Kompetisi Takbir Keliling Unjuk Kreativitas Warga Salakan

Gamping – Menyambut hari raya Idul Adha 1440 H, Takmir Masjid Al-Mukarrom Padukuhan Salakan, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping menyelenggarakan lomba takbir keliling dengan rute mengelilingi wilayah padukuhan setempat yang berjarak 1,5 kilometer pada Sabtu (10/08/2019). Kompetisi takbir keliling ini diikuti oleh warga masyarakat rt 01 hingga rt 08 yang tergabung dalam wilayah rw 26.

Sebelum melakukan konvoi mengitari wilayah Padukuhan Salakan, masing-masing peserta diberi kesempatan unjuk kebolehannya sekitar 5 menit untuk menampilkan aksinya. Kelompok Peserta lomba terbagi dalam beberapa kategori yakni kelompok bapak, kelompok ibu, dan kelompok anak-anak. Dengan perlengkapan bendera, variasi kostum, miniatur yang berbentuk kambing, sapi, beduk, masjid, Ka’bah, serta sound system yang diangkut mobil hias, para peserta beraksi dalam bertakbir di hadapan para penilai.

Menurut Kepala Padukuhan Salakan, Suyana, festival takbir keliling ini selain untuk menyongsong datangnya hari raya kurban, juga guna mempererat tali silaturahmi antar warganya.

“Acara ini sudah rutin dilakukan oleh warga Padukuhan Salakan. Dari tahun ke tahun jumlah pesertanya semakin bertambah dan kreativitas seni peserta semakin menarik untuk ditonton,” ucapnya.

Takmir Masjid Al-Mukarrom Salakan berkeinginan memberi alternatif hiburan sekaligus edukasi kepada masyarakat sekitar secara keseluruhan tak hanya terbatas umat muslim saja di malam kemenangan.

“Selain berupaya untuk menggali ide, kreativitas, dan mengemas acara religi menjadi semenarik mungkin, kami berharap agar di malam takbiran ini bisa menjadi momentum bersatunya seluruh elemen masyarakat di Padukuhan Salakan,” ucap H. Wakidi.

Di antara peserta konvoi terdapat gunungan terbuat dari bermacam jenis makanan ringan yang menarik perhatian masyarakat terutama anak-anak. Gunungan diperebutkan saat memasuki garis finish yaitu di halaman masjid Al-Mukarrom. (KIM Gamping/Adnan Nurtjahjo)




Warga Tamanan Gunakan Besek untuk Bagikan Daging Kurban

Kalasan – Pembagian daging kurban oleh masyarakat Padukuhan
Tamanan, Desa Tamanmartani, Kecamatan Kalasan pada Hari Besar Idul Adha 1440 H
ini berbeda bila dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya kali ini mereka sudah
tidak lagi menggunakan kantong plastik sebagai media bungkus daging yang
dibagikan, tetapi sudah menggunakan besek yang terbuat dari bambu dan
beralaskan daun pisang.

Menurut Dukuh Tamanan, Hasto Sriwibowo, perubahan itu dalam
rangka perbaikan sistem pelaksanaan ibadah kurban. “Dengan menggunakan besek
dan daun pisang kebersihan daging lebih terjamin, penampilan lebih menarik dan
lebih ramah lingkungan,” ujar Hasto di sela-sela pembagian daging kurban di Kompleks
Masjid Al-Hudda, Padukuhan Tamanan, Minggu (11/8/2019).

Hasto Sriwibowo menambahkan setidaknya upaya ini dapat
memperkecil produksi limbah plastik dan selain itu juga memberikan peluang bagi
usaha kecil menengah khususnya pengajin besek untuk mendapatkan penghasilan
lebih.

Besek merupakan keranjang kecil terbuat dari bambu yang
dianyam sehingga membentuk sebuah wadah. Di Yogyakarta dan sekitarnya, besek
umumnya digunakan untuk wadah makanan.

Selain penggunaan besek, perbaikan dalam pelaksanaan ibadah
kurban di Padukuhan Tamanan adalah adanya larangan bekerja sambil merokok. Dengan
perubahan yang lebih baik dan lebih sehat ini, diharapkan dapat memberikan
manfaat yang baik dan dapat ditularkan kepada padukuhan yang lain.

Dalam Idul Adha tahun ini, masyarakat Padukuhan Tamanan
menyembelih hewan kurban sebanyak 5 ekor lembu dan 10 ekor kambing. Sebelum
penyembelihan, Dukuh dan takmir memberikan pengarahan tentang tata cara pelaksanaan
ibadah kurban, perlakuan daging dan anjuran menjaga kebersihan bagi semua yang
terlibat maupun masyarakat yang menyaksikan.(KIM Kalasan/Trijoko)




Tiap Padukuhan di Desa Sukoharjo Dianggarkan Rp60 Juta

Ngaglik – Musyawarah Desa (Musdes) se-Kecamatan Ngaglik dilakukan
serentak di seluruh desa, Jumat (9/8/2019). Meski ini sudah melewati jadwal
tahapan perencanaan baku yang seharusnya bulan Juni atau Juli sudah selesai, Camat
Ngaglik yang diwakili Kepala Seksi Ekonomi Pembangunan Kecamatan Ngaglik, Heribertus
tetap menyambut baik acara musdes ini.

“Mencermati anggaran yang disampaikan Kepala Desa Sukoharjo
sangat aspiratif dan inovatif, sebagai contoh anggaran untuk mengapresiasi anak
yang berprestasi, hal ini merupakan inovasi desa Sukoharjo,” puji Heribertus
saat mengikuti musdes Desa Sukoharjo di Balai Desa Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik,
Kabupaten Sleman, Jumat (9/8/2019).

Dalam musdes ini mengalir usulan-usulan dari setiap
padukuhan. Yang membuat para Dukuh dan tim perencanaannya di Desa Sukoharjo merasa
gembira adalah, mulai tahun anggaran 2020 akan diberikan plafon anggaran
sebesar Rp60 juta di tiap padukuhan. Hal ini disampaikan Kepala Desa Sukoharjo,
Hadi Subronto dalam sambutan dan arahan sekaligus penyampaian Rencana Kegiatan
Pembangunan Desa Sukoharjo.

Sementara itu Ketua BPD Desa Sukoharjo, Kuntoro Setiaji mengharapkan anggaran yang diusulkan Kepala Desa Sukoharjo yang juga merupakan usulan dari Dukuh perlu diapresiasi.

“BPD telah mengecek kondisi lapangan usulan untuk tahun anggaran 2020 yang akan datang. Setelah diverifikasi, usulan dari Dukuh ternyata sebagian besar melebihi plafon. Untuk itu tim verifikasi segera mencermati prioritas anggaran yang disetujui sesuai pagu anggaran yang tersedia,” ujar Kuntoro. Ketua BPD ini juga berharap keswadayaan masyarakat perlu terus ditumbuhkan sehingga secara bertahap pembangunan bisa dilaksanakan.(KIM Ngaglik/Srp)




Omzet Meningkat Jelang Idul Adha, Swalayan Hewan Kurban Buka 24 Jam

Ngaglik – Menjelang Hari Raya Idul Adha, penjualan hewan
kurban seperti kambing, domba, dan sapi meningkat di berbagai tempat. Wajar
bila para pedagang pun berharap omset penjualannya pun ikut meningkat, salah
satunya di swalayan hewan kurban Mitra Amanah.

“Mendekati Hari Raya ini kami bisa menjual hingga 15-20 ekor per hari, sedangkan pada hari biasa 7-9 ekor untuk keperluan aqiqah atau untuk kulakan penjual sate,” ungkap Irawan Eko Sulistyo, pemilik tempat penjualan hewan Mitra Amanah saat ditemui di tempat usahanya di Padukuhan Gondang Lutung, Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Jumat (9/8/2019).

Pria asli Wonogiri ini mengaku semua hewan yang dijualnya berasal
langsung dari petani sehingga harganya lebih murah dibanding tempat lain. Satu
ekor kambing atau domba dijualnya berkisar antara Rp1,5 juta – 6 juta tergantung
ukuran dan jenisnya.

“Soal harga kami sangat berdamai, dengan harga Rp1 juta
pun akan dilayani karena prinsip kami membantu agar semua orang bisa berkurban
dan tidak mahal. Jadi orientasi kami tidak semata-mata mencari keuntungan tapi
persaudaraan kami utamakan. Tak heran banyak yang kembali datang membawa serta
teman dan saudara-saudaranya,” tutur Irawan.

Irawan menjamin domba 
yamg dijual di Mitra  Amanah telah
memenuhi syariat Islam untuk berkurban. Di antaranya umur minimal 1 tahun dan
telah memasuki tahun kedua, sehat dan terbebas dari penyakit hewan, serta tanpa
cacat seperti buta, pincang, atau sangat kurus.

Mitra Amanah ini menurut Irawan memiliki beberapa kelebihan
dibanding tempat lain di antaranya pemeliharaan yang intensif dan modern,
kandang yang ideal dan modern untuk menjamin kesehatan dan kualitas ternak,
banyak pilihan, dan selalu tersedia stok. Di lahan seluas 2000 meter persegi, pelanggan
bisa datang kapan saja karena buka 24 jam, dan seperti di swalayan, pelanggan bisa
memilih sendiri hewan yang dikehendaki sesuai bujet.

“Saat ini populasi mencapai 500 ekor yang terdiri
dari  domba jenis merino, texel, kambing
peranakan etawa atau kambing Jawa serta sapi putih peranakan Ongole,”
ungkap Irawan.

Alumni Fakultas Peternakan UGM ini memperlakukan hewan yang
dijualnya dengan gaya profesional. Hewan bersih karena dimandikan setiap hari,
sistem penjualan dengan cara ditimbang menjamin jual beli yang adil, dan
melayani partai besar atau kecil dengan harga khusus untuk kegiatan sosial. (KIM
Ngaglik/ Upik Wahyuni)




Menikmati Asyiknya Gelar Potensi Museum di Mal

Pemahaman
akar kesejarahan salah satunya bisa dibangun dengan mempelajari sejarah melalui
museum. Museum merupakan jendela untuk melihat sejenak ke lorong waktu sejarah
tentang apa yang telah dimiliki oleh nenek moyang kita. Upaya ini bisa dilihat
dari kegiatan Gelar Potensi Museum tahun 2019 pada tanggal 7-10 Agustus 2019.
Bertemakan “Merangkai Artefak Keindonesiaan”, Dinas Kebudayaan DIY menampilkan
perjalanan singkat Yogyakarta hingga menjadi bagian dari Indonesia.

Wismarini,
Kepala Seksi Permuseuman Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Sejarah, Bahasa,
Sastra dan Permuseuman Dinas Kebudayaan DIY menandaskan tahun ini 37 museum
berpartisipasi dengan berbagai koleksi ikonik tentang perjalanan Keindonesiaan.

“Agenda
kali ini menghadirkan 37 museum di DIY yang tergabung dalam Asosiasi Museum
Barahmus sebagai upaya untuk semakin mendekatkan dan mengakrabkan peran museum
kepada masyarakat,” ujar Wismarini.

Event
ini dipusatkan di Kabupaten Sleman dengan mengadakan pameran di Sleman City
Hall (SCH).

Salah
seorang pengunjung pameran, Harjito Sangaji menyampaikan bahwa salah satu
koleksi yang menarik adalah perlengkapan perang yang digunakan oleh para
prajurit Pangeran Diponegoro dalam melawan penjajah Belanda.

“Tameng,
keris, dan bandil yang mampu menghancurkan penjajah, namun yang terutama adalah
spirit ghiroh perjuangan yang didasari tauhid dan iman yang lurus untuk membela
kebenaran menjadi kunci kemenangan perjuangan suci,” katanya.

Di
sela pameran diadakan pementasan seni budaya seperti hadroh, gamelan anak, dan
berbagai kesenian yang menambah semarak agenda pameran museum kali ini. (Arief
Hartanto)