulu tinggal di tanah yang
luas dan sekarang tanah lebih sempit, Windar mengaku lama-lama bisa menerima
dan menyesuaikan diri.

Masalah keterbatasan lahan ini dibenarkan Dukuh Srodokan-Gungan, Totok Hartanto. “Itu masalah yang sampai sekarang belum ketemu solusinya. Keluarga terus berkembang karena anak-anak menikah, tapi lahan tempat tinggal terbatas. Sekarang ini bahkan sudah ada rumah yang dihuni 3 KK,” ujar Totok. Ini menjadi pelik karena mereka tidak diperbolehkan menghuni kembali kampung lama mereka karena termasuk Kawasan Rawan Bencana III.

Secara sosial kemasyarakatan, Totok menyatakan tidak ada
perbedaan berarti. “Disini aman, walaupun kita pindah tapi penulisan alamat
tetap, status kependudukan tetap, hubungan sosial juga tetap sama,” kata
Totok. Selain itu, menyangkut kesiapsiagaan bencana, setelah erupsi 2010 masyarakat
sekarang lebih siap siaga dan sadar karena punya pengalaman pernah menghadapi
bencana erupsi.

Huntap Dongkelsari berada di tanah yang berbukit, saat ini sudah dilengkapi dengan rumah ibadah, sekolah, sarana air bersih, sanitasi, petunjuk jalur evakuasi, dan balai pertemuan. Di sebelah baratnya mengalir sungai berair jernih dan sawah berterasiring yang apik.

Saat ini huntap Dongkelsari didiami 160 KK yang menempati 147 rumah. Huntap Dongkelsari hanyalah salah satu dari 11 huntap yang tersebar di beberapa kecamatan di Kabupaten Sleman. Sekarang warga di huntap menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, pelan-pelan menata ekonomi dan menata pemukiman mereka sekarang yang akan diturunkan kepada anak cucu mereka kelak.