Seni Hadrah Alternatif Baru Bermusik Bagi Generasi Milenial

Gamping – Pemerintah Kecamatan Gamping menggelar Festival
Hadrah dalam rangkaian gebyar seni dan budaya Gamping Gegayengan yang
dilaksanakan di panggung pertunjukan Kantor Kecamatan setempat, Kamis
(22/8/2019). Kompetisi seni islami ini diikuti 16 grup hadroh yang berada di
wilayah Gamping, Diantaranya Assholihah (Biru), Amanah (Mejing Wetan), Eling
Pati (Sukunan), Syifa Fuada (Ponowaren), Al-Iman (Sukunan), Al-Ihlash
(Perengdawe), Khoirunnusa (Ngaran), Mar’aussholihah (Pasekan Lor), Qurrata
a’yun (Nyamplung), Wardatus Sholihah (Baturan), Nurun Nisa (Pundung), Istiqomah
(Jatisawit), Al-Istiqomah (Somodaran), Hidayaul Mubadiin (Bedog), Asiqotul
Mustofa (Mlangi), serta Nurani Insani (Sumber Gamol).

Penanggung jawab kegiatan ini, Kyai Shofi menyampaikan bahwa
penampilan masing-masing grup hadrah dinilai oleh dewan juri yang berkompeten
di bidangnya. Mereka merupakan tokoh seni islami dari berbagai wilayah di
Kabupaten Sleman yaitu Hasbani (Ploso Kuning), Nurhuda (Minggir) dan Ahmad
(Sleman).

Kecintaan terhadap musik islami terus bertumbuh di kalangan
santri-santriwati Gamping. Apalagi potensi bermusik hadrah di lingkungan pondok
pesantren saat ini mulai berkembang.

“Festival ini untuk menumbuhkan animo masyarakat untuk
belajar bermain hadrah sekaligus untuk mewadahi kreativitas pelajar yang
bermusik dengan nuansa religi. Juga bisa dijadikan sarana silaturahmi antar
pelajar atau santri. Diharapkan kualitas penampilan masing-masing grup hadrah
yang berkompetisi bisa meningkat lebih baik dibandingkan penampilan mereka
tahun lalu,” ucap Kyai Shofi.

Di sela-sela penonton yang menyaksikan aksi peserta, hadir
Sekretaris Kecamatan Gamping, Trisno Sunardi yang dengan sabar mendampingi
panitia dan dewan juri melihat suguhan lantunan lagu-lagu islami yang
menghentak dan bergairah, serta menyempatkan berswafoto Bersama peserta
festival hadrah sebelum menampilkan kreatifitasnya di atas panggung. (KIM
Pararta Guna Gamping/Adnan Nurtjahjo)




422 Siswa Ikuti Lomba Lintas Alam Gamping

Gamping – Panitia Gamping Gegayengan menyelenggarakan lomba
lintas alam bagi siswa-siswi Sekolah Dasar (SD) di wilayah Kecamatan Gamping
yang dilanjutkan dengan lomba permainan tradisional, Kamis (22/8/2019).

Koordinator lomba lari lintas alam, Rudi Aris Junaidi menyampaikan bahwa jumlah peserta lomba kali ini sebanyak 422 orang. “Kami tidak mengira bahwa jumlah peserta bisa sebanyak itu. Setelah melaksanakan lomba lari, mereka melanjutkan kompetisi permainan tradisional antar siswa SD  yang ada di wilayah Kecamatan Gamping setelah mencapai garis finish,” kata Rudi Aris.

Aris menambahkan, permainan tradisional yang dilombakan
antara lain Gobak Sodor yang diikuti 18 SD dengan koordinator Samsudin guru SD
Muhammadiyah Banyuraden, kemudian Lari Egrang diikuti 72 siswa dengan
koordinator Sari Hargono guru SD Baturan II, dan yang terakhir  lomba Lari Bakiak Raksasa yang dikomandoi
oleh Rini Utaminingsih guru SD Tegalyoso.

“Tujuan panitia Gamping Gegayengan menggelar lomba permainan
tradisional ini juga untuk melestarikan permainan asli Indonesia yang sudah ada
sejak dulu dan mengenalkannya kepada generasi muda,” tutur Rudi Aris mengakhiri
pembicaraan. (KIM Pararta Guna Gamping|Adnan Nurtjahjo)




Festival Kethoprak Gamping Tampilkan Aktor dari Generasi Muda

Gamping – Festival kethoprak dalam rangkaian gelar seni
Gamping Gegayengan yang digelar Rabu (21/8/2019) malam menampilkan grup Kethoprak
Wisnu Mudha Wirama dari Padukuhan Ngawen, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping.

Dalam kesempatan ini, grup kethoprak Wisnu Mudha Wirama
menampilkan lakon Ngunduh Wohing Pakarti di bawah pimpinan Suparlan dengan
naskah yang ditulis dan disutradarai oleh Heritanto. Adapun sebagai pelindung
yaitu kepala Desa Trihanggo, Herman Budi Pramono, dengan penasehat, Budik
Ariyantono bersama Ketua Hanggo Budaya, Suyana.

“Dengan jumlah aktor sebanyak 14 orang yang tergolong
muda-muda, grup kethoprak ini bertujuan menambah pengalaman pementasan serta
meningkatkan kualitas seni kethoprak. Terlebih, dengan semakin meningkatnya
internalisasi budaya yang sedang menguat di tengah masyarakat. Tentu, akan menjadi
tembok penghalang sekaligus saringan budaya yang kuat di era globalisasi ini,”
ujar Anwar Sudrajat yang malam ini berperan sebagai Ki Buyut Hangga Seta. (KIM
Pararta Guna Gamping/Adnan Nurtjahjo)




Reog Sarana Kenalkan Budaya pada Anak

Gamping – Dalam rangka menyemarakkan pagelaran seni Gamping
Gegayengan 2019, grup seni Reog Ponorogo Singo Barong Gamping Kidul tampil
menghibur warga masyarakat di halaman kantor Camat Gamping, Rabu (21/8/2019).
Di hadapan ratusan penonton yang memadati area pertunjukan, grup seni Singo
Barong menyuguhkan atraksi-atraksi yang memikat para penikmat seni termasuk
Camat Gamping, Arif Marwoto dan Sekretaris Kecamatan Gamping, Trisno Sunardi.

Grup seni Reog pimpinan H. Bambang Riyanto ini berdiri pada
tahun 1985 dan saat ini memiliki anggota sebanyak 50 orang.

Warga Gamping sangat antusias terhadap seni Reog Ponorogo
ini, dilihat dari berjubelnya area disekitar penggung pertunjukan. Hal ini
disampaikan Sekretaris Kecamatan Gamping, Trisno Sunardi. Reog katanya menjadi
sarana mengenalkan budaya pada anak.

“Warga Gamping ternyata butuh hiburan yang mendidik. Dengan
menyaksikan atraksi Reog Singo Barong ini, para orang tua bisa mengenalkan
budaya asli Indonesia kepada anak-anaknya,” tutur Trisno Sunardi di antara
penonton yang memadati pendopo Kecamatan Gamping.  (KIM Pararta Guna/Adnan Nurtjahjo)