Mendorong Paradigma Baru Shelter Adalah Proses Bukan Produk

Kota Mataram, Lombok – Kementerian Sosial RI bersama International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies atau Federasi Palang Merah Internasional (IFRC) menggelar Lokakarya Nasional tentang Shelter dan Pemukiman yang berlangsung di Kota Mataram, Lombok, 19—23 Agustus 2019.
“Kemensos sebagai Koordinator Klaster Pengungsian dan Perlindungan membawahi 8 sub klaster, salah satunya Sub Klaster Shelter. Dalam sub klaster ini salah satu tugasnya adalah mendorong proses pelayanan shelter yang berpusat pada masyarakat,” tutur Menteri Sosial RI Agus Gumiwang Kartasasmita dalam sambutannya yang dibacakan oleh Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Harry Hikmat saat membuka Lokakarya di Lombok, Rabu (21/8/2019).
Mensos mengatakan pada setiap
kejadian bencana, kebutuhan shelter adalah kebutuhan yang paling besar dan
paling mendesak. Namun demikian menyiapkan shelter bukan sekedar menyiapkan
bangunan tempat tinggal baru untuk penyintas.
“Memberikan shelter kepada
masyarakat terdampak bencana berarti mendengarkan mereka, mendukung mereka
sesuai dengan metode pilihan yang paling tepat bagi setiap keluarga dengan
mempertimbangkan kesetaraan gender, pendekatan yang inklusif, serta menghargai
suara dari yang tua (lansia) hingga yang muda (anak-anak),” tuturnya.
Dalam proses penyediaan shelter,
lanjutnya, warga didampingi dalam menyediakan tempat berlindung yang layak
dimana setiap orang memiliki pilihan tersendiri untuk pulih dari dampak
bencana.
Jadi, shelter tidak hanya mengenai
desain dan kualitas material, namun juga memastikan bantuan yang diberikan
memberikan keamanan, kenyamanan, bermartabat, dan memuluskan proses transisi.
Direktur Jenderal Perlindungan dan
Jaminan Sosial Harry Hikmat mengatakan penanganan bencana tidak selalu harus
mendirikan posko pengungsian terpusat, lalu mengumpulkan para penyintas ke
dalam satu lokasi yang sama.
“Cara pandang seperti ini tidak
salah, namun alangkah lebih baik jika kita memberikan kesempatan para penyintas
untuk memilih tempat tinggal sementara di rumah sanak saudara atau tetangga
yang aman dari bencana,” terangnya.
Dikatakan Dirjen pemerintah bertugas
memfasilitasi mereka termasuk memastikan tempat tinggal sementara aman dari
bencana susulan.
Contoh berikutnya adalah upaya
Kemensos dalam pemenuhan kebutuhan makanan melalui Dapur Umum. Pendirian Dapur
Umum tidak selalu harus menggunakan mobil Dapur Umum dengan peralatan masak
yang serba lengkap, namun juga dapat dilakukan dengan mendirikan dapur mandiri
yang dikelola masyarakat itu sendiri dengan peralatan masak yang juga milik masyarakat.
“Dan pola penanganan bencana
dengan mengedepankan kemandirian masyarakat kini sudah mulai digalakkan,”
tambahnya.
Pengendalian
Asbestos
Sementara itu di tempat yang sama
Dirjen memaparkan Sub Klaster Shelter telah melakukan penelitian termasuk pengujian
lab yang menunjukkan bahwa puing-puing reruntuhan yang ditemukan di Lombok
mengandung asbestos dalam kadar yang membahayakan bagi kesehatan manusia.
“Untuk itu salah satu
upaya Kemensos pada Lokakarya ini adalah meluncurkan Panduan Pengendalian Asbestos
dalam Situasi Bencana,” tuturnya.
Hal ini merupakan salah satu capaian
di antara banyak hal yang telah dilakukan oleh Sub Klaster Shelter seperti
peningkatan kapasitas, mengkoordinasikan sebanyak 260 lembaga di bidang
shelter, pembuatan buku Panduan Shelter untuk Kemanusiaan.
“Tentu saja hal ini tidak
akan dapat terlaksana tanpa dukungan komitmen yang diberikan oleh International
Federation of Red Cross and Red Cressents Societies/ Federasi Palang Merah dan
Bulan Sabit Merah Internasional (IFRC),” kata Dirjen.
Tentang
Lokakarya Nasional
Kementerian Sosial bersama IFRC
menggelar Lokakarya Nasional tentang Shelter dan Pemukiman yang diikuti dua
agenda berskala regional yakni (1) Pertemuan Regional untuk Global Shelter
Cluster team; (2) Asia-Pacific Regional Shelter Practitioners Forum.
Kegiatan ini digelar dalam rangka
Peringatan Satu Tahun Gempa Lombok dan Peringatan Hari Kemanusiaan Sedunia yang
jatuh pada 19 Agustus 2019.
Tema lokakarya adalah “Mendukung
Masyarakat Bertransisi Secara Aman, Nyaman, Bermartabat, dan Berpusat pada
Masyarakat”.
Hadir sebagai Keynote Speech adalah
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal TNI Doni
Monardo. Menghadirkan pembicara di antaranya Koordinator Klaster Shelter
Global-IFRC Ela Serdaloglu, Wakil Gubernur NTB Sitti Rohmi Djalilah dan
Sekretaris Daerah Sulawesi Tengah Hidayat Lamakarate.
Tujuan kegiatan ini adalah (1) Merumuskan Rencana Kerja Sub Klaster Shelter 2019-2022; (2) Berbagi Pengalaman dan Penyusunan Strategi tentang Shelter; (3) Meningkatkan kapasitas dan kemampuan komunitas Shelter di Indonesia; (4) Pembentukan Forum Praktisi Shelter di Indonesia.
Sejumlah lembaga peserta di antaranya Afghan Red Crecsent Society, American Red Cross, Association of Resiliency Movemeng (ARM), Badan Amil Zakat Nasional Tanggap Bencana, Bali Emergency Effort Relief, Canadian Red Cross, Caritas Bangladesh, Caritas Switzerland, Kementerian PUPR, International Medical Corps, International Organization for Migration (IOM), Litbangkes Kemenkes, MDMC, Mercy Corps Indonesia, Nepal Reconstruction Authority, Nepal Red Cross Society, Pakistan Red Crescent Society, Rumah Zakat, UNDP, UNFPA, UNICEF, Wahana Visi Indonesia (WVI), World Food Programme, Yayasan Sayangi Tunas Cilik, dan lain-lain.



