Warga Sleman Didorong Kurangi Sampah Plastik

Sleman – Beberapa wilayah di Sleman yang mulai padat karena merupakan
kawasan pendidikan dan perdagangan, pengurangan sampah plastik pun saat ini
sudah menjadi perhatian serius. Di Sleman, komposisi fisik sampah yang dominan untuk di permukiman adalah organik
berupa sisa makanan dan dedaunan dengan nilai 57,35 persen, sedangkan
peringkat kedua adalah sampah plastik sebanyak 23,44 persen.

Setiap orang yang tinggal di Sleman sebenarnya bisa berkontribusi
dalam mengurangi sampah plastik. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Lingkungan
Hidup Kabupaten Sleman, Dwi Anta Sudibya pada saat Sosialisasi Penggunaan Kantong
Belanja Non Plastik yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Kabupaten Sleman di RM Pringsewu, Jalan Magelang, Kabupaten Sleman, Senin, (26/8/2019).

“Masyarakat atau konsumen bisa membawa wadah sendiri saat berbelanja, dan tidak menerima kantong plastik,” papar Dwi Anta Sudibya. Selain masyarakat, kelompok lain yang bisa mempraktekkan mengurangi sampah plastik adalah ASN pemerintahan dalam penyediaan konsumsi kegiatan kantor, dan menjadi kader penggerak pengelolaan sampah mandiri.

Kemudian pemerintah desa mendorong pengelolaan sampah
mandiri di tingkat RW atau padukuhan. “Sedangkan pelaku usaha menerapkan pembatasan
penggunaan kantong plastik dengan plastik berbayar, dan tidak memberikan
kantong plastik tetapi dengan kantong non plastik berbayar,” imbuh Dwi Anta
Sudibya.

Pemerintah Kabupaten Sleman telah menerbitkan edaran yang ditujukan untuk pengelola pusat perbelanjaan, toko swalayan, kelontong, warung, rumah makan, restoran, kafe, pusat penjualan makanan, jasa boga, dan pengelola pasar. Edaran tertanggal 23 Agustus 2019 itu meminta pelaku usaha untuk tidak menggunakan plastik dalam melayani konsumen, mengganti plastik dengan media lain yang mudah terurai, dan memberikan informasi pengurangan penggunaan plastik.

Secara nasional, data jumlah pemakaian kantong belanja plastik di ritel modern anggota Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia atau Aprindo pada 2015 sebesar 9,85 milyar lembar/tahun dengan 32 ribu gerai pada saat itu. Pada 2018 jumlah gerai menjadi 40 ribu, dan ada kenaikan penggunaan kantong belanja plastik sebanyak 870 juta lembar.




Jelajah Wisata 2019, Suguhi Pemandangan Lereng Merapi yang Menawan

Antusiasme
warga terhadap event Jelajah Wisata 2019 terbilang tinggi. Terbukti seribu
orang dari berbagai latar belakang baik dari dalam atau luar DIY mengikuti
kegiatan ini. Event tersebut rutin diadakan setiap 2 tahun sekali.

Dinas
Pariwisata Kabupaten Sleman mengadakan Jelajah Wisata 2019 di Desa Wisata
Tunggul Arum, Minggu (25/8/2019). Tema yang diambil yaitu “Ngadem Sik”.

Kepala
Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Sudarningsih, menjelaskan bahwa kegiatan ini
dimaksudkan untuk mempromosikan Desa Wisata Tunggul Arum. “Lebih jauh lagi
diharapkan kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran, kepedulian, dan kecintaan
masyarakat terhadap lingkungan alam sekitar,” jelas Sudarningsih.

Ditambahkan
Sudarningsih, tujuan event ini untuk mendekatkan peserta dengan berbagai
keindahan obyek wisata di Sleman. Sebab, peserta disuguhi pemandangan lereng
Merapi yang menawan, serta kehidupan masyarakat sekitar yang menarik tentunya bagi
pengunjung yang berasal dari luar DIY.

Salah
satu peserta yang selalu ikut dalam event ini, Sudariyanti menyampaikan
bahwa dirinya selalu ingin lebih dekat dengan masyarakat. “Saya ingin lebih
dekat dengan masyarakat di setiap event jalan sehat atau semacamnya. Kalau di Sleman
saya selalu ikut, kemarin Tour De Merapi ikut, di Prambanan juga ikut,” jelas
Sudariyanti.

Peserta
melewati 5 pos, berawal dari pos 1 di Lapangan Merti Bumi, pos 2 berada di
pertigaan Ngepal, lalu pos 3 berada di Tegong Tunggulawas, pos 4 di Jembatan
Bambu, dan terakhir pos 5 di Bungker. Sebelum kembali ke Bumi Perkemahan, di pos
terakhir yakni pos 5, peserta disuguhkan penampilan dari sejumlah grup kesenian
warga sekitar Desa Tunggul Arum.

Agar
dianggap menuntaskan setiap pos ini, peserta diwajibkan meminta cap kepada
panitia. Tak lupa, panitia mengimbau peserta untuk menjaga kebersihan dari
berbagai sampah saat berjalan melewati rute tersebut. Saat sampai. (Rep Dias)




6 KIM di Kabupaten Sleman Ramaikan Lomba Pertunra 2019

Gamping – Untuk kedua kalinya Lomba Pertunjukan Rakyat
(Pertunra) antar Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) se-Kabupaten Sleman
diselenggarakan. Kali ini bertempat di Lapangan Denggung, kegiatan yang
diprakarsai oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Sleman
ini terselenggara berkat kerjasama dengan KIM Kecamatan Sleman, Minggu
(25/8/2019).

Kompetisi seni Pertunra tahun 2019 diikuti oleh KIM Pararta
Guna Kecamatan Gamping, KIM Kerto Mandiri Kecamatan Turi, KIM Senyum Kecamatan
Tempel, KIM Manggolo Purnomo Kecamatan Sleman, serta KIM Kecamatan Ngaglik
dengan mengusung tema ‘Santun Bermedia Sosial Menuju Sleman Maju’.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Kominfo Sleman, Eka Suryo
Prihantoro menyampaikan bahwa tugas pengurus dan anggota KIM antara lain
mewujudkan masyarakat yang aktif dan memahami informasi, memberdayakan
masyarakat melalui diskusi antar anggota sehingga dapat memilah informasi yang dibutuhkan
bagi kepentingan pribadi, kelompok, masyarakat dan bangsa, serta mewujudkan
jaringan informasi dan media komunikasi dua arah antar kelompok masyarakat
maupun dengan pihak pemerintah.

“Dengan demikian akan tercipta kerjasama, sinergitas,
kebersamaan dan persatuan bangsa,” tutur Eka Suryo.

Turut hadir dalam giat ini Sekretaris Dinas Kominfo
Kabupaten Sleman, Purwati didampingi Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi
Publik, Noor Hidayati, serta Kepala Seksi Pengelolaan Informasi Publik,
Yudiarto Setiawan sebagai penanggung jawab kegiatan ini.

Hasil penilaian dari dewan juri yang berjumlah tiga orang, Juara
I direbut oleh KIM Kecamatan Ngaglik (675), KIM Pararta Guna dari Kecamatan
Gamping yang mengangkat judul pertunjukan ‘Jarimu Harimaumu’ memperoleh nilai
670 sehingga mampu menyabet Juara II, disusul KIM Kecamatan Seyegan mendapat
nilai 665 sebagai Juara III. Sedangkan Juara Harapan I (630) disandang KIM
Senyum Kecamatan Tempel disusul KIM Kerto Mandiri kecamatan Turi sebagai Juara
Harapan II (620), dan KIM Manggolo Purnomo Kecamatan Sleman sebagai Juara
Harapan III (585).

Sekretaris Diskominfo Sleman, Purwati ditemui usai acara berharap
kepada seluruh pengurus dan anggota KIM se-Kabupaten Sleman agar Lomba Pertunra
tahun selanjutnya meningkat jumlah pesertanya dengan kreativitas yang baru
lagi.

Selain penampilan para peserta Lomba Pertunra, penonton juga
dihibur dengan penampilan Tari Bangau dari Kecamatan Tempel dan Langen Carito
‘Ojo Lali’ persembahan dari KIM Kecamatan Sleman. Acara diakhiri dengan
penyerahan trofi kejuaraan bagi pemenang lomba. (KIM Pararta Guna Gamping|Adnan
Nurtjahjo)




Sukoharjo Kerahkan Upaya Capai 95% Bebas Sarang Nyamuk

Ngaglik
– Kepala Desa Sukoharjo, Hadi Subronto mengambil langkah strategis dalam pemberantas
sarang nyamuk di wilayahnya. Hal ini dikatakannya saat program Jumat Bersih Tingkat
Kecamatan Ngaglik berlangsung, Jumat (23/8/2019) di Dusun Klidon, Sukoharjo,
Ngaglik.

Program
Jumat Bersih ini dikatakannya terkait dengan program pencegahan DB yang
memiliki kegiatan memberantas sarang nyamuk oleh para jumantik.

Hadi
mengatakan, pihaknya akan membuat pos anggaran untuk kegiatan pemberantasan sarang
nyamuk di tahun 2020. Hal ini dilatarbelakangi oleh hasil kunjungan lapangan
dari para jumantik yang menyatakan baru 84,4% rumah di Desa Sukoharjo yang
bebas dari sarang nyamuk sementara target awal adalah 95%.

“Untuk
itu desa ini masih harus kerja keras untuk menaikkan mencapai 95% sehingga pola
hidup bersih dan sehat di Desa Sukoharjo bisa dicapai dengan baik,” katanya.

Hadi
juga mengatakan agar hal tersebut bisa dicapai kepedulian dan partisipasi
masyarakat perlu ditingkatkan.

Ditambahkan
Kepala Puskesmas Ngaglik II, dr. Trisni Nur Andayani, program seperti ini harus
terus-menerus dilakukan baik oleh pemerintah, masyarakat, maupun keluarga.

“Harus
sinergi dilakukan, bersama dan utamanya adalah keluarga dan dibantu kader-kader
jumantik yang telah terlatih,” imbau dr Trisni.

dr
Trisni bangga bahwa kini sudah ada kader jumantik cilik di Desa Sukoharjo.

“Anak-anak
menjadi kader jumantik ini artinya menjadi agen perubahan maka harus kontinu
dimotivasi untuk terus aktif memantau sarang nyamuk di wilayah kerjanya. Program
satu rumah satu jumantik harus terus disosialisasikan kepada masyarakat,” paparnya. 

Dr
Trisni membeberkan Desa Sukoharjo menjadi desa nomor dua usai Desa Sariharjo di
Kecamatan Ngaglik yang saat ini memiliki jumlah penduduk terbanyak yang
terjangkit penyakit DB. Oleh karena itu, lingkungan dan pola hidup bersih harus
terus disosialisasikan kepada masyarakat termasuk di sekolah-sekolah. (KIM
Ngaglik/Srp)




Jalan Sehat, Jaga Kerukunan Warga Gamping

Gamping
– Pengibaran bendera start jalan sehat dalam rangka Gamping Gegayengan ‘Rukun
Anggayuh Karaharjan’ dilakukan oleh Wakil Bupati Sleman, Hj. Sri Muslimatun di
depan Kantor Kecamatan Gamping, Minggu (25/8/2019). Ribuan peserta jalan sehat
begitu antusias mengikuti acara tahunan yang digelar Pemerintah Kecamatan
Gamping ini. Turut hadir mendampingi Wakil Bupati Sleman yaitu Camat Gamping,
Arif Marwoto bersama Kapolsek Gamping, Kompol Sudaryo beserta Wadanramil 17/GP,
Kapten (Inf) Kusno.

Setelah
melepas peserta jalan sehat, Hj. Sri Muslimatun menyambangi bazar UMKM pelaku
usaha industri rumah tangga yang berasal dari wilayah Gamping. Saat berbincang
dengan pengrajin batik asal Desa Nogotirto, orang nomor dua di Sleman ini
menyampaikan bahwa motif batik khas kabupaten Sleman ‘Sinom Parijotho Salak’
tidak boleh diproduksi secara printing. Alasannya, batik kebanggaan Sleman
merupakan motif batik kekayaan intelektual yang harus dihargai dan dilindungi
dari pengusaha nakal.

“Dikawatirkan
jika hal itu (printing-red) dibiarkan justru menyebabkan
persaingan tidak sehat dan merugikan pelaku usaha batik kecil. Terutama jika
banyak pemain bermodal besar dari luar daerah yang bermain pasar batik Sleman,”
ungkap Hj. Muslimatun

Dalam kesempatan kali ini, Pemerintah Kecamatan Gamping menyediakan puluhan hadiah undian berupa kambing, sepeda gunung, ayam jago, dispenser, kipas angin, setrika, serta alat-alat rumah tangga guna menarik masyarakat mengikuti kegiatan jalan sehat. “Manfaat jalan sehat yang utama adalah supaya badan kita sehat. Apabila badan kita sehat maka jiwa kita juga menjadi sehat. Selain itu, jalan sehat juga sebagai wadah silaturahmi antar warga di kecamatan Gamping untuk menjaga kerukunan,” kata Arif Marwoto.

Di
sela-sela pembagian hadiah undian, peserta jalan sehat dan pengunjung disuguhi
penampilan seni musik dari grup Hadrah Eling Pati dari Desa Banyuraden
penyandang juara III festival Hadrah Putra Gamping Gegayengan 2019 yang
melantunkan lagu-lagu islami sebagai penyejuk iman. (KIM Pararta Guna
Gamping/Adnan Nurtjahjo)