Camat Gamping Resmi Bubarkan Paskibraka Gamping 2019

Gamping – Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-74 Kecamatan Gamping selesai melaksanakan tugasnya, Selasa (20/8/2019). Pasukan yang beranggotakan puluhan siswa-siswi sekolah menengah atas yang berada di wilayah Kecamatan Gamping ini berasal dari Sekolah Menengah Umum Negeri 1 Gamping, Sekolah Menengah Kejuruan Pelayaran Putra Samodra, Sekolah Menengah Kejuruan Muhammadiyah Gamping dan Sekolah Menengah kejuruan Yayasan Pendidikan Kejuruan dan Keterampilan 1 Gamping.

Komandan Paskibraka, Muvit menyampaikan laporan kepada Camat Gamping, Arif Marwoto bahwa pengibaran Sang Saka Merah Putih sudah selesai dilaksanakan di lapangan Banyuraden, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman.

Arif Marwoto menyampaikan kepada seluruh anggota Paskibraka bahwa Pemerintah Kecamatan Gamping mengucapkan terima kasih dengan partisipasi mereka yang sudah mengikuti gladi hingga pengibaran bendera merah putih di hari proklamasi ke-74. Camat Gamping juga berterima kasih kepada Tim Pelatih Paskibraka yakni Kanit bimas Polsek Gamping, Ipda Totok Subaryanto sebagai Pembina, beserta instruktur Paskibra yang beranggotakan Bati Bakti Koramil 17/GP, Serma Tejo Supriyanto, Sabara Bahasa Desa Balecatur Koramil 17/GP, Serka Acip Mulyana, Babin Kamtibmas Desa Banyuraden Polsek Gamping, Aiptu Ifanudin, Kasi Tramtib Gamping, Harley Benjamin Josua, beserta Staf Tramtib, Sumarsono dan Teguh Guntur.

“Kami sangat berterima kasih atas partisipasi dan kerjasamanya sehingga pelaksanaan pengibaran bendera pusaka merah putih terlaksana dengan baik dan lancar. Merah putih telah berkibar di hari kemerdekaan Republik Indonesia. Semoga kita semua dapat memanfaatkan kemerdekaan yang sudah diraih bangsa ini dengan memajukan negeri tercinta dan meningkatkan kualitas diri untuk membangun Nusantara,” ucap Arif.

Turut hadir dalam pembubaran Paskibraka Kapolsek Gamping, Kompol Sudaryo, Wadanramil 17/GP, Kapten Infanteri Kusno, serta Sekretaris Kecamatan Gamping, Trisno Sunardi. (KIM Pararta Guna Gamping/Adnan Nurtjahjo)




Rukun Anggayuh Karaharjan, Gamping Gegayengan 2019

Gamping – Dalam rangka memperingati 74 tahun proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dan melestarikan seni budaya bangsa, Pemerintah Kecamatan Gamping bersama dengan semua pemangku kepentingan yang berada wilayah di Kecamatan Gamping menggelar acara gelar seni budaya bertajuk Gamping Gegayengan dengan mengusung tema Rukun Anggayuh Karaharjan, Selasa (20/8/2019).

Sejak dahulu kehidupan seni budaya di Kecamatan Gamping tumbuh dan berkembang. Tentu saja, dalam perjalanan waktu ada banyak tantangan dan hambatan yang menghadang perkembangan seni budaya di wilayah Kecamatan Gamping. Untuk itu diperlukan usaha membangun kesadaran dan kepedulian terhadap kepemilikan atas seni dan budaya yang menjadi faktor utama dalam menjaga dan melestarikannya.

Malam pembukaan perhelatan seni budaya Gamping ini dihadiri Camat Gamping, Arif Marwoto, Kapolsek Gamping, Kompol Sudaryo, Wadanramil 17/Gamping, Kapten Kusno, serta Sekretaris Kecamatan Gamping, Trisno Sunardi bersama seluruh Kepala Seksi dan staf pemerintah Kecamatan Gamping.

“Kata Gegayengan berasal dari bahasa Jawa Gayeng yang berarti kemeriahan dan kegembiraan. Giat ini sebagai salah satu upaya untuk menjaga eksistensi seni budaya daerah yang memberikan kegembiraan baik bagi pelaku seni maupun masyarakat. Kegiatan ini tidak hanya berkaitan dengan kegiatan kesenian, namun juga mencakup pengembangan ekonomi, pendidikan, dan nilai-nilai religius,” ujar Arif Marwoto dalam sambutannya.

Arif menambahkan, hajatan tahunan ini melibatkan partisipasi masyarakat dari segala usia. Partisipasi tersebut memiliki makna penting dalam usaha membangun kesadaran dan kepedulian atas arti pentingnya pelestarian seni dan budaya. Tentu saja dengan tidak meninggalkan filosofi Hamemayu Hayuning Bawana yang merupakan cita-cita luhur untuk menyempurnakan tata nilai kehidupan masyarakat yang perlu dilestarikan dan dikembangkan.

Adapun Festival Gamping Gegayengan bertujuan untuk menjaga kelestarian budaya lokal, meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang budaya lokal, menumbuhkan rasa peduli terhadap budaya lokal, mempererat tali persaudaraan antar warga, merupakan sarana hiburan alternatif yang sehat dan mendidik, serta menggali potensi budaya sebagai aset bangsa.

Salah satu pertunjukan seni yang ditampilkan yaitu Jathilan New kudho Manunggal di bawah pimpinan Praptowo yang dibina oleh Dukuh Mejing Wetan, Sudaryono. Grup jathilan yang berdiri pada 1990 ini memiliki anggota 60 orang putra dan putri.

“New Kudho Manunggal sore ini menampilkan dua babak jathilan putra dan putri yang menyuguhkan tarian panji dengan menunggangi Jaran Kepang diiringi lagu-lagu jawa musik khas jathilan. Semoga warga Gamping yang menyaksikan pertunjukan ini dapat bergembira dan terhibur dengan penampilan jathilan New Kudho manunggal kebanggaan warga Mejing Wetan, Desa Ambarketawang,” ucap Sudaryono di antara ratusan penonton. (KIM Pararta Guna Gamping/Adnan Nurtjahjo)




Mendorong Paradigma Baru Shelter Adalah Proses Bukan Produk

Kota Mataram, Lombok – Kementerian Sosial RI bersama International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies atau Federasi Palang Merah Internasional (IFRC) menggelar Lokakarya Nasional tentang Shelter dan Pemukiman yang berlangsung di Kota Mataram, Lombok, 19—23 Agustus 2019.

“Kemensos sebagai Koordinator Klaster Pengungsian dan Perlindungan membawahi 8 sub klaster, salah satunya Sub Klaster Shelter. Dalam sub klaster ini salah satu tugasnya adalah mendorong proses pelayanan shelter yang berpusat pada masyarakat,” tutur Menteri Sosial RI Agus Gumiwang Kartasasmita dalam sambutannya yang dibacakan oleh Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Harry Hikmat saat membuka Lokakarya di Lombok, Rabu (21/8/2019).

Mensos mengatakan pada setiap
kejadian bencana, kebutuhan shelter adalah kebutuhan yang paling besar dan
paling mendesak. Namun demikian menyiapkan shelter bukan sekedar menyiapkan
bangunan tempat tinggal baru untuk penyintas.

“Memberikan shelter kepada
masyarakat terdampak bencana berarti mendengarkan mereka, mendukung mereka
sesuai dengan metode pilihan yang paling tepat bagi setiap keluarga dengan
mempertimbangkan kesetaraan gender, pendekatan yang inklusif, serta menghargai
suara dari yang tua (lansia) hingga yang muda (anak-anak),” tuturnya.

Dalam proses penyediaan shelter,
lanjutnya, warga didampingi dalam menyediakan tempat berlindung yang layak
dimana setiap orang memiliki pilihan tersendiri untuk pulih dari dampak
bencana.

Jadi, shelter tidak hanya mengenai
desain dan kualitas material, namun juga memastikan bantuan yang diberikan
memberikan keamanan, kenyamanan, bermartabat, dan memuluskan proses transisi.

Direktur Jenderal Perlindungan dan
Jaminan Sosial Harry Hikmat mengatakan penanganan bencana tidak selalu harus
mendirikan posko pengungsian terpusat, lalu mengumpulkan para penyintas ke
dalam satu lokasi yang sama.

“Cara pandang seperti ini tidak
salah, namun alangkah lebih baik jika kita memberikan kesempatan para penyintas
untuk memilih tempat tinggal sementara di rumah sanak saudara atau tetangga
yang aman dari bencana,” terangnya.

Dikatakan Dirjen pemerintah bertugas
memfasilitasi mereka termasuk memastikan tempat tinggal sementara aman dari
bencana susulan.

Contoh berikutnya adalah upaya
Kemensos dalam pemenuhan kebutuhan makanan melalui Dapur Umum. Pendirian Dapur
Umum tidak selalu harus menggunakan mobil Dapur Umum dengan peralatan masak
yang serba lengkap, namun juga dapat dilakukan dengan mendirikan dapur mandiri
yang dikelola masyarakat itu sendiri dengan peralatan masak yang juga milik masyarakat.

“Dan pola penanganan bencana
dengan mengedepankan kemandirian masyarakat kini sudah mulai digalakkan,”
tambahnya.

Pengendalian
Asbestos

Sementara itu di tempat yang sama
Dirjen memaparkan Sub Klaster Shelter telah melakukan penelitian termasuk pengujian
lab yang menunjukkan bahwa puing-puing reruntuhan yang ditemukan di Lombok
mengandung asbestos dalam kadar yang membahayakan bagi kesehatan manusia.

 “Untuk itu salah satu
upaya Kemensos pada Lokakarya ini adalah meluncurkan Panduan Pengendalian Asbestos
dalam Situasi Bencana,” tuturnya.

Hal ini merupakan salah satu capaian
di antara banyak hal yang telah dilakukan oleh Sub Klaster Shelter seperti
peningkatan kapasitas, mengkoordinasikan sebanyak 260 lembaga di bidang
shelter, pembuatan buku Panduan Shelter untuk Kemanusiaan.

 “Tentu saja hal ini tidak
akan dapat terlaksana tanpa dukungan komitmen yang diberikan oleh International
Federation of Red Cross and Red Cressents Societies/ Federasi Palang Merah dan
Bulan Sabit Merah Internasional (IFRC),” kata Dirjen.

 Tentang
Lokakarya Nasional

Kementerian Sosial bersama IFRC
menggelar Lokakarya Nasional tentang Shelter dan Pemukiman yang diikuti dua
agenda berskala regional yakni (1) Pertemuan Regional untuk Global Shelter
Cluster team; (2) Asia-Pacific Regional Shelter Practitioners Forum.

Kegiatan ini digelar dalam rangka
Peringatan Satu Tahun Gempa Lombok dan Peringatan Hari Kemanusiaan Sedunia yang
jatuh pada 19 Agustus 2019.

Tema lokakarya adalah “Mendukung
Masyarakat Bertransisi Secara Aman, Nyaman, Bermartabat, dan Berpusat pada
Masyarakat”.

Hadir sebagai Keynote Speech adalah
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal TNI Doni
Monardo. Menghadirkan pembicara di antaranya Koordinator Klaster Shelter
Global-IFRC Ela Serdaloglu, Wakil Gubernur NTB Sitti Rohmi Djalilah dan
Sekretaris Daerah Sulawesi Tengah Hidayat Lamakarate.

Tujuan kegiatan ini adalah (1) Merumuskan  Rencana Kerja Sub Klaster Shelter 2019-2022; (2) Berbagi Pengalaman dan Penyusunan Strategi tentang Shelter; (3) Meningkatkan kapasitas dan kemampuan komunitas Shelter di Indonesia; (4) Pembentukan Forum Praktisi Shelter di Indonesia.

Sejumlah lembaga peserta di antaranya Afghan Red Crecsent Society, American Red Cross, Association of Resiliency Movemeng (ARM), Badan Amil Zakat Nasional Tanggap Bencana, Bali Emergency Effort Relief, Canadian Red Cross, Caritas Bangladesh, Caritas Switzerland, Kementerian PUPR, International Medical Corps, International Organization for Migration (IOM), Litbangkes Kemenkes, MDMC, Mercy Corps Indonesia, Nepal Reconstruction Authority, Nepal Red Cross Society, Pakistan Red Crescent Society, Rumah Zakat, UNDP, UNFPA, UNICEF, Wahana Visi Indonesia (WVI), World Food Programme, Yayasan Sayangi Tunas Cilik, dan lain-lain.




Perpusdes Balecatur, Tak Hanya Tempat Membaca Tapi Juga Berkarya

Perpustakaan
Desa Balecatur yang awalnya berada di ruang kosong belakang Kantor Desa
Balecatur, sekarang telah berubah menjadi perpustakaan desa nomor satu di
Indonesia. Keinginan kuat Kepala Desa menjadikan masyarakat Balecatur maju
dalam bidang pendidikan, pengetahuan, dan perekonomian, membuahkan hasil sebuah
perpustakaan kecil yang diberi nama Sumber Ilmu.

Tahun
2011, perpustakaan berdiri di Desa Balecatur, Kecamatan Gamping, Kabupaten
Sleman merekrut relawan, mencari donator buku, dan promosi di setiap kegiatan
desa. Bantuan pertama dari Pemerintah Kabupaten Sleman kala itu adalah 1000
eksemplar atau 500 judul buku.

Tujuan
utama dari Perpustakan Sumber Ilmu adalah mengubah citra perpustakaan bukan
hanya tempat membaca tetapi juga tempat berkarya. Perpustakaan ini mempunyai
moto “Maju Desaku bersama Sumber Ilmu”.

Kepala
Desa Balecatur, Hj. Sebrat Haryanti menjelaskan untuk memajukan perekonomian
desa dirinya melatih kreativitas masyarakat untuk berkarya. “Dengan tujuan kami
meningkatkan perekonomian Balecatur sehingga kami sepakat dengan pengurus
mengadakan Sekolah Kamis yang diikuti semua warga di Balecatur. Mereka juga
berkeinginan keras memajukan perekonomian keluarganya,” jelas Sebrat saat
ditemui di kantornya, Selasa (20/8/2019).

Program
Sekolah Kamis yang aktif pukul – WIB ini diikuti sekitar 50 orang
dari 18 padukuhan. Ini merupakan program unggulan perpusdes, dengan mengajak
ibu-ibu untuk belajar bagaimana berkarya, seperti membuat keripik jamur dan
aneka kerajinan tangan berbahan limbah plastik maupun kertas koran. Perpusdes
juga mencarikan guru untuk melatih cara bisnis online agar tahu hasil karyanya
dibawa kemana.

Perpusdes
juga mempunyai program lain yaitu Sekolah Difabel. Sekolah ini membekali
penyandang disabilitas dengan berbagai keterampilan, seperti memproduksi
kembang gula cokelat dan hantaran perkawinan. Lalu, Program Kelompok Usaha
Batik yang mana peserta kelas memproduksi batik sesuai apa yang mereka pelajari
dari membaca di Perpustakaan Desa Balecatur.

Selain
program-program di atas, Perpusdes Balecatur punya program unggulan lainnya, yaitu
layanan perpustakaan motor dan mobil keliling, serta layanan kunjung untuk
mengundang pengunjung ke perpusdes. Pengunjung yang mayoritas anak-anak ini datang
setiap hari selasa dan kamis, atau kapanpun selama jam kerja.

Pun,
terdapat layanan Pojok Baca yang terletak di Kafe 107, Batik Sekar Jatimas, TK
Temuwuh, Paud Pedukuhan Jitengan, Pengelolaan sampah di Bisma Ngaran, TBM
Ngluwih, Mushola Al Iqomah, dan Sukoreno Gamol Desa Wisata.

Pengelola
Perpustakaan Sumber Ilmu, Susi Purwani, mengatakan perpusdes ini melakukan
kerjasama dengan berbagai pihak, bahkan dengan 11 TK dan 14 Paud untuk
memberikan ilmu tambahan dari luar sekolah.

“Perpustakaan
desa kita punya ruang audio visual untuk pembelajaran mereka, biar mereka tidak
hanya menonton kurikulum 13 yang ada atau kurikulum dari masing-masing
instansinya tapi kita memberikan sedikit refreshing bagi mereka,” kata Susi.

Fasilitas
perpusdes dikatakan Susi terbilang mumpuni bagi para pengunjung. Perpusdes
memiliki beberapa jenis ruang, seperti ruang sirkulasi, ruang koleksi dan
kreativitas, serta ruang audio visual atau home theater. Tempat ini sekarang tercatat
memiliki sekitar 7ribu judul buku dan katalog online yang berisi 96 judul
e-book.

Ke
depan, perpustakaan ini akan terus dikembangkan. Kepala Perpustakaan Desa
Balecatur, Probowo Wulantopo sendiri mengharapkan berkembangnya perpustakaan
ini bisa memberi manfaat bagi masyarakat Balecatur dan sekitarnya. “Kami ingin
mengembangkan kemanfaatannya kepada masyarakat dalam artian untuk pemberdayaan
masyarakat Balecaur dan sekitarnya,” ujar Prabowo. (Rep Dias)