422 Siswa Ikuti Lomba Lintas Alam Gamping

Gamping – Panitia Gamping Gegayengan menyelenggarakan lomba
lintas alam bagi siswa-siswi Sekolah Dasar (SD) di wilayah Kecamatan Gamping
yang dilanjutkan dengan lomba permainan tradisional, Kamis (22/8/2019).

Koordinator lomba lari lintas alam, Rudi Aris Junaidi menyampaikan bahwa jumlah peserta lomba kali ini sebanyak 422 orang. “Kami tidak mengira bahwa jumlah peserta bisa sebanyak itu. Setelah melaksanakan lomba lari, mereka melanjutkan kompetisi permainan tradisional antar siswa SD  yang ada di wilayah Kecamatan Gamping setelah mencapai garis finish,” kata Rudi Aris.

Aris menambahkan, permainan tradisional yang dilombakan
antara lain Gobak Sodor yang diikuti 18 SD dengan koordinator Samsudin guru SD
Muhammadiyah Banyuraden, kemudian Lari Egrang diikuti 72 siswa dengan
koordinator Sari Hargono guru SD Baturan II, dan yang terakhir  lomba Lari Bakiak Raksasa yang dikomandoi
oleh Rini Utaminingsih guru SD Tegalyoso.

“Tujuan panitia Gamping Gegayengan menggelar lomba permainan
tradisional ini juga untuk melestarikan permainan asli Indonesia yang sudah ada
sejak dulu dan mengenalkannya kepada generasi muda,” tutur Rudi Aris mengakhiri
pembicaraan. (KIM Pararta Guna Gamping|Adnan Nurtjahjo)




Festival Kethoprak Gamping Tampilkan Aktor dari Generasi Muda

Gamping – Festival kethoprak dalam rangkaian gelar seni
Gamping Gegayengan yang digelar Rabu (21/8/2019) malam menampilkan grup Kethoprak
Wisnu Mudha Wirama dari Padukuhan Ngawen, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping.

Dalam kesempatan ini, grup kethoprak Wisnu Mudha Wirama
menampilkan lakon Ngunduh Wohing Pakarti di bawah pimpinan Suparlan dengan
naskah yang ditulis dan disutradarai oleh Heritanto. Adapun sebagai pelindung
yaitu kepala Desa Trihanggo, Herman Budi Pramono, dengan penasehat, Budik
Ariyantono bersama Ketua Hanggo Budaya, Suyana.

“Dengan jumlah aktor sebanyak 14 orang yang tergolong
muda-muda, grup kethoprak ini bertujuan menambah pengalaman pementasan serta
meningkatkan kualitas seni kethoprak. Terlebih, dengan semakin meningkatnya
internalisasi budaya yang sedang menguat di tengah masyarakat. Tentu, akan menjadi
tembok penghalang sekaligus saringan budaya yang kuat di era globalisasi ini,”
ujar Anwar Sudrajat yang malam ini berperan sebagai Ki Buyut Hangga Seta. (KIM
Pararta Guna Gamping/Adnan Nurtjahjo)




Reog Sarana Kenalkan Budaya pada Anak

Gamping – Dalam rangka menyemarakkan pagelaran seni Gamping
Gegayengan 2019, grup seni Reog Ponorogo Singo Barong Gamping Kidul tampil
menghibur warga masyarakat di halaman kantor Camat Gamping, Rabu (21/8/2019).
Di hadapan ratusan penonton yang memadati area pertunjukan, grup seni Singo
Barong menyuguhkan atraksi-atraksi yang memikat para penikmat seni termasuk
Camat Gamping, Arif Marwoto dan Sekretaris Kecamatan Gamping, Trisno Sunardi.

Grup seni Reog pimpinan H. Bambang Riyanto ini berdiri pada
tahun 1985 dan saat ini memiliki anggota sebanyak 50 orang.

Warga Gamping sangat antusias terhadap seni Reog Ponorogo
ini, dilihat dari berjubelnya area disekitar penggung pertunjukan. Hal ini
disampaikan Sekretaris Kecamatan Gamping, Trisno Sunardi. Reog katanya menjadi
sarana mengenalkan budaya pada anak.

“Warga Gamping ternyata butuh hiburan yang mendidik. Dengan
menyaksikan atraksi Reog Singo Barong ini, para orang tua bisa mengenalkan
budaya asli Indonesia kepada anak-anaknya,” tutur Trisno Sunardi di antara
penonton yang memadati pendopo Kecamatan Gamping.  (KIM Pararta Guna/Adnan Nurtjahjo)




Camat Gamping Resmi Bubarkan Paskibraka Gamping 2019

Gamping – Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-74 Kecamatan Gamping selesai melaksanakan tugasnya, Selasa (20/8/2019). Pasukan yang beranggotakan puluhan siswa-siswi sekolah menengah atas yang berada di wilayah Kecamatan Gamping ini berasal dari Sekolah Menengah Umum Negeri 1 Gamping, Sekolah Menengah Kejuruan Pelayaran Putra Samodra, Sekolah Menengah Kejuruan Muhammadiyah Gamping dan Sekolah Menengah kejuruan Yayasan Pendidikan Kejuruan dan Keterampilan 1 Gamping.

Komandan Paskibraka, Muvit menyampaikan laporan kepada Camat Gamping, Arif Marwoto bahwa pengibaran Sang Saka Merah Putih sudah selesai dilaksanakan di lapangan Banyuraden, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman.

Arif Marwoto menyampaikan kepada seluruh anggota Paskibraka bahwa Pemerintah Kecamatan Gamping mengucapkan terima kasih dengan partisipasi mereka yang sudah mengikuti gladi hingga pengibaran bendera merah putih di hari proklamasi ke-74. Camat Gamping juga berterima kasih kepada Tim Pelatih Paskibraka yakni Kanit bimas Polsek Gamping, Ipda Totok Subaryanto sebagai Pembina, beserta instruktur Paskibra yang beranggotakan Bati Bakti Koramil 17/GP, Serma Tejo Supriyanto, Sabara Bahasa Desa Balecatur Koramil 17/GP, Serka Acip Mulyana, Babin Kamtibmas Desa Banyuraden Polsek Gamping, Aiptu Ifanudin, Kasi Tramtib Gamping, Harley Benjamin Josua, beserta Staf Tramtib, Sumarsono dan Teguh Guntur.

“Kami sangat berterima kasih atas partisipasi dan kerjasamanya sehingga pelaksanaan pengibaran bendera pusaka merah putih terlaksana dengan baik dan lancar. Merah putih telah berkibar di hari kemerdekaan Republik Indonesia. Semoga kita semua dapat memanfaatkan kemerdekaan yang sudah diraih bangsa ini dengan memajukan negeri tercinta dan meningkatkan kualitas diri untuk membangun Nusantara,” ucap Arif.

Turut hadir dalam pembubaran Paskibraka Kapolsek Gamping, Kompol Sudaryo, Wadanramil 17/GP, Kapten Infanteri Kusno, serta Sekretaris Kecamatan Gamping, Trisno Sunardi. (KIM Pararta Guna Gamping/Adnan Nurtjahjo)




Rukun Anggayuh Karaharjan, Gamping Gegayengan 2019

Gamping – Dalam rangka memperingati 74 tahun proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dan melestarikan seni budaya bangsa, Pemerintah Kecamatan Gamping bersama dengan semua pemangku kepentingan yang berada wilayah di Kecamatan Gamping menggelar acara gelar seni budaya bertajuk Gamping Gegayengan dengan mengusung tema Rukun Anggayuh Karaharjan, Selasa (20/8/2019).

Sejak dahulu kehidupan seni budaya di Kecamatan Gamping tumbuh dan berkembang. Tentu saja, dalam perjalanan waktu ada banyak tantangan dan hambatan yang menghadang perkembangan seni budaya di wilayah Kecamatan Gamping. Untuk itu diperlukan usaha membangun kesadaran dan kepedulian terhadap kepemilikan atas seni dan budaya yang menjadi faktor utama dalam menjaga dan melestarikannya.

Malam pembukaan perhelatan seni budaya Gamping ini dihadiri Camat Gamping, Arif Marwoto, Kapolsek Gamping, Kompol Sudaryo, Wadanramil 17/Gamping, Kapten Kusno, serta Sekretaris Kecamatan Gamping, Trisno Sunardi bersama seluruh Kepala Seksi dan staf pemerintah Kecamatan Gamping.

“Kata Gegayengan berasal dari bahasa Jawa Gayeng yang berarti kemeriahan dan kegembiraan. Giat ini sebagai salah satu upaya untuk menjaga eksistensi seni budaya daerah yang memberikan kegembiraan baik bagi pelaku seni maupun masyarakat. Kegiatan ini tidak hanya berkaitan dengan kegiatan kesenian, namun juga mencakup pengembangan ekonomi, pendidikan, dan nilai-nilai religius,” ujar Arif Marwoto dalam sambutannya.

Arif menambahkan, hajatan tahunan ini melibatkan partisipasi masyarakat dari segala usia. Partisipasi tersebut memiliki makna penting dalam usaha membangun kesadaran dan kepedulian atas arti pentingnya pelestarian seni dan budaya. Tentu saja dengan tidak meninggalkan filosofi Hamemayu Hayuning Bawana yang merupakan cita-cita luhur untuk menyempurnakan tata nilai kehidupan masyarakat yang perlu dilestarikan dan dikembangkan.

Adapun Festival Gamping Gegayengan bertujuan untuk menjaga kelestarian budaya lokal, meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang budaya lokal, menumbuhkan rasa peduli terhadap budaya lokal, mempererat tali persaudaraan antar warga, merupakan sarana hiburan alternatif yang sehat dan mendidik, serta menggali potensi budaya sebagai aset bangsa.

Salah satu pertunjukan seni yang ditampilkan yaitu Jathilan New kudho Manunggal di bawah pimpinan Praptowo yang dibina oleh Dukuh Mejing Wetan, Sudaryono. Grup jathilan yang berdiri pada 1990 ini memiliki anggota 60 orang putra dan putri.

“New Kudho Manunggal sore ini menampilkan dua babak jathilan putra dan putri yang menyuguhkan tarian panji dengan menunggangi Jaran Kepang diiringi lagu-lagu jawa musik khas jathilan. Semoga warga Gamping yang menyaksikan pertunjukan ini dapat bergembira dan terhibur dengan penampilan jathilan New Kudho manunggal kebanggaan warga Mejing Wetan, Desa Ambarketawang,” ucap Sudaryono di antara ratusan penonton. (KIM Pararta Guna Gamping/Adnan Nurtjahjo)