Bukit Klangon Hasilkan Calon Pemuda Pelopor DIY

Sumarno, seorang pemuda Desa Glagaharjo mencetuskan “Klangon
Gravity Park”, yaitu pemanfaatan alam di bidang olahraga sepeda gunung. Pemanfaatan
alam desa di lereng Gunungapi Merapi ini adalah pembuatan jalur lintasan khusus
yang digunakan oleh pesepeda gunung di sekitar obyek wisata Bukit Klangon.

Inovasi ini membawa Sumarno menjadi kandidat Calon Pemuda
Pelopor tahun 2019 Tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebelumnya Sumarno sudah
meraih predikat ini di tingkat Kabupaten Sleman.

“Kami pemerintah Desa Glagaharjo sangat mendukung untuk Mas
Sumarno sebagai pemuda pelopor di bidang sumber daya alam, dan kami juga
berharap ini tidak hanya untuk lomba semata. Tapi, sebagai ajang untuk evaluasi
untuk kemajuan wisata serta pengelolan alam di Bukit Klangon. Jangan sampai
masyarakat dirugikan atas apa yang sudah kita lakukan,” tutur Kepala Desa
Glagaharjo, Suroto saat menerima tim juri Calon Pemuda
Pelopor tahun 2019 Tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta di Bukit Klangon, Desa
Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Selasa (6/8/2019).

Suroto berharap Sumarno menjadi contoh untuk teman-temannya bergerak
dalam pemanfaatan lingkungan. Di Bukit Klangon, tantangannya tidak mudah bagi
pemuda dan masyarakat menjadikan daerahnya sebagai obyek wisata sekaligus menjaga
dan mengelolanya agar alam tidak rusak.

Pemilihan Pemuda Pelopor rutin diadakan setiap tahun bagi
pemuda pemudi yang memiliki jiwa sosial dan kemasyaraatan. Ada lima bidang
kepoloporan yang dipilih antara lain bidang pangan, teknologi tepat guna,
pendidikan, sosial budaya pariwisata, dan pengelolaan sumber daya alam dan
lingkungan.(Kim Cangkringan/Sumarno)




G2R Tetraprenuer Angkat Potensi Desa Tampil di Pasar Global

Ngaglik
– Gotong-royong merupakan kepribadian bangsa yang telah berakar kuat dan
menjadi ciri khas yang dimiliki bangsa Indonesia sejak zaman dahulu. Kegiatan
yang dilakukan secara bersama-sama dan bersifat sukarela dimaksudkan agar
kegiatan berjalan lancar, mudah, dan lebih ringan. Di samping itu dengan
perilaku gotong-rotong maka hubungan persaudaraan atau silaturahmi akan semakin
erat. Nilai dan sikap gotong-royong inilah yang mendasari G2R (Global Gotong-Royong)
Tetraprenuer dalam memotivasi dan meningkatkan semangat seluruh elemen
masyarakat desa untuk mewujudkan cita-cita yang lebih besar dengan cara
menggali dan mengerahkan potensi desa melalui kegiatan wirausaha yang membawa
kearifan lokal tersebut tembus ke kancah dunia.

Demikian
dikatakan Profesor Rika Fatimah inisiator sekaligus tenaga ahli G2R
Tetraprenuer yang juga guru besar di Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM dalam
acara yang digelar oleh Pemdes Donoharjo dengan tajuk Pembinaan Pelaku UMKM
dalam meningkatkan Potensi Desa untuk Kesejahteraan Bersama, Selasa (6/8/2019).

“Keseharian
gotong-royong di masyarakat selama ini baru sebatas kegiatan sosial. Nilai
luhur yang tercipta dari gotong-royong antara lain sikap tolong-menolong, tanpa
pamrih, mengedepankan kepentingan orang banyak, bersatu dalam perbedaan, bijak
dalam mengambil keputusan bersama, saling peduli dan menyayangi sesama serta
nilai-nilai luhur yang lain harus juga diterapkan dalam kegiatan ekonomi di
desa,” kata Prof Rika.

Di
hadapan para pelaku UMKM, Karang Taruna, Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani),
Pengurus BUMDes, PKK, LPMD, tokoh masyarakat Prof Rika Fatimah mengatakan bahwa
G2R Tetraprenuer merupakan konsep pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi
yang mentransformasikan gotong-royong di bidang ekonomi. Oleh karena itu, untuk
menggali potensi desa diperlukan dukungan dari semua elemen masyarakat yang
meliputi Pemdes, lembaga desa, pelaku usaha, dan juga masyarakat luas sehingga
akan tercipta produk unggulan yang akan menjadi ikon desa di bawah pendelolaan
BUMDes yang dimiliki oleh masing-masing desa.

Berkaitan
dengan hal tersebut, Prof Rika memperkenalkan konsep atau model G2R
Tetraprenuer yang merupakan gerakan inovasi desa berbasis 4 pilar wirausaha
yaitu rantai wirausaha (tetra 1) yang menentukan produk unggulan desa. Produk
tidak sebatas barang yang dihasilkan dari wirausahawan seperti makanan, craft atau
produk pertanian, wisata serta fasiltas pendukungnya seperti kuliner, souvenir,
kerajinan tetapi juga bisa berupa jasa atau bahkan BUMDes itu sendiri.

“Apabila
berwujud barang maka bahan baku dan proses produksi 80% harus berada di desa
setempat sehingga akan memberikan lapangan pekerjaaan yang lebih banyak.
Selanjutnya produk akan dilelola oleh korporasi desa melalui satu pintu yaitu
BUMDes,” ungkap Pendiri Yayasan Global Thoyiban Academy tersebut.

Fase
tetra ke-2 disebut pasar wirausaha yaitu mempersiapakan produk potensial desa
agar kualitas sesuai dengan segmentasi dan standar pasar yang dituju.

Fase
tetra ke-3 yaitu kualitas wirausaha, dalam fase ini diharapkan dapat
mengakselerasi tidak hanya kualitas produk tetapi juga kualitas sumber daya
manusia di desa sehingga tercipta efektivitas dan efisiensi sesuai dengan
kebutuhan pasar terutama pasar global.

“Sejauh
ini sudah ada kemitraan dan komitmen dengan Yayasan Silaturahmi dan Sosial
Cendekia (S2C) dalam hal penyediaan pasar berbasis tanpa kompetisi,
pengembangan produk, pendampingan dan kerjasama kemitraan lainnya” tutur
prof Rika.

Fase
tetra 4 yaitu merek wirausaha apabila telah tercipta produk desa maka pengemasan
sangat diperlukan untuk menyasar ke berbagai lapisan masyarakat yang sesuai
dengan karakter pasar yg dituju. Untuk barang setiap produk direncanakan
mempunyai 4 jenis kemasan yaitu ritel, reguler, souvenir, dan premium.

Rika
mengatakan branding dan packaging sangat penting agar produk yang
dihasilkan tidak terkesan biasa biasa saja tetapi terkesan lebih mewah dan
elegan sehingga bisa diterima pasar baik dalam maupun luar negeri.

Anang
Patri Widyantoro, Sekretaris Desa Donoharjo menyambut positif G2R Tetraprenuer
sebagai salah satu upaya kreatif mengawinkan budaya gotong-royong dan
kewirausahaan sebagai potensi desa agar mampu mempercepat perkembangan ekonomi
menuju masyarakat yang sejahtera. (KIM Ngaglik/ Upik Wahyuni)




Sabun Herbal Alternatif Obati Alergi Tanpa Bahan Kimia

Taman
Bacaan Masyarakat (TBM) Wijaya Kusuma mengadakan Kelas Sekolah Keterampilan
Wijaya Kusuma (SKWK) tentang membuat Sabun Herbal. Kegiatan ini telah menjadi
kegiatan rutin mingguan yang diadakan pada setiap hari Selasa pukul WIB.

Kelas
Pembuatan Sabun Herbal ini bertujuan untuk menambah pengetahuan dan
keterampilan anggota SKWK. “Untuk menambah skill, keterampilan bisa
membuat sabun, bisa juga untuk meningkatkan nilai ekonomi kalau semisal
sabunnya dijual, dan juga dari sisi kesehatan tentunya juga bagus”, ujar Dini
Suryaningsih, selaku pemateri saat kegiatan SKWK Selasa (6/8/2019) di Pendopo
Kantor Desa Wedomartani.

Dini
mengatakan bahwa ia menjadi pembuat sabun herbal karena awalnya memiliki alergi
terhadap sabun pabrikan. Sabun herbal ini dijelaskan Dini dibuat dari bahan
utama minyak herbal, seperti minyak kelapa, minyak sawit, minyak zaitun, minyak
sunflower, minyak kanola, dan lain sebagainya. Menurutnya, produk ini bisa
menjadi solusi alternatif untuk mengobati akibat alergi terhadap bahan–bahan
kimia.

Kelas
SKWK diikuti oleh 35 peserta. Sebagian besar peserta mengikuti kelas ini karena
merasa ingin tahu dan ingin menambah pengetahuan mereka mengenai sabun herbal.
“Saya datang kelas ini karena penasaran saja tentang pembuatan sabun herbal
karena yang sebelumnya saya tidak datang”, kata Aisyah salah satu peserta yang
hadir.

Selain
Program Sekolah Keterampilan Wijaya Kusuma, TBM Wijaya Kusuma juga memiliki
program lainnya, yaitu program baca dan peminjaman buku, program kelas menulis,
program pustaka keliling, program kantong buku, literasi digital, program
literasi sains, program literasi budaya, program literasi finansial/keuangan, serta
program kelas berbagi. (Rep Dias)